This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

UAS : Apa itu Syariat, Hakikat, Makrifat dan Tariqat

Ustadz Abdul Somad dalam video pengajian ini menjelaskan 
- Hubungan Syariat, Hakikat, Makrifat dan Tariqat dalam sebuah perumpamaan. 
- Bagaimana mengenal Allah ?
- Bagaimana mencapai Maqam Makrifat ?
- Bolehkah Membayar Zakat ke kampung halaman
- Apakah Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan Allah sebelum Alam Semesta ?
- dll

Kebangkitan Islam Akhir Zaman Dimulai Dari Tanah Melayu, Insya Allah

Ustadz Abdus Samad Lc dalam salah satu kesempatan ceramahnya mengungkapkan harapannya untuk kita semua bangsa-bangsa rumpun Melayu di Nusantara, bahwa nantinya yang membebaskan Al-Quds adalah Bangsa Rumpun Melayu.

Binasa Karena Kesombongan

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,
"Diantara manusia ada yang binasa karena berbangga dengan harta, ada pula yang binasa karena kedudukan atau ilmu agama yang dimilikinya, sehingga terkumpul pada dirinya kebanggaan dan kesombongan.
Disisi Allah, kondisi ini (sombong dengan ilmu agama) lebih buruk dibandingkan orang yang membanggakan dirinya dengan harta dan kedudukan.
Hal ini dikarenakan ia telah menjadikan sebab akhirat untuk dunia, sementara pemilik harta dan kedudukan hanya menjadikan sebab dunia untuk dunia"

UAS : 5 Cara Agar Bisa Khusuk Dalam Shalat

Ceramah Ustad Abdus Samad mengajarkan kita tentang bagaimana untuk mendapat khusyuk dalam sholat

Mengapa Disebut Sebagai “Budak Harta”

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa manusia bisa menjadi “budak harta” atau “budak uang” karena tamak dan rakusnya mereka dengan harta.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”.[HR. Bukhari]

Maksud dari “budak harta” adalah harta dan uang tersebut memperbudak dan memerintahkan manusia untuk mencari mereka (uang). Manusia yang tamak akan patuh saja dengan perintah harta atau uang tersebut. Uang akan “berkata”:

‘Carilah aku dan kerahkan semua tenaga kalian‘ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Uang “berkata” lagi:

‘Carilah aku lagi, belum cukup, engkau perlu kerja sampai malam dan lembur sampai libur akhir pekan’ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Uang “berkata” lagi:

‘Carilah aku, engkau perlu mengorbankan sedikit kehormatan dirimu, engkau harus mengorbankan sedikit prinsip hidupmu, agar bisa dapat uang di zaman ini’ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Selama uang yang didapatkan tersebut belum dipakai dan hanya “dikoleksi” saja, misalnya berupa tanah atau tabungan yang mengendap lama, maka hakikatnya manusia telah diperbudak oleh harta dan menjadi budak harta, karena manusia patuh saja pada harta.

Ibnu Katsir berkata dan membawakan syair:

ﺃﻧﺖَ ﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﺴﻜﺘَﻪ … ﻓﺈﺫﺍ ﺃﻧﻔﻘﺘَﻪ ﻓﺎﻟﻤﺎﻝُ ﻟَﻚْ …

“Engkau akan menjadi budak harta jika engkau MENAHAN harta tersebut. Akan tetapi, jika engkau menginfakkannya, harta tersebut barulah jadi milikmu.” [Tafsir Ibnu Katsir 14: 443]

Manusia yang rakus dan tamak menjadi budak harta karena manusia harus menjaga harta tersebut, yang terkadang menjaga harta seperti seorang budak yang menjaga seorang raja atau menjaga majikannya. Perlu tenaga, perhatian dan konsentrasi yang benar-benar penuh untuk menjaga harta, bahkan untuk menjaga harta perlu mengorbankan segalanya.

Ibnul Qayyim menjelaskan perbedaan harta dan ilmu, beliau berkata:

ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ

“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.” [Miftah Daris Sa’adah 1/29]

Tidaklah heran apabila manusia banyak yang menjadi budak harta dan dunia karena harta adalah fitnah (ujian) terbesar bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” [HR. Bukhari]

Manusia menjadi budak harta juga karena kerakusan dan ketamakan mereka dengan harta, bahkan manusia lebih rakus daripada serigala yang lapar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »

“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” [HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih]

Inilah hakikat harta dan dunia yang bisa menipu manusia. Manusia yang tamak mengira bahwa merekalah raja dan tuan, tetapi sesungguhnya mereka telah diperbudak oleh harta dan dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻏَﺮَّﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺷَﻬِﺪُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ

“Kehidupan dunia telah menipu mereka.” [Al-An’am 6:130]

Karenanya kita diperintahkan agar benar-benar menjaga diri kita dari kelalaian karena harta. Allah Ta’ala berfirman,

ﻳﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Al Munafiqun 63: 9]

(Anonim)

UAH : Cara Bertaubat dari Dosa Mencuri

SABAR & SYUKUR : Kunci Hidup yg Luar Biasa

🥀🌿

Tahukah Anda, jika kehidupan ini memiliki dua kunci yang luar biasa.
Apakah itu?
Yaitu kesabaran dan rasa syukur.


