This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Detik-Detik PKI Menyerang Pondok Pesantren Gontor

 


Gontor - PKI - Hizbullah

(Pondok Modern Darussalam Gontor, menjadi sasaran PKI)

"Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati." Inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia/PKI Madiun tahun 1948.

KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH. Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH. Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), tengah berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

"Wis Pak Sahal, penjenengan wae sing budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni, Kiyai Gontor yo panjenengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dikenali PKI aku iki"

"(Sudah Pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kiyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini)." kata KH. Imam Zarkasyi

Pak Sahal pun menjawab :

"Ora.. dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Pak Zar, njajal awak mendahno lek mati."

"(Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar (karena KH. Imam Zarkasyi adalah adik kandung beliau). Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Pak Zar, mencoba badan, walau sampai mati)."

Akhirnya diputuskanlah, para Kiyai berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH. Rahmat Soekarto.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kiyai Gontor ke arah timur menuju Gua Kusumo (saat ini dikenal dengan Gua Sahal). Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, "Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan." (Korban Harta, Korban Tenaga, Korban Pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan)

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh Pesantren Gontor.

Alhamdulillah, tak berapa lama, Laskar Hizbullah dan Pasukan Siliwangi datang. Yaitu pasukan pimpinan KH. Yusuf Hasyim (Putra bungsu Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari) yang merangsek dan mengusir PKI dari Gontor. Para PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu.

(Buku Banjir Darah. Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiyai, Santri, dan Kaum Muslimin, hlm. 195-200)

Jejak PKI di Indonesia



*SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA*

*Tgl 31 Oktober 1948 :*
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

*Akhir November 1948 :*
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : 
1. Ponorogo, 
2. Magetan, 
3. Pacitan, 
4. Purwodadi, 
5. Cepu, 
6. Blora, 
7. Pati, 
8. Kudus, dan lainnya.

*Tgl 19 Desember 1948*
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

*Tahun 1949 :* 
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

*Awal Januari 1950 :*
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

*Tahun 1950 :* 
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

*Tgl 6 Agustus 1951 :*
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

*Tahun 1951 :*
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

*Tahun 1955 :* 
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

*Tgl 8-11 September 1957 :* 
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

*Tahun 1958 :*
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

*Tgl 15 Februari 1958 :*
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

*Tanggal 11 Juli 1958 :*
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

*Bulan Agustus 1959 :*
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

*Tahun 1960 :* 
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

*Tgl 17 Agustus 1960 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

*Medio Tahun 1960 :* Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

*Bulan Maret 1962 :* 
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

*Bulan April 1962 :*
Kongres PKI.

*Tahun 1963 :*
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

*Tgl 10 Juli 1963 :* 
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

*Tahun 1963 :* 
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : 
1. KH. Buya Hamka, 
2. KH. Yunan Helmi Nasution, 
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali, 
5. KH. EZ. Muttaqien, 
6. KH. Soleh Iskandar, 
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.

*Bulan Desember 1964 :*
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

*Tgl 6 Januari 1965 :*
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

*Tgl 13 Januari 1965 :* 
Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

*Awal Tahun 1965 :*
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

*Tgl 14 Mei 1965 :* 
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

*Bulan Juli 1965 :* 
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

*Tgl 21 September 1965*:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

*Tgl 30 September 1965 Pagi :* 
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

*Tgl 30 September 1965 Malam :* 
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut  GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah : 
1. Jenderal Ahmad Yani,
2. Letjen R.Suprapto, 
3. Letjen MT.Haryono, 
4. Letjen S.Parman, 
5. Mayjen Panjaitan dan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. 
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh Aiptu Karel Satsuitubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal AH. Nasution. 
PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, *Ade Irma Suryani Nasution*, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : 
1. Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan
2. Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta 
3. Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain :
*Angkatan Darat :*
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, 
2. Brigjen TNI Soepardjo dan
3. Kolonel Infantri A. Latief.
*Angkatan Laut :*
1. Mayor KKO Pramuko Sudarno, 
2. Letkol Laut Ranu Sunardi dan 
3. Komodor Laut Soenardi.
*Angkatan Udara :*
1. Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, 
2. Letkol Udara Heru Atmodjo dan 
3. Mayor Udara Sujono.
*Kepolisian :* 
1. Brigjen Pol. Soetarto,
2. Kombes Pol. Imam Supoyo dan 
3. AKBP Anwas Tanuamidjaja.

*Tgl 1 Oktober 1965 :*
PKI di Yogyakarta juga Membunuh :
1. Brigjen Katamso Darmokusumo dan 
2. Kolonel Sugiono. 
Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil Alih Kekuasaan.

*Tgl 2 Oktober 1965 :*
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

*Tgl 6 Oktober 1965 :*
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

*Tgl 13 Oktober 1965 :*
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

*Tgl 18 Oktober 1965 :*
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

*Tgl 19 Oktober 1965 :* Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

*Tgl 11 November 1965 :* 
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

*Bulan Desember 1965 :*
Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

*Tgl 11 Maret 1966 :*
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

*Tgl 12 Maret 1966 :*
Soeharto melarang secara resmi PKI. 

*Bulan April 1966 :*
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

*Tgl 13 Februari 1966 :*
Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : 
*”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar Partai Komunis Indonesia…”*

*Tgl 5 Juli 1966 :* 
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH. Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

*Bulan Desember 1966 :*
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

*Tahun 1967 :*
Sejumlah Kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

*Bulan Maret 1968 :*
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

*Pertengahan 1968 :*
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

*Dari tahun 1968 s/d 1998*
Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

*Pasca Reformasi 1998*
Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari tipu daya komunis

*BAGIKAN SEJARAH INI.* 
*JADIKAN PELAJARAN*
*BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG*
                     
_copast_

🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇮🇩

KISAH KEKEJAMAN PKI

*Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng*
“Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.”

(Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965)
--------------------------------------

*Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas*
"Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal".

(Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965)
--------------------------

*Kakak Saya Dipotong Telinganya Lalu Dibuang ke Sumur*
"Para tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Kakak saya dipotong telinganya. Lalu dibuang di sumur tua".

(Mughni, Ponorogo, saksi korban peristiwa 1948)
--------------------------

*Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas*
"Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri".

(Kusman, sesepuh Magetan, nara sumber peristiwa 1948)
---------------------------------------

*Kakak Tertua saya Hilang Dibawa PKI*
"Setelah menggeledah rumah orang tua saya, kakak tertua saya dibawa PKI. Lalu tidak jelas kabarnya. Lima orang saudara sampai sekarang hilang tidak ditemukan"

(Mastur, saksi korban peristiwa Ponorogo 1948)
---------------------------

*Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi*
“Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”.

(Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948)
---------------------

*Buya Hamka Disiksa Setiap Hari*
“Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum. kemaluannya”.

(Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966)
----------------------------------------------

*Saya Dituduh Kontra Revolusi*
“Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”.

(Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965)
--------------------------------------------

*Ayah Saya Dibacoki, Dipukuli, Lalu Dimasukkan Sumur*
"Ayah saya dan adik ayah saya bersama lima orang lainnya para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Mereka berhasil keluar. Setelah keluar bapak saya dibacoki. Bapak saya dipukuli. Bapak saya dimasukkan ke dalam sumur.

(Suradi, anak Sastro Glombroh, korban peristiwa Ngawi 1948)
-------------------------------------------------

"Mencoba Melarikan Diri Enam orang Langsung Dibantai*
Peristiwa pembantaian beberapa orang di Dusun Gebung, Katikan, Ngawi, sebetulnya ada enam orang yang berhasil keluar lewat jendela bangunan yang saat itu dibakar PKI. Namun, setelah di luar mereka dibantai dengan pedang dan jasadnya bertumpukan di dekat sumur.

(Jumairi, saksi peristiwa Ngawi 1948)
------------------------

*Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar*
Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar.

(Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948)
------------------------------------------------

*Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya*
Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.
Zainudin, Kediri, saksi peristiwa 1960-1965.
------------------------------------------------

[23:07 16/07/2016] +966 59 599 6438: Sebuah buku yang berjudul *Ayat Ayat Yang Disembelih*

Mengungkap Aksi Keji PKI Begitu Nyata!
Lebih dari 35 Saksi Angkat Bicara

Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) penuh darah kekejaman di mana-mana. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih, serta mengubur hidup-hidup para kiyai dan santri, menghasut para petani untuk berontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis.
Semua tindakan PKI hanya untuk satu tujuan: Mengganti NKRI menjadi negara komunis. Negara anti Tuhan dan anti insan ber Tuhan yang berlambang palu arit.
Mengapa Buku ini Penting?
Sebuah buku yang mengangkat fakta sejarah kekejaman PKI dalam rentang waktu sangat panjang, 1926 - 1968. Membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali. Disajikan dengan gaya bercerita (story telling) sehingga tidak membosankan.
Kekuatan buku ini terletak pada penggambaran situasi detil secara naratif pada masa kejadian yang tidak hanya bersumber dari referensi teks. Tetapi juga disertai wawancara penulis dengan 30 saksi-saksi hidup yang terdiri dari korban, kerabat dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar dan Surabaya.
Buku ini penting dibaca oleh siapapun. Untuk menyadarkan kembali kepada kita akan bahaya laten komunis bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan generasi yang akan datang.
Dengarkan Cerita Para Saksi dan Korban
Ingatan mereka akan sejarah kekejaman PKI tak ‘kan terhapuskan. Trauma demi trauma yang siapapun tak ingin mengalaminya. Mereka hanya ingin berbicara kepada kita. Maka dari itu, dengarkanlah…

*Genangan Darah Setinggi Mata Kaki*

“Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”.

Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948.

