Dulu saya termasuk orang yang nggak percaya juga dengan konspirasi. Bagi saya ada kelompok 1% manusia yang menguasai 99% kekayaan di dunia itu hanya bohongan belaka. Cuma dongeng yang sering digosipkan sejak di bangku kuliah, teman mengerjakan tugas, teman bercanda bareng di sela-sela jam perkuliahan.
Dulu saya anggap semua itu mitos. Sampai akhirnya ada seorang trader forex kawakan yang berbicara mengenai pandemi saat ini dengan kaitannya dengan campur tangan elit global. Trader ini menjelaskan dengan sangat fasih disertai data-data keuangan yang akurat.
Dari situ saya mulai berpikir, trader ini bukan orang bodoh. Apalagi dia sudah berpengalaman sejak awal tahun 2000-an bermain saham, forex, dan trading emas. Pengalamannya pasti banyak. Begitu juga dengan analisa ekonomi dan geopolitiknya.
Begitu pula ketika saya ngobrol sama teman saya yang berprofesi sebagai pengusaha. Yah memang benar jika ada kelompok 1% manusia yang mengendalikan 99% kekayaan di bumi, mengontrol 99% kehidupan manusia, memiliki kekuatan yang sangat powerful untuk menentukan negara mana yang ekonominya harus dikembangkan dan negara mana yang ekonominya harus ditahan.
Berprofesi sebagai pengusaha tentunya tidak lepas dari kajian ekonomi dan politik dunia. Karena apa yang terjadi secara global, cepat atau lambat akan terjadi pula efeknya di Indonesia. Informasi-informasi begini selalu mereka buru sebagai kajian dan ancang-ancang, kapan mereka bisa ekspansi bisnis mereka, kapan mereka bisa menahan uang mereka dan menabung.
Contoh seperti saat Covid-19 begini. Tentu ada sekelompok kecil pengusaha di sini yang sudah "aware" tentang potensi sebuah restart ekonomi, dimulai dari ketegangan China dan Amerika Serikat sejak perang dagang tahun lalu.
Peringatan resesi global sudah mulai digaungkan di grup-grup eksklusif tempat para pengusaha ini berkumpul. Dan pasti ada di antara mereka yang mulai mengetatkan ikat pinggang dan menabung.
Jangan dulu ekspansi, karena China dan Amerika Serikat tensinya sedang tinggi. Pasti akan segera berimbas ke perlambatan ekonomi, termasuk di Indonesia. Ekspansi bisnis harus dipertimbangkan dulu sampai menunggu tensi kedua negara raksasa ini turun.
Ketika trader kawakan itu membuat sebuah prediksi, jauh sebelum terjadi bencana pandemi Covid-19, dia meramalkan akan terjadi sebuah economy big start dalam waktu dekat. Dulu tak banyak orang yang mengindahkannya.
Dan lucunya, trader ini malah banjir hujatan, dianggap sedang berhalusinasi dan ngawur.
Orang-orang tetap menghabiskan uang, tanpa mengetatkan ikat pinggang untuk menabung. Bagi yang punya bisnis, tetap berinvestasi ke bisnis baru atau ekspansi bisnis. Bagi yang merasa gajinya sudah mapan, mulai belanja barang-barang mewah, mulai kredit KPR, dan masih banyak lagi.
Bagi mereka-mereka yang menganggap remeh, tentunya prediksi dari trader kawakan itu hanya prediksi angin lalu. Mungkin dampaknya tidak akan sebesar yang diperingatkan. Ah ... lanjut bangun bisnis lagi. Lanjut kerja lagi. Dunia sedang baik-baik saja kok.
Tapi ternyata peringatan trader itu jadi kenyataan. Awal 2020 Covid-19 benar-benar menjadi pandemi global. Seketika semua rencana berubah dalam waktu beberapa hari saja. Keputusan lockdown, penurunan minat pasar untuk belanja, dan terhentinya mobilitas orang-orang sukses membuat banyak bisnis ambyar.
Peringatan trader itu menjadi kenyataan. Terjadi economy big start. Ekonomi akan di-restart. Ekonomi kembali dimulai dari 0.
Dan ternyata cara mereka, para elite global, melakukan big start adalah melalui virus ini. Mayoritas bisnis jadi mandeg. Bagi yang masih bertahan, perlahan-lahan mengalami penurunan omset. Dalam waktu 2 bulan saja sejak pandemi Covid datang ke Indonesia, sudah banyak bisnis yang terpaksa tutup, baik sementara atau permanen.
Banyak karyawan terpaksa di PHK. Sebagian banyak yang unpaid leave juga, alias cuti tanpa menerima bayaran sepeserpun.
