Rieke Diah Pitaloka, Aktor Memimpin Pleno RUU-HIP sebelum PDI-P Copot dari Pimpinan Badan Legislasi
Jokowi Menggunakan Ancaman Perombakan Kabinet untuk Mendorong Kinerja Menteri, Efektifkah ?
Survei LKSP: Muhammadiyah dan PKS yang Paling Peduli saat Pandemi terhadap Masyarakat
INNALILLAHI : KH. HILMI AMINUDDIN MENINGGAL DUNIA
(Wawancara Eksklusif) Janji Pentagon ke Indonesia Soal Laut China Selatan
![]() |
| KRI Diponegoro-365 bersama USS Chung-Hoon (DDG-93) |
Situasi di Laut China Selatan memanas. China semakin berani mengklaim wilayah-wilayah perairan milik negara lain di sana. Berbagai taktik dilakukan mulai dari melarang pencarian ikan, menenggelamkan kapal, hingga membentuk wilayah administrasi baru secara sepihak.
Salah satu insiden yang masih hangat adalah insiden West Capella, bulan lalu di perairan Malaysia. Di tengah pengeboran lepas laut, yang dilakukan kapal West Capella, China mengirimkan kapal survei dan coast guard untuk melakukan pemindaian. Menganggapnya sebagai langkah provokasi, Malaysia mengirim kapal Angkatan Laut-nya ke lokasi yang sama.
Dalam insiden tersebut, Amerika Serikat ikut terlibat. Dengan kapal perang yang dimiliki, mereka mengawal kapal Angkatan Laut Malaysia, menegaskan dukungan kepada negara-negara ASEAN. Mereka menyebutnya sebagai "presence operation", mengingatkan China bahwa ada Amerika Serikat juga di Laut China Selatan.
Reed B. Werner, Deputy Assistant Secretary of Defense untuk wilayah ASEAN, dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, bercerita banyak soal situasi di Laut China Selatan. Tak berhenti di situ, ia juga memperingatkan Indonesia soal China yang semakin agresif, bahkan di tengah pandemi Corona (COVID-19). Berikut petikan wawancara eksklusif Istman Musaharun dari Tempo.co dengan Reed B. Werner via sambungan internasional pada pekan lalu.
T. Pantauan kami, China semakin agresif dalam mengklaim wilayah-wilayah perairan di Laut China Selatan. Apa sikap Amerika Serikat, sebagai sekutu negara-negara di Asia Tenggara, soal itu?
J. Kami memiliki perhatian khusus terhadap situasi di Laut China Selatan. Komitmen kami adalah mewujudkan wilayah Laut China Selatan yang bebas dari konflik, menghormati wilayah perairan masing-masing, dan menjunjung penyelesaian masalah secara damai.
T. Apa tidak khawatir dengan langkah China yang mulai berani masuk ke wilayah perairan negara lain dan mengklaimnya sebagai milik mereka?
J. Tentu kami memiliki kekhawatiran terhadap aktivitas China di Laut China Selatan. Mereka memaksa negara-negara Asia Tenggara (untuk memberikan wilayah perairan mereka) dan menghalangi akses mereka ke sumber daya laut yang penting untuk pertumbuhan ekonomi. Mereka melakukan semua itu di saat mayoritas negara-negara Asia Tenggara sibuk dengan COVID-19.
Kami terus memonitor aktivitas mereka mulai dari pengerahan armada, kapal survey, hingga kapal coast guard. Hal itu termasuk ketika mereka mengganggu pengeboran lepas laut oleh Kapal Malaysia.
T. Trend aktivitas China di Laut China Selatan seperti apa?
J. Ini bagian dari tren yang lebih besar. Sejak Januari, mereka sudah melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal (ikan). Selain itu, secara sepihak, mereka juga melarang aktivitas perikanan, membentuk wilayah administrasi baru, dan secara terus menerus melanggar hukum internasional (UNCLOS) seperti yang terjadi di Natuna beberapa waktu lalu. Kami juga sadar aksi mereka menenggelamkan kapal Vietnam di Kepulauan Paracel April lalu.
Manuver militer mereka juga tidak professional. April lalu, kapal perang China mengunci senjata radar mereka ke kapal Angkatan Laut Filipina, memberi sinyal seolah-olah mereka akan menenggelamkan kapal itu. Selain itu, juga ada aktivitas pesawat yang tidak perlu. Ini jelas mengkhawatirkan dan kami terus mengawasi mereka.
T. Pantauan Amerika Serikat, kenapa China tiba-tiba menjadi sangat agresif akhir-akhir ini? Apakah memanfaatkan momen pandemi COVID-19?
J. Kami tidak tahu pasti apa motif China (tiba-tiba semakin agresif) dan apakah hal tersebut berkaitan dengan pandemi COVID-19. Apa yang bisa kami katakan, China sadar bahwa negara-ngeara ASEAN disibukkan oleh pandemi COVID-19 dan di saat bersamaan mereka menciptakan ketidakstabilan di Laut China Selatan.
T. Apakah maksud anda mereka bersikap pragmatis terhadap situasi COVID-19?
J. Saya katakan kembali bahwa kami tidak tahu motif mereka, namun mereka sadar bahwa negara-negara ASEAN tengah sibuk dengan COVID-19. Virus tersebut diyakini berasal dari China, mereka juga tengah menanganinya, namun mereka tetap melanjutkan aktivitas di Laut China Selatan.