*30 Orang Dibakar Hidup-hidup dalam Loji*
“Sebanyak 30 orang tokoh dan para kyai dimasukkan kedalam loji, diberi makanan beracun lalu dibakar hidup-hidup. Ketika berhasil membobol pintu berantai setelah berdoa dan berteriak Allaahu Akbar, mereka dibacok dengan pedang”.
Siti Maisaroh, anak korban selamat peristiwa Ngawi 1948.

*Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur*
“Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”.
Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948.

*Diseret ke Hutan Lalu Dijatuhkan ke Jurang*
“Bapak saya beserta enam orang pemuka agama yang jadi sahabatnya diseret dan dibawa ke hutan. Lalu dibunuh dengan cara dilempar ke jurang dan dihujani batu”.
Sartono, anak Carik Ismail, peristiwa Ponorogo 1948.

Daftar Isi Buku :

1. Prolog : Merah Putih itu Nyaris Diganti Palu Arit

2. Amini Anjuran Alimin, Lalu Darah Tumpah

3. Kutil : Penyembelihan ini adalah Gugatanku kepada Tuhan

4. Jasad Oto Dilarung Ke laut Setelah Kepalanya Dipenggal

5. Pembunuhan Bupati Lebak Oleh Ce' Mamat dan Perampokan Tak Berkesudahaan

6. Dua Hati Mengikat Janji, Kepala Kekasih Tersembelih

7. Aksi Pemanasan di Magetan, Kampung Kauman pun Dibumi Hanguskan

8. Kyai Soelaiman Tetap Berdzikir Meski Dikubur Hidup-Hidup dan Dihujani Batu Kapur

9. Musso, Kau Buang Kemana Kyai Kami

10. Banjir Darah di Loji Rojosari Setinggi Mata Kaki

11. Wangi Pucuk Kenanga itu tak kan Hapuskan Bau Anyir Darah Para Kyai Kami

12. Jamban Adalah Kuburan Kalian

13. Legenda Sandiryo dan Penyembelihan Ulama di Kresek

14. Gubenur Soerjo Ditelanjangi, Diseret Lebih Dari 10 Kilometer, Lalu Disembelih

15. Pembantaian KH Hamid Dimyathi di Tirtomoyo

Untuk Siapa Buku Ini ?

Buku *"Ayat-Ayat yang di Sembelih"* ini dibuat untuk untuk :
1. Generasi Muda sebagai penerus Bangsa, agar tidak mudah terhasut paham komunis (PKI), agar keutuhan NKRI tetap terjaga.
2. Khalayak Umum, bahwa paham komunis (PKI) dalam melaksanakan aksinya dengan perbuatan biadab dan tidak manusiawi.
3. Para Kyai, yang telah mengorbankan nyawanya untuk menolak paham komunis (PKI).
4. Bangsa Indonesia, bahwa paham komunis (PKI) tidak cocok untuk keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai budaya, adat dan istiadat.

Situasi Kritis Politik Semenanjung Arab : Perang Yamamah


Siapa Musailamah

Sejarawan berbeda pendapat tentang namanya. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Yang lain mengatakan Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Ada yang mengatakan kun-yahnya adalah Abu Tsamamah. Ada pula yang menyebutnya Abu Harun. Musailamah dilahirkan di wilayah Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd.

Usia Musailamah lebih tua dan lebih panjang dibanding Rasulullah . Ada yang menyebutkan ia terbunuh pada usia 150 tahun saat Perang Yamamah. Ia adalah seorang tokoh agama di Yamamah dan telah memiliki pengikut sebelum wahyu kerasulan datang kepada Nabi Muhammad . Sebelum mengaku sebagai nabi, Musailamah sering menyusuri jalan-jalan. Masuk ke pasar-pasar yang ramai oleh masyarakat Arab maupun non-Arab. Berjumpa dengan orang-orang berbagai macam profesi di sana. Pasar yang ia kunjungi semisal pasar di wilayah al-Anbar dan Hirah (Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 100).

Musailamah adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat (strong personality). Sangat pandai bicara dan berpidato. Hingga memiliki pengaruh di tengah bani Hanifah dan kabilah-kabilah tetangga. Tutur katanya lembut namun menipu. Pandai menarik simpati, bagi laki-laki maupun wanita. Ia menyebut dirinya Rahman al-Yamamah. Namun Allah berkehendak beda. Ia dikenal dengan nama Musailamah al-Kadzab (Musailamah sang pendusta) hingga hari ini. Saat Musailamah mengumumkan kenabiannya (nabi palsu), Rasulullah berada di Mekah. Ia mengutus orang-orang pergi ke Mekah untuk mendengarkan Alquran. Kemudian kembali ke Yamamah untuk membacakannya kepadanya. Setelah itu ia menirunya atau memperdengarkan ulang ke hadapan orang-orang sambil mengklaim itu adalah kalamnya (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3: 295).


Utusan Bani Hanifah Menemui Rasulullah


Di antara metode dakwah Rasulullah adalah menulis surat kepada para penguasa dan raja-raja. Menyeru mereka untuk memeluk Islam. Seruan dakwah tersebut sampai juga kepada Haudzah bin Ali al-Hanafi. Seorang penguasa Yamamah yang beragama Nasrani. Setelah menerima surat tersebut, Haudzah mengajukan syarat agar kekuasaan diberikan kepadanya. Nabi menolaknya. Tidak lama setelah itu Haudzah pun wafat.


Pada tahun ke-9 H, tokoh-tokoh bani Hanifah yang berjumlah beberapa belas orang laki-laki datang menemui Nabi di Madinah. Di antara mereka terdapat Musailamah. Mereka datang untuk mengumumkan keislaman kepada Rasulullah . Dan menyepakati bahwa Nabi adalah pemimpin. Bani Hanifah termasuk kabilah Arab yang terbesar jumlahnya. Mereka memiliki kedudukan dan terpandang. Karena merasa layak mendapatkan kepemimpinan, mereka mengajukan permintaan kepemimpinan. Mereka ingin agar Musailamah kelak menggantikan posisi Nabi setelah beliau wafat. Nabi menolak permintaan mereka.


Utusan bani Hanifah pun kecewa dan mulai muncul keinginan untuk keluar dari Islam. Dan Nabi telah menangkap gelagat ini. Ketika hendak pulang ke Yamamah, mereka berkata kepada Rasulullah , “Sesungguhnya kami meninggalkan salah seorang sahabat kami di perbekalan kami untuk menjaganya”.


Rasulullah menanggapi, “Kedudukan dia (Musailamah) tidak lebih buruk daripada kedudukan kalian”. Artinya walaupun ia sebagai petugas yang menjaga perbekalan kalian, bukan berarti kedudukannya lebih rendah dari kalian. Mereka pun pulang ke Yamamah dengan membawa hadiah dari Nabi .


Perkataan Nabi terhadap Musailamah tersebut diputarbalikkan dan dijadikan isu sebagai sabda rekomendasi oleh Musailamah dan tokoh yang lain. Mereka klaim bahwasanya Nabi Muhammad meridhai Musailamah sebagai penggantinya. Tak lama Musailamah pun mengumumukan kenabiannya di tengah-tengah bani Hanifah. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Musailamah al-Kadzab.


Kemudian Nabi menunjuk Nuharur Rijal bin Unfuwah untuk mengajarkan agama kepada penduduk Yamamah. Ibnu Unfuwah adalah laki-laki yang berilmu, luas pandangannya, dan cerdas. Siapa sangka, ternyata Ibnu Unfuwah malah bergabung dengan Musailamah. Kesungguhannya di hadapan Rasulullah hanyalah riya’ semata. Ibnu Unfuwah mengakui kenabian Musailamah. Menurutnya Musailamah bersama-sama Nabi Muhammad dalam risalah kenabian. Orang-orang bani Hanifah pun simpati kepadanya. Dan Musailamah menjadikannya orang kepercayaan (Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 97, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3: 137-138, dan al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 5: 50-52).


Rasulullah Berbalas Surat dengan Musailamah


Setelah klaim kenabiannya diterima di tengah-tengah kaumnya, rasa percaya diri Musailamah kian bertambah. Semakin jauhlah kesesatannya. Ia mulai memposisikan diri sebagai seorang utusan Allah. Ia meniru Nabi Muhammad yang berdakwah melalui surat kepada para raja dan penguasa. Saking percaya dirinya, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad :

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُولِ اللَّهِ، إلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ: سَلَامٌ عَلَيْكَ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي قَدْ أُشْرِكْتُ فِي الْأَمْرِ مَعَكَ، وَإِنَّ لَنَا نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلِقُرَيْشٍ نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلَكِنَّ قُرَيْشًا قَوْمٌ يَعْتَدُونَ

Dari Musailamah seorang rasulullah kepada Muhammad seorang rasulullah. Keselamatan atasmu, amma ba’du:

Sungguh aku sama denganmu dalam kerasulan ini. Bagi kami bagian bumi tertentu dan bagi Quraisy bagian bumi lainnya. Akan tetapi orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”


Perhatikanlah, para penyeru kesesatan sejak dulu terbiasa menggunakan pilihan kata yang indah untuk menipu manusia. Musailamah menyebut Nabi Muhammad sebagai orang yang melampaui batas. Karena ingin menguasai seluruh jazirah Arab. Sementara ia mengisyaratkan bahwa dirinya adalah orang yang bijak karena ingin berbagi.


Demikian juga para penyeru kesesatan di zaman ini, mereka menggunakan bahasa yang indah untuk memikat hati. Mereka sebut ajaran mereka mencerahkan sementara berpegang kepada Alquran dan sunnah adalah kejumudan dan kaku. Mereka sebut ajaran mereka toleran. Sementara yang lainnya adalah radikal.


