This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saudi. Tampilkan semua postingan

SAUDI VS IKHWAN ? ; SIKAP DUALISME SAUDI DALAM JIHAD AFGHAN

Raja Khalid Bin Abdul Aziz mengeluarkan 'titah kerajaan' kepada Salman Bin Abdul Aziz
(yang saat itu menjabat sebagai gubernur Riyadh) untuk membentuk
dan mengetuai Komite Pengumpulan Donasi bagi mujahidin Afghanistan.


1980, paska tentara merah Uni Soviet menyerang Afghanistan, Raja Khalid Bin Abdul Aziz mengeluarkan 'titah kerajaan' kepada Salman Bin Abdul Aziz (yang saat itu menjabat sebagai gubernur Riyadh) untuk membentuk dan mengetuai Komite Pengumpulan Donasi bagi mujahidin Afghanistan. Beberapa waktu kemudian, Presiden of Youth Welfare Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan. Sementara itu, maskapai Saudi Airline memberikan diskon tiket pesawat sampai 70% untuk para 'relawan Saudi' yang ingin berangkat ke Afghanistan baik untuk sekedar memberikan bantuan ataupun terjun langsung dalam medan perang. Saat itu, ajakan berdonasi bagi jihad di Afghanistan memenuhi koran-koran Saudi. Sebagaimana para da'i-da'i Shahwah (kebangkitan Islam) Saudi dan gerakan Islam gencar memotivasi dan memobilisasi para pemuda dari mesjid-mesjid untuk ikut andil dalam jihad dengan restu dari para ulama KSA dan tentu saja juga restu dari USA. Saat itu, kata JIHAD identik dengan KEMULIAAN dan KEBEBASAN, sebab musuh yang diperangi oleh AS dan SAUDI adalah Komunisme.


20 atau 30 tahun kemudian, kata jihad mulai identik dengan terorisme. Jika dulunya jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan adalah fardhu ain, maka perlawanan terhadap Amerika yang kemudian juga menyerang Afghanistan dan Irak dianggap sebagai 'fitnah' yang harus dijauhi. Saudi melarang dan mengancam akan mempidanakan setiap warganya yang keluar 'berjihad' baik ke Afghanistan, Irak ataupun Suriah.

**

Presiden of Youth Welfare Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan
tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan.


Selain dukungan resmi dari KSA dan USA, jihad kontra Uni Soviet di Afghanistan tak bisa dipisahkan dari Ikhwan dan gerakan Shahwah. Hubungan IM dan Mujahidin Afghanistan terbentuk melalui para da'i Afghanistan yang belajar di Al-Alzhar seperti Syeikh Abdu Rabb Rasul Sayyaf dan lain-lain. Nama-nama seperti Abdul Mun'im Abul futuh, Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, Dr. Ahmad Al-Malath, Hamid Abu Nashr hingga Syeikh Muhammad As-Shawwaf dan lain-lain adalah tokoh-tokoh penting Ikhwan yang ikut memberikan andil dalam jihad di Afghanistan baik dalam menyalurkan bantuan, mendamaikan para mujahidin hingga turut berkecimpung dalam perang. Umar At-Tilmisani, Mursyid IM ketiga sering berkordinasi dengan para utusan Mujahidin Afghanistan di Kairo. Beliau mengutus Ustad Kamaluddin As-Sananiri (suami Aminah Qutb) pada tahun 1980 ke Pakistan untuk meninjau jihad dan kebutuhan para mujahidin. Dalam perjalanan pulang dari Pakistan ke Mesir, As-Sananiri singgah berhaji di Arab Saudi dan bertemu dengan Syeikh Abdullah Azzam dan berkomitmen untuk memobilisasi para pemuda untuk berjihad. Namun, begitu sampai ke Mesir, As-Sananiri langsung dipenjara dan meninggal akibat penyiksaan yang dialaminya.

