This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

ULAMA KERAMAT

Dalam kitabnya 'Fushul Fi As-Tsaqafah Wa Al-Adab' (1/73)  Syeikh Ali At-Thanthawi menceritakan tentang Al-'Arif Billah Syeikh Ahmad Al-Harun As-Shalihi (wafat 1382 H): 

"Di negeri Syam (tepatnya Suriah) ada seorang ulama yang benar-benar sholih dan zuhud, nama beliau adalah Syeikh Ahmad Al-Harun rahimahullah. Banyak orang meyakini bahwa beliau adalah seorang ulama yang mempunyai banyak karomah/keramat meskipun beliau sendiri tidak pernah mengklaim hal tersebut. 

Beliau menceritakan kepada kami secara langsung bahwa pada suatu hari tanggal 8 zulhijjah beliau didatangi oleh seorang laki-laki yang meminta kepadanya agar 'menghajikannya', padahal saat itu perjalanan haji (dari Suriah ke Hijaz) akan memakan waktu setidaknya berminggu-minggu, baik perjalanan darat ataupun laut. 

Syeikh Al-Harun pun berkata kepada orang tersebut:
"Bagaimana aku bisa membawamu untuk berhaji padahal besok sudah wuquf di Arafah?"
Orang itu menjawab:
"Engkau adalah orang yang mempunyai banyak karomah. Orang-orang telah memberitahukan kepadaku bahwa engkau sanggup membawaku berhaji ke Mekkah". 
Syeikh menjawab: 
"Ya akhi, orang yang memberitahumu itu sebenarnya dia sedang mengolokmu, saat ini aku tidak mampu untuk membawa diriku sendiri ke Mekkah apalagi membawamu."
Laki-laki itu langsung menimpali:
"Aku yakin engkau sanggup membawaku ke Mekkah sebagaimana yang dikatakan orang-orang."

Orang itu terus bersama Syeikh dan tidak mau meninggalkannya. Ia ngotot meminta Syeikh menghajikannya hingga membuat Syeikh kesal. 
Syeikh Al-Harun kemudian berkata:
"Apakah kau siap untuk merahasiakan apa yang akan aku lakukan denganmu dan tidak memberitahu siapapun?"
Orang itu menjawab:
"Siap."
Syeikh melanjutkan: 
"Dan kau sanggup bersumpah?"
Laki-laki itu kemudian bersumpah dan menambahkan bahwa istrinya akan otomatis tertalak tiga jika ia memberitahu seseorang apa yang akan ia lakukan bersama Syeikh. 
Syeikh berkata:
"Ayo, ikut aku."

Syeikh Al-Harun kemudian membawa laki-laki tersebut ke Mesjid Sulaimaniyah Syam yang terdapat sebuah kolam kecil persegi setiap sisinya sekitar 10 hasta dan tidak terlalu dalam. Saat itu mesjid sedang kosong. Syeikh berkata:
"Berdirilah disamping kolam untuk berwudhu'."
Laki-laki itupun berdiri disamping kolam. 
"Pejamkan matamu." Kata Syeikh. 
Laki-laki itupun memejamkan matanya. 
Tiba-tiba Syeikh Ahmad Al-Harun mendorong laki-laki itu kedalam kolam lalu beliau pun lari. Orang itupun berteriak meminta tolong sampai akhirnya diselamatkan dan dikeluarkan dari kolam olah orang yang mendengar teriakannya.
Orang-orang menanyakan padanya (sementara air masih menetes dari pakaiannya yang basah):
"Bagaimana kau sampai bisa jatuh? Siapa yang mendorongmu?"
Laki-laki itu menjawab (sementara sumpah yang dia ucapkan didepan Syeikh masih teringat jelas dikepalanya) 
"Saya tidak bisa menceritakan apapun."

:D :D

2 Orang Dari Madinah Yang Berakhir Berbeda Di Tepi Benteng Konstantinopel

Sama-sama dari Madinah, sama-sama pergi ke Konstantinopel, sama-sama meyakini bahwa Muhammad ï·º adalah utusan Allah Ta’ala yang haq, tetapi ujung hidup keduanya sangat berbeda. Warisan yang ditinggalkan oleh keduanya pun berbeda. Yang pertama dicatat jejak sejarahnya oleh Al-Qur’an, tetapi dengan catatan yang sangat buruk. Sementara yang kedua masih dapat kita jumpai jejak-jejak perjuangannya di Turki. Kelak ia menginspirasi Muhammad Al-Fatih dalam membebaskan Konstantiniyah.⁣
Yang pertama adalah Abu ‘Amir Ar-Rahib. Saya pernah menulis peran Abu ‘Amir Ar-Rahib dalam upaya memadamkan cahaya Masjid Quba dengan menyusun siasat untuk mengelabui Rasulullah ï·º dan kaum muslimin saat itu. Ia otak di balik berdirinya Masjid Dhirar yang hampir saja Rasulullah ï·º shalat di dalamnya, tetapi tidak jadi karena Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan larangan shalat di Masjid Dhirar untuk selama-lamanya. Ia merancang strategi dan menggalang kekuatan untuk membangun Masjid Dhirar atas dukungan penuh dari Kaisar Heraklius.⁣
Abu ‘Amir Ar-Rahib sebenarnya adalah orang yang mengetahui tanda-tanda kenabian, meyakini akan datangnya penutup para nabi dan rasul, jauh sebelum Muhammad ï·º diangkat menjadi rasul. Ia mengenali tanda-tanda itu sebaik ia mengenali anak kandungnya sendiri. Tetapi tatkala ia dapati bahwa yang Allah ‘Azza wa Jalla angkat sebagai rasul adalah Muhammad ï·º yang ia khawatir akan mengikis pengaruhnya di Madinah, maka Abu ‘Amir Ar-Rahib menentang. Ia memusuhi Rasulullah ï·º meskipun Rasulullah ï·º berusaha mengajaknya beriman kepada Islam. Ia berkata, “Aku tidak menemui suatu kaum yang memerangimu kecuali aku bersama mereka”⁣
Rasulullah ï·º kemudian mendo’akannya mati di tempat yang jauh dalam keadaan terusir. Kelak Abu Amir Ar-Rahib mati di Romawi Timur dalam keadaan terusir. Ia meyakini sepenuhnya Muhammad ï·º adalah rasul penutup para rasul, tetapi ia menolak beriman.⁣
Jika Abu ‘Amir Raghib menyatakan kepada Rasulullah ï·º bahwa ia akan senantiasa bersama kaum yang memerangi beliau, maka sebaliknya dengan Abu Ayyub Al-Anshari radhiyaLlahu ‘anhu. Ia senantiasa turut serta dalam berbagai peperangan hingga akhir hayatnya. Sahabat yang rumahnya menjadi tempat awal bermalamnya Rasulullah ï·º saat hijrah ke Madinah ini, sangat bersemangat untuk termasuk ke dalam golongan yang disebut Rasulullah ï·º sebagai sebaik-baik pasukan dari sebaik-baik panglima. Beliau wafat tatkala turut serta dalam pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah dalam upaya membebaskan Konstantinopel.⁣

Abu Ayyub Al-Anshari radhiyaLlahu ‘anhu berwasiat, “Sampaikan salamku kepada pasukan kaum muslimin dan katakan kepada mereka, “Abu Ayyub mewasiatkan kepada kalian agar kalian masuk ke bumi musuh sejauh mungkin, membawa jasadnya bersama mereka lalu menguburkannya di bawah telapak kaki kalian di pagar kota Konstantinopel.”⁣
“Kalian kuburkan aku di tepi benteng Konstantinopel karena aku ingin mendengar derapan tapak kaki kuda sebaik-baik raja ketika mereka menawan Konstantinopel," kata Abu Ayyub Al-Anshari radhiyaLlahu ‘anhu. ⁣
Inilah sosok yang sangat menginspirasi Muhammad Al-Fatih dan para pendahulunya dalam upaya membebaskan Konstantinopel agar termasuk disebut dalam hadis sebagai sebaik-baik panglima dan sebaik-baik pasukan. Sebagai penghormatan terhadap Abu Ayyub Al-Anshari radhiyaLlahu ‘anhu, kelak 5 tahun sesudah membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih membangun sebuah masjid yang kita kenal sekarang dengan nama Eyub Sultan Camii dan kawasan itu pun dinamakan dengan namanya: Eyub Belediyesi.


Nabi Yunus : Bagaimana Allah Memberikan Hukuman Kepada Dai yang lari dari Tugas



Dalam penafsiran Fi Dzilalil Quran, Said Quthb menjelaskan, Nabi Yunus juga disebut Dzun Nun yang berarti pemilik paus. Artinya, paus itu menelannya dan kemudian memuntahkannya. Kisah itu terjadi ketika dia dikirim ke suatu negeri dan diberitakan kepada umatnya untuk percaya kepada Allah SWT. Namun, mereka mengabaikan dakwahnya.

Dadanya menyempit dan dia meninggalkan mereka dengan marah. Dia tidak bisa menahan perlawanan dakwah dengan mereka. Dia berpikir bahwa Allah tidak mempersempit area dakwahnya di bumi karena bumi sangat luas. Negeri dibumi banyak dan penduduknya beragam. Selama orang-orang di bangsanya tidak mengindahkan dakwahnya, ia berpikir Allah pasti akan ridho jika ia mengarahkannya dakwahnya ke negeri yang lain.