Ketika kedua kunci ini selalu kita jaga setiap saatnya maka pasti kehidupan kita akan selalu baik-baik saja, meski dalam keadaan yang kurang beruntung.


Oleh karenanya, jangan sampai kita kehilangan dua kunci hebat ini, karena semua yang kita jalani akan mudah tatkala sabar dan syukur kita selalu beriringan.


Jika sabar selalu menjadi andalan dalam menjalani hidup kita, selalu menjadi pegangan untuk melalui berbagai hal yang Allah persembahkan, maka pasti tidak akan pernah ada yang sulit bagi kita, walau benar hal tersebut adalah masalah yang berat.


Karena jika sabar menjadi satu-satunya, menjadi penenang kita dalam menjalani hidup ini, maka pasti kita tidak akan pernah menganggap rumit masalah yang datang, meski hal itu adalah masalah yang besar.

Kita akan tetap baik-baik saja menjalani semuanya dengan tanpa rasa takut sedikitpun, tatkala Allah sudah kita jadikan yang utama dalam sabar dan syukur kita.


Kita juga tidak akan pernah ada kesempatan untuk mengeluhkan hidup, jika rasa syukur kita selalu menjadi penguat dalam menerima setiap yang ditakdirkan-Nya.


Kita akan tetap qana'ah dan ridha, meski yang terjadi tidak sesuai harapan kita, jika rasa syukur selalu lebih depan dari mengeluh kita.


Jika syukur kita selalu menjadi yang utama dalam hati kita, selalu menjadi andalan kita, tentu kita tidak akan pernah sekalipun menggerutui yang telah Allah tetapkan meski hal itu sangat menyakitkan.


Kita akan terus yakin kepada kebaikan-Nya, sehingga secara perlahan-lahan hati kita akan melunak dengan rasa sabar dan ikhlas.


Karena hidup kita akan selalu baik-baik saja tatkala sabar dan syukur kita selalu menjadi pengendali terhebat dalam menjalani apa yang sudah seharusnya kita jalani.


Jika setiap saatnya yang kita tahu hanya bersabar dan bersyukur, maka tentu tidak akan ada kesempatan bagi kita untuk berkata lelah dengan apa yang Allah aturkan, karena pasti hati kita sudah besar dengan rasa ikhlas. (anonymous)


🥀🌺🥀

Setinggi Apa Kita Menempatkan Al-Quran Setinggi itulah Derajat Kita


Para sesepuh dahulu sangat mewanti wanti untuk berunggah ungguh terhadap Al Quran, mendudukkan Al Quran pada posisi paling tinggi. Saat madrasah ibtidaiyyah dulu, saya pernah menenteng Quran ketika mau mengaji ke Langgar, tiba tiba ditegur keras sama pakde.
"ojo koyo ngono lehmu nggowo Quran" kata beliau sambil membenarkan cara membawanya minimal didekap di dada.
Jangan tanya bagaimana jika mushaf Quran dibawa tanpa wudhu, sudah pasti sangat tidak boleh, kecuali dalam keadaan sangat dhorurot misal Quran terjatuh, itupun harus di lapisi dengan kain sarung, tanpa langsung menyentuh mushaf, kemudian dicium penuh takdzim lalu di letakkan ditempat tertinggi.
Demikian para sesepuh itu bertamanni dengan sabda kanjeng nabi
إن الله يرفع بهذا لكتاب اقواما ويضع به آخرين
Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena Al Quran, dan merendahkan suatu kaum yang lainnya karena Al Quran.
Maka berharap Allah tinggikan posisi mereka dengan mengagungkan mushaf Al Quran. Dalam hal ini Imam An Nawawi rodhiyallahu anhu menyampaikan dalam muqaddimah at tibyan fi adabi hamalatil Quran
وملازمة الآداب معه، وبذل الوسع في الإحترام
Senantiasa menjaga adab dan mengupayakan sepenuh jiwa untuk memuliakannya.
Syekh Dr Aiman Suwaid ketika menjelaskan kalimat tersebut, beliau sampaikan tentang Daulah Usmani di Turki yang membentang sepanjang 7 abad lamanya.
Adalah Osman bin Ertuğul atau Osman 1 atau Osman Ghazi yang merupakan leluhur dari dinasti ini, seorang bangsawan dari kesultanan Seljuk.
Suatu ketika beliau melakukan safar berkeliling di wilayah teritori nya. Hingga singgah di sebuah rumah dari penduduk setempat. Setelah shalat isya dan melakukan jamuan malam maka Osman 1 diarahkan untuk beristirahat di salah satu bilik rumah tersebut.
Ketika shubuh menjelang sohibul bait bermaksud membangunkan tamunya untuk shalat shubuh. Sohibul bait melihat tamunya sedang berdiri bersender pada salah satu dinding bilik tersebut, menghadap rak yang berisi mushaf yang tertempel pada dinding lainya.
Sohibul bait bertanya, "sayyidi... Apakah engkau telah bangun?"
Osman 1 menjawab "apakah engkau kira aku harus terbangun, padahal semalam ini aku tak tidur"
"apakah ada hal serius yang tengah engkau fikirkan sayyidi, sehingga engkau tak tidur?" tanya sohibul bait
"engkau tak memberitahukan kepadaku bahwa dalam bilikmu ini terdapat mushaf Al Quran, dan bagaimana mungkin aku membaringkan tubuhku dan meluruskan kakiku sementara ada mushaf mulia bersamaku.
MasyaAllah tabaarakallah..
Jika terhadap mushaf al Quran Osman 1 demikian memuliakanya lantas bagaimana penghormatan nya terhadap kandungan Al Quran, bagaimana terhadap ahlul Qurannya? Maka pantaslah Allah berikan kejayaan kepada anak cucu cicitnya 7 abad lamanya memakmurkan bumi
اللهم ارحمنا بالقران.... ‎
dari FB @Jacvar Ben Hanbal