Rasulullah tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Beliau tidak ingin keraguan dan kerancuan ini tersebar. Beliau pun membalas surat Musailamah:


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ، إلَى مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ: السَّلَامُ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْأَرْضَ للَّه يُورَثُهَا مَنْ يُشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah sang pendusta. Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk, amma ba’du:

Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”


Setelah membaca surat itu, Musailamah memutilasi sahabat Nabi, Hubaib bin Zaid radhiallahu ‘anhu, yang Nabi tugaskan untuk mengantarkan surat kepada Musailamah al-Kadzab. Peristiwa ini terjadi di akhir tahun ke-10 H.


Fanatik keSuku-an, Sajak Pun disebut Wahyu


Musailamah mulai menjadikan Yamamah sebagai tanah haram. Ia juga mulai menyusun sajak yang ia sebut sebagai Alquran. Al-Mutasyammas bin Muawiyah, paman dari al-Ahnaf bin Qais, pernah mendengar sajak-sajak Alquran palsu yang dibacakan oleh Musailamah. Setelah keluar dari majelis Musailamah ia berkomentar, “Sungguh ia seorang pendusta”. Al-Ahnaf juga mengomentari, “Dia bukanlah nabi yang sebenarnya. Bukan pula seorang yang pintar dalam berpura-pura menjadi nabi”.


Orang-orang Yamamah yang mengikuti Musailamah begitu fanatik dengan dakwah kenabiannya. Mereka bangga orang-orang dari keluarga Rabiah bersaing dengan keluarga Mudhar. Yakni keturunan Rabiah juga punya nabi sebagaimana keturunan Mudhar punya nabi, yakni Nabi Muhammad . Pengakuan kenabian terhadap Musailamah sangat dipengaruhi fanatisme kabilah dan suku.


Suatu hari Thalhah an-Namiri datang ke Yamamah untuk bertemu Musailamah. Ia ingin mendengar langsung dakwahnya dan menguji kenabian pembuat wahyu palsu ini. Ketika sampai di majelis Musailamah, Thalhah menyebut nama Musailamah langsung. Kaum Musailamah menjawab, “Sebut dia rasulullah!”. “Tidak mau, sampai aku melihatnya dulu”, kata Thalhah.


Ketika Musailamah datang, Thalhah berkata, “Engkau Musailamah?” “Iya”, jawab nabi palsu si tukang tipu. “Siapa yang datang kepadamu?” Tanya Thalhah. Musailamah menjawab, “Rahman (Allah pen.)”. “Dalam keadaan bercahaya atau dalam kegelapan?”, selidik Thalhah. “Dalam kegelapan”, jawab Musailamah.


Thalhah berkata, “Sungguh aku bersaksi engkau adalah pendusta. Dan Muhammad adalah yang benar. Akan tetapi pendusta dari Rabiah lebih kami cintai dibanding orang yang jujur dari Mudhar”. (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3, 283-286, Asadul Ghabah oleh Ibnul Atsir, 1: 443, dan al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qobla al-Islam oleh Jawad Ali, 6: 97).


Untuk menguatkan posisinya, Musailamah menikahi seorang perempuan dari bani Tamim. Kabilah besar lainnya di masyarakat Arab. Perempuan itu adalah Sajah binti al-Harits bin Suwaid at-Tamimiyah. Wanita ini memiliki kesamaan degnan Musailamah, sama-sama mengaku nabi. Ia mengajak kaumnya bani Tamim dan paman-pamannya dari kabilah Taghlib dan kabilah-kabilah Rabi’ah lainnya. Bersatulah kelompok besar ini dalam fanatisme kesukuan mengklaim sebuah kedustaan. Kemudian mereka menantang kekhalifahan Abu Bakar di Madinah.


Perang Yamamah


Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu menggantikan beliau memimpin umat Islam. Di antara kebijakan prioritas Abu Bakar adalah adalah mengirim pasukan menghadapi orang-orang murtad. Semisal pengikut Musailimah al-Kadzab dan lainnya. Abu Bakar mengirim Ikrimah bin Abi Jahl dan didampingi Syurahbil bin Hasanah menghadapi nabi palsu pendusta itu.


Setelah mengemban tugas, Ikrimah terburu-buru melakukan penyerangan. Ia dan pasukannya pun berhasil dipukul mundur para pembela Musailimah. Ikrimah mengirim surat kepada Abu Bakar, mengabarkan kondisi di palangan dan meminta masukan kepadanya. Abu Bakar mengatakan, “Wahai Ikrimah, aku tidak menyaksikanmu dan engkau juga tidak melihatku. Janganlah engkau kembali (ke Madinah) sehingga moral pasukanmu turun. Teruslah berjalan hingga engkau berjumpa dengan Hudzaifah dan Urfujah. Keduanya bersama orang-orang Oman dan Mahrah. Bergabunglah bersamanya! Apabila keduanya sibuk (dengan tugas mereka), teruslah maju. Berjalanlah! Berjalanlah! Bersama pasukanmu tanpa menghiraukan orang-orang yang kalian temui. Hingga nanti kalian berjumpa dengan Muhajir bin Abi Umayyah di Yaman dan atau di Hadhramaut”.


Abu Bakar juga menulis surat kepada Syurahbil agar tetap di posisinya hingga Khalid bin Walid datang. Setelah misi di Yamamah tuntas, mereka diperintahkan bergabung dengan Amr bin al-Ash menuju Qadha’ah. Khalid menunggu utusan yang dikirim kepadanya di wilayah al-Baththah. Ketika mereka tiba, barulah ia berangkat bersama pasukannya ke Yamamah menghadapi Musailimah.


Hari Aqriba


Di Yamamah, Musailimah mendengar pasukan Khalid telah mendekat. Ia memberi sambutan dengan menyiagakan pasukannya di Aqriba. Saat kedua pasukan berjumpa, tidak ada harga tawar kecuali peperangan. Pasukan kecil Musailimah yang terdiri dari 40-60 orang berhasil dikalahkan. Perang pembuka ini dimenangkan oleh Khalid dan pasukannya.


Keesokan paginya, pasukan Khalid kembali berjumpa dengan pembela Musailimah. Seruan dan motivasi pembela nabi palsu itu adalah kesukuan dan kehormatan keluarga. Anak Musailimah al-Kadzab, Syurahbil bin Musailimah, memotivasi pasukannya dengan mengatakan, “Berperanglah untuk membela nasab kalian dan jagalah istri-istri kalian!”


Panji kaum muhajirin dipegang oleh Salim maula Abi Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Orang-orang muhajirin berkata kepadanya, “Kami khawatir akan ditimpa kekalahan karena dirimu”. Para sahabat muhajirin meragukan kepemimpinan Salim dalam perang ini. Salim menjawab, “Kalau demikian, aku adalah sejelek-jelek pembawa Alquran”. Ia menepis keraguan muhajirin. Adapun panji perang kaum anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas radhiallahu ‘anhu, khatib Rasulullah .


Dengan pasukan besar, tidak kurang dari 100.000 orang, pasukan Musailimah al-Kadzab berada di atas angin dan berhasil menekan 12.000 pasukan kaum muslimin di awal peperangan. Mereka berhasil memorak-morandakan pertahanan kaum muslimin. Mereka menerobos barisan tentara-tentara Allah hingga berhasil masuk ke dalam kemah panglima Khalid bin al-Walid. Istri Khalid hampir tewas dalam peristiwa itu.


Dalam situasi genting tersebut, Tsabit bin Qais memotivasi dirinya dan kaum muslimin dengan mengatakan, “Alangkah buruknya yang kalian biasakan (perbuat) ini wahai kaum muslimin. Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang mereka –orang-orang Yamamah- perbuat. Dan aku mohon maaf-Mu atas apa yang diperbuat kaum muslimin”. Kemudian ia berperang hingga menemui ajalnya.


Abu Hudzaifah berkata, “Wahai para penghafal Alquran, hiasilah Alquran dengan amalan!”.


Zaid bin al-Khattab berkata, “Wahai para pasukan, buanglah kerisauan kalian. Hadapi musuh kalian. Melangkahlah maju. Demi Allah, aku tidak akan berbicara sepatah kata pun hingga aku berjumpa dengan Allah. Barulah aku berbicara kepada-Nya dengan hujjahku”. Kemudian Zaid berperang tanpa rasa takut dan gentar.


Saudara Umar bin al-Khattab dan pemimpin pasukan sayap kanan ini dipertemukan Allah dengan Naharur Rijal. Orang yang mengkhianati amanah Rasulullah dan malah memilih bergabung dengan Musailimah al-Kadzab. Pedang keduanya pun saling hantam hingga Naharur Rijal tewas. Kematian tangan kanan Musailimah ini kontan menurunkan moral pasukan bani Hanifah.


Kecamuk Perang Yamamah kian memanas. Teriakan pengobar semangat, amarah, dan jeritan luka menggema dimana-mana. Gemerincing dan denting pedang saling menghantam. Desir suara anak panah dan tombak membelah angin. Deru derap langkah pasukan berpacu dengan kuda-kuda. Mental yang lemah akan menggoyahkan langkah. Niat yang keliru membuat jihad yang berat tiadalah arti selain lumuran debu. Di kaki, tangan, dan wajah. Jasad-jasad terhempas ke bumi berpisah dengan nyawanya. Itulah pemandangan yang terjadi dalam peperangan.


Terkadang kaum muslimin menekan. Kadang bani Hanifah memegang kendali perang. Gugurlah dalam perang ini sahabat-sahabat mulia; Salim maula Abu Hudzaifah. Seorang qari Rasulullah. Dan gugur pula Zaid bin al-Khattab. Serta tokoh-tokoh Islam selain keduanya.