Itulah arti dari "..kemudian dia berpikir bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) .."? (QS al-Anbiya: 88). Said Quthb juga menulis, amarah Yunus yang bergelora menuntunnya ke pantai sampai ia naik menumpang ke kapal hingga akhirnya ia ditelan oleh seekor paus. Di dalam perut paus, Yunus bertobat dan mengakui dosanya. Dia memohon pengampunan karena dia merasa termasuk dalam orang-orang zalim.

Allah pun menjawab doanya. Tuhan menyelamatkannya dari kesedihan dan kesulitan. Paus kemudian memuntahkannya ke darat. Jika dia tidak dimasukkan dalam orang yang mengingat akan Allah, dia akan tetap berada di dalam perut paus itu sampai hari kebangkitan. Yunus kemudian dibuang ke daerah tandus dalam keadaan sakit. Ditumbuhkan bagi Nabi sebuah pohon dari jenis labu. Kemudian, Allah mengirimkannya berdakwah kepada seratus ribu orang atau lebih. Mereka beriman dan membenarkannya, maka Allah memberi mereka kesempatan hidup di dunia sampai masa ajal mereka yang telah ditentukan. (QS as-Shafaat: 148).

Said Quthb menjelaskan, Allah memberikan kesulitan pada Nabi Yunus melalui tekanan ujian berulang-ulang dari umatnya. yang bahkan, jika dia menerima dan sabar dengan sikap bangsanya, tekanan dan ujian akan menjadi lebih mudah dan ringan. Akhirnya, Nabi Yunus mengakui kesalahan sikap yang terjadi pada dirinya sendiri. Saat ditelan oleh paus. Allah juga merawatnya dan menyelamatkannya dari kesedihan dan bencana. Allah memulihkan Yunus dan kembali kepada umatnya yang berjumlah ratusan ribu jiwa. Mereka percaya dan mencari hidayah dan meminta pengampunan dari Allah. Allah pun  mendengar permintaan mereka hingga tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka yang telah bertobat.

Singkatnya, hikmah dari kisah Yunus menurut Said Quthb adalah bahwa para dai dakwah mau tidak mau harus menanggung beban dakwah. Bersabarlah atas ujian dan siksaan sebagai konsekuensi dari menjadi dai. Meski pahit, orang yang menanggung beban dakwah harus bersabar dan gigih. Jalan dakwah bukanlah jalan yang mudah. Ada banyak kendala untuk kesesatan, bid'ah, tradisi jahiliyah, dan adat istiadat yang menyeleweng. Setiap hati harus dihidupkan kembali dengan terlebih dahulu menyiapkan cara untuk menyentuh respon jiwanya. Istiqamah, kesabaran, dan harapan adalah kunci untuk sentuhan itu.

Saifuddin Qutuz : Benteng Terakhir Islam dari Serbuan Mongol


Imperim Kekaisaran Mongolia

Di abad ke-13, kekuatan raksasa  muncul dari Padang rumput Mongolia yang dipimpin oleh Genghis Khan, Yang berhasil menyatukan seluruh suku mongolia yang sebelumnya sering berperang sesama mereka dan mampu mengerahkan rakyatnya untuk berperang menaklukkan 1/3 dunia.

Dia mengukir sejarah kerajaannya yang luas dan setelah kematiannya di tahun 1227, para penerusnya melanjutkan cita-citanya untuk menaklukkan dunia dengan  meninggalkan jejak luka dalam sejarah- ditandai dengan pembantaian, Penghancuran, dan tindakan kebiadaban pada tanah taklukkannya.

Penjarahan mongol di Eropa memperluas wilayah hingga Polandia, Hungaria dan Balkan, ketika gerak pasukan mongol ke Timur Tengah dilakukan dengan pembantaian yang hampir saja Muslim di timur tengah menuju kepunahan dengan jatuhnya kota-kota muslim dalam cengkeraman mereka.

Lebih dari 35 tahun, tanpa henti pasukan Mongol membawa kerusakan bagi Peradaban Islam. Tak terhitung kota-kota yang dibumihanguskan, para penduduknya Banyak yang dibunuh atau diperbudak.

Akhirnya, Mongke, cucu dari penguasa  Jenghis Khan, memberi perintah kepada saudaranya Hulagu untuk melakukan yang dapat diperbuat tentara terbesar yang pernah dikumpulkan oleh pasukan Mongol dengan memerintahkannya untuk menaklukkan negara-negara Islam yang tersisa di wilayah Timur Tengah dan Afrika Timur.

Runtuhnya Dinasty Abbasid

Pada tahun 1258 Masehi, mereka  berbaris menuju Baghdad dengan 15 batalyon, yang setara dengan 150.000 pasukan tentara. Meskipun Kalifah Abassid  tidak lagi menjadi pusat kekuatan politik dunia Islam, tetap saja, mereka menjadi pusat kaum intelektual.

Pada Feburary, pasukan Mongol mengambil keuntungan dari pengkhianatan yang terjadi pejabat kekhalifahan Abbasid yang beragama Syiah, dan Memanfaatkan kebodohan dan kecerobohan khalifah, sehingga dengan cara licik Baghdad, kota dengan jutaan penduduknya berhasil dikuasai, dan mengakhiri Kejayaan Imperium Besar Abbasid. 

Ratusan ribu orang dibantai atau dijual sebagai budak, kota dijarah dan dibakar sampai ke peninggalan sejarahnya, seperti Perpustakaan Kuno Terbesar di Baghdad, Sistem irigasi dihancurkan, secara besar-besaran sehingga membutuhkan waktu berabad-abad bagi pertaniannya untuk dapat pulih kembali.

Setahun kemudian setelah kejatuhan Baghdad mengguncangkan dunia dirasakan efeknya di dunia Islam,  Hulagu bergerak ke Suriah membawa 6 batalyon, setara dengan 60.000 tentara. Kecepatan mobilitas pasukan Mongol sangat menakutkan. Di bulan Januari 1260 M, pasukan Mongol telah tiba di gerbang Kota Allepo. Tembok pertahanan berhasil dirobohkan dalam waktu 6 hari Dengan ketapel dan mesin perang mereka.

Ketika mereka menyerbu kota itu, orang-orang Mongol dibantu dengan bergabung dengan pasukan  kristen Armenia dan Franka membantai orang Muslim dan Yahudi dalam pembantaian besar-besaran, sedangkan sebagian wanita dan anak-anak dijual di pasar budak. Raja Kristen dari Armenia dan Pangeran Antiokhia dari Tripoli  dengan bangga, mereka diberi apresiasi atas kerjasama mereka menghancurkan kota.


Benteng Islam Terakhir

Setelah mendengar nasib mengerikan yang diderita Aleppo, seluruh Suriah menyerah pada akhir Maret tanpa perlawanan. Dengan kehancuran kota-kota Muslim yang utama, Hanya Kesultanan Mamluk yang tersisa sebagai pemerintah penganut setia Islam. Dan bagi pasukan Mongol Mesir adalah target berikutnya.

Sekarang setiap orang memahami, Kesultanan Mamluk  berdiri sebagai banteng terakhir umat Islam melawan pasukan mongol yang ditakuti. Mereka dalam posisi dilema antara ketakutan dan harapan hingga nantinya keputusan untuk bertarung di Pertempuran yang akan merubah arah sejarah akan segera terjadi.

Ksatria Budak

Di Mesir, pasukan Mamluk adalah kesatria direkrut dari kasta budak yang dilatih sejak usia muda sebagai prajurit yang tidak hanya ahli berperang, juga membentuk merupakan pasukan militer elite kesultanan Ayubiyah dari Mesir dan Suriah.

Seiring waktu, kekuatan mereka bertambah diiringi lemahnya kepemimpinan Sultan dan pada 1250 Masehi, mereka  menggulingkan kesultanan Ayubiyah dan membentuk Kesultanan Mamluk.

Kairo mengalami masa keemasannya pada periode 10 tahun sesudahnya, sampai suatu ketika musim panas tahun 1260 Masehi di tepi sungai Nil. Saat penduduk kota mengerjakan aktivitasnya, dan tidak menyadari, bahwa di istana, Empat orang utusan pasukan Mongol sedang Disambut oleh Sultan  of Saifudin Al Qutuz dan para panglimanya.

Mereka datang mewakili Hulagu Khan, dan membawa sepucuk surat yang berisi ultimatum keras Singkatnya, pasukan Khan mengancam akan membumihanguskan Mesir, dan menghancurkan semua mesjid Dan membunuh semua anak-anak Muslim jika Qutus menolak untuk tunduk pada aturan Mongol sebagaimana kota-kota lain.

Untuk sesaat, Sultan dan utusan Mongol saling memandang satu sama lain dan terdiam atas pilihan sulit itu. Lalu, Qutuz membiarkan utusan itu sejenak pamit untuk berkonsultasi dengan para perwiranya, di saat yang sama pasukan Mongol justru menyeringai mengejek menunjukkan ketidaksopanan.

Dewan perang kemudian bergegas berkumpul, Para perwira mengingatkan akan situasi yang kurang baik, Qutuz sadar bahwa pasukan Mongol telah maju dan menghancurkan sampai ke Timur Tengah. Panglima Mamluk berpendapat bahwa akan lebih bijaksana untuk tunduk pada kekuasaan Mongol Tetapi pendapat Qutuz justru berbeda.

Meskipun dia mengakui bahwa pasukan Mamluk saat ini mustahil melawan pasukan Mongol yang sangat besar jumlahnya Tetapi dia adalah pemimpin yang teguh dan tegas yang membanggakan sikap kepahlawanan. Baginya Menyerah adalah tindakan pengecut. 