Ambyar, dalam waktu beberapa hari saja.
Bagaimana dengan nasib trader tersebut? Berikut orang-orang yang mendengar nasihat trader tersebut? Mungkin mereka sudah menyiapkan tabungan. Walaupun pasar saham dan valuta asing juga hancur-hancuran, tapi mereka sudah hafal permainan para elit. Mereka mungkin bisa bertahan dengan ilmu yang sudah kenyang mereka praktekkan selama bertahun-tahun.
Buat kita-kita yang nggak tahu ilmu tersebut, tentu saja kelabakan. Panik dan stress mendadak.
Semua karena kita selama ini menutup mata tentang apa yang sedang terjadi di luar sana.
Indonesia mungkin baik-baik saja sebelum ini. Tapi kita tak pernah tahu bahwa di luar sana, ada beberapa tangan yang sedang bekerja memutuskan kapan harus menjatuhkan pasar saham, kapan harus tarik uang dari bank-bank, negara mana yang harus dinaikkan tensinya, negara mana yang harus tetap adem ayem. Bukan perkara sulit buat mereka, wong mereka itu bandarnya.
Sama seperti dulu Nathan Rothschild membalik ekonomi Eropa menjadi kolapse hanya dalam waktu semalam saja. Nathan Rothschild adalah bandarnya.
Ia memanfaatkan situasi perang negara-negara Eropa melawan Napoleon di abad 19. Setelah Perang Waterloo selesai, Nathan Rothschild segera menjual semua saham dan surat utang pemerintah. Hanya dalam semalam ekonomi kolaps.
Mungkin situasi saat itu bisa dikatakan mirip seperti situasi saat ini. Jika dulu perang dijadikan sebagai media economy restart, kalau sekarang virus yang dijadikan economy restart.
Apa buktinya? Begitu Covid-19 ditetapkan jadi pandemi global, pasar keuangan dunia langsung jeblok. Saham dan surat utang pemerintah pada dijualin. Yang kompakan menjual berbarengan siapa? Ya merekalah yang jadi bandar. Investor jadi merugi.
Tapi tentunya ada yang tidak merugi. Ya mereka-mereka lagi. Mereka telah mengetahui jika Virus menyebar dan banyak negara lockdown, mereka akan menjual semua saham dan surat utang pemerintah, termasuk emas dan komoditi lainnya, sehingga pasar keuangan jeblok. Investor menjerit, uang yang terlanjur diinvestasikan melayang karena harga saham dan bond ikutan anjlok. Tapi mereka untung banyak, para elite ini untung banyak. karena mereka menjual saat harga saham dan valuta asing sedang bagus-bagusnya.
Semua pemain rugi bandar, kecuali mereka. Sebenarnya tidak rugi, hanya kekayaan berpindah ke tangan mereka saja.
Jika sebelum Covid kekayaan di dunia banyak tersebar ke orang-orang di seluruh penjuru dunia, begitu ada virus ini, mereka dengan cepat mengambil kembali kekayaan yang tersebar tadi. Jual berbarengan, pasar keuangan langsung anjlok. Investor menjerit, tapi mereka untung melimpah.
Begitulah cara mereka bermain. Mirip seperti yang Nathan Rothschild lakukan di abad ke-19. Kekayaan kerajaan Inggris berpindah ke tangan keluarga dia dalam waktu semalam saja.
Setelah itu, economi akan kembali menjadi 0. Semua harus kembali bekerja dari awal, mengumpulkan pundi-pundi kekayaan kembali. Setelah Covid-19 berakhir, masyarakat harus hidup dan bekerja mengais-ngais rejeki kembali. Jika nanti dirasa seluruh umat manusia sudah banyak yang makmur, maka economy restart akan kembali terulang.
Nanti, bisa belasan atau puluhan tahun setelah ini.
Bagi kita kelompok 99% penduduk bumi, kita mengalami economy restart. Bagi mereka, ya mengambil kembali kekayaan ke tangan mereka saja, sih
Apakah ada kelompok 99% yang termasuk golongan "bottom of pyramid" yang selamat dari kepanikan finansial akibat Corona ini? Ada...
Sudah saya bilang, yang selamat ya mereka-mereka yang tahu tentang pergerakan ekonomi dan politik dunia. Karena itu mempelajari beginian bukan lagi untuk bahan gosip atau pengisi waktu luang.
Mereka nyata, dan betul-betul bekerja tanpa kita ketahui. Sejarah selalu terulang. Polanya sama. Hanya medianya saja yang mungkin berbeda.