**

Umar At-Tilmisani, Mursyid IM ketiga berkordinasi dengan para utusan Mujahidin Afghanistan di Kairo


Berbicara tentang jihad Afghan, Syeikh Abdullah Azzam adalah ikonnya. Dalam mukaddimah risalah fatwa jihadnya 'Ad-Difa' 'An Aradhi Al-muslimin Ahamm Furudh Al-A'yan' Syeikh Azzam menjelaskan bahwa fatwa jihadnya disetujui oleh para ulama Saudi saat itu terutama Syeikh Bin Baz, bahkan Syeikh Bin Baz ikut berfatwa di mesjid Bin Laden Jeddah dan mesjid Al-Kabir Riyadh bahwa jihad dengan jiwa adalah fardhu 'ain. Diantara mereka yang menyetujui fatwa jihad Syeikh Abdullah Azzam di Afghanistan adalah:
Syeikh Muhammad Ibnu Sholih Ibnu Utsaimin, Al-Allamah Syeikh Abdu Ar-Razaq Afifi (Na'ib Mufti KSA dan anggota Hai'ah Kibar Ulama KSA), Syeikh Hasan Ayyub (lulusan Al-Azhar dan dosen King Abdul Aziz Jeddah), Syeikh Muhammad Al-Asal (lulusan Al-Azhar dan dosen di Al-Imam University Riyadh), Syeikh Abdullah Nasih 'Ulwan (ulama asal Aleppo yang mengajar di King Abdul Aziz University Jeddah), Syeikh Sa'id Hawwa, Muhaddis Mesir Syeikh Muhammad Najib Al-Muthi'i, Dr. Hussein Hamid Hassan (anggota di Persatuan Ulama Muslim Internasional) dan lain-lain.(1) Syeikh Abdul Aziz bin Baz juga menyetujui dicetaknya kitab 'Ayat Ar-Rahman Fi Jihad Al-Afghan' karya Syeikh Abdullah Azzam sebagaimana dijelaskan dalam mukaddimah cetakan pertama.(2)

Lulus dari Universitas Damaskus tahun 1966, Syeikh Abdullah Azzam melanjutkan studinya di Al-Azhar As-Syarif baik magister maupun doktoral. Beliau lulus dan mendapatkan Ph.D dalam bidang Ushul Fiqih tahun 1973. Latar belakang dan kapasitas keilmuan yang mumpuni menjadikan Syeikh Abdullah Azzam ikon jihad yang faqih dan ushuliy dimana sikap-sikap dan fatwanya selalu didasarkan pada pertimbangan maslahat dan mafshadat. Sepanjang jalan jihadnya, beliau tak pernah bosan menyatukan para mujahidin dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda serta sangat berhati-hati dalam masalah takfir terutama pengkafiran terhadap penguasa. Berbeda halnya dengan Osama Bin Laden yang tidak punya basic keilmuan yang kuat, diperparah dengan masuknya para jihadis takfiri dari Mesir, Saudi dan lain-lain yang menyebabkan sebagian mujahidin Afghan Arab paska meninggalnya Syeikh Abdullah Azzam kemudian lebih identik dengan radikal dan teroris.

**

Bersamaan dengan meletusnya perang Afghanistan, gerakan Shahwah Islamiyyah yang dipelopori oleh para da'i-da'i muda revolusioner Saudi seperti Salman Al-Audah dan Safar Al-Hawali booming pada tahun 1980an dan didukung oleh penguasa, terutama oleh Raja Fahd yang menganggap bahwa gerakan Shahwah adalah gerakan pencerahan yang diberkati (video pujian Raja Fahd terhadap Shahwah Islamiyyah bertebaran di YouTube). Bahkan Syeikh Utsaimin mengarang kitab 'As-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith Wa Taujihat' untuk menuntun para pemuda yang bersemangat menyongsong kebangkitan Islam Saudi. Oleh sebagian pengamat, dukungan penguasa KSA untuk gerakan Shahwah yang revolusioner dianggap hanya sebagai gerakan tandingan dan wadah untuk 'memuaskan dahaga' para pemuda agamis Saudi yang terpengaruh dengan revolusi Iran yang Syi'ah. Jadi KSA melihat perlunya mendukungnya kebangkitan Islam yang juga memiliki ruh revolusioner dari kalangan Sunni sekalian mengarahkan mereka untuk terjun dalam medan jihad di Afghanistan. Dan sebagaimana telah kita ketahui, kemesraan itu hanya berlangsung sesaat, sebab gerakan Shahwah kemudian menjadi pengkritik kebijakan KSA yang meminta bantuan Kuffar Amerika untuk menghalau Saddam Husein yang menyerang Kuwait dan mengancam Saudi. As-Shahwah sebagai gerakan pencerahan yang terberkatipun kini dianggap sebagai 'ideologi impor yang radikal' oleh Alu Su'ud.


