Gerilya Vietnam vs Buku Pokok-pokok gerilya Nasution
Topik ini telah menjadi perbincangan “wajib” di forum-forum diskusi militer Indonesia. Inti pokok pembahasannya adalah pertanyaan seputar mengenai benar-tidaknya taktik gerilya Vietnam (utamanya bagian sejarah peperangan yang disorot adalah saat mereka melawan negara adidaya Amerika Serikat, yang secara umum dimulai dari Tahun 1960-1975) merupakan adopsi dari teori yang dituangkan dalam buku legendaris Jenderal Besar TNI Nasution Pokok-Pokok Gerilya, dimana kita tahu peperangan secara gerilya oleh pihak komunis di Vietnam juga turut andil dalam menggagalkan upaya Amerika Serikat dalam memenangkan “petualangan” mereka di Vietnam.
Pembahasan ini seperti kita ketahui bersama menimbulkan tanggapan antara yang mempercayai dan meragukan buku karangan Nasution menjadi inspirasi dari gerilya Vietnam. Di satu sisi bagi pihak yang mempercayai mereka menyatakan bahwa hal ini adalah suatu hal yang membanggakan karena seorang putra asli Indonesia diakui sebagai salah satu ahli strategi ulung dalam sejarah kemiliteran. Pengakuan ini bukan merupakan suatu omong kosong belaka, kabarnya buku karangan Nasution ini menjadi bacaan wajib bagi kadet calon perwira Amerika yang belajar di West Point, jika kita googling kita akan menemukan bahwa buku terjemahan Pokok-pokok Gerilya karangan Nasution yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi “Fundamentals of Guerilla Warfare” dijual bebas di situs-situs buku online semacam Amazon, hal ini menunjukkan bahwa buku karangan Nasution bukan buku biasa.tetapi merupakan karangan yang orisinil.
Bagi yang meragukan, mereka memiliki argumen, yang saya bagi menjadi dua bagian. Pertama dari sisi tokoh gerilya, selain Nasution, taktik gerilya dalam sejarah bukanlah taktik yang baru muncul di abad 20, bahkan oleh tokoh-tokoh Vietnam itu sendiri yang berperang melawan Prancis dan Amerika, mereka telah akrab dengan taktik gerilya sebelum Nasution sendiri menulis buku Pokok-pokok Gerilya yang fenomenal itu. Kedua dari timeline antara karir Nasution, sejarah perang Vietnam dan penerbitan buku itu sendiri. Untuk saya sendiri, saya cenderung sependapat dengan argumen diatas, dengan menambahkan bahwa jika kita menilik sejarah yang mencatat perjuangan rakyat Vietnam dalam melawan penjajah, taktik gerilya memang sudah menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi “trade mark” taktik klasik mereka dalam mengusir pihak-pihak yang ingin menjajah mereka. Bahkan jauh sebelum Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap mempraktekkannya di abad 20. Untuk jelasnya akan saya paparkan menjadi 3 bagian dan 1 bagian kesimpulan kenapa saya cenderung menilai bahwa gerilya Vietnam tidak dapat disebut terinspirasi oleh buku pokok-pokok gerilya karangan Jenderal Nasution.
I. Gerilya dan inti pokok-pokok gerilya Nasution
Definisi gerilya : Gerilya adalah bentuk peperangan dimana sekelompok kecil seperti warga sipil bersenjata atau pasukan non reguler menjalankan taktik militer berupa penyergapan, sabotase, penyerbuan mendadak, pertempuran kecil-kecilan, taktik pukul - lari, dan mobilitas untuk melawan pasukan yang lebuh besar atau memiliki mobilitas lebih terbatas.
Buku Pokok-pokok gerilya Nasution
Buku pokok-pokok gerilya karya Nasution yang dibuat Nasution pada tahun 1953 setidaknya mencatat beberapa poin penting, diantaranya:
1. Peperangan abad ini adalah peperangan rakyat semesta
2. Perang gerilya adalah perang si kecil/si lemah melawan si besar/si kuat.
3. Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan akhir. Perang gerilya hanya untuk memeras darah musuh. Kemenangan akhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya tentara demikianlah yang dapat menaklukkan musuh.