Lalu kenapa mereka tidak pernah terekspos ke media? Siapa sih mereka? Kenapa misterius sekali? Kenapa identitas mereka disembunyikan? Dan bagaimana bisa kelompok 1% ini kompakan mengatur tatanan dunia dan bisa menyulap ekonomi dunia menjadi runtuh hanya dalam waktu singkat?
Itulah fungsi persaudaraan. Jangan dikira kelompok 1% ini tersebar. Memang secara domisili mereka tersebar. Tapi secara persaudaraan mereka ini satu.
Mereka berkumpul dalam satu persaudaraan yang memang sangat erat, rahasia, dan misterius. Yang tahu ya hanya mereka-mereka sendiri yang benar-benar mengendalikan tatanan dunia.
Mereka bertemu untuk membicarakan kapan dunia harus direstart, negara mana yang harus dibuat perang, sumber daya alam vital daerah mana yang harus mereka kuasai, mata uang mana yang harus dipertahankan, mata uang negara mana yang harus dihancurkan, kapan pasar keuangan dijatuhkan, dan terakhir .... Kapan ibu kota untuk seluruh dunia (dalam satu tatanan) bisa dibuka dan dioperasikan?
Dan mereka menguasai media. Ketika kamu menguasai media, menjadi pemegang saham mayoritas dari media-media besar, maka kamu bebas mengatur berita apa yang kamu sajikan kepada masyarakat.
Itulah mengapa bukan nama-nama mereka yang terpajang di media massa, sebagai nama-nama orang paling kaya di dunia yang bahkan kekayaan mereka saja bisa membeli negara dalam waktu semalam saja.
Mereka memilih orang-orang di bawah mereka, seperti Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Elon Musk, dan Bill Gates, untuk tampil sebagai penyandang daftar manusia terkaya di dunia.
PS : Ada alasan mengapa identitas mereka tetap harus dirahasiakan dari publik. Apa alasannya? Saya akan jelaskan di video-video selanjutnya.
Oh ya ada lagi prediksi dari trader kawakan itu yang sudah dia sampaikan jauh sebelum Covid-19 muncul dan menjadi kenyataan saat ini.
Apa prediksinya?
Setelah Covid-19 jadi pandemi, ada satu krisis lagi yang harus dihadapi setiap negara-negara di dunia ini, selain krisis ekonomi. Yakni debt crisis atau krisis hutang.
Setiap negara akan berlomba-lomba mencari hutang. Entah dengan menerbitkan bond lebih banyak, atau berhutang langsung ke lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF dan World Bank.
Pertanyaannya, jika ratusan negara di dunia ini mengajukan hutang dalam waktu bersamaan, apakah cadangan uang di IMF dan World Bank cukup untuk menghutangi negara-negara ini?
Oh iya lupa, setelah kejatuhan pasar keuangan di awal pandemi Corona tadi, bukan berarti pasar keuangan sedang merugi.
Tidak ada istilah kerugian, hanya perpindahan kekayaan saja. Pertanyaannya, jika ada pihak yang panen kekayaan besar-besaran dari kejatuhan pasar keuangan global, ke mana lagi mereka menginvestasikan uangnya jika bukan pada utang?
Negara kelimpungan mengatasi pandemi, di tengah ancaman krisis ekonomi, PHK rakyat, dan kerugian finansial, mereka yang mendapatkan keuntungan dari bunga utang pasca pandemi.
Sekali lagi, tetap ada kelompok 99%, kelompok "bottom of pyramid", yang selamat dari economy restart ini. Yakni mereka-mereka yang mau melek terhadap perekonomian dan perpolitikan global, dan sudah bersiap-siap bahkan sebelum para elit mengeksekusi protokol mereka.
Jadi yang benar "Teori Konspirasi" atau "Fakta Konspirasi"?
Oh iya, ada lagi ekonom dan pengamat geopolitik yang memberi peringatan sejak Covid-19 belum muncul di Wuhan.
Setelah perang dagang, biasanya akan diikuti dengan perang militer. Jika kita telusuri sejarah Perang Dunia I & II, dan perang-perang antar negara lainnya, sebelumnya selalu diawali dengan konflik dagang. By the way, Amerika Serikat dan China sudah makin naik tuh tensinya sejak perang dagang tahun 2019 lalu. Kira-kira kelanjutannya gimana yah? Pada akhirnya, hal-hal yang sering kita labeli sebagai konspirasi akan kembali lagi ke diri kita sendiri. Boleh percaya boleh tidak.
Yang jelas, tidak ada ruginya jika kamu mengetahui kondisi perpolitikan dan ekonomi global. Plus, paham sejarah ekonomi dan politik dunia bekerja.
***







0 komentar:
Posting Komentar