Para mujahidin Afghan Arab, Ikhwanul Muslimin dan gerakan Shahwah Islamiyyah adalah contoh paling mencolok dari gerakan keagamaan yang disupport sedemikian rupa oleh KSA dengan dana minyaknya yang melimpah namun kemudian divonis sebagai teroris radikal ketika tak lagi dibutuhkan dan sesuai dengan keinginan KSA. Hal yang sama terjadi untuk Saddam Husein 'Asadussunnah', sang singa ahlussunah (gelar untuk Saddam yang disupport Saudi saat menyerang Iran) yang kemudian divonis kafir oleh Grand Mufti Saudi sendiri. Pameran jihadpun digelar di Universitas Al-Imam Muhammad Bin Su'ud Riyadh tahun 1991 (4-6 Sya'ban 1411 Hijriyah) dibawah pengawasan rektor Jami'ah Al-Imam Dr. Abdul Muhsin At-Turky. Pameran jihad kali ini bukan lagi kontra Soviet, tapi kontra Pemerintahan Pemberontak Saddam Husein yang wajib dilawan. Fatwapun dikeluarkan dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an bahwa siapa saja yang mati saat berperang melawan Irak maka ia mati syahid.(3)

**

Pameran jihad di Universitas Al-Imam Muhammad Bin Su'ud Riyadh tahun 1991 (4-6 Sya'ban 1411 Hijriyah)
dibawah pengawasan rektor Jami'ah Al-Imam Dr. Abdul Muhsin At-Turky.
Pameran ini diadakan untuk menggalang semangat jihad
kontra Pemerintahan 'Pemberontak Irak' Saddam Husein yang wajib dilawan.


Saat masih menjadi Menteri luar negeri era Obama, Hillary Clinton mengakui bahwa para Mujahidin Afghanistan yang saat itu mereka perangi sejatinya dibesarkan oleh AS dan Saudi sendiri. Benar memang, paska syahidnya Syeikh Abdullah Azzam sebagian mujahidin Arab berubah menjadi radikal dan teroris dikarenakan dangkal dan kakunya pemahaman keislaman mereka sendiri. Akan tetapi, 'terorisme negara' yang menolak kepulangannya mereka dan seenaknya 'memperkosa' teks-teks agama demi kelanggengan kekuasaannya adalah juga salah satu sebab penting merebaknya radikalisme. Syeikh Salman Al-Audah mungkin adalah salah satu contoh ulama moderat yang menyeru kepada reformasi namun tetap dianggap berbahaya oleh Saudi. Padahal, ketimbang pengaruh Syeikh Muhammad Surur dan Islam Saudi yang konservatif, Syeikh Salman Al-Audah dikemudian hari lebih mewarisi kemoderatan pemikiran Syeikh Abu Ghuddah dan Syeikh Al-Qaradhawi.


Dalam wawancara dengan Jeffrey Goldberg; jurnalis dan pemimpin redaksi majalah The Atlantic Amerika, MbS mengakui Saudi adalah donatur penting terhadap IM. Ia juga mengatakan bisa jadi suatu hari nanti, Saudi akan kembali berkoalisi dan meminta bantuan IM jika dibutuhkan. Apakah nantinya label teroris yang dicap di muka IM akan diganti dengan gelar 'Gerakan Pencerahan'? Bagaimana nantinya tanggapan para pemuka agama KSA yang hari ini memvonis IM khawarij? Apakah gelar Khawarij akan diganti dengan 'Ikhwan mujahidin mukhlisin' sebagaimana dulu Raja Faishal pernah menggelarinya? Sampai kapan Alu Su'ud akan terus 'mempolitisasi agama' lalu mencampakkannya ketika tak lagi dibutuhkan?

Wallahu A'lam.

