Detik-Detik PKI Menyerang Pondok Pesantren Gontor

 


Gontor - PKI - Hizbullah

(Pondok Modern Darussalam Gontor, menjadi sasaran PKI)

"Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati." Inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia/PKI Madiun tahun 1948.

KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH. Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH. Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), tengah berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

"Wis Pak Sahal, penjenengan wae sing budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni, Kiyai Gontor yo panjenengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dikenali PKI aku iki"

"(Sudah Pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kiyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini)." kata KH. Imam Zarkasyi

Pak Sahal pun menjawab :

"Ora.. dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Pak Zar, njajal awak mendahno lek mati."

"(Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar (karena KH. Imam Zarkasyi adalah adik kandung beliau). Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Pak Zar, mencoba badan, walau sampai mati)."

Akhirnya diputuskanlah, para Kiyai berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH. Rahmat Soekarto.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kiyai Gontor ke arah timur menuju Gua Kusumo (saat ini dikenal dengan Gua Sahal). Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, "Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan." (Korban Harta, Korban Tenaga, Korban Pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan)

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh Pesantren Gontor.

Alhamdulillah, tak berapa lama, Laskar Hizbullah dan Pasukan Siliwangi datang. Yaitu pasukan pimpinan KH. Yusuf Hasyim (Putra bungsu Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari) yang merangsek dan mengusir PKI dari Gontor. Para PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu.

(Buku Banjir Darah. Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiyai, Santri, dan Kaum Muslimin, hlm. 195-200)

0 komentar:

Posting Komentar