“Mesir membutuhkan ksatria sebagai raja”, Dia berseru. “Jika tidak ada orang yang mau menghadapi mereka, Aku yang akan pergi dan melawan pasukan Tatar sendiri!” 

Dan karena itulah, Sultan memerintahkan para utusan Mongol yang juga ternyata kedapatan melakukan aksi mata-mata ditangkap, Dipotong bagian tubuhnya sampai setengah pinggang, dan dipenggal, Dan kepala mereka dipamerkan di Pintu Gerbang Zuwila Kairo. Pesan Qutus kepada Hulagu tidak dapat ditarik kembali– Kaum Mamluk tidak akan tunduk kepada para penjajah. 

Pembunuhan para utusan membuat Khan marah besar, lalu Persiapan untuk perang besar pun dimulai. Qutus memiliki tugas yang sangat berat di depannya. Pasukannya kalah dari sisi jumlah, Kesultanan Mamluk terbagi ke dalam 24 wilayah Kabupaten, Masing-masing Kabupaten hanya memiliki 1000 tentara Yang ditempatkan seluruh pasukan Mamluk Berjumlah 24.000 orang, yang mana sejumlah 4000 orang berasal dari pasukan kerajaan, 10,000 adalah kelompok bangsawan mamluk, dan 10.000 lainnya Adalah tentara yang berasal dari berbagai daerah. Adapun Hulagu memiliki 60.000 pasukan dari Suriah. 

Strategi Qutuz Melawan Mongol

Meskipun demikian, Qutuz tetap tak bergeming dan mulai mempersiapkan strategi bertahan. Mungkin dimulai dengan yang terpenting, dia memanggil  saingannya Baibars, satu dari panglima perang terbaik di masanya, untuk membantunya dan menjanjikan untuk memberikan kekuasaan penuh Aleppo setelah perang usai.

Baibar adalah orang asli keturunan Turki, yang berasal dari Wilayah Kipchak Cuman. Dia berasal dari suku Barli yang tinggal di Bagian Utara Laut Hitam dan ketika dia masih kecil, Dia diperbudak oleh pasukan Mongol selama masa invansi mereka ke Eropa yang kemudian dijual Ke Kesultanan Ayyubiyah di Mesir dan Suriah. Jadi ia mengenal baik Mongol, baik strategi maupun masalah kemiliteran.

Di Kairo, dia dididik sesuai  dengan ajaran Furrusia yang merupakan kode bela diri kaum Mamluk. Latihan militer telah dia lalui selama beberapa tahun dan berhasil mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan, ketika mereka masih berusia sangat muda, Baibar telah menunjukkan Keahlian militernya dan setelah selesai pelatihan. Dia ditunjuk sebagai pemimpin pasukan elite dari Pasukan penjaga para Sultan.

Dia memperlihatkan kemampuannya dalam perang salib dan mendampingi Qutuz, dia adalah Satu dari Panglima Perang yang menghancurkan Tentara Salib di pertempuran Al Mansurah Pada 1250 M, ketika ia berhasil menangkapal Raja Louis IX. Setelah jatuhnya Damscus di 1260 M, Baibars Diundang oleh Sultan Qutuz untuk memimpin pasukan elit Mamluk melawan pasukan Mongol.

Sebagai kelanjutan persiapan strategi pertahanan di Mesir Kesepakatan antara Hulagu dan Qutuz tercapai, Hulagu terpaksa menunda Niatnya menyerang Mesir dan menarik sebagian pasukan kembali ketimur karena hal yang mendesak.

Ternyata berita kematian dari  Penguasa Mongol Mongke Khan telah menyebabkan Hulagu kembali ke Karakorum untuk mengikuti pemilihan Pemimpin Besar Khan yang baru. Hulagu meninggalkan Panglima kepercayaannya Kitbuqa untuk  Bertugas mempertahankan Suriah sampai ia kembali Dan melanjutkan perjuangan melawan Mesir.

Kitbuqa, adalah Gubenur dari Allepo saat ini, yang diberi 1 batalyon dengan 10.000 tentara. Dengan tambahan 2000 tentara dari dari Armenia, Georgia, garnisun dari Allepo yang secara lokal direkrut sebagai pasukan tambahan hingga Pasukan di bawah komando Kitbuqa’s berjumlah Mencapai sekitar 12.000. 

Hulagu memperkirakan bahwa Palestina tidak akan mampu menampung lebih dari 15.000 tentara Untuk jangka waktu yang lama dan dari info intelijen yang dikumpulkan dari para tawanan dan tentara sekutu mamluk memberikan informasi bahwa Mamluk Hanya dapat menerjunkan kurang dari 15.000 Pasukannya jika bergerak ke Palestina.

Dan benar, Qutuz menyiapkan pasukan penyerangan dengan 14,000 tentara terdiri dari pasukan terbaik Mamluk, termasuk tentara sekutu dari Bedouins, Para kaum Mamluk dari Turki, pasukan Mongol yang membelot, serta anggota suku  Hawwarah dari Lybia, dengan menugaskan 10.000 pasukan di garis belakang untuk menjaga Mesir dari kemungkinan serangan pasukan Kristen.

Langkah pertama yang dilakukan yakni melepas pasukan  Baibars pergi dari Kairo pada akhir Juli terlebih dahulu sebagai pasukan digarda depan untuk berbaris guna tiba lebih dahulu dalam mengamankan Gaza. Baik Qutuz dan Baibars melihat kepergian Pasukan utama Hulagu adalah kesempatan terbaik untuk Menyerang dari belakang pasukan Mongol yang bertahan di suriah.

Qutuz kemudian mengirim surat ke penguasa Latin kristen di Akra meminta mereka bergabung dengannya melawan mongol. Namun, para pasukan salib itu takut akan pembalasan pasukan Mongol dan memilih Jalan tengah dengan memberikan keamanan kaum Mamluk serta mengijinkan mereka membeli pasokan makanan jika mereka melewati wilayah kerajaannya.

Begitu berita pergerakan pasukan Qutuz sampai di Kitbuqa ia lalu mempersiapkan siaga tentang musuh yang mendekat, ia pun membawa pasukannya berbaris keluar untuk menemui tentara Islam. Setelah mendapat laporan dari mata-mata bahwa Qutuz akan melewati wilayah Kristen di Akra dia berencana untuk Menghadang pasukan Sultan dengan serangan dari sisi.

Sementara itu, Qutuz telah mencapai Acre dan berkemah di luar kota untuk membeli persediaan Pasukannya. Mata-mata Mongol melaporkan segala info ukuran dan posisi dari pasukan Mamluk membuat Kitbuqa mempercepat gerak pasukannya berbaris berharap untuk membuat serangan yang mengejutkan kaum Muslim.


Pertempuran Ain Jalut yang Menentukan

Bangsa Mongol berbaris di sepanjang sisi timur Danau Tiberias, Begitu mereka melewati danau mereka menyeberang Sungai Jordan dan terus ke barat menuju perkemahan kaum Muslimin. Konon pertempuran ini seperti legenda Daud membunuh Jalut. 

Pasukan Mongol berbaris dalam dua barisan menginginkan untuk menghadang dan mengejutkan para Mamluk. Pasukan Armenia dan Franka ditempatkan di barisan terdepan karena mereka tahu kondisi medan dan bisa sebagai petunjuk arah untuk seluruh pasukan. seluruh Lembah Jezreel dikelilingi oleh Gunung Gilboa di selatan dan perbukitan Galilea di utara.

Ketika tentara Mongol menyeberangi sungai Yordan mereka dikejutkan oleh kehadiran pasukan Baibars.

Dengan Tiba-tiba dihujani tembakan panah Mamluk sebagai pembuka pertempuran. Kavaleri berat Kristen yang berada dibarisan depan bergerak cepat untuk menutup jarak. karenanya Baibars melihat celah pasukan Mongol yang tidak terlindungi.

Sama seperti Tentara Salib yang memimpin musuh di garda depan dia juga tahu medan dan area letak tanah yang menguntungkan dan telah lebih dahulu memindahkan pasukannya ke posisi stategis untuk melancarkan serangan mendadak sambil menghindari deteksi dari pasukan Mongol.

Kavaleri Cilician Armenia dengan cepat melakukan kontak senjata dengan garis pertahanan Muslim dan langsung memecah formasi mereka. garis pertempuran pasukan baybar kacau dan pasukan Mamluk mulai terdorong mundur.

Jauh di belakang garis pandang Kitbuqa Terhalang oleh bukit  yang membentang dari utara ke selatan di mana pertempuran terjadi. Hingga ia tidak mampu melihat berapa banyak pasukan Mamluk yang dikerahkan di balik punggung bukit dan dia mengirim lebih banyak pasukan untuk mendukung pasukan Kristen digaris depan dan memerintahkan balatentara yang tersisa Untuk membentuk garis pertempuran.

Dengan kepemimpinan Baibars yang luar biasa di Garda depan Mamluk mampu bertahan Dari serangkaian manuver sambil terus bergerak mundur dan terus di dorong oleh pasukan mongol yang merasa telah diatas angin.

Meski telah menimbulkan banyak kerugian bagi pasukan Mamluk, Pemimpin pasukan tetap mampu menjaga garis pertahanannya tetap stabil sambil memutari lereng gunung dan mempertahankan pertempuran di bawah tekanan pasukan Mongol yang terus meningkat.

Pasukan Baibars telah menggunakan bentuk senjata api ringan yang mampu dipakai satu tangan untuk menembak musuh. Senjata-senjata ini, meskipun sangat tidak akurat, namun sangat efektif menakut-nakuti kuda Mongol, mengganggu dan memperlambat laju mereka dengan bunyi membahana membuat panik kuda-kuda dan penunggangnya.