**


Footnote:

1. Ad-Difa' 'An Aradhi Al-Muslimin, Abdullah Azzam, Halaman 2, cet: Mimbar At-Tauhid Wa Al-Jihad.
2. Ayaturrahman Fi Jihad Al-Afghan, Abdullah Azzam, Halaman 23, cetakan ke lima, Al-Mujtama' Jeddah tahun 1985.
3. Daurul Ulama Wa Du'ah Fi 'Amaliyati Rad' Al-Ghuzaa, Ubaid Abdurrahman Al-Harbiy, Halaman 24-25, cet: Maktabah Al-Obeikan Jeddah


ANTARA SAUDI, IM IKHWAN & SALAFI WAHABI

Dipenghujung tahun 80an, akhir-akhir jihad Afghan kontra Soviet, mulai timbul suara-suara miring terhadap jihad Afghanistan dan para mujahidin. Mereka menakut-nakuti para pemuda yang ingin berjihad dengan kondisi Afghanistan yang super panas, dingin dan salju serta akan berhadapan dengan salah satu tentara terkuat dimuka bumi; tentara merah Uni Soviet. Sebagian mereka berangkat sampai ke Peshawar Pakistan dan sekembalinya ke Saudi mereka gencar memprovokasi publik agar tidak berdonasi untuk jihad Afghan dengan alasan bahwa para mujahidin Afghan adalah ahli bid'ah, quburiyyin (penyembah kubur) dan musyrikin. Menurut mereka, berjihad ke Afghanistan sama saja dengan bergabung dengan musyrikin Afghan kontra mulhidin (atheis) Rusia.

Syeikh Abdullah Azzam (dalam pidatonya yang dibukukan dengan judul 'Fi Zilal Surah At-Taubah' dan diterbitkan oleh Markaz As-Syahid Azzam Al-Islami) menganggap mereka sebagai kaum munafik yang justru menjadi batu sandungan bagi para mujahidin. Saat itu, Syeikh Abdullah Azzam mungkin tidak tau bahwa kelompok tersebut adalah 'anak' dari intelijen Saudi dan lahir dari rahim menteri dalam negeri Saudi sendiri sebagaimana Ahmadiyah Qadiyaniyah yang menegasikan jihad lahir dari rahim Britania Raya. 

~~

Sejak awal berdirinya, masyarakat Saudi terbagi dalam beberapa kecenderungan keislaman yang berbeda-beda. Kecenderungan Asy'ari Shufi yang makin lama makin tergerus, lalu Salafiyah konservatif yang diwakili oleh para ulama resmi KSA serta Hai'ah Kibar Ulama dan dekat dengan penguasa, serta Salafiyah Ultra Konservatif  yang cenderung revolusioner dan radikal yang tercermin dari Ikhwan Wahabiyah (Man Atha'a Allah), kelompok Juhaiman cs dan Salafiyah Muhtasibahnya yang kemudian bermetamorfosis menjadi Salafi Jihadi. Lalu Ikhwanul Muslimin masuk dan berkembang pesat era 60-an 70an pada masa Raja Faishal, kemudian gerakan shohwah Islamiyyah (dengan pengaruh dan warna IM) disupport KSA di era 80an untuk memobilisasi jihad Afghan dan membendung pemahaman liberal hingga meletuslah perang teluk II tahun 1990. Saat itu Syeikh Bin Baz mengeluarkan fatwa kafirnya Saddam Husein (walaupun ia sholat dan mengucap syahadat) dan bolehnya meminta bantuan kafir Amerika untuk melawan kezaliman Saddam dimana kemudian memaksa Saudi untuk menampung ribuan tentara AS di Saudi yang secara tekstual bertentangan dengan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Keluarkanlah kaum musyrikin dari jazirah Arab."