4. Perang gerilya biasanya adalah perang ideologi. Perang gerilya adalah perang rakyat semesta.
5. Akan tetapi perang gerilya tidaklah berarti bahwa seluruh rakyat bertempur.
6. Perang gerilya tidak boleh sembarangan gerilijisme
7. Gerilya berpangkalan dalam rakyat. Rakyat membantu, merawat, dan menyembunyikan gerilya, serta menyelidik untuk keperluannya.
8. Gudang senjata gerilya adalah gudang senjata musuh.
9. Menyimpulkan strategi dan taktik perang gerilya.
10. Sifat pokok perang gerilya adalah rakyat yang membantu, ruangan geografis yang cukup dan adanya perang yang lama.
11. Perang rakyat yang total memerlukan pemimpin yang total dan bukan saja pada puncak nasional, melainkan juga pada daerah-daerah gerilya yang terbawah.
12. Perang anti gerilya harus menuju kepada memisah gerilya dari rakyat pangkalnya, dan karena itu lebih-lebih harus dilawan dengan senjata-senjatanya sendiri, kegiatan ofensif, kemampuan yang mobile dan flexible.
Mengenai tulisan Nasution tentang gerilya ini, pengamat bernama Emmet McElhatton dalam artikel berjudul “Guerilla warfare and the Indonesian Strategic Psyche” menulis sebagai berikut: “ Karya Nasution yang merupakan hasil dari pengamatannya atas strategi taktik gerilya di indonesia paska pendudukan jepang, dimana memiliki persamaan prinsip dengan berbagai teori yang dijalankan oleh pelaku gerilya seperti Michael Collins di Irlandia, TE Lawrence di Timur Tengah, dan Mao di China pada awal abad ke 20, hingga gerilya masa kini yang dijalankan di Iraq dan Afghanistan. Nasution beberapa kali mengutip mengenai pihak-pihak yang mempengaruhi penulisan dalam bukunya, dengan merujuk pada aksi Wingate semasa Perang Dunia II, mengutip pernyataan Lawrence, dan berbagai hal lain baik di masa lalu dan masa itu untuk menjabarkan pemikiran-pemikirannya. Hal yang membedakan Nasution ini dibanding dengan ahli strategi lainnya adalah Nasution merupakan satu dari sedikit orang yang punya pengalaman memimpin peperangan gerilya dan peperangan anti gerilya sekaligus (Ingat kondisi Indonesia sekitar awal tahun 1950an yang penuh dengan pemberontakan seperti pemberontakan Andi Azis, RMS, DI/TII, dll). Pengalaman unik ini memberikan Nasution 2 sisi perspektif cara pandang akan realita mengenai “perang rakyat”, hal ini membuat tulisannya up to date dan terhindar dari dogma dan ideologi yang berlebihan dalam tulisannya dibanding dengan tokoh-tokoh gerilya revolusioner lainnya, semacam Mao dan Guevarra misalnya. Nasution secara lebih jujur bisa memaparkan dan memahami bagimana dan berapa harga yang harus dibayar, serta efek buruk dari perang gerilya dalam masa revolusi bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya, dimana diatas semuanya itu rakyat sipil lah yang paling berat menanggunnya".
II. Tokoh-tokoh Gerilya lain dan tokoh Gerilya Vietnam
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa tokoh gerilya modern yang populer di abad ke 20, sebagai pembandingan dengan poin-poin pemikiran Nasutian atas peperangan Gerilya, berdasarkan era, lokasi, dan pengaruh mereka atas seni taktik gerilya yang dikenal seperti saat ini.