GIVE AND GIVE


Pada jaman dahulu, ada seorang peternak mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak.

Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba milik peternak. 

Si peternak meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tapi ia tidak peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba, sehingga terluka parah. 

Si peternak merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota berkonsultasi kepada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita peternak tersebut dan berkata:

"Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan mendapatkan seorang musuh. Mana yang Anda inginkan, menjadikan tetanggumu sahabat atau seorang musuh?”

Peternak itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang sahabat.

"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi dimana Anda harus memberikan anak domba Anda kepadanya, supaya domba Anda tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda sebagai sahabat ”.

Ketika sampai di rumah, peternak itu segera melaksanakan solusi pak hakim. 

Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerimanya dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah lagi mengganggu domba-domba si peternak.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan peternak itu kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada si peternak. Sebagai balasannya, peternak juga mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat kedua tetangga itu menjadi bersahabat.

Jika Anda berkumpul dengan serigala, Anda akan belajar melolong.

Tapi jika Anda bergaul dengan Rajawali, Anda akan belajar cara terbang mencapai ketinggian yang luar biasa.

Kenyataan yang sederhana tetapi benar, bahwa Anda menjadi seperti orang yang bergaul dekat dengan Anda.

Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas.

Persahabatan yang didapat dari uang, pangkat dan ketenaran bukan persahabatan sejati, melainkan hanya pergaulan dangkal yang penuh kepalsuan, yang eois, materialis, munafik dan penuh kebohongan.

Persahabatan sejati lahir dari kasih, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan, kebersamaan dan iman.

Itu sebabnya persahabatan itu indah, tidak dapat dinilai dengan harta benda, tidak dapat diperjualbelikan.

GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE

BELAJAR SABAR DARI SEORANG ANAK KECIL

Al Fudhail bin ‘Iyadh رَحِمَهُ الله berkata :
”Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu saat ketika aku berjalan hendak ke masjid aku mendapati seorang Ibu sedang memukuli anaknya di dalam rumahnya. 

Anak itu menangis berteriak kesakitan, lalu berhasil membuka pintu dan kemudian lari keluar rumahnya. Maka Ibu itu pun mengunci pintu rumahnya…

Tatkala ketika aku pulang dari masjid, aku memperhatikan kembali. Aku mendapati anak itu ternyata telah tertidur di depan pintu sesudah menangis beberapa saat lamanya karena pintu tidak dibuka. Dia sedang berharap belas kasihan dari ibunya. Maka akhirnya luluhlah hati sang ibu dan ia pun kembali membukakan pintu itu untuk anaknya.

“Kemudian Fudhail bin ‘Iyadh رَحِمَهُ الله menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi jenggotnya.

Beliau berkata : “Subhanallah...!, kalau saja seorang hamba bisa bersabar di depan pintu (mengharap dari rahmat) Allah niscaya Allah pasti akan membukakan pintu itu untuknya.”

Abu Darda’ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ berkata : ”(Maka) Bersungguh-sungguhlah dalam memanjatkan doa, karena siapa yang (Sungguh-sungguh) banyak mengetuk pintu (rahmat Allah) niscaya pintu rahmat itu akan dibukakan untuknya.”
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/22)

Semoga bermanfaat.
إِنْ شَاءَ اللّٰهُ