Setelah berjam-jam menahan pasukan Mongol dengan luar biasa, kelelahan mulai menyerang pasukan Baibars hingga sebagian pasukannya mulai mengalami kerugian besar. Tetapi sekarang menjadi jelas bahwa posisi kekuatannya hanyalah bagian dari pasukan Mamluk.

Dari sekitar perbukitan Qutus dan pasukannya bersembunyi di semak Pepohonan mengawasi dan menunggu musuh datang menghampiri. Melihat orang-orang Mongol memukul mundur pasukan Baibars, Qutuz Menyemangati moral pasukannya dengan pidato yang menurut sejarawan membuat prajuritnya menitikkan air mata. Pasukan Mongol yang biadab hanya berkata bahwa: “Tidak ada jalan lain selain melawan Karena kematian yang mengerikan menanti kalian semua, istrimu, dan anak-anakmu!”

Kitbuqa memerintahkan pasukannya untuk serangan penuh untuk menghabisi barisan depan Baibars sebelum mereka dapat bergabung dengan pasukan utama Mamluk. Qutuz melihat serangan itu dengan segera memerintahkan sayap kanannya untuk keluar dari pepohonan dan menyerang sayap kiri pasukan Mongol.

Menyadari bahwa ia dikepung dari tiga arah Kitbuqa memerintahkan pasukannya untuk Hit and Run sebagai umpan bagi pasukan Mamluk untuk mengejarnya.

Tapi Baibars dan Qutuz mengetahui taktik pura-pura ini dan tidak terjebak dengan tipu muslihatnya. Mereka memerintahkan pasukannya untuk tetap berdiri di tempatnya dan membalas dengan membidikkan panah mereka ke arah musuh dimana Mereka berdiri.

Menyadari busur dan anak panah kaum Mamluk sangat Mematikan untuk serangan jarak jauh dan melihat Tipu muslihatnya tidak bekerja Kitbuqa segera mengganti strategi. Dia memerintahkan sebagian besar pasukan kavalerinya menyeberangi lembah dan menyerbu untuk menghancurkan sayap kiri pasukan Mamluk agar meninggalkan posisi mereka, ketika itu juga ia memerintahkan sisa pasukannya menutup barisan dengan bertahan menyerang pasukan Mamluk yang berada di sisi tengah dan sayap kanan.

Rencana Kitbuqa adalah menggunakan lereng landai dari sayap kiri Mamluk dan memutari hingga menyerang dari sisi belakang Qutuz. Dengan penyerangan sayap ini pasukan Mongol berhasil mendorong mundur garis pertahanan sayap kiri Muslim.

Melihat bahwa sayap kirinya dalam bahaya Kekalahan Qutuz memerintahkan Pasukannya untuk mengikutinya dan dia bergegas untuk memperkuat pasukannya di sebelah kiri. Di tengah pasukan Baibars mengkonsolidasikan garis komando Yang terdorong mundur dan memulai untuk maju Kembali ke arah pasukan batalyon Kristen.

akibatnya pertempuran yang paling berdarah terjadi di tengah dimana pasukan Mamluk dan pasukan  Salib yang terkunci dalam pertarungan sengit saling berhadapan. Baibars memimpin langsung pasukannya di depan dan mendesak anak buahnya terus bertahan untuk mempertahankan Negaranya melawan pasukan penjajah!

Sementara itu pasukan Mamluk sayap kiri telah meninggalkan garis pertahanannya dalam kondisi sulit. Laju pasukan tersendat karena beban serangan berat Mongol dan beberapa anggota pasukan yang mulai melarikan diri. 

Melihat sayap kiri Mamluk mulai nampak tergerus, pasukan Mongol mendesak untuk terus maju karena melihat kesempatan mengalahkan dan melipat musuh dari belakang.

Sambil berlari menaiki bukitQutuz mendesak anak buahnya untuk berdiri dan bertarung dan dia bergegas ikut untuk menopang barisan. Dia melepas helm tempurnya sehingga prajuritnya bisa mengenalinya.

Ya.. Islam !!!" teriaknya tiga kali dan diteriakkan ke garis musuh bersama dengan pasukan pengawal pribadinya dan pasukan pengiringnya. Tindakan berani ini membakar kembali semangat pasukannya. Setelah satu jam pertempuran serangan Mongol melambat ketika Sultan berhasil menstabilkan sayap kirinya.

Sadar bahwa ia telah kehilangan momentum, Kitbuqa sekarang menemukan dirinya dalam situasi berbahaya. Ketika upayanya untuk menyerbu Mamluk gagal posisinya sendiri menjadi terbuka dan mudah diserang karena dia telah mengirim pasukan cadangan terakhirnya untuk menghentikan serangan Baibars di tengah.

Melihat bahwa bangsa Mongol telah menyerang pasukan mereka habis-habisan , Baibars mengirim pesan penting dengan memerintahkan pasukan menyerang dari sayap kanan mendorong pasukan Mongol dan mengepung dan memutari mereka dari belakang sayap kanan. 

Sementara itu dengan tambahan lebih banyak pasukan yang memperkuat Mamluk di sayap kiri, Qutuz akhirnya berhasil membalik keadaan. Tidak terbiasa berperang dengan tangan kosong Pasukan Mongol tidak dapat menahan serangan pasukan kavaleri Muslim yang gigih meskipun jumlah mereka lebih banyak saat menyerang disayap kiri namun mereka terpaksa mundur kebelakang.

Di sisi lain pertahanan Kitbuqa juga mulai terpukul dan terdesak sehingga bahaya nyata mengancam di depannya. Posisi yang dengan segera memaksa akan membuatnya menyerah. Salah seorang panglima pasukannya memintanya untuk mundur

Tapi Kitbuqa menjawab: “Kita harus mati di sini, dan itu kisah akhirnya. Panjang umur dan kebahagiaan bagi Khan”. Dengan kata-kata itu dia ikut masuk dalam pertempuran. Dengan kehadirannya para tentara Mongol yang mulai kelelahan berjuang dengan gigih.

Tapi disaat Mamluk telah berhasil mengepung pasukan penjajah Mongol, Kitbuqa berhasil ditangkap oleh pasukan Baibars di tengah pertempuran.

Kini pasukan Mongol sudah kalah taktik di lapangan pertempuran dan melihat pemimpin mereka telah jatuh ke tangan musuh. Mereka menyadari bahwa mereka telah kalah dalam pertempuran dan sisa barisan pasukan Kitbuqa mulai pecah dan mundur ke arah Bait She'an.

Pada hari itu, pasukan Muslim mencapai kemenangan besar Di Ain Jalut. Dengan menghentikan ekspansi Mongol ke arah barat dan yang berarti juga berhasil menyelamatkan tiga kota suci Mekah, Madinah dan Yerusalem dari kehancuran. 

Tak diragukan lagi Qutuz menjadi penyelamat Islam juga dia menyelamatkan musuh-musuh Kristennya di Barat dari "Penunggang Kuda Setan", sebuah nama Yang digunakan untuk menyebut pasukan Mongol. Karena jika mereka telah berhasil menaklukkan Mesir, mongol hanya tinggal melintasi Afrika utara sampai ke Selat Gibraltar. Maka secara teori ini akan memungkinkan bangsa Mongol untuk menyerang seluruh Eropa dari berbagai arah akan membuatnya sulit untuk ditundukkan oleh Tentara Eropa.

Meskipun begitu, Qutuz, yang dikenal dengan nama Singa Ain Jalut tidak sempat menikmati kemenangannya. Dia dibunuh beberapa hari setelah pertempuran dalam perjalanan pasukannya kembali  ke Kairo

Setelah setia kepada faksi Aybak, Qutuz tentu memiliki beberapa musuh dan rival. Baibars sendiri adalah anggota faksi Bahri yang merupakan pesaing paling kuat diantara para pesaingnya. yang menyebabkannya disebut-sebut bertanggung jawab atas kematian Qutuz yang dianggapnya sebagai pembalasan karena Sultan terakhir menolak Baibar untuk berkuasa di Aleppo seperti yang telah dijanjikan karena ketakutannya pada kekuatan Baibars’ Dan ambisinya.

Setelah militer kembali dengan kemenangan ke Kairo, ia menjadi Sultan Mamluk yang baru Sultan Baibars adalah penguasa memiliki kemampuan yang sama dengan Qutuz, dan dia melanjutkan tradisi Mamluk yang kuat.

Terlepas dari persaingan politik mereka, Qutuz dan Baibars adalah orang-orang yang melakukan berjuang Di medan perang Ain Jalut dan menjaga Islam dari kehancuran.


 


Salahuddin Al-Ayubi : Strategi Politik dan Perang Menghadapi Tentara Salib di Pertempuran Hattin




"Saya peringatkan anda agar tidak menumpahkan darah, merasakan nikmat dan terbiasa karenanya,
karena darah tidak pernah tidur" - Saladin

Saat pertengahan abad ke 12 kebangkitan dramatis Muslim mencapai puncaknya dibawah kepimpinan Salah Ad-Din Yusuf Ibnu Ayyub seorang pemimpin yang cerdas dan pemberani dikenal oleh muslim kontemporer sebagai Al-Nasir ( Pemenang ) dan oleh warga Eropa sebagai SALADIN. Tak ada yang lain yang saat itu selain dia  mampu untuk menyatukan Semua Muslim antara Wilayah Euphrates dan Sungai Nil melawan musuh yang sama.