1. TE Lawrence (16 Agustus 1888-19 Mei 1935)
TE Lawrence lebih dikenal sebagai “Lawrence of Arabia” memperkenalkan Taktik gerilya yang ditulis pada Encylopaedia Britannica dan dipublikasikan tahun 1938 pasca kematiannya. Pada artikel tersebut dia mengumpamakan para gerilyawan dengan gas. Para gerilyawan memasuki area operasi kurang lebih secara acak tanpa bisa diprediksi. Mereka atau sel-selnya menguasai bagian kecil dari suatu area, seperti molekul gas yang berada di sudut kecil sebuah kontainer. Para gerilyawan dapat dipecah-pecah menjadi satuan kecil. Mereka sukar untuk dikalahkan karena kekuatannya menyebar dan bukan berkumpul pada suatu wilayah. Jumlah prajurit dan material yang dibutuhkan untuk menghancurkan kelompok ini akan jauh melebihi nilai signifikan kelompok kecil ini baik secara ekonomis maupun fisik (lihat poin 2 dan 3 ajaran gerilya Nasution). Lawrence mendeskripsikan pasukan luar (non native occupying force) sebagai musuh (seperti pasukan Turki yang dihadapi Lawrence dan gerilya-gerilya Arab pada Perang Dunia I).
Lawrence menulis sebagian teorinya dalam keadaan sakit dan tidak bisa melawan Turki dalam bukunya The Seven Pillars of Wisdom. Waktu itu ia mengamati Teori perang Von Clausewitz dan ahli strategi lainnya, dan menemukan bahwa teori mereka tidak dapat diaplikasikan dalam kondisi yang dihadapinya saat ini. Orang Arab tidak bisa mengalahkan orang Turki dalam pertempuran yang memerlukan kedisiplinan tinggi karena mereka adalah pejuang individu bukan tentara terlatih yang terbiasa bertempur dalam formasi-formasi besar.
Jadi Lawrence merancang jika mungkin jangan pernah menghadapi musuh secara terbuka, akan tetapi, Lawrence dan orang-orang Arab dapat mengendarai unta keluar masuk gurun, menyerang jalur rel kereta api, pos-pos musuh yang terisolasi, dan menghindari markas militer besar dan kota-kota besar yang dijaga ketat (lihat poin 6 ajaran gerilya Nasution).
.
2. Ernesto “Che” Guevara (14 Juni 1928-6 Oktober 1967)
Fidel Castro dalam bukunya “Fidel Castro: My life, a spoken autobiography” (2008) mengungkapkan bahwa Che Gueverra, tokoh revolusioner dari Argentina, yang menulis secara rinci taktik gerilya dan menekankan potensi yang terkandung dalam gerilya: “kelompok gerilya adalah inti dari kekuatan bersenjata, pelopor rakyat yang berjuang. Mereka mendapatkan kekuatan besar dari rakyat kebanyakan itu sendiri. Gerilya tidak bisa digolongkan sebagai kekuatan yang lemah, hanya dengan berdasarkan kecilnya tingkat firepower yang mereka miliki. Gerilya digunakan oleh pihak yang didukung masyarakat luas akan tetapi hanya memiliki kekuatan kecil bersenjata yang digunakan untuk bertahan melawan penjajahan”-kutipan buku Che Guevara, Guerilla Warfare (1960). Bandingkan dengan poin 4 dan 7 pemikiran Nasution.
3. Mao Zedong (26 Desember 1893-9 September 1976)
Mao Zedong dalam Perang Saudara China (1 Agustus 1927-22 Desember 1936, kemudian berlanjut lagi pada 31 Maret 1946-1 Mei 1950), merangkum prinsip-prinsip yang menjadi dasar dari pola perang revolusi People Liberation Army (PLA) dalam beberapa poin berikut: “Musuh bergerak maju, kita mundur. Ketika musuh berhenti bergerak, kita menyerang. Ketika musuh mundur, kita mengejar”. Slogan yang lazim digunakan pada masa itu adalah “Mundur dulu baru menyerang kemudian” (ada kesamaan prinsip dengan prinsip kekuatan komunis di Indonesia yang melakukan perlawanan di Blitar Selatan paska peristiwa G 30S/PKI, yang dirangkum dalam bahasa Jawa yakni: “ngalah (mundur sementara), ngalih (menyingkir), ngalas (bersembunyi di hutan), ngantem (memukul balik)”).