Tewasnya Nabi Palsu


Musailimah al-Kadzab dan para pembelanya terpojok dan lari ke kebun yang memiliki pagar tinggi. Pasukan sebanyak itu membuat kebun menjadi penuh sesak. 6000 pasukan Musailimah berlindung di dalamnya. Kaum muslimin berusaha mengejar mereka, namun tak mampu memasukinya. Hingga al-Barra bin Malik mengeluarkan ide “nekat”. Ia berkata, “Letakkan aku dalam baju besi. Kemudian angkat dengan ujung tombak. Angkatlah, hingga aku bisa mencapai ujung atas pagar. Lalu lemparkanlah aku ke dalam kebun. Akan kubukakan pintu dari dalam”.


Awalnya, orang-orang menolak usulan al-Barra. Mereka khawatir akan keselamatannya. Sampai akhirnya mereka mengangkatnya dan melemparnya ke dalam kebun. Al-Barra pun masuk ke dalam kebun. Keberanian, keahlian dalam bela diri dan menggunakan senjata mengantakan al-Barra ke pintu gebarng setelah ia membunuh 15 orang. Gerbang kebun terbuka.


Kebun yang awalnya menjadi benteng Musailimah. Kini menjadi kebun kematian untuknya. Kaum muslimin berlari membanjiri kebun. Setelah semuanya masuk, al-Barra menutup kembali pintu tersebut dan melemparkan kuncinya ke seberang pagar. Sehingga tidak ada satu pun yang bisa keluar.


Tempat para petani itu kini berubah menjadi medan laga. Pasukan Musailimah al-Kadzab kian terpojok. Sampai akhirnya tewaslah si nabi palsu, Musailimah al-Kadzab, di tangan Wahsyi bin Harb bekas budak Jabir bin Muth’im dan seorang mujahid dari anshar, Abu Dujanah Simak bin Khirasyah radhiallahu ‘anhu.


Tewasnya Musailimah meruntuhkan moral pengikutnya. Kebanggaan dan kesombongan mereka serta merta luruh, larut dalam situasi itu. Mereka seolah-olah tersadar dari sihir, bingung tak berbuat sesuatu pun. Akhirnya mereka menyerah. Setelah sejumlah 21.000 dari mereka tewas dalam pertempuran. Dan ada yang mengatakan 500 atau 600 atau bahkan 1200 kaum muslimin syahid. Jumlah korban yang besar.


Setelah perang usai, orang-orang bani Hanifah didatangkan ke Madinah untuk bertemu dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Mereka diminta bercerita tentang kenabian Musailimah. Abu Bakar bertanya tentang sajak yang dibuat Musailimah. Mereka menyebutkan beberapa contoh di antaranya. Lalu Abu Bakar berkomentar, “Subhanallah!! Celaka kalian! Kalimat-kalimat tersebut bukanlah berasal dari Tuhan bahkan orang yang baik (sekalipun). Bagaimana hal itu bisa membimbing kalian?” (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3:281-301, al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 6:237 & 324, Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad, 3:377, dan al-Ishabah oleh Ibnu Hajar, 3:15).


Inilah akhir dari kisah nabi palsu Musailimah al-Kadzab. Ia berdusta atas wahyu, hingga kini gelar al-Kadzab (si pendusta) selalu disandang di akhir namanya. Kehinaan ia dapatkan di dunia dan kelak di akhirat sana.

SEJENAK BERSAMA SANG MUFTI, SYEIKH HASANAIN MAKHLUF


Setelah meninggalnya Hasan Al-Banna, Al-Qadhi Al-Ustad Hasan Al-Hudhaiby kemudian dipilih menjadi Mursyid 'Am. Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Qadhi untuk fokus memimpin jama'ah. Juli 1952, para perwira militer (dan Ikhwan dibelakangnya) melakukan revolusi juli menggulingkan kekuasaan Raja Faruq. Setelahnya Rais Muhammad Naguib dipilih menjadi Perdana Menteri Mesir sebelum akhirnya tahun 1954 Gamal Abdul Nasir berbalik memenjarakan Muhammad Naguib dan memberangus Ikhwan.

***

Konflik Ikhwan dan Abdun Nasir menyebabkan ribuan anggota Ikhwan kembali menuju jerusi besi, tak terkecuali Hasan Al-Hudhaibi. Sebagian lain lari keluar negeri atau bersembunyi. Diantara mereka yang bersembunyi dari kejaran Abdun Nasir adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb, mahasiswa fakultas syari'ah Al-Azhar Syarif, sukarelawan mujahidin Ikhwan dalam perang Suez melawan Inggris dan perang Arab-Israel tahun 1948. Muhammad As-Shawabi juga memberikan pelatihan militer untuk mahasiswa Al-Azhar di Camp Univ Al-Azhar.

Muhammad As-Shawabi tetap dalam persembunyiannya sampai September 1954 hingga pada suatu hari jam tiga siang ia mengetuk pintu Al-'Allamah Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Ad-Diyar Al-Mishriyah) yang terletak di Jln. Naguib Pasya Kubri Qubba Cairo.

Ketika pembantu rumah membukakan pintu, ia kembali masuk dan memberitahukan kepada Syeikh bahwa ada seorang pemuda dengan jenggot tebal dan pakaian lusuh ingin bertemu dengan Syeikh. Syeikh Hasanain bercerita: Aku heran dengan pemuda tersebut. Dugaanku, ia adalah pengelana. Ia kemudian masuk rumah dan aku pada awalnya tidak menemuinya. Akan tetapi pembantu menyiapkan makanan dan aku melihatnya makan dengan lahap seakan-akan dia belum makan sejak lama. Selesai makan, kupikir ia akan pergi namun ia tetap bersikeras ingin menemuiku. Akupun menemuinya dan menduga ia akan meminta sedekah. Lusuh pakainnya menjelaskan seberapa lelahnya ia. Kemudian ia memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb mahasiswa fakultas syari'ah Universitas Al-Azhar. Badanku kemudian bergetar dan berkeringat ketika dia berkata bahwa ia adalah sukarelawan mujahidin Ikhwanul muslimin dalam perang Palestina dan Perang Terusan Suez.

Tahun itu, Ikhwan sedang dalam puncak cobaannya. Hingga kalimat 'Ikhwan' identik dengan penangkapan, penjara, penyiksaan dan persidangan.

Pemuda itu menatapku dengan tenang. Lalu ia berkata dengan suara yang rendah tapi jelas: Saya sedang berada dalam musibah dan membutuhkan anda. Saya masuk dalam daftar orang yang dicari untuk ditangkap. Saya telah lebih sebulan bersembunyi di pekuburan-pekuburan disiang hari dan keluar malam hari mengais sisa-sisa makanan. Saya benci hidup ditengah-tengah orang mati dan sekarang ingin hidup bersama orang-orang hidup. Apakah anda akan menerimaku?

Aku sepenuhnya bingung dan baru 'siuman' setelah dia mendesakku: Bagaimana pendapat anda wahai Syeikh?

Aku kemudian meminta izin sebentar dan menemui anak-anakku; Dr. Ali dan putriku Zainab dalam kebingunganku. Anak-anakku kemudian melihat kebingunganku dan bertanya: Kenapa Ayah? Ada apa?

Aku memberitahukan mereka kisahnya. Lalu aku bergumam sendiri: pemuda ini benar, pemuda ini jujur, dia jujur.

Aku berkata pada anak-anakku: Aku yakin bahwa pemuda itu bukan polisi dan Intel yang datang untuk menguji kita. Aku yakin dia jujur dan apa yang dia ceritakan adalah benar.

Aku kemudian berkata: Sesungguhnya aku tidak mampu menolak permintaan seseorang dalam cobaan seperti ini. Aku yakin dia dizalimi. Aku telah memutuskan untuk menerimanya. Namun, yang aku takutkan adalah apa yang nanti akan dilakukan intelijen negara jika suatu hari mereka mampu menyingkap bahwa dia disini. Pada waktu itu, ada undang-undang yang menegaskan bahwa siapapun yang melindungi setiap anggota Ikhwan akan disanksi dengan hukuman penjara dan kerja paksa selama 15 tahun.

Lalu putraku Ali berkata setelah lama diam: Ayah, lakukanlah apa yang menurutmu sesuai dengan sisi keislaman. Insya Allah Allah akan menjadi penolong kita.

Akupun keluar keruang tamu bersama anakku Ali dan memperkenalkannya dengan Muhammad As-Shawabi. Kami katakan bahwa kami memutuskan untuk menerimanya dan hal itu adalah sebuah kemuliaan bagi kami. Aku melihat raut wajah teduh dan tenang dimukanya. Sampai saat ini, aku masih melihat cahaya senyuman itu.

Dr. Ali Hasanain dokter penyakit perempuan dan melahirkan kemudian menjelaskan bahwa Muhammad As-Shawabi harus menjadi pribadi lain dan menguburkan Muhammad As-Shawabi lama. Dikarenakan wilayah tempat tinggal mereka salah wilayah tempat tinggal banyak perwira polisi. Solusi satu-satunya adalah dengan 'melahirkan' individu baru yang 100% berbeda dengan As-Shawabi. Karena melarikan diri adalah usaha yang terbukti gagal dekat atau lambat.

Kemudian kami sepakat untuk menjadikannya sekretaris Mufti dan kebetulan waktu itu Syeikh Hasanain membutuhkan seorang sekretaris dikarenakan banyaknya pertanyaan yang datang meminta fatwa disamping kesibukannya menulis kitab. Kemudian kami mencari nama yang cocok untuknya. Syeikh Hasanain berkata: Engkau jujur dalam setiap tingkah laku dan kata-katamu. Maka mulai hari ini namamu adalah Shodiq (jujur) Afandi. Kamipun tertawa bersama.