Pada akhir abad ke-11, Kekhalifahan Fatimiyah mengalami kemunduran dan Kekaisaran Seljuk runtuh. Pada masa itu adalah kondisi Muslim berada pada titik terlemah, ketika Perang salib pertama menyerang dan menguasai Syam. Bangsawan dan kesatria Kristen memberlakukan aturan institusi Eropa Barat terhadap struktur sosial dan politik tiap tanah yang ditaklukkan. Kekuasaan mereka terbilang stabil Sebagian besar adalah akibat perpecahan di tubuh umat Muslim sendiri. 

Namun seiring abad ke-12 bergulir kurang dari lima dekade sejak Tentara Salib Eropa tiba di wilayah tersebut dinasti Zankiyah mulai berjaya di utara Syam. Di bawah kepemimpinan yang kompeten Imad ad-Din Zengi mereka mengalahkan Tentara Salib dan merebut kembali kota Edessa pada tahun 1144 yang demikian membuat Paus terprovokasi untuk menyerukan Perang Salib Kedua.

Meskipun Imad dibunuh dua tahun kemudian, pada tahun 1146 putranya, Nuruddin berhasil melanjutkan perang melawan Tentara Salib sampai Perang Salib Kedua pada akhirnya gagal dan ia memperluas wilayah ayahnya selama bertahun-tahun membawa stabilitas dan kemakmuran yang sangat dibutuhkan bagi rakyatnya. Pada masa pemerintahan Nuruddin itulah, Saladin memulai kebangkitannya untuk menjadi terkenal. 

Lahir pada tahun 1137, di Tikrit (di Irak modern) Saladin menghabiskan tahun-tahun formatifnya di Damaskus. Dari usia muda ia dididik filsafat Yunani, matematika, sastra, astronomi, hukum tapi di atas itu semua, dia adalah murid yang tekun dalam mendalami al-Quran dan teologi. Pendidikannya dibantu oleh anggota keluarganya yang bertugas sebagai diplomat dan administrator yang terampil sejak pertama di Kekaisaran Seljuk dan kemudian mengabdi untuk Dinasti Zankiyah.

Tumbuh dewasa Saladin membuat pamannya Shirkuh dan Nuruddin menjadi teladan terbesarnya. Mereka menanamkan pada dirinya prinsip-prinsip kesatriaan kesalehan, bangsawan, keadilan, kerendahan hati, kedermawanan, persaudaraan, belas kasihan dan keampunan, semua yang akan menentukan sejarah hidup dan warisan Saladin yang dia tinggalkan nantinya.

Dia bergabung dengan militer pada usia 14 tahun dan dilatih oleh pamannya Shirkuh, seorang komandan militer di tentara Zengid. Karena ia Seorang pembelajar cepat, Saladin dengan cepat segera mengesankannya mentornya. Kinerjanya di awal pertempuran memungkinkan dia untuk mengambil kepemimpinan dalam operasi-operasi militer dan selama bertahun-tahun ia menampakkan keistimewaannya melalui keberaniannya, kepemimpinan militer, intelek tajam dan kesetiaan kepada para pemimpinnya.

Kejayaan Saladin benar-benar mulai bangkit pada di tahun 1160 ketika Nuruddin memutuskan untuk campur tangan dalam urusan Kekhalifahan Syiah Fatimiyah yang mulai  melemah, dengan tujuan untuk mencegah upaya Amalric untuk memperluas kerajaan Yerusalem ke Mesir.

Diakuinya Saladin adalah sebagai seorang yang kompeten, dapat dipercaya dan pemimpin yang ambisius dalam menuntaskan misi pada tahun 1164, Saladin ditunjuk dan dikirim ke Mesir sebagai bagian dari struktur komando dari tentara Zankiyah yang diperintahkan oleh pamannya Shirkuh. Ia menjadi bagian integral dari beberapa kampanye selama bertahun-tahun sebagai panglima disamping pamannya.

Pada awal 1169, pasukan Amalric I, Raja Yerusalem, akhirnya berhasil diusir pengaruhnya dari Mesir. Paman Saladin, Shirkuh, diangkat sebagai Wazir oleh Khalifah Fatimiyah, al-Adid yang memberi Nuruddin kekuasaan de-facto atas Mesir.

Tetapi hanya satu bulan kemudian, pada bulan Maret 1169 Shirkuh tiba-tiba wafat karena menderita penyakit yang singkat. Tanpa tangan kanannya, pengaruh Nuruddin di Mesir terancam. Dan al-Adid merasakan kesempatan untuk memperkuat posisinya sendiri dan dengan cepat menunjuk Saladin tanpa menunggu keputusan dari Damaskus berpikir bahwa sang Wazir muda itu tidak memiliki cukup wawasan dalam kekuasaan dan jaringan politik di Mesir, hingga akan mudah dikendalikan.

Namun, Saladin yang berusia 31 tahun ternyata terbukti menjadi lebih dari apa yang telah al-Adid anggap. Sang Wazir muda itu malah mengambil keuntungan dari sistem politik dinasti Fatimiyah, dan melalui taktik pintar dia secara bertahap menempatkan anggota keluarga dekatnya di posisi kunci pemerintah dan militer, yang memungkinkan dia untuk mengkonsolidasikan kekuatan yang cukup untuk menggulingkan dan melarutkan Kekhalifahan Syiah Fatimiyah hanya dua tahun kemudian pada tahun 1171, Hingga menghilangkan pengaruh Syiah dan mengganti dengan Sunni.

Hingga Saladin sekarang dapat berkonsentrasi pada penguatan Mesir sebagai benteng kekuatan Muslim Sunni dengan dirinya sebagai gubernur atas nama Nuruddin. Dia merevitalisasi ekonomi, membangun lembaga kewarganegaraan, dan meningkatkan mutu pendidikan dengan membangun sebuah perguruan tinggi hukum di Alexandria dan sejumlah besar sekolah di seluruh Mesir, memberi administrator sekolah dan guru dengan gaji yang baik, yang menarik banyak sarjana dari seluruh Asia dan Eropa mengubah Mesir menjadi sebuah pusat intelektual di abad ke-12.

Dia menghapuskan tarif untuk para peziarah Muslim yang menyeberangi Laut Merah dan membayar kompensasi kepada Mekah untuk setiap pendapatan yang hilang akibat kebijakan itu. langkah yang cerdik yang membuatnya populer di kalangan masyarakat dan serta Merta menjadikannya sebagai pelindung Mekah.

Saladin mengubah Mesir menjadi titik kekuatan utama melawan Tentara Salib dengan menciptakan unit-unit pasukan yang sepenuhnya baru, yang hanya setia kepadanya lepas dari pengaruh rezim Syiah Fatimiyah dan mulai membangun kembali angkatan laut untuk melindungi pesisir Mesir.

Serbuan militer Segera diambil guna mengamankan dan memperluas perbatasan dan menghindari kekhawatiran akan serangan 2 arah dengan langkah pertama melawan Nubia di mana sisa-sisa musuh dari pasukan Fatimiyah masih bertahan lalu ke Libya di mana pasukan Ayyubiyah mendorong musuh hingga ke barat menuju Tripoli dan mengusir Penjajah Norman.

Meski demikian Saladin tidak pernah berusaha untuk mengkonsolidasikan otoritasnya di barat atas provinsi
Barqa. Yang paling penting, Saladin mengalihkan perhatiannya menuju pengencangan cengkeramannya di Hijjaz dan menguasai Yaman, sehingga mendapatkan kendali Laut Merah dan potensi perdagangan lautnya yang luas yang sangat meningkatkan kekayaan komersial Mesir.

Gerak Saladin yang aktif membangun sebuah kerajaan yang menciptakan gesekan dengan banyaknya hasutan dan fitnah disampaikan kepada Nuruddin tuannya di Suriah. Ketegangan meningkat dan hampir menghasilkan konflik namun kemudian, Nuruddin wafat secara mendadak pada tahun 1174 kemungkinan karena serangan jantung.

Dalam kekosongan kekuasaan berikutnya, putranya yang berusia 11 tahun As-Salih tidak dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kematian ayahnya. Tapi Saladin bisa. Dan dia sekarang melihat di hadapannya visi besar. Dia bisa menyatukan Mesir dan Suriah untuk perang suci melawan penjajah Kristen. Dia menyatakan perlunya persatuan dan jihad sebagai alasan untuk campur tangan di Suriah.

Dan klaimnya bukanlah tidak berdasar. Dengan mengendalikan Laut Merah dan dengan menaklukkan kembali daerah selatan kastil Shobak Saladin telah diakui sebagai 'pembebas Jalan Haji'. Mengamankan rute ziarah dari Sudan dan Mesir menuju kota suci Mekkah dan Madinah memberinya banyak kredibilitas dan sebagai hasilnya kedatangannya ke Suriah sangat disambut oleh rakyat biasa namun tidak begitu oleh beberapa anggota dari dinasti Zankiyah.

Dengan demikian Saladin membuat sebagian besar wilayah Zankiyah di bawah kendalinya baik melalui diplomasi atau intervensi militer, menjadikannya Sultan Mesir dan Suriah.

Sementara itu, diseberang perbatasan, Raja Amalric I berencana untuk mengeksploitasi ketidakstabilan politik di Suriah dan memperluas wilayahnya, namun ia wafat karena disentri pada bulan Juli 1174. Dalam pandangan Saladin, kematian Amalric adalah sebuah tanda nikmat Tuhan. Dengan tahta yang diteruskan ke Baldwin IV, seorang anak laki-laki yang menderita kusta dan para bangsawan Frank yang menginginkan posisi di kerajaan itu, ancaman invasi Kristen yang besar mereda.