Taktik ini digunakan pada saat-saat kritis dimana kekuatan gerilya terpencar-pencar dan menghadapi kondisi rawan untuk dihancurkan. Mao membedakan peperangan mobile (Yundong Zhan) dan peperangan gerilya (Youji Zhan), akan tetapi kedua hal ini bagian yang tidak terpisahkan dalam mencapai tujuan akhir. Tulisan Mao dalam buku On Guerilla Warfare, telah beredar secara luas dan diaplikasikan dengan sukses di Vietnam, dibawah pemimpin militer dan teoritis militer Vo Nguyen Giap, yang menuliskan dalam bukunya “Peoples War, Peoples Army” bahwa dia menjalankan prinsip 3 fase perang Gerilya dari Mao.
4. Vo Nguyen Giap (25 Agustus 1911-4 Oktober 2013)
Giap adalah komandan utama dalam 2 perang besar yang dilakukan Vietnam pada abad ke 20: Perang Indochina pertama (1946-1954) dan Perang Vietnam/Perang Indochina ke 2 (1960-1975). Ia berpartisipasi dalam pertempuran-pertempuran besar yang menentukan seperti: Lang Son (1950), Hoa Binh (1951-52), Dien Bien Phu (1954), Tet Offensive (1968), Easter Offensive (1972) dan Ho Chi Minh Campaign (1975).
Di China, Teori perang rakyat Mao dibagi dalam 3 fase. Fase pertama, gerilya “menjaring” dukungan dari rakyat dengan mendistribusikan propaganda dan menyerang struktur pemerintahan. Fase kedua, meningkatkan eskalasi dengan menyerang kekuatan militer pemerintah dan institusi-institusi vital. Pada Fase ke 3, dilakukan pertempuran secara konvensional dan pertempuran dilakukan untuk merebut kota-kota, menumbangkan pemerintah, dan mengontrol, serta menguasai negara. Di Vietnam Giap mengadopsi taktik Mao tersebut dengan taktik yang diberi nama “Dau Tranh Strategy” (bagan terlampir), yang menggabungkan perjuangan politik dan perjuangan secara militer. Giap mengadopsi taktik 3 fase ini, akan tetapi ia mengembangkan sisi fleksibilitas dari teori tersebut dengan secara bergantian menjalankan peperangan gerilya untuk diselingi dengan “serangan besar secara tiba-tiba” di tengah populasi masyarakat. Beberapa pengamat melihat pola ini dari sinergi operasi antara peperangan gerilya VietCong dan pasukan konvensional Vietnam Utara (NVA).