Besoknya, Muhammad As-Shawabi tampil necis dengan jenggot tercukur, kulitnya yang putih bersih, mata lebar, tinggi sedang dan kurus.

Syeikh Hasanain Makhluf berkata: Taktik penyamaran untuk menyembunyikan Muhammad As-Shawabi sukses sempurna. Kami memberitahukan kepada penghuni rumah bahwa ada sekretaris baru telah datang. Namanya Shadiq Afandi. Tak ada yang mengetahui rahasia itu kecuali 4 orang. Aku(Syeikh Hasanain), Ali, Zainab dan istri putraku Su'ad Al-Hudhaibi (Puteri Hasan Al-Hudhaiby Mursyid kedua Ikhwan) yang tanpa ragu-ragu menerima As-Shawabi betapapun Ayah dan saudara-saudaranya semuanya dalam penjara.

Syeikh Hasanain Makhluf melanjutkan: Muhammad As-Shawabi atau Shadiq Afandi kemudian benar-benar menjadi sekretaris yang luar biasa. Dia banyak membantu pekerjaanku terutama dalam mentahqiq kitab-kitab turats. Dia membersamaiku kemanapun aku pergi. Aku sudah menganggapnya sekretaris pribadiku.

Selama 8 bulan, Shadiq Afandi hidup bersama keluarga Syeikh Hasanain Makhluf seperti halnya salah satu anggota keluarganya. Ia makan dan hidup bersama mereka. Dimana Syeikh Hasanain sebagai Mufti Mesir waktu itu sering meminta bantuan Shadiq Afandi untuk menjawab fatwa-fatwa yang dilayangkan padanya. Shadiq Afandi tinggal di sebuah bangunan terpisah di taman dimana terdapat salon, perpustakaan besar, kamar tidur dan kamar mandi khusus yang memang sengaja disediakan untuknya.

Syeikh Hasanain Makhluf bercerita: Pada suatu hari ditahun 1955 seingatku. Shadiq Afandi mendatangiku dan menyatakan keinginannya untuk safar ke Arab Saudi dan bekerja disana. Aku berusaha mencegahnya. Akan tetapi ia tetap ngotot dan memberitaku bahwa ia punya kenalan yang telah menyiapkan perjalanan laut dari Suez ke Jeddah.

Hatiku menjadi tak tenang, aku meminta anakku Dr. Ali untuk mencegahnya agar tidak pergi namun tanpa hasil. Muhammad As-Shawabi mengatakan bahwa ia ingin menjadikan Saudi sebagai tempat pengasingannya dan terbebas dari kecemasan sebagai seorang pelarian yang dicari polisi. Kamipun terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepadanya setelah ia berjanji akan mengirimkan telegram begitu ia sampai di Saudi. Akupun mengirimkan telegram kepada Muhammad Surur As-Shabban penasehat Raja Sa'ud bin Abdul Aziz untuk menyediakan baginya pekerjaan begitu ia sampai Saudi. Lebih dari sebulan berlalu dan tak satu telegrampun sampai darinya kepadaku.

Semua anggota keluarga gelisah. Sebagai orang yang paling tenang, akupun berusaha untuk menenangkan mereka namun nihil. Ketenangankupun sirna ketika istri anakku Dr. Su'ad Al-Hudhaibi menceritakan bahwa ia mendengar dari radio London berita tertangkapnya dua orang buronan Ikhwan dalam kapal Suez yang menuju Jeddah. Radio itu tidak menyebutkan nama keduanya. Akan tetapi kami merasa bahwa Muhammad As-Shawabi adalah salah satunya.

**

Wahbi Al-Fisyawi yang bekerja di percetakan Mesir menceritakan: Muhammad As-Shawabi dipenjara bersama kami dalam penjara no 4 penjara perang/militer. Kami mengetahui bahwa ia ditangkap dengan perantaraan seorang Iraq yang menjadi Zabaniah tukang siksa penjara militer. Para sipir penjara menyiksanya dengan sadis dan meletakkannya dalam penjara yang dikhususkan untuk menyiksa dengan siksaan-siksaan paling sadis dan kejam. Mereka tidak memberikannya kesempatan untuk memejamkan matanya.

**

Dr. Su'ad Al-Hudhaibi, Puteri Mursyid Am Ikhwan Al-Ustad Hasan Al-Hudhaibi menceritakan: suatu hari, aku pergi ke penjara untuk menyerahkan beberapa kebutuhan kepada ayahku. Saat sedang keluar dari kantor kepala penjara Hamzah Al-Basyuni aku melihat Muhammad As-Shawabi sedang diphoto untuk pembuatan kartu tahanan. Aku hampir menjerit dan kemudian bergegas pulang dan menyampaikan kepada suamiku apa yang kulihat. Suamiku terperanjat dan bergegas menyiapkan kopernya untuk persiapan menuju penjara. Kami yakin kapan saja polisi dan Intel akan menjemput dan menangkap kami.

**
Dr. Ali Hasanain berkata: Aku takut terhadap ayahku mengingat umurnya telah lebih dari 60 tahun. Dia pasti tak akan sanggup menahan penyiksaan penjara militer. Karenanya, aku dan istriku selalu membersamainya siang malam menunggu kapan polisi akan menggerebek rumah kami.

**
Dr. Su'ad Al-Hudhaibi berkata: Kami semua heran karena setelah beberapa hari berlalu tak ada polisi yang menggerebek rumah sebagaimana dugaan kami. Pada suatu hari, aku mengunjungi penjara militer untuk menziarahi ayahku. Aku tanyakan padanya keadaan Muhammad As-Shawabi karena dia pasti mengenalnya sebagai anggota Ikhwan. Terlebih asal kami berdekatan di Qalyubia. Ayahku menggelengkan kepalanya yang menunjukkan putusnya harapan. Dia memberitahuku bahwa As-Shawabi telah syahid. Ia (Hasan Al-Hudhaiby) melanjutkan: Aku heran dengan para sipir penjara yang hanya menanyakan kepadanya dengan satu pertanyaan "inta kunta fein?" Dimana kau selama ini?. As-Shawabi hanya menjawabnya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an Al-karim. Hingga mereka mematahkan tulang belakangnya dan tulang rusuknya terlihat. Para perawat penjara keluar dari ruang penyiksaannya sementara nampan ditangan mereka penuh dengan darah.

**

Syeikh Hasanain berkata: Aku samasekali tak pernah menyangka bahwa As-Syahid Muhammad As-Shawabi akan mampu menahan penyiksaan yang tak terbayangkan itu demiku. Aku tak menduga bahwa ia mampu mengorbankan hidupnya demiku. Sungguh ini adalah tarbiyah Islam yang benar.

**

Wahbi Al-Fisyawi berkata: Sebagian Ikhwah di penjara yang bertugas membagikan makan kepada kami mengabarkan bahwa luka yang diderita Muhammad As-Shawabi terlalu parah. Kondisinya amat buruk hingga serangga (ulat) terlihat berjalan-jalan diantara lukanya. Ia menolak makan karena air minum tidak diberikan kepadanya. Selang beberapa waktu, semua lampu penjara dimatikan dan dari celah jeruji besi aku mengintip para sipir penjara memikul bungkusan selimut dan memasukkannya dalam sebuah mobil Jeep. Aku merasa bahwa itu adalah Muhammad As-Shawabi dan aku berkata dalam diriku: istirahatlah dengan tenang menuju surga insya Allah.

**

Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf, sisa para salafus sholih mengakhiri ceritanya:
إذا كانت تربية الشهيد من تربية الاخوان المسلمين فأنا أضم صوتي بقوة الى علماء الأزهر في المطالبة بعودة الاخوان المسلمين، فتربيتهم خير تربية.
"Jika tarbiyah As-Syahid adalah tarbiyah Ikhwanul Muslimin, maka aku ikut menyuarakan bersama para ulama Al-Azhar kembalinya Ikhwanul Muslimin. Karena tarbiyah mereka adalah sebaik-baik tarbiyah(1).

Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf ketika menerima King Faishal Award tahun 1983.

Footnote:

1. Min A'lam Ad-Dakwah Wa Al-Harakah Al-Islamiyah Al-Mu'ashirah, Al-Mustasyar Abdullah Aqeel Sulaiman Al-Aqeel, Hal: 566-573. Cet ke 3, Dar At-Tauzi' wa An-Nasyr tahun 2005.

RATU ISABELLA DAN SISI KELAM RECONQUISTA DI ANDALUSIA

Ratu Isabella, Di belakang namanya yang indah, ternyata meninggalkan catatan gelap sejarah gelap kemanusiaan dan  berdarah dalam umat Islam?

Isabella dari Castille, lahir pada 22 April dan meninggal pada 26 November 1504. Dia adalah aktor utama di balik berakhirnya pengaruh politik dan sosial Islam di Spanyol dengan jatuhnya Kota Granada di tangannya.

Dia dan suaminya, Raja Ferdinand II dari Aragon, mengadu keluarga kerajaan Bani Ahmar di Granada sehingga rusaknya persatuan kerajaan dan pada akhir cerita, umat Islam harus meninggalkan tanah Andalusia untuk selamanya.

Para uskup dan imam juga menyebut Isabella sebagai "The Catholik", karena ia terkenal dengan gerakan Reconquistanya untuk memaksa umat Islam untuk murtad atau mengusir mereka dari negeri mereka Andalusia.  Salah satu kejahatannya adalah pembantaian 140 ribu Muslim yang sedang digiring dalam perjalanan untuk keluar dari negara Andalusia.