Tetapi Saladin tahu bahwa waktu yang tepat belum tiba untuk melawan Tentara Salib, karena ia harus berkonsolidasi posisinya terhadap kerabat Nuruddin yang masih menjadi ancaman dari basis mereka di Aleppo dan Mosul.

Tetapi ketika Baldwin IV dewasa, kerajaan itu mengadopsi kebijakan luar negeri yang proaktif. Tentara Salib kemudian mencoba untuk mengambil Hama dan Harim, namun gagal dalam upayanya. Pada tahun 1177, Saladin merespon dengan memimpin kekuatan invasi yang besar ke dalam Kerajaan Yerusalem, untuk membalas agresi kaum Frank.

Baldwin, berusia 16 tahun, meskipun jauh kalah jumlah namun ia membuktikan dia adalah pemimpin yang cakap, mampu menyatukan bangsawannya melawan ancaman Muslim. Dan dengan bantuan Raynald of Chatillon, panglima nya, dia berupaya menyergap Saladin dengan serangan tiba-tiba di Montgisard karena sebuah kesalahan taktis yang langka dilakukan oleh Sultan.

Saladin menderita kekalahan yang telak dan menghancurkan hampir seluruh pasukannya, nyaris melarikan diri dengan nyawanya seorang, akibat serangan itu banyak dari pasukannya yang terbunuh atau ditawan. Namun disisi Kristen juga kurangnya sumber daya yang dimiliki Baldwin tidak mampu untuk mengejar kemenangan utuh hingga Sultan berhasil mengumpulkan kekuatan kembali.

Pada April 1179, Saladin membalas menyerang balik dan dengan telak mengalahkan Baldwin di wilayah Golan, bahkan hampir menangkap sang raja. Lalu Tentara Kristen lainnya dikalahkan pada bulan Juni pada tahun yang sama, dan hanya dua bulan kemudian benteng penting ksatria Templar yang terletak di rute ziarah berhasil dihancurkan.

Akhirnya pada tahun 1180, Saladin dan Baldwin menyetujui gencatan senjata dua tahun. 

Tetapi bahkan sebelum tinta kering, jelas bahwa benteng perkasa Kerak berniat provokatif akan menjadi titik nyala selanjutnya. Hampir tak tertembus di atas bukit yang curam, dengan terowongan masuk 80 meter dan dinding cukup tebal untuk menahan hantaman senjata pengepungan, Kerak adalah rumah Raynald of Chatillon. Bentengnya berada di jalan utama Damaskus dan Mekah dan dari sana baron dapat memungut pajak, menyerbu dan merampok rombongan unta milik pedagang dan peziarah yang lewat.

"Raynold adalah yang paling ingkar, yang paling jahat dari bangsa Frank, paling serakah, yang paling giat untuk melukai" - Imad ad-Din al-Isfahani

Gencatan senjata atau tidak, Raynald berpikir bahwa Muslim tidak boleh dibiarkan lewat dengan bebas.

Pada musim panas 1181, ia menelusuri jauh ke Arab dan mencegat sebagian besar kafilah Muslim merampas barang bawaan pengelana dan mengambil banyak tahanan. Saladin menuntut ganti rugi dari Baldwin, tetapi raja tidak bisa memaksa Raynald untuk mengganti rugi. Saladin menahan sekelompok peziarah Kristen sebagai sandera di Damietta sebagai leverage, tetapi Raynald masih menolak untuk membebaskan peziarah Muslim.

Sebagai tanggapan, peziarah Kristen dijual ke perbudakan. Kemudian pada tahun 1182, Raynald memberi lebih banyak tekanan pada gencatan senjata yang telah melemah. Tentara Salib yang ingkar mengirim pasukan melalui Laut Merah, menyatakan bahwa ia akan menghancurkan Ka'bah dan membongkar makam Nabi di Hijaz.

Namun berkat reformasi angkatan laut Shalahuddin, Mesir sudah dipersiapkan dengan baik. Al-Adil, saudara dan gubernur Saladin Mesir, mengirim armada Ayyubiah. Sebagian besar penyerang Kristen ditangkap dan dieksekusi atas perintah Sultan.

Pujian tentang Saladin berlimpah di komunitas Muslim karena dia sekali lagi disaksikan sebagai pelindung Tempat-tempat suci Islam dan rute-rute ziarah.Dan kemudian arus berbalik menguntungkan kaum Muslim. Pada 1183 Aleppo akhirnya menyerah kepada Saladin,yang sekarang menjadi penguasa terkuat Dunia Muslim, dan pemimpin barisan Muslim yang bersatu melawan Tentara Salib Latin.

Menjalankan otoritas yang tidak terbantahkan atas Mesir dan Suriah, ia didukung oleh Khalifah Sunni di Baghdad dan diakui sebagai penguasa Arabia dan pelindung Kota Suci Mekkah dan Medina. Tapi yang terpenting, sebagian besar muslim yang telah Saladin persatukan merasa gembira bahwa Islam bersatu kembali.

Berita tentang penaklukan Saladin atas Aleppo mengejutkan negara-negara Tentara Salib.

"Umat Kristen menyadari bahwa jika Saladin dapat menguasai kota itu, maka negara milik mereka dapat tersapu dan di kepung disetiap bagiannya"- William of Tyre

Saladin sekarang dapat mengarahkan sumber daya yang sangat besar untuk memberi tekanan pada Kerajaan Yerusalem hampir sepanjang seluruh perbatasannya. Serangan dahsyat ke tanah Kristen diikuti oleh beberapa serangan menyelidik di benteng Kerak, menguji tekad kaum Frank dan memberi tekanan pada sumber daya mereka.

Keadaan menjadi lebih buruk bagi Tentara Salib, kehidupan tragis Baldwin IV, berakhir. Tindakan terakhir raja adalah mencoba dan mengamankan perdamaian dengan mengirim Raymond dari Tripoli untuk bernegosiasi sebuah gencatan senjata empat tahun, yang siap disepakati oleh Saladin, karena dia memiliki masalah sendiri dengan penguasa Zankiyah di Mosul, yang sedang membentuk sebuah koalisi melawannya. Tetapi penerus Lepper King, Baldwin V adalah anak yang sakit-sakitan, dan dia meninggal hanya setahun kemudian, memicu krisis suksesi.

Setelah periode kekacauan politik, tahta diwariskan ke adik perempuan Baldwin IV, sesuai urutan memahkotai suaminya, Guy of Lusignan sebagai Raja Yerusalem. Namun raja yang baru tidak mampu mengendalikan bangsawan bawahannya. Kemudian datang berita yang mengusik datang dari selatan.

Pada Desember 1186, Raynald dari Chatillon sekali lagi melanggar gencatan senjata. Dia menindas kafilah kaya lainnya, membantai dan memenjarakan banyak Muslim. Saladin segera mengutus seorang utusan, menuntut kembalinya para sandera dan harta mengancam pelanggar gencatan senjata dengan balas dendam. Tapi Raynald, bersandar pada kemenangannya di belakang dinding Kerak, menolak untuk menerima utusan itu.

Setelah mendengar hal ini, Saladin akhirnya kehilangan kesabarannya dan bersumpah bahwa dia akan mencabut nyawa Raynald dengan tangannya sendiri.

Pada awal 1187, Saladin mengumpulkan para jenderalnya di Damaskus untuk menyusun rencana untuk invasi besar. Para utusan berlari ke seluruh pelosok negara bagian, mendesak aksi, pembalasan, perang pembebasan dan pemusnahan fitnah.

Kata "Jihad" dan "Jerusalem" ada dibibir semua Muslim yang menjawab panggilan Saladin. Saladin meninggalkan garnisun di sepanjang perbatasan untuk melindungi sisi utara dan mulai menyerbu Tanah Kristen. 

Dalam salah satu penyerbuan, ada kesempatan antara kavaleri penjaga depan Muslim dan satu kontingen Kristen dari 130 ksatria, 400 turcopole dan infanteri, di Mata Air Cresson, berakhir dengan bencana bagi para Templar dan Hospitaller. Kepala kesatria di tombak, dan tahanan dirantai ke kuda diarak di depan Tiberias.

Bencana di Mata Air Cresson adalah hentakkan yang membangun bagi orang Kristen, yang dengan segera memperbaiki persaingan lama diantara mereka dan bersatu dalam menghadapi konflik yang akan datang.

Pada 26 Juni 1187, Saladin menyusun kembali pasukannya, dan berbaris menuju sungai Yordan. Jumlah pasukannya sekitar 30.000, dan dibagi menjadi tiga sayap, dengan Taqi al-Din memimpin kanan, Gökböri memimpin kiri, dan Saladin sendiri di tengah.

Pada 27 Juni, tentara mencapai sungai Jordan dan membuat kamp di daerah rawa dekat Danau Tiberias. Pasukan penyerbu dikirim ke wilayah Kristen untuk memporak-porandakan daerah itu dan menyiapkan panggung untuk invasi. Sekitar 25 km ke barat, tentara Kristen berkekuatan sekitar 20.000 berkemah didekat Saffuriya, lokasi yang sangat strategis karena sumber daya airnya yang kaya.

Pada 30 Juni, Saladin mengirim kontingen ke utara untuk memblokir kota Tiberias, kemudian menantang Tentara Salib dengan memindahkan kamp utamanya lebih dekat ke Saffuriya, sekitar 10km ke barat dari Danau Tiberias. Tetapi karena tidak ada pihak yang mengambil tindakan, Saladin memutuskan untuk melakukan langkah pertama.