Fatwa ini dikritik oleh para ulama  Shahwah seperti Dr. Salman Al-Audah dan Dr.Safar Al-Hawali. Al-Hawali menulis kitab 'Kasyf Al-Ghummah 'An Ulama Al-Ummah' untuk mengkritik Bin Baz dan Hai'ah Kibar Ulama. Sementara sebagian da'i Salafiyah di Universitas Islam Madinah seperti Muhamamad Aman Jami dan Rabi Bin Hadi Al-Madkhali membela fatwa Hai'ah kibar ulama dan KSA. Al-Madkhali mengarang kitab 'Shadd 'Udwan Al-Mulhidin Wa Hukmu Al-Isti'anah Ala Qitalihim Bi Ghairi Al-muslimin'. Madkhaliyah (sebutan utk sekte ini) kemudiannya bertindak lebih jauh dalam ketaatannya yang mutlak terhadap Alu Su'ud serta menuduh kelompok yang berbeda dengan mereka sebagai Khawarij, Hizbiyin, Quburiyyin, Mubtadi' dan gelar-gelar buruk lainnya. Alu Su'ud yang butuh pada satu kelompok salafiyah yang bisa membantu mendukung sikap-sikap politiknyapun dengan senang hati mensupport Jaamiyah Madkhaliyah sejak tahun 90an. 

Combating Terrorism Center; lembaga akademik Akademi Militer AS di West Point, New York (mengutip lembaga think tank; ICG) melaporkan bagaimana Madkhalis didukung KSA dan menjadi mata-mata setiap jihadis yang pulang ke Saudi dari Afghanistan. "...Madkhali is not well-known in the West and he is no longer a person of much influence in Saudi Arabia. But in the 90s, he was incredibly influential in Saudi Arabia (and he still has a large following among Muslims in Europe). Much of this influence derived from the support he received from the Saudi government. During and after the first Gulf War, the Saudi government faced intense criticism from the leaders of the Sahwa
movement (a politically active strain of Wahhabism) for allowing US troops to be stationed in Saudi Arabia. These leaders had a large following, particularly among the youth. To blunt their appeal, the Saudi government arrested the movement's leaders and strongly backed Madkhali, who supported the regime, was politically quietist, and, most importantly, was effective at siphoning off potential Sahwa recruits, particularly among the youth..."

~~

Diantara sikap ekstrim Madkhalis terhadap Ikhwan, gerakan Shahwah dan tokoh-tokohnya adalah seperti yang Rabi' Al-Madkhali tulis dalam kitabnya 'Adhwa' Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Qutb Wa Fikrih' dimana Al-Madkhali menuduh Sayyid Quthb dengan kekufuran, atheisme dan zindiq; Sayyid Qutub mengatakan adanya wihdatul wujud; mengatakan Al Qur’an makhluk ; selain Allah boleh membuat syariat; berlebihan dalam mengagungkan sifat Allah; menolak hadits-hadits mutawatir; meragukan masalah-masalah aqidah yang jelas wajib diyakini dan lain-lain. Kitab ini kemudian diminta untuk dikoreksi oleh Syeikh Bakr Zaid dimana Syeikh Bakr Zaid karena keinshofannya membantah tuduhan-tuduhan Al-Madkhali dan melarang mencetak kitab tersebut. 

Di Yaman, salah satu tokoh sekte ini Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i menulis buku berjudul 'Iskat Al-Kalb Al-'Awi Yusuf Ibn Abdullah Al-qaradawi'/Mendiamkan Anjing Yang Menggonggong Yusuf Bin Abdullah Al-Qaradhawi untuk membantah pemikiran Syeikh Al-Qaradhawi. Karenanya, tidak mengherankan jika banyak pengikut salafi Yaman yang belajar di Dammaj sangat tajam lidahnya terhadap sebagian ulama yang berbeda dengan mereka. 

Syeikh Albani termasuk yang mengkritik sikap ekstrim Al-Madkhali dalam tuduhannya terhadap Sayyid Qutb terkait ungkapan jahiliyah yang menurut Al-Madkhali adalah pengkafiran terhadap umat Islam. Bahkan menurut Syeikh Albani, hampir di semua kitab Al-Madkhali terdapat sikap ekstrim. (Lihat tulisan Ustad Firanda Andirja dalam webnya dengan judul: Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr). 

Sikap ekstrim Madkhalis dalam membid'ahkan dan mentahzir kelompok lain atas nama ilmu jarh wa ta'dil tidak hanya dibantah oleh kelompok non salafi, Syeikh Salih Fauzan sendiri (anggota Hai'ah Kibar Ulama Saudi) membantah sikap ekstrim Madkhalis dalam mentabdi' dan mentahzir dan menganggapnya sebagai ghibah. Sebab ulama jarh wa ta'dil sudah meninggal. 