Sejarah membuktikan bahwa Isabella adalah pelaku "Pengadilan Inkuisisi", sebuah agenda penyiksaan terhadap umat Islam yang menolak kemurtadan.  Awalnya Isabella mengizinkan Muslim dan Yahudi untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka.  Tetapi, akhirnya Isabella dan para pemimpin Spanyol mengkhianati perjanjian itu dan mereka mengumumkan dua pilihan untuk pemegang keyakinan Islam dan Yudaisme.  Satu, tetap di Spanyol tetapi harus masuk Kristen, pilihan kedua adalah meninggalkan Spanyol tanpa membawa apa-apa jika tetap berpegang pada keyakinan awal mereka.  Jika menolak akan dihabisi.

Penyiksaan yang terjadi di "Pengadilan Inkuisisi" dapat dilihat sebagai 'inspirasi' untuk film sadis, ketika menyiksa korbannya.  Mulai dari gergaji, pembakaran hidup-hidup, tang, peti berduri dan hal-hal menakutkan lainnya.

Berikut adalah potret ilustrasi kekejaman dari inkuisisi.

AKHIR SENGOKU

@salimafillah

Tiga nama itu takkan pernah hilang dari sejarah Jepang; Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu.
.
Anak-anak Jepang masih menghafal peran mereka di masa penyatuan nan penuh darah di akhir Era Sengoku dalam sebuah haiku, "Nobunaga menumbuk padi, Hideyoshi menanak nasi, dan Ieyasu memakannya tujuh turunan."
.
Tentang watak masing-masingnya, sebuah puisi pendek lain dengan tepat menggambarkannya. "Jika seekor burung tak mau bernyanyi; apa yang harus kita lakukan?"
.
"Bunuh saja!", sahut Nobunaga.
.
"Buat agar ia ingin bernyanyi", kata Hideyoshi.
.
"Tunggu!", seru Ieyasu.
.
Ketika kejayaan para panglima perang agung dari marga Hojo, Odawara, Takeda, dan Uesugi berakhir dengan tampilnya persekutuan 3 orang yang unik lagi saling melengkapi ini, berakhirlah Era Sengoku yang hampir 2 abad mewarnai Jepang dengan Seni Perang yang indah namun penuh darah.
.
Nobunaga yang kharismatik, nekad, haus akan hal baru, namun juga brutal, memulai kampanyenya dengan penghadangan Imagawa Yoshimoto dari Suruga yang hendak menuju Kyoto untuk mengambil alih keshogunan dari marga Ashikaga. Keranjingannya pada teknologi menuntun pada strategi penembak berlapis yang mengakhiri kemasyhuran Takeda Shingen dari Kai.
.
Hideyoshi yang buruk rupa, periang, terkesan pandir, cerdik, setia kawan, dan pandai bergaul melanjutkan kerja besar Nobunaga ketika atasannya itu terbunuh oleh pengkhianatan Akechi Mitsuhide di Kuil Honnoji. Dari donjon-donjon Azuchi yang dibangun Nobunaga di tepi Danau Biwa, dipindahkannya ibukota ke Osaka yang kukuh dan jelita. Masa pemerintahan Sang Taiko akan dikenang sebagai zaman keemasan.
.
Setelah kematiannya, salah satu kepercayaannya mengambil alih semua itu. Ieyasu, si tabah hati, si pengalah, si pendiam, dan si penyabar itu akhirnya merebut semuanya di Sekigahara, ketika dia mengalahkan Aliansi Barat pewaris Hideyoshi yang dipimpin Ishida Mitsunari. Era Sengokupun berakhir.

Saifuddin Qutuz : Benteng Terakhir Islam dari Serbuan Mongol


Imperim Kekaisaran Mongolia

Di abad ke-13, kekuatan raksasa  muncul dari Padang rumput Mongolia yang dipimpin oleh Genghis Khan, Yang berhasil menyatukan seluruh suku mongolia yang sebelumnya sering berperang sesama mereka dan mampu mengerahkan rakyatnya untuk berperang menaklukkan 1/3 dunia.

Dia mengukir sejarah kerajaannya yang luas dan setelah kematiannya di tahun 1227, para penerusnya melanjutkan cita-citanya untuk menaklukkan dunia dengan  meninggalkan jejak luka dalam sejarah- ditandai dengan pembantaian, Penghancuran, dan tindakan kebiadaban pada tanah taklukkannya.

Penjarahan mongol di Eropa memperluas wilayah hingga Polandia, Hungaria dan Balkan, ketika gerak pasukan mongol ke Timur Tengah dilakukan dengan pembantaian yang hampir saja Muslim di timur tengah menuju kepunahan dengan jatuhnya kota-kota muslim dalam cengkeraman mereka.

Lebih dari 35 tahun, tanpa henti pasukan Mongol membawa kerusakan bagi Peradaban Islam. Tak terhitung kota-kota yang dibumihanguskan, para penduduknya Banyak yang dibunuh atau diperbudak.

Akhirnya, Mongke, cucu dari penguasa  Jenghis Khan, memberi perintah kepada saudaranya Hulagu untuk melakukan yang dapat diperbuat tentara terbesar yang pernah dikumpulkan oleh pasukan Mongol dengan memerintahkannya untuk menaklukkan negara-negara Islam yang tersisa di wilayah Timur Tengah dan Afrika Timur.

Runtuhnya Dinasty Abbasid

Pada tahun 1258 Masehi, mereka  berbaris menuju Baghdad dengan 15 batalyon, yang setara dengan 150.000 pasukan tentara. Meskipun Kalifah Abassid  tidak lagi menjadi pusat kekuatan politik dunia Islam, tetap saja, mereka menjadi pusat kaum intelektual.

Pada Feburary, pasukan Mongol mengambil keuntungan dari pengkhianatan yang terjadi pejabat kekhalifahan Abbasid yang beragama Syiah, dan Memanfaatkan kebodohan dan kecerobohan khalifah, sehingga dengan cara licik Baghdad, kota dengan jutaan penduduknya berhasil dikuasai, dan mengakhiri Kejayaan Imperium Besar Abbasid. 

Ratusan ribu orang dibantai atau dijual sebagai budak, kota dijarah dan dibakar sampai ke peninggalan sejarahnya, seperti Perpustakaan Kuno Terbesar di Baghdad, Sistem irigasi dihancurkan, secara besar-besaran sehingga membutuhkan waktu berabad-abad bagi pertaniannya untuk dapat pulih kembali.

Setahun kemudian setelah kejatuhan Baghdad mengguncangkan dunia dirasakan efeknya di dunia Islam,  Hulagu bergerak ke Suriah membawa 6 batalyon, setara dengan 60.000 tentara. Kecepatan mobilitas pasukan Mongol sangat menakutkan. Di bulan Januari 1260 M, pasukan Mongol telah tiba di gerbang Kota Allepo. Tembok pertahanan berhasil dirobohkan dalam waktu 6 hari Dengan ketapel dan mesin perang mereka.

Ketika mereka menyerbu kota itu, orang-orang Mongol dibantu dengan bergabung dengan pasukan  kristen Armenia dan Franka membantai orang Muslim dan Yahudi dalam pembantaian besar-besaran, sedangkan sebagian wanita dan anak-anak dijual di pasar budak. Raja Kristen dari Armenia dan Pangeran Antiokhia dari Tripoli  dengan bangga, mereka diberi apresiasi atas kerjasama mereka menghancurkan kota.


Benteng Islam Terakhir

Setelah mendengar nasib mengerikan yang diderita Aleppo, seluruh Suriah menyerah pada akhir Maret tanpa perlawanan. Dengan kehancuran kota-kota Muslim yang utama, Hanya Kesultanan Mamluk yang tersisa sebagai pemerintah penganut setia Islam. Dan bagi pasukan Mongol Mesir adalah target berikutnya.

Sekarang setiap orang memahami, Kesultanan Mamluk  berdiri sebagai banteng terakhir umat Islam melawan pasukan mongol yang ditakuti. Mereka dalam posisi dilema antara ketakutan dan harapan hingga nantinya keputusan untuk bertarung di Pertempuran yang akan merubah arah sejarah akan segera terjadi.

Ksatria Budak

Di Mesir, pasukan Mamluk adalah kesatria direkrut dari kasta budak yang dilatih sejak usia muda sebagai prajurit yang tidak hanya ahli berperang, juga membentuk merupakan pasukan militer elite kesultanan Ayubiyah dari Mesir dan Suriah.

Seiring waktu, kekuatan mereka bertambah diiringi lemahnya kepemimpinan Sultan dan pada 1250 Masehi, mereka  menggulingkan kesultanan Ayubiyah dan membentuk Kesultanan Mamluk.

Kairo mengalami masa keemasannya pada periode 10 tahun sesudahnya, sampai suatu ketika musim panas tahun 1260 Masehi di tepi sungai Nil. Saat penduduk kota mengerjakan aktivitasnya, dan tidak menyadari, bahwa di istana, Empat orang utusan pasukan Mongol sedang Disambut oleh Sultan  of Saifudin Al Qutuz dan para panglimanya.

Mereka datang mewakili Hulagu Khan, dan membawa sepucuk surat yang berisi ultimatum keras Singkatnya, pasukan Khan mengancam akan membumihanguskan Mesir, dan menghancurkan semua mesjid Dan membunuh semua anak-anak Muslim jika Qutus menolak untuk tunduk pada aturan Mongol sebagaimana kota-kota lain.