Pada 1 Juli ia mengirim pengintai untuk memantau jalan alternatif di bagian sisi utara yang menghubungkan Saffuriya dan Tiberias. Kemudian pada hari itu, laporan mengonfirmasi bahwa Tentara Salib tidak maju di kedua rute, dan pada tanggal 2 Juli, Saladin mengambil peluang tersebut. Dia berbaris ke timur menuju Tiberias dengan sebagian besar infanteri-nya, kontingen kavaleri, insinyur pengepungan dan peralatan mereka.

Menjelang siang mereka sampai di Tiberias, di mana Istri Raymond tinggal, dan mereka mengepung kota. Tidak lama setelah itu, pasukan Muslim menembus tembok dan kota itu diambil alih saat malam tiba. Istri Raymond membarikade dirinya sendiri di dalam benteng, menggunakan pengawalnya, dan mengirim utusan, mendesak Raja Guy untuk mengirim bantuan.

Kembali ke barat, kepulan asap bisa dilihat di langit di atas Tiberias dan ketika berita tentang pengepungan mencapai kemah Tentara Salib, Raja Guy mengadakan dewan perang untuk memperdebatkan apa yang seharusnya dilakukan.

Pada awalnya, Raymond of Tripoli membuat argumen persuasif menentang mengirim pasukan untuk menghentikan pengepungan, bersikeras bahwa tentara Kristen memiliki posisi defensif yang kuat di Saffuriya dan harus tetap bertahan. Tetapi langkah kehati-hatian penuh penghitungan itu dijawab dengan ejekan dan tuduhan sebagai tindakkan pengecut dan pengkhianatan, terutama dari Tuan Templar Gerard de Ridefort dan Raynald dari Chatillon yang mendesak untuk langkah lebih agresif dan menekan King Guy dengan argumen politik, militer dan diplomatik yang kuat. Terbujuk oleh desakan, raja mengirimkan bentara menuju perkemahan untuk membunyikan panggilan bahwa tentara akan berbaris untuk menyelamatkan Tiberias saat fajar.

Dan pada tanggal 3 Juli, Tentara Salib memulai perjalanalan. Mereka berangkat dengan komandan Raymond dari Tripoli memimpin barisan depan. Raja Guy memimpin pusat di mana uskup dari Acre membawa peninggalan terbesar Christendom, Salib Sejati, tempat Kristus diyakini telah disalibkan. Balian dari Ibelin memerintahkan barisan belakang di mana Templar dan Hospitallers ditempatkan.

Raja Guy memerintahkan para pasukan untuk berbaris dengan langkah tergesa-gesa berencana untuk mencapai kota yang dikepung dengan tiba ketika petang. Tetapi ketika tengah hari mendekat dan matahari terbit di langit yang bersih, tanpa awan, menjadi jelas hari itu akan sangat panas. Tidak ada hembusan angin dan hawa panas yang menyengat memperlambat barisan.

Pada tengah hari tentara mencapai titik berair berikutnya di desa Tur'an, hanya sepertiga jalan. Tetapi ketika mereka melanjutkan perjalanan, tidak ada yang dapat lolos dari matahari dan debu tebal yang dibuat oleh pasukan berbaris. Menjadi jelas bagi Raja Guy dan perwiranya bahwa mereka tidak akan mencapai Tiberias dalam satu hari.

Saat barisan bergerak menjauh dari Tur'an, detasemen pemanah berkuda Saladin yang bergerak cepat muncul dari bukit terdekat dan dengan unit-unit kecil mulai merundungi kaum Kristen dengan serangan sporadis, memotong jalur mundur mereka. memaksa Infanteri Tentara Salib menutup barisan untuk melindungi kavaleri dari serangan 'hit and run', namun jumlah korban pada prajurit dan hewan terus berjatuhan mulai meningkat. Siang terus berlanjut, dan perundungan terus-menerus, dan bentrokan sporadis melambatkan barisan belakang Tentara Salib hingga merangkak, dan mereka menjadi terpisah dari pasukan lainnya.

Takut kehilangan kavaleri kejutan elitnya, Raja Guy memerintahkan pusat untuk berhenti agar barisan belakang dapat mengejar ketertinggalan. Dia menyampaikan pesan itu kepada Raymond, memerintahkan dia untuk menghentikan barisan depan. Tetapi karena seluruh kolom Tentara Salib secara bertahap dikepung oleh jumlah yang terus meningkat pemanah berkuda Saladin, menjadi jelas bahwa mereka telah jatuh ke dalam jebakan.

Setelah dengan cepat merebut Tiberias, Saladin sempat untuk kembali, hanya menyisakan garnisun kecil untuk menjaga benteng, dan dengan konvoi utamanya dia sekarang menghadang jalan lawan. Senja yang semakin dekat, para pejuang Kristen yang kelelahan, diperlambat karena kehausan dan terkepung oleh pasukan Muslim, tak dapat maju menggasak jalan mereka melewati pasukan Saladin yang masih berstamina segar .

Raja Guy tidak punya pilihan selain memperintahkan anak buahnya untuk membuat perkemahan di mana mereka berdiri. Tidak jauh dari tenda sang Raja, kontingen utama Muslim juga berkemah untuk malam ini. Namun menjelang malam akan menjadi malam yang sulit bagi Tentara Salib. Perkemahan mereka membentang sekitar 2 km dan tidak terlindungi oleh fitur medan alami apa pun.

Pemanah berkuda Muslim terus merundungi perkemahan dengan anak panah sepanjang malam. Pasukan khusus bertugas sebagai penggangu barisan musuh bentrok dengan Tentara Salib dan membakar tenda di sepanjang perimeter kamp.

Tidak dapat beristirahat dan dengan persediaan air mereka yang menyusut, asap dan panas dari api menguras energi dari kaum Kristen.

Pagi tiba, semua mereda. Saladin menunggu panas memuncak dan melihat apa yang akan dilakukan orang Kristen. Tentara Salib, sekarang tanpa air dan tersiksa oleh kehausan, hanya memiliki satu tujuan - desa Hattin, di mana ada sumber air.

Mereka bergerak melintasi lembah, mempertahankan formasi yang sama dari tiga kotak, dengan infanteri melindungi kavaleri. Pasukan Saladin membakar semak terdekat, mengirimkan gumpalan asap yang mencekik dengan tiupan angin barat ke arah Tentara Salib. Dan dengan matahari yang menyiksa dari langit yang cerah, orang-orang Kristen mendesak ke arah Hattin, menyerang dengan putus asa untuk mencapai sumur air. Untuk mencegah hal ini, Saladin mengirim sayap Taqi al-Din berlari untuk memblokir lembah, bertekad untuk sepenuhnya mengepung musuh dan tidak membiarkan mereka untuk memuaskan dahaga mereka. Dia terutama ingin menjatuhkan kesatria dan kavaleri berat mereka dengan pintar, sadar akan bagaimana berbahayanya serangan frontal terhadap mereka yang tertutupi zirah baju besi.

Pasukan penggangu Taqi mendekat, lalu menyerang dan lari untuk menguji sisi-sisi barisan pasukan Kristen. Pemanah kuda kemudian melepaskan berondongan demi berondongan anak panah ke barisan Tentara Salib Lelah, haus dan putus asa, infanteri Tentara Salib mulai terpisah dari kesatria berkuda. Mereka berpencar dan melarikan diri, dengan kelompok besar menuju ke timur menuju bukit yang disebut Tanduk Hattin dan kelompok lain yang melarikan diri ke utara menuju desa Nimrin.

Melihat pasukan musuh ada yang melarikan diri, pasukan berkuda Muslim membuka celah barisan mereka untuk menarik pasukan infanteri musuh. Raja Guy dan perwiranya menyadari bahwa mereka akan tamat kecuali mereka dapat menerobos. Tetapi kaum Muslim juga menyerang bagian belakang barisan hingga ksatria Templar dan Hospitaller menjadi sangat kewalahan, memaksa Guy untuk berhenti sejenak untuk kedua kalinya, agar mencegah formasi kavaleri terpecah. Nyatanya Raymond of Tripoli telah mundur lari menjauh dari formasi kavaleri Raja Guy. Saat ia bergerak maju, para pasukan berkuda Muslim mulai membuka sedikit celah di barisan mereka. 

Raymond, memutuskan untuk tidak duduk dan menunggu. Dia menghumpun kesatria dan menyerbu kavaleri Taqi al-Din. Para kavaleri Muslim membiarkan orang-orang Kristen yang berlarian melewati, menghujani Raymond dan pasukannya dengan panah saat mereka mundur dari medan perang. Kembali di lembah yang dipenuhi asap, para kesatria Kristen sedang sekarat.

Guy memerintahkan kavaleri untuk bergerak ke arah Tanduk Hattin melalui celah yang sudah dibuat oleh infanteri yang mundur. Dia tahu bahwa ada kolam air dangkal di puncak bukit dan berharap mereka tidak kering. Sementara itu di atas bukit, pasukan Saladin mendekat dan mulai menyerbu infanteri Kristen. Kelelahan, infanteri musuh hampir tidak dapat melakukan perlawanan dan mereka dengan cepat kewalahan.