Jika Madkhalis mentahzir dan melarang kitab-kitab karangan tokoh Shahwah seperti Salman Al-Audah, Syeikh Bin Baz justru merekomendasikan dan memberikan kata pengantar terhadap kitab-kitab Al-Audah dan menyebutnya sebagai Al-Akh Al-Allamah (lihat tetralogi membumikan Islam 'Silsilah Rasail Al-Ghuraba'/Al-Uzlah Wa Al-Khulthah Ahkam wa Ahwal' yang dicetak tahun 1993. 

Sikap ekstrim; loyalitas mutlak Madkhaliyah terhadap penguasa dan permusuhan mereka terhadap para ulama dan umat Islam yang berseberangan dengan mereka membuat musuh-musuh mereka menggelari sekte ini sebagai 'Murjiah Ma'al Hukkam wa Khawarij Ma'a Ad-Duah Wa Aamatul Muslimin/Bersikap layaknya Sekte Murjiah ketika berhadapan dengan penguasa dan menjadi khawarij ketika berhadapan dengan para da'i dan umat Islam. 

~~

Bisa jadi, banyak orang yang menduga bahwa sangat tidak mungkin bagi sekte Madkhalis untuk melakukan kekerasan bersenjata dan melakukan penculikan serta pembunuhan terencana mengingat sekte ini adalah yang paling gencar meng'khawarij'kan perilaku seperti itu. Namun, apa yang mereka lakukan berupa pemberontakan terhadap pemerintah sah Libiya (GNA) serta penculikan dan pembunuhan terhadap Sekjen Hai'ah Ulama Libiya Syeikh Dr. Nadir Al-Umrani membuktikan kepada kita betapa sekte ini begitu mudah untuk dicuci otaknya sesuai dengan keinginan para tuannya. Belum lagi dengan penculikan dan pembunuhan da'i dan ulama di Aden Yaman yang diduga melibatkan tokoh Madkhalis Yaman Hani' Bin Brik. 

Dalam wawancara dengan New York Time Maret 2010, menteri luar negeri Saudi saat itu; Sa'ud Al-Faishal mengeluarkan statement bahwa masyarakat Saudi sedang menuju kepada masyarakat yang liberal. Sementara itu aktivis liberal Saudi yang juga Sekjen Jaringan Liberal Saudi Su'ad As-Syammari dalam wawancara dengan majalah Deutsche Welle (DW) Jerman yang berbahasa Arab pada Mei 2012 menegaskan bahwa 70% dari masyarakat Saudi adalah liberal. Su'ad juga menyebutkan beberapa nama neo-salalafis Saudi yang berpaham liberal seperti Abdul Muhsin Al-Ubaikan dan Ahmad Al-Ghamidi dan lain-lain. 

Sejatinya, ada dua kelompok besar liberal di Saudi, Kaum liberalis Sosial yang menuntut reformasi dan kebebasan sosial serta pembatasan pengaruh Agamawan terutama di Komite Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Kelompok ini didukung oleh Alu Su'ud baik secara terang-terangan ataupun diam-diam. Sementara itu kaum liberalis politik yang menuntut kebebasan berpendapat dan reformasi politik rata-rata dimusuhi oleh Penguasa KSA karena mereka terkadang juga berkoalisi dengan tokoh-tokoh Shahwah. 

Cukup mengherankan memang bagaimana kaum Liberalis dan Madkhalis bisa berjalan berbarengan di Arab Saudi padahal Madkhalis adalah sekte konservatif dan kaku dalam menyikapi masalah-masalah ikhtilat, dunia hiburan dan lain-lain yang saat ini gencar dipromosikan MbS melalui General Entertainment Authority. Sampai saat ini kita (saya) belum mendengar kecaman dan kritik dari Madkhalis terhadap Alu Su'ud yang mengarahkan kehidupan sosial masyarakat Saudi menjadi liberal dan hedonis. Atau jangan-jangan konflik antara Madkhalis vs Ali Su'ud dan Liberalis adalah seperti api dalam sekam yang suatu saat akan membakar semuanya? Dan pada akhirnya Madkhalis juga akan dicampakkan? 

Wallahu A'lam.