Untuk sesaat, Sultan dan utusan Mongol saling memandang satu sama lain dan terdiam atas pilihan sulit itu. Lalu, Qutuz membiarkan utusan itu sejenak pamit untuk berkonsultasi dengan para perwiranya, di saat yang sama pasukan Mongol justru menyeringai mengejek menunjukkan ketidaksopanan.

Dewan perang kemudian bergegas berkumpul, Para perwira mengingatkan akan situasi yang kurang baik, Qutuz sadar bahwa pasukan Mongol telah maju dan menghancurkan sampai ke Timur Tengah. Panglima Mamluk berpendapat bahwa akan lebih bijaksana untuk tunduk pada kekuasaan Mongol Tetapi pendapat Qutuz justru berbeda.

Meskipun dia mengakui bahwa pasukan Mamluk saat ini mustahil melawan pasukan Mongol yang sangat besar jumlahnya Tetapi dia adalah pemimpin yang teguh dan tegas yang membanggakan sikap kepahlawanan. Baginya Menyerah adalah tindakan pengecut. 

“Mesir membutuhkan ksatria sebagai raja”, Dia berseru. “Jika tidak ada orang yang mau menghadapi mereka, Aku yang akan pergi dan melawan pasukan Tatar sendiri!” 

Dan karena itulah, Sultan memerintahkan para utusan Mongol yang juga ternyata kedapatan melakukan aksi mata-mata ditangkap, Dipotong bagian tubuhnya sampai setengah pinggang, dan dipenggal, Dan kepala mereka dipamerkan di Pintu Gerbang Zuwila Kairo. Pesan Qutus kepada Hulagu tidak dapat ditarik kembali– Kaum Mamluk tidak akan tunduk kepada para penjajah. 

Pembunuhan para utusan membuat Khan marah besar, lalu Persiapan untuk perang besar pun dimulai. Qutus memiliki tugas yang sangat berat di depannya. Pasukannya kalah dari sisi jumlah, Kesultanan Mamluk terbagi ke dalam 24 wilayah Kabupaten, Masing-masing Kabupaten hanya memiliki 1000 tentara Yang ditempatkan seluruh pasukan Mamluk Berjumlah 24.000 orang, yang mana sejumlah 4000 orang berasal dari pasukan kerajaan, 10,000 adalah kelompok bangsawan mamluk, dan 10.000 lainnya Adalah tentara yang berasal dari berbagai daerah. Adapun Hulagu memiliki 60.000 pasukan dari Suriah. 

Strategi Qutuz Melawan Mongol

Meskipun demikian, Qutuz tetap tak bergeming dan mulai mempersiapkan strategi bertahan. Mungkin dimulai dengan yang terpenting, dia memanggil  saingannya Baibars, satu dari panglima perang terbaik di masanya, untuk membantunya dan menjanjikan untuk memberikan kekuasaan penuh Aleppo setelah perang usai.

Baibar adalah orang asli keturunan Turki, yang berasal dari Wilayah Kipchak Cuman. Dia berasal dari suku Barli yang tinggal di Bagian Utara Laut Hitam dan ketika dia masih kecil, Dia diperbudak oleh pasukan Mongol selama masa invansi mereka ke Eropa yang kemudian dijual Ke Kesultanan Ayyubiyah di Mesir dan Suriah. Jadi ia mengenal baik Mongol, baik strategi maupun masalah kemiliteran.

Di Kairo, dia dididik sesuai  dengan ajaran Furrusia yang merupakan kode bela diri kaum Mamluk. Latihan militer telah dia lalui selama beberapa tahun dan berhasil mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan, ketika mereka masih berusia sangat muda, Baibar telah menunjukkan Keahlian militernya dan setelah selesai pelatihan. Dia ditunjuk sebagai pemimpin pasukan elite dari Pasukan penjaga para Sultan.

Dia memperlihatkan kemampuannya dalam perang salib dan mendampingi Qutuz, dia adalah Satu dari Panglima Perang yang menghancurkan Tentara Salib di pertempuran Al Mansurah Pada 1250 M, ketika ia berhasil menangkapal Raja Louis IX. Setelah jatuhnya Damscus di 1260 M, Baibars Diundang oleh Sultan Qutuz untuk memimpin pasukan elit Mamluk melawan pasukan Mongol.

Sebagai kelanjutan persiapan strategi pertahanan di Mesir Kesepakatan antara Hulagu dan Qutuz tercapai, Hulagu terpaksa menunda Niatnya menyerang Mesir dan menarik sebagian pasukan kembali ketimur karena hal yang mendesak.

Ternyata berita kematian dari  Penguasa Mongol Mongke Khan telah menyebabkan Hulagu kembali ke Karakorum untuk mengikuti pemilihan Pemimpin Besar Khan yang baru. Hulagu meninggalkan Panglima kepercayaannya Kitbuqa untuk  Bertugas mempertahankan Suriah sampai ia kembali Dan melanjutkan perjuangan melawan Mesir.

Kitbuqa, adalah Gubenur dari Allepo saat ini, yang diberi 1 batalyon dengan 10.000 tentara. Dengan tambahan 2000 tentara dari dari Armenia, Georgia, garnisun dari Allepo yang secara lokal direkrut sebagai pasukan tambahan hingga Pasukan di bawah komando Kitbuqa’s berjumlah Mencapai sekitar 12.000. 

Hulagu memperkirakan bahwa Palestina tidak akan mampu menampung lebih dari 15.000 tentara Untuk jangka waktu yang lama dan dari info intelijen yang dikumpulkan dari para tawanan dan tentara sekutu mamluk memberikan informasi bahwa Mamluk Hanya dapat menerjunkan kurang dari 15.000 Pasukannya jika bergerak ke Palestina.

Dan benar, Qutuz menyiapkan pasukan penyerangan dengan 14,000 tentara terdiri dari pasukan terbaik Mamluk, termasuk tentara sekutu dari Bedouins, Para kaum Mamluk dari Turki, pasukan Mongol yang membelot, serta anggota suku  Hawwarah dari Lybia, dengan menugaskan 10.000 pasukan di garis belakang untuk menjaga Mesir dari kemungkinan serangan pasukan Kristen.

Langkah pertama yang dilakukan yakni melepas pasukan  Baibars pergi dari Kairo pada akhir Juli terlebih dahulu sebagai pasukan digarda depan untuk berbaris guna tiba lebih dahulu dalam mengamankan Gaza. Baik Qutuz dan Baibars melihat kepergian Pasukan utama Hulagu adalah kesempatan terbaik untuk Menyerang dari belakang pasukan Mongol yang bertahan di suriah.

Qutuz kemudian mengirim surat ke penguasa Latin kristen di Akra meminta mereka bergabung dengannya melawan mongol. Namun, para pasukan salib itu takut akan pembalasan pasukan Mongol dan memilih Jalan tengah dengan memberikan keamanan kaum Mamluk serta mengijinkan mereka membeli pasokan makanan jika mereka melewati wilayah kerajaannya.

Begitu berita pergerakan pasukan Qutuz sampai di Kitbuqa ia lalu mempersiapkan siaga tentang musuh yang mendekat, ia pun membawa pasukannya berbaris keluar untuk menemui tentara Islam. Setelah mendapat laporan dari mata-mata bahwa Qutuz akan melewati wilayah Kristen di Akra dia berencana untuk Menghadang pasukan Sultan dengan serangan dari sisi.

Sementara itu, Qutuz telah mencapai Acre dan berkemah di luar kota untuk membeli persediaan Pasukannya. Mata-mata Mongol melaporkan segala info ukuran dan posisi dari pasukan Mamluk membuat Kitbuqa mempercepat gerak pasukannya berbaris berharap untuk membuat serangan yang mengejutkan kaum Muslim.


Pertempuran Ain Jalut yang Menentukan

Bangsa Mongol berbaris di sepanjang sisi timur Danau Tiberias, Begitu mereka melewati danau mereka menyeberang Sungai Jordan dan terus ke barat menuju perkemahan kaum Muslimin. Konon pertempuran ini seperti legenda Daud membunuh Jalut. 

Pasukan Mongol berbaris dalam dua barisan menginginkan untuk menghadang dan mengejutkan para Mamluk. Pasukan Armenia dan Franka ditempatkan di barisan terdepan karena mereka tahu kondisi medan dan bisa sebagai petunjuk arah untuk seluruh pasukan. seluruh Lembah Jezreel dikelilingi oleh Gunung Gilboa di selatan dan perbukitan Galilea di utara.

Ketika tentara Mongol menyeberangi sungai Yordan mereka dikejutkan oleh kehadiran pasukan Baibars.

Dengan Tiba-tiba dihujani tembakan panah Mamluk sebagai pembuka pertempuran. Kavaleri berat Kristen yang berada dibarisan depan bergerak cepat untuk menutup jarak. karenanya Baibars melihat celah pasukan Mongol yang tidak terlindungi.

Sama seperti Tentara Salib yang memimpin musuh di garda depan dia juga tahu medan dan area letak tanah yang menguntungkan dan telah lebih dahulu memindahkan pasukannya ke posisi stategis untuk melancarkan serangan mendadak sambil menghindari deteksi dari pasukan Mongol.

Kavaleri Cilician Armenia dengan cepat melakukan kontak senjata dengan garis pertahanan Muslim dan langsung memecah formasi mereka. garis pertempuran pasukan baybar kacau dan pasukan Mamluk mulai terdorong mundur.

Jauh di belakang garis pandang Kitbuqa Terhalang oleh bukit  yang membentang dari utara ke selatan di mana pertempuran terjadi. Hingga ia tidak mampu melihat berapa banyak pasukan Mamluk yang dikerahkan di balik punggung bukit dan dia mengirim lebih banyak pasukan untuk mendukung pasukan Kristen digaris depan dan memerintahkan balatentara yang tersisa Untuk membentuk garis pertempuran.