Dari sisi timeline, saya sendiri menganalisa pola 3 fase ini dalam perang Indochina Kedua (1960-1975), sebagai berikut:
Fase pertama:
Periode ini berjalan dimulai dari pembentukan VietCong pada tahun 1959 hingga masuknya tentara reguler Amerika secara besar-besaran pada tahun 1965, dimana VC dan pihak komunis Utara menjalankan aksi propaganda dan teror untuk memantapkan posisinya di tengah masyarakat Vietnam Selatan, salah satunya dengan “mempreteli” program “Strategic Hamlet” yang dijalankan pemerintah Saigon untuk memproteksi masyarakat dari pengaruh gerilya komunis
Fase ke 2:
Periode ini ditandai dengan pertempuran-pertempuran “Hit and Run” antara VC/NVA terhadap objek-objek/pos-pos militer Amerika/ARVN di berbagai medan di selatan, pertemputan-pettempuran besar yang tercatat: Pertempuran Ia Drang (1965), Pertempuran Khe Sanh I (1967), dan pertempuran Dak To (1967). Pada fase ini pihak komunis sesekali menjalankan serangan/melayani pertempuran besar dengan kekuatan Amerika, sementara operasi gerilya-gerilya kecil terus dijalankan oleh VC di wilayah-wilayah pedesaan Vietnam Selatan. Fase ini dipuncaki oleh serangan secara simultan atas 100 kota-kota di wilayah Vietnam Selatan pada Januari 1968, yang lebih dikenal sebagai “Tet Offensive”
Fase ke 3:
Pada periode ini pihak komunis Vietnam Utara telah menjalankan peperangan secara konvensional dimana mereka menggunakan elemen pasukan NVA sebagai inti dari peperangan (patut diingat bahwa meski serangan Tet menjadi “Turning Point” dalam perang, yang berhasil membuat publik Amerika menghendaki pemerintahnya untuk segera mencari solusi mengakhiri perang, akan tetapi aksi militer ini mengorbankan kader-kader terbaik VC, bahkan menjadikan mereka bukan lagi sebagai unit yang signifikan dalam jalannya perang selanjutnya). Fase ketiga ini ditandai dengan upaya perebutan wilayah Vietnam Selatan secara terbuka oleh pihak utara pada Easter Offensive April 1972, dimana pasukan NVA yang didukung satuan lapis baja berhasil merebut beberapa kota di wilayah utara Vietnam Selatan, namun serangan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan ARVN yang mendapat bantuan udara dari Amerika. Akan tetapi 3 tahun kemudian saat kekuatan udara Amerika sudah hengkang (pasca Paris Peace Accord 1973), pasukan NVA berhasil mengalahkan Vietnam Selatan tanpa hambatan, yang ditandai oleh penaklukan Saigon oleh gelombang serbuan pasukan NVA pada April 1975.
5. Ho Chi Minh (19 Mei 1890-2 September 1969)
Ho Chi Minh memang lebih dikenal sebagai pemimpin politik dan bapak bangsa Vietnam modern, akan tetapi dia bukanlah orang yang buta sama sekali akan taktik dan strategi militer. Pada tahun 1938 dia sempat menjadi penasehat militer dari kekuatan militer pasukan komunis Mao. Pada saat menjadi ketua partai komunis Vietnam sekaligus sebagai presiden Vietnam Utara, meski sebagian besar perencanaan perang ia serahkan pada Giap, akan tetapi Ho juga turut dalam mengesahkan poin-poin penting strategi penaklukkan selatan, diantaranya:
- Memutuskan pengiriman bantuan ke Vietcong di Vietnam Selatan
- Mengesahkan invasi Vietnam Utara ke Laos dan membantu Pathet Lao pada tahun 1959, dengan mengirimkan 30.000 orang untuk membangun jalur suplai logistik di wilayah Laos menuju Vietnam Selatan, yang lebih dikenal sebagai Ho Chi Minh Trail.
- Mengesahkan serangan Tet pada tahun 1968, saat kondisi perang buntu karena tekanan yang dilakukan militer Amerika yang menyebabkan pihak utara menjadi lebih sibuk me-maintenance keberlangsungan suplai lewat Ho Chi Minh trail ketimbang memperkuat rekan-rekan komunis mereka di selatan.
- Memutuskan strategi menghindari peperangan konvensional dengan kekuatan militet Amerika jauh lebih kuat, akan tetapi sengaja mengulur-ulur waktu peperangan, yang pada nantinya membuat jenuh dan memaksa pemerintah Amerika hengkang dengan sendirinya dari Viernam.
III. Praktik gerilya Vietnam di pra Abad ke 20
1. Ngo Quyen (897-944)
Ngo Quyen adalah Raja Vietnam yang terkenal karena kepahlawanannya dalam mengalahkan pasukan invasi China dalam pertempuran Sungai Bach Dang (lokasi sekarang adalah pada sebelah utara kota Haiphong) pada tahun 938.