T. China sudah memiliki dua pulau buatan yang siap dengan alutsista. Bisa dikatakan mereka sudah punya posisi kuat di Laut China Selatan. Menurut Amerika, bagaimana negara-negara Asia Tenggara harus meresponnya?
J. Pertama, ingin saya sampaikan bahwa Indonesia sudah bersikap tepat dengan tidak terintimidasi oleh aktivitas China dan tetap menjunjung konvensi internasional.
Untuk merespon China yang sudah siap siaga di Laut China Selatan, penting bagi negara-negara Asia Tenggara untuk bersatu mendorong mundur aktivitas China. Itu hal yang sangat kritikal. Setiap kali China melanggar hukum internasional, lawanlah.
T. Amerika Serikat bisa membantu apa untuk itu (melawan Militer China)?
J. Kami secara berkelanjutan terus membangun kapasitas militer negara-negara Asia Tenggara. Selain itu, juga membangun kesadaran mereka terhadap wilayah maritim masing-masing. Amerika Serikat membantu negara-negara Asia Tenggara untuk hal tersebut.
T. Amerika Serikat membantu Malaysia dengan mengirimkan drone untuk menjaga wilayah perairan mereka. Apakah Indonesia akan mendapat bantuan serupa?
J. Saya tidak bisa menyampaikan detail kerjasama Pentagon dengan negara lain. Namun, kami akan terus membantu (Indonesia) lewat latihan militer bersama, menyediakan bantuan keamanan, teknologi militer, serta pertukaran informasi soal situasi di Laut China Selatan.
T. Bisa dielaborasi bantuan Amerika Serikat untuk Indonesia? Mungkin "Presence Operation" seperti di Malaysia?
J. Apa yang kami kerjakan dengan Indonesia adalah meningkatkan bantuan keamanan. Misalnya, perihal alutsista, kami sedang berdiskusi untuk pengadaan (tambahan) helikopter AH-64 Apache dan perlengkapan militer lainnya yang bisa meningkatkan keamanan maritim Indonesia. Soal latihan militer bersama, akan diperluas ke situasi-situasi yang lebih kompleks. Hal itu untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mengawasi dan menjaga wilayah perairan mereka (di Laut China Selatan).
T. Kapan semua itu akan diwujudkan?
Wah, anda menanyakan hal yang susah. Seperti yang anda tahu, sekarang kami sedang menghentikan sementara operasi militer akibat pembatasan perjalanan (efek COVID-19). Jadi, untuk saat ini, masih belum jelas kapan latihan militer bersama akan digelar kembali. Semoga saja bisa sesegera mungkin.
T. Berarti, menunggu pandemi COVID-19 reda?
J. Saya percaya kami akan langsung meningkatkan latihan militer bersama (dengan Indonesia) begitu situasi memungkinkan.
T. Kembali ke penyelesaian masalah di Laut China Selatan, bagaimana Amerika Serikat akan menyeimbangkan pendekatan militer dan diplomatik? Situasi sudah memanas di Laut China Selatan dan sepertinya pendekatan militer tak terhindarkan.
J. Ada berbagai cara untuk menyelesaikan masalah di Laut China Selatan. Amerika terus berkomunikasi dengan China. Apabila ada aktivitas mereka yang tidak wajar, kami langsung memberitahu mereka soal kekhawatiran kami. Tentu jalur diplomasi juga diandalkan oleh diplomat Amerika Serikat dan China.
Khusus soal militer, kami menerapkan strategi Deterrence (Pencegahan Perang). Itulah kenapa kami tetap berpatroli, menerbangkan pesawat, menggelar latihan militer, dan membentuk kerjasama pertahanan di Laut China Selatan. Kami juga mengingatkan China untuk terus mematuhi Code of Conduct dan jangan menciptakan ketidakstabilan di Laut China Selatan.
Saya perlu mengakui bahwa China tidak memiliki rekam jejak yang bagus soal mematuhi aturan internasional. Negara-negara Asia Tenggara perlu bekerja sama untuk memastikan Code of Conduct atau aturan internasional dipatuhi China.
T. Anda tadi berbicara soal menjaga komunikasi dengan China. Kita semua tahu bahwa hubungan China dan Amerika Serikat buruk. Bagaimana komunikasi kedua negara saat ini?
J. Saya hanya bisa mengatakan bahwa kami terus berkomunikasi secara rutin, baik terkait diplomasi maupun militer.
Sumber teks: htps://tempo.co
Menlu AS Mike Pompeo Sebut Indonesia dalam Bahaya Partai Komunis China
False Flag Operation : Pembakar Bendera PDIP adalah Simpatisan kader PDI-P sendiri ?
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) di depan Gedung MPR/DPR, Edy Mulyadi menyebut pembakaran bendera, termasuk bendera PDI Perjuangan dalam unjuk rasa tersebut di luar rencana.
Edy bahkan menuding kasus tersebut dilakukan oleh penyusup yang sengaja mencari gara-gara dalam aksi tersebut.
Bikin rendang sendiri, Gordon Ramsay Belajar Langsung ke Sumatera Barat.

