Para Muslim kemudian berbalik ke arah Raja Yerusalem yang sendirian. Sepanjang pertarungan jarak dekat yang tak henti-hentinya, Kesatria Kristen berkumpul untuk melindungi Salib Sejati saat mereka mundur menuju bukit. Tetapi kondisi mereka menemui batasnya, tidak ada bala bantuan dan tidak ada air. Raja Guy mengerahkan para kesatria dan mendirikan tenda merah untuk memberikan titik fokus. Namun tidak berhasil. Pasukan Muslim mendesak menuju lereng dan menyerbu orang-orang Kristen. Dalam pertarungan jarak dekat, Salib Sejati jatuh ke tangan Muslim. Melihat ini, para kesatria Kristen yang masih bertahan bersatu dan menyerbu menuruni bukit untuk mengambilnya, mendorong mundur garis Muslim.

Namun mereka sudah tidak memiliki stamina kehabisan semangat untuk bertarung dan lekas mulai mendapat banyak korban berjatuhan. Akhirnya, Raja Guy memerintahkan mereka untuk menyerah. Kesatria turun dari kuda dengan tumbang di tanah. King Guy juga ditemukan di atas tanah didalam tenda miliknya, benar-benar kelelahan, nyaris tidak punya cukup tenaga yang tersisa untuk menyerahkan pedangnya sebagai isyarat menyerah.

Tentara Saladin telah memenangkan kemenangan besar. Raja Guy ditangkap bersama dengan banyak bangsawan dan kesatria, di antaranya, Rayland of Chatillon. Saladin memerintahkan agar air dingin itu dibawa dan disuguhkan kepada Raja. 

Kemudian, menurut Imad Al-din: "Sang Raja, telah minum sebagian, menyerahkan cangkir itu kepada Raynald of Chatillon. Oleh karena itu Sultan berkata kepada seorang penerjemah: Katakan kepada raja: "Kamulah yang memberi dia minum. Tapi saya tidak memberinya minum. Tidak pula makan. "Dengan kata-kata ini, Saladin berharap dapat dimengerti bahwa kehormatan melarangnya untuk mencelakai siapa pun yang telah merasakan keramahannya.

Dan dengan itu dia mengayunkan pedangnya dan menebas Raynald di leher, sehingga memenuhi sumpahnya untuk membunuh pengingkar gencatan senjata. even itu menandakan telah sempurna kemenangan kaum Muslimin.

Namun yang lebih penting, pasukan besar Tentara Salib yang telah dihancurkan di Hattin tidak dapat diganti. Tanpa itu, kastil-kastil, perkampungan dan kota-kota Kristen sekarang tidak berdaya. Pada 1188 hanya Tirus dan Acre yang bertahan memacu Eropa untuk memulai perang salib lainnya. Berhadapan dengan Richard berhati Singa.

Ibrah :
Perlu dicatat bahwa sebagian besar kita berfokus pada pencapaian militer Shalahuddin. Namun, sebenarnya ada lebih banyak lagi keistimewaan bagi pria yang dikagumi oleh musuh-musuh Eropa-nya, Dan dicintai oleh sesama muslimnya.

Saladin adalah seorang pemimpin Muslim yang berani, memiliki fondasi yang kuat dalam agama dan nilai-nilai kepemimpinannyalah yang menuntun pada komitmennya untuk kepentingan Islam. Hanya dalam kurun waktu dua belas tahun ia menyatukan Mesopotamia, Suriah, Mesir, Libya timur, Arab barat dan Yaman, menggunakan keterampilannya dalam diplomasi dan administrasi untuk menyatukan wilayah yang terbagi ini.

Cakupan visi miliknya ialah, ia menyikapi tiap situasi dengan perhatian dan tanggung jawab, dan ia tidak pernah memutus jembatan diplomasi atau prakarsa perdamaian dengan lawan-lawannya. Kekuasaan atau kekayaan yang dia peroleh tidak pernah membuatnya lalim. Dia adalah pria dengan hasrat bergolak, bertekad dalam menunaikan tujuannya untuk mengusir para penjajah keluar dari tanah muslim.

GIVE AND GIVE


Pada jaman dahulu, ada seorang peternak mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak.

Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba milik peternak. 

Si peternak meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tapi ia tidak peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba, sehingga terluka parah. 

Si peternak merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota berkonsultasi kepada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita peternak tersebut dan berkata:

"Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan mendapatkan seorang musuh. Mana yang Anda inginkan, menjadikan tetanggumu sahabat atau seorang musuh?”

Peternak itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang sahabat.

"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi dimana Anda harus memberikan anak domba Anda kepadanya, supaya domba Anda tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda sebagai sahabat ”.

Ketika sampai di rumah, peternak itu segera melaksanakan solusi pak hakim. 

Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerimanya dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah lagi mengganggu domba-domba si peternak.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan peternak itu kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada si peternak. Sebagai balasannya, peternak juga mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat kedua tetangga itu menjadi bersahabat.

Jika Anda berkumpul dengan serigala, Anda akan belajar melolong.

Tapi jika Anda bergaul dengan Rajawali, Anda akan belajar cara terbang mencapai ketinggian yang luar biasa.

Kenyataan yang sederhana tetapi benar, bahwa Anda menjadi seperti orang yang bergaul dekat dengan Anda.

Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas.

Persahabatan yang didapat dari uang, pangkat dan ketenaran bukan persahabatan sejati, melainkan hanya pergaulan dangkal yang penuh kepalsuan, yang eois, materialis, munafik dan penuh kebohongan.

Persahabatan sejati lahir dari kasih, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan, kebersamaan dan iman.

Itu sebabnya persahabatan itu indah, tidak dapat dinilai dengan harta benda, tidak dapat diperjualbelikan.

GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE

KEPADA YANG MENUNDA BERDAKWAH: PELAJARAN DARI KISAH AFIF BIN QAYS

Saat Fathul Makkah, Yaumul Marhamah, semua orang bergembira. Orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Disaat semua orang meninggikan asma Tuhan dalam bahagia tapi ada seseorang yang larut dalam kesedihan menangis pilu. Namanya Afif bin Qays. Lelaki ini ternyata dilanda rasa penyesalan yang teramat sangat. apa yang membuatnya merasa begitu menyesal ? 

Flash back waktu ke masa lalu lebih dari 20 tahun terjadinya sebelum Fathul Makkah. 
 
Afif bin Qays, seorang pedagang dari bani Kindah, sedang berkunjung ke Makkah untuk berhaji. Di Makkah dia menyempatkan diri menemui seorang sahabatnya, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Saat bersama Abbas itulah Afif bin Qays terkesima saat melihat 3 orang yang sedang mengerjakan ibadah shalat di dekat Ka'bah. Seorang lelaki sebagai imam; seorang anak kecil di samping kanannya, dan seorang perempuan di belakangnya. Mereka shalat jamaah bersama.

Ia lalu berkata kepada temannya Abbas bin Abdul Muthalib, 

"Ya Abbas, amrun adziim, ini adalah perkara yang agung"

"Begitulah", jawab Abbas bin Abdul Muthalib. 

"Siapakah orang-orang itu? tanya Afif bin Qays penasaran. 

"Pria itu adalah Muhammad bin Abdullah, keponakanku. yang kecil itu Ali, keponakanku juga. Dan yang perempuan adalah isterinya Muhammad, Khadijah", jawab Abbas bin Abdul Muthalib. Lalu diapun melanjutkan, 

"Muhammad menyampaikan kepadaku bahwa Allah, adalah Rabb langit dan bumi, dan telah mengutusnya dengan agama ini, dan juga mengklaim bahwa istana Kisra dan Qaisar akan ditaklukkan untuknya nanti; dan demi Allah, tidak ada yang mengikuti agama ini di muka bumi kecuali mereka bertiga itu saja. ".  

Jawaban itu ternyata merasuk ke dalam hati Afif bin Qays. Dia merasakan cahaya kebenaran, menjadikannya ingin bergabung menjadi orang keempat yang masuk Islam. 

Tapi dia tidak kunjung segera masuk Islam. Dia terus disibukkan dengan urusan bisnisnya. Begitu terus -menerus hingga 20tahun lebih hingga kemudian Rasulullah SAW datang membawa pasukan dari Madinah dan berhasil menaklukkan Makkah. Saat itulah Afif bin Qays baru masuk Islam. Dan diapun menyesal sejadi-jadinya. 

Dia telah kehilangan waktu berharga lebih dari 20 tahun (riwayat lain ada yang menyebut 15 tahun). Andaikan saja dulu dia memenuhi panggilan hatinya segera masuk Islam ketika mendapatkan penjelasan dari Abbas bin Abdul Muthalib, maka dia bisa menjadi orang keempat yang masuk Islam. dan merasa nikmatnya perjuangan dan kehidupan yang penuh arti. Dia mestinya bisa merasakan ikut Hijrah, berbaris dalam Perang Badar, atau terluka dalam Perang Uhud, dan sulitnya Perang Khandaq, dsb. Namun kesempatan emas itu telah ia sia-siakan. Terlewat begitu saja tanpanya. Padahal dia telah merasakan cahaya kebenaran. 
Sahabat, mari kita ambil pelajaran...
Jangan sampai kita juga ikut menyesal seperti Afif bin Qays. Jika telah tampak kebenaran di depan mata kita, mari segera kita ikuti tanpa tunda. 

Dan insyaAllah dijalan dakwah ini, insyaAllah adalah jalan yang akan mengantarkan kita semua kepada keridhaan Allah dan rahmatnya. Janganlah kita menunda-nunda untuk bergabung dalam perjuangan mulia.

Orang yang cerdas adalah mampu membaca alam, orang yang bisa melihat reka ujung hasil dari sebuah perkara sejak di awal pandangan. 

[Animous]