Apa yang dilakukan oleh Ngo adalah variasi dari apa yang dikenal dalam taktik gerilya modern, sebagai taktik manuver untuk mengalahkan kekuatan musuh yang lebih besar, deskripsi pertempuran tersebut adalah sebagai berikut: “Pada tahun 938, China mengirimkan pasukan untuk memadamkan pemberontakan bangsa Viet. Ngo Quyen memperkirakan bahwa pasukan invasi akan berlabuh di Sungai Bach Dang. Untuk mencegah pendaratan ini, Ngo Quyen memerintahkan agar dasar sungai Bach Dang dipasangi ribuan tombak-tombak kayu besar yang dipasang tepat di bawah permukaan air pasang. Ia menggunakan kapal-kapal dengan draft yang kecil untuk memancing ratusan kapal-kapal China memasuki perairan sungai untuk mengejar pasukan Ngo, pada saat air surut, pasukan China mendapati kapal-kapal mereka terjebak oleh tombak-tombak kayu yang dipasang di dasar sungai. Pada saat itulah Ngo memerintahkan pasukannya untuk menyerang balik. Ratusan kapal China dirusak dan dibakar, beberapa prajurit China yang mencoba melarikan diri dikejar oleh pasukan Viet. Pada peristiwa ini ribuan pasukan China terbunuh, termasuk Laksamana Liu Hongcao, putra dari komandan wilayah selatan kekaisatan China, mati karena tenggelam".
2. Tran Hung Dao (1228-1300)
Tran Hung Dao adalah komandan militer Dinasti Tran (1225-1400). Pada abad ke 13, hubungan antara Vietnam dan pihak mongol memburuk. Pada masa ini Kaisar Kublai Khan mengirimkan pasukan ekspedisi ke Viernam sebanyak tiga kali, untuk memuluskan impiannya menguasai wilayah selatan yang dekat dengan jalur kepulauan rempah-rempah di Indonesia.
Dalam 3 invasi itu, Tran memukul balik kesemuanya. Seperti layaknya komandan Vietnam era sebelum dan sesudahnya, ia mengandalkan pasukan yang bergerak lincah (mobile force), meninggalkan kota-kota, menghindari serangan frontal, dan menyerang pasukan musuh sampai mereka kebingungan dan kecapean, untuk kemudian melancarkan serangan final (lihat kemiripan taktik dengan 3 fase gerilya Mao hampir 700 tahun setelahnya).
Pada serangan besar terakhir, yang mengambil tempat di lembah Sungai Merah pada tahun 1287, pasukan Vietnam mengalahkan 300,000 (sebagian menyebut hanya 70,000) prajurit Mongol. 700 tahun kemudian aksi Vo Nguyen Giap mengingatkan kembali memori bangsa Vietnam akan Tran Hung Dao dengan melancarkan serangan pada pasukan Prancis di area yang sama.
3. Le Loi (1384/1385?-1433)
Le Loi adalah kaisar pertama dari Dinasti Le (1428-1527). Le Loi muncul sebagai penyelamat bangsa Vietnam dalam mengusir penjajahan Dinasti Ming. Le Loi kemudian dikenal menjadi kaisar terbesar Vietnam, kepahlawanannya hanya dapat disandingkan dengan Ho Chi Minh di mata rakyar Vietnam.
Pada tahun 1418 Le Loi mengobarkan revolusi menentang penjajahan Dinasti Ming. Ia menarik diri di wilayah pegunungan dengan diiringi oleh keluarga, teman, penduduk desa, bahkan para perampok, kemudian mengajarkan mereka taktik gerilya yang pernah sukses dilakukan oleh Tran Hung Dao 2 abad sebelumnya.dalam mengusir invasi Mongol.