Dengan kepemimpinan Baibars yang luar biasa di Garda depan Mamluk mampu bertahan Dari serangkaian manuver sambil terus bergerak mundur dan terus di dorong oleh pasukan mongol yang merasa telah diatas angin.

Meski telah menimbulkan banyak kerugian bagi pasukan Mamluk, Pemimpin pasukan tetap mampu menjaga garis pertahanannya tetap stabil sambil memutari lereng gunung dan mempertahankan pertempuran di bawah tekanan pasukan Mongol yang terus meningkat.

Pasukan Baibars telah menggunakan bentuk senjata api ringan yang mampu dipakai satu tangan untuk menembak musuh. Senjata-senjata ini, meskipun sangat tidak akurat, namun sangat efektif menakut-nakuti kuda Mongol, mengganggu dan memperlambat laju mereka dengan bunyi membahana membuat panik kuda-kuda dan penunggangnya.

Setelah berjam-jam menahan pasukan Mongol dengan luar biasa, kelelahan mulai menyerang pasukan Baibars hingga sebagian pasukannya mulai mengalami kerugian besar. Tetapi sekarang menjadi jelas bahwa posisi kekuatannya hanyalah bagian dari pasukan Mamluk.

Dari sekitar perbukitan Qutus dan pasukannya bersembunyi di semak Pepohonan mengawasi dan menunggu musuh datang menghampiri. Melihat orang-orang Mongol memukul mundur pasukan Baibars, Qutuz Menyemangati moral pasukannya dengan pidato yang menurut sejarawan membuat prajuritnya menitikkan air mata. Pasukan Mongol yang biadab hanya berkata bahwa: “Tidak ada jalan lain selain melawan Karena kematian yang mengerikan menanti kalian semua, istrimu, dan anak-anakmu!”

Kitbuqa memerintahkan pasukannya untuk serangan penuh untuk menghabisi barisan depan Baibars sebelum mereka dapat bergabung dengan pasukan utama Mamluk. Qutuz melihat serangan itu dengan segera memerintahkan sayap kanannya untuk keluar dari pepohonan dan menyerang sayap kiri pasukan Mongol.

Menyadari bahwa ia dikepung dari tiga arah Kitbuqa memerintahkan pasukannya untuk Hit and Run sebagai umpan bagi pasukan Mamluk untuk mengejarnya.

Tapi Baibars dan Qutuz mengetahui taktik pura-pura ini dan tidak terjebak dengan tipu muslihatnya. Mereka memerintahkan pasukannya untuk tetap berdiri di tempatnya dan membalas dengan membidikkan panah mereka ke arah musuh dimana Mereka berdiri.

Menyadari busur dan anak panah kaum Mamluk sangat Mematikan untuk serangan jarak jauh dan melihat Tipu muslihatnya tidak bekerja Kitbuqa segera mengganti strategi. Dia memerintahkan sebagian besar pasukan kavalerinya menyeberangi lembah dan menyerbu untuk menghancurkan sayap kiri pasukan Mamluk agar meninggalkan posisi mereka, ketika itu juga ia memerintahkan sisa pasukannya menutup barisan dengan bertahan menyerang pasukan Mamluk yang berada di sisi tengah dan sayap kanan.

Rencana Kitbuqa adalah menggunakan lereng landai dari sayap kiri Mamluk dan memutari hingga menyerang dari sisi belakang Qutuz. Dengan penyerangan sayap ini pasukan Mongol berhasil mendorong mundur garis pertahanan sayap kiri Muslim.

Melihat bahwa sayap kirinya dalam bahaya Kekalahan Qutuz memerintahkan Pasukannya untuk mengikutinya dan dia bergegas untuk memperkuat pasukannya di sebelah kiri. Di tengah pasukan Baibars mengkonsolidasikan garis komando Yang terdorong mundur dan memulai untuk maju Kembali ke arah pasukan batalyon Kristen.

akibatnya pertempuran yang paling berdarah terjadi di tengah dimana pasukan Mamluk dan pasukan  Salib yang terkunci dalam pertarungan sengit saling berhadapan. Baibars memimpin langsung pasukannya di depan dan mendesak anak buahnya terus bertahan untuk mempertahankan Negaranya melawan pasukan penjajah!

Sementara itu pasukan Mamluk sayap kiri telah meninggalkan garis pertahanannya dalam kondisi sulit. Laju pasukan tersendat karena beban serangan berat Mongol dan beberapa anggota pasukan yang mulai melarikan diri. 

Melihat sayap kiri Mamluk mulai nampak tergerus, pasukan Mongol mendesak untuk terus maju karena melihat kesempatan mengalahkan dan melipat musuh dari belakang.

Sambil berlari menaiki bukitQutuz mendesak anak buahnya untuk berdiri dan bertarung dan dia bergegas ikut untuk menopang barisan. Dia melepas helm tempurnya sehingga prajuritnya bisa mengenalinya.

Ya.. Islam !!!" teriaknya tiga kali dan diteriakkan ke garis musuh bersama dengan pasukan pengawal pribadinya dan pasukan pengiringnya. Tindakan berani ini membakar kembali semangat pasukannya. Setelah satu jam pertempuran serangan Mongol melambat ketika Sultan berhasil menstabilkan sayap kirinya.

Sadar bahwa ia telah kehilangan momentum, Kitbuqa sekarang menemukan dirinya dalam situasi berbahaya. Ketika upayanya untuk menyerbu Mamluk gagal posisinya sendiri menjadi terbuka dan mudah diserang karena dia telah mengirim pasukan cadangan terakhirnya untuk menghentikan serangan Baibars di tengah.

Melihat bahwa bangsa Mongol telah menyerang pasukan mereka habis-habisan , Baibars mengirim pesan penting dengan memerintahkan pasukan menyerang dari sayap kanan mendorong pasukan Mongol dan mengepung dan memutari mereka dari belakang sayap kanan. 

Sementara itu dengan tambahan lebih banyak pasukan yang memperkuat Mamluk di sayap kiri, Qutuz akhirnya berhasil membalik keadaan. Tidak terbiasa berperang dengan tangan kosong Pasukan Mongol tidak dapat menahan serangan pasukan kavaleri Muslim yang gigih meskipun jumlah mereka lebih banyak saat menyerang disayap kiri namun mereka terpaksa mundur kebelakang.

Di sisi lain pertahanan Kitbuqa juga mulai terpukul dan terdesak sehingga bahaya nyata mengancam di depannya. Posisi yang dengan segera memaksa akan membuatnya menyerah. Salah seorang panglima pasukannya memintanya untuk mundur

Tapi Kitbuqa menjawab: “Kita harus mati di sini, dan itu kisah akhirnya. Panjang umur dan kebahagiaan bagi Khan”. Dengan kata-kata itu dia ikut masuk dalam pertempuran. Dengan kehadirannya para tentara Mongol yang mulai kelelahan berjuang dengan gigih.

Tapi disaat Mamluk telah berhasil mengepung pasukan penjajah Mongol, Kitbuqa berhasil ditangkap oleh pasukan Baibars di tengah pertempuran.

Kini pasukan Mongol sudah kalah taktik di lapangan pertempuran dan melihat pemimpin mereka telah jatuh ke tangan musuh. Mereka menyadari bahwa mereka telah kalah dalam pertempuran dan sisa barisan pasukan Kitbuqa mulai pecah dan mundur ke arah Bait She'an.

Pada hari itu, pasukan Muslim mencapai kemenangan besar Di Ain Jalut. Dengan menghentikan ekspansi Mongol ke arah barat dan yang berarti juga berhasil menyelamatkan tiga kota suci Mekah, Madinah dan Yerusalem dari kehancuran. 

Tak diragukan lagi Qutuz menjadi penyelamat Islam juga dia menyelamatkan musuh-musuh Kristennya di Barat dari "Penunggang Kuda Setan", sebuah nama Yang digunakan untuk menyebut pasukan Mongol. Karena jika mereka telah berhasil menaklukkan Mesir, mongol hanya tinggal melintasi Afrika utara sampai ke Selat Gibraltar. Maka secara teori ini akan memungkinkan bangsa Mongol untuk menyerang seluruh Eropa dari berbagai arah akan membuatnya sulit untuk ditundukkan oleh Tentara Eropa.

Meskipun begitu, Qutuz, yang dikenal dengan nama Singa Ain Jalut tidak sempat menikmati kemenangannya. Dia dibunuh beberapa hari setelah pertempuran dalam perjalanan pasukannya kembali  ke Kairo

Setelah setia kepada faksi Aybak, Qutuz tentu memiliki beberapa musuh dan rival. Baibars sendiri adalah anggota faksi Bahri yang merupakan pesaing paling kuat diantara para pesaingnya. yang menyebabkannya disebut-sebut bertanggung jawab atas kematian Qutuz yang dianggapnya sebagai pembalasan karena Sultan terakhir menolak Baibar untuk berkuasa di Aleppo seperti yang telah dijanjikan karena ketakutannya pada kekuatan Baibars’ Dan ambisinya.

Setelah militer kembali dengan kemenangan ke Kairo, ia menjadi Sultan Mamluk yang baru Sultan Baibars adalah penguasa memiliki kemampuan yang sama dengan Qutuz, dan dia melanjutkan tradisi Mamluk yang kuat.

Terlepas dari persaingan politik mereka, Qutuz dan Baibars adalah orang-orang yang melakukan berjuang Di medan perang Ain Jalut dan menjaga Islam dari kehancuran.