Pihak China menjadi merasa terusik atas aksi gerilya pimpinan Le. Mereka (China) memperkuat kota-kota, bergerak hanya di siang hari, batalion-batalion mereka hanya bergerak di sekitar jalan-jalan utama. Mereka kemudian mengadopsi pertahanan yang akan diulang (termasuk kegagalannya) oleh pasukan Prancis 5 abad kemudian, meteka membangun perbentengan-perbentengan yang dilengkapi dengan menara-menara disepanjang rute-rute utama.
Pada saat kekuatan pasukan Le Loi sudah cukup kuat, dia langsung memimpin pasukannya menghantam pasukan China, dengan menggerakkan peleton pasukan gajah untuk melawan kuda-kuda kavaleri China dan mengalahkan pasukan China. Salah seorang penasehat Le, yakni Nguyen Trai, menuliskan sebuah puisi yang menggambarkan strategi Vietnam, secara luar biasa menunjukkan kesamaan taktik yang digunakan oleh pihak komunis di abad ke 20 mengenai doktrin taktik gerilya. Mengenai gerilya yang merupakan bagian dari perjuangan militer dan politik, serta moral, dia menulis: “better to conquer hearts than citadels” (lebih baik memenangkan hati ketimbang benteng-benteng).
IV. Kesimpulan
Setelah membaca pemaparan diatas setidaknya dapat ditarik beberapa beberapa kesimpulan mengenai topik Gerilya Vietnam dan buku pokok-pokok gerilya Nasution, yaitu:
1. Nasution merupakan ahli strategi taktik gerilya yang dapat disejajarkan dengan Mao Zedong, Che Guevarra, TE Lawrence, dan Vo Nguyen Giap. Dalam hal penjabaran taktik, Nasution memiliki kekayaan dan keunikan pengalaman jika dibandingkan dengan beberapa tokoh diatas, yakni dia merupakan segelintir pemikir militer yang mengaplikasikan taktik gerilya sekaligus taktik kontra gerilya baik sebagai penulis maupun perannya sebagai prajurit di lapangan, sehingga karyanya up to date bagi pihak manapun yang ingin mempelajari taktik gerilya maupun taktik kontra gerilya. Dalam hal ini, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga karena salah satu putra Indonesia mencatatkan namanya dalam dunia literatur militer dunia.
2. Inti dari taktik yang dijabarkan oleh para ahli strategi gerilya memiliki beberapa kesamaan dan telah diaplikasikan dalam jangka waktu lama dalam sejarah, akan tetapi masing masing memiliki pendekatan dan pengembangan taktik yang berbeda-beda di lapangan (lihat Mao vs Giap).
3. Dalam bukunya Giap menyatakan bahwa taktik gerilya yang digunakannya dalam bukunya “Peoples War, Peoples Army”, merupakan aplikasi dari pengembangan taktik 3 fase peperangan gerilya, yang dia beri nama “Dau Tranh Strategy”.
4. Bangsa Vietnam telah mengaplikasikan taktik gerilya jauh sebelum pemikir-pemikir taktik gerilya modern hadir (mulai dari TE Lawrence, Mao, Giap, Guevarra, hingga Nasution). Oleh karenanya dapat diambil kesimpulan bahwa bangsa Vietnam telah memiliki kekayaan intelektual atas taktik gerilya dalam sejarahnya.
5. Pernyataan/anggapan bahwa strategi taktik gerilya Vietnam merupakan saduran/terinspirasi oleh buku Nasution adalag kurang berdasar dikarenakan secara timeline buku Nasution muncul pada saat bangsa Vietnam modern telah cukup lama mengaplikasikan taktik gerilya, yakni sejak tahun 1946, sementara buku Nasution sendiri diterbitkan pada tahun 1953.
Sumber:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Guerrilla_warfare
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Strategy_and_tactics_of_guerrilla_warfare
https://serbasejarah.wordpress.com/2010/12/23/pokok-pokok-gerilja/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ng%C3%B4_Quy%E1%BB%81n
https://en.m.wikipedia.org/wiki/L%C3%AA_L%E1%BB%A3i
Stanley Karnow: Vietnam a History











