This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Strategi Gerilya AH Nasution



Gerilya Vietnam vs Buku Pokok-pokok gerilya Nasution

Topik ini telah menjadi perbincangan “wajib” di forum-forum diskusi militer Indonesia. Inti pokok pembahasannya adalah pertanyaan seputar mengenai benar-tidaknya taktik gerilya Vietnam (utamanya bagian sejarah peperangan yang disorot adalah saat mereka melawan negara adidaya Amerika Serikat, yang secara umum dimulai dari Tahun 1960-1975) merupakan adopsi dari teori yang dituangkan dalam buku legendaris Jenderal Besar TNI Nasution Pokok-Pokok Gerilya, dimana kita tahu peperangan secara gerilya oleh pihak komunis di Vietnam juga turut andil dalam menggagalkan upaya Amerika Serikat dalam memenangkan “petualangan” mereka di Vietnam.

Pembahasan ini seperti kita ketahui bersama menimbulkan tanggapan antara yang mempercayai dan meragukan buku karangan Nasution menjadi inspirasi dari gerilya Vietnam. Di satu sisi bagi pihak yang mempercayai mereka menyatakan bahwa hal ini adalah suatu hal yang membanggakan karena seorang putra asli Indonesia diakui sebagai salah satu ahli strategi ulung dalam sejarah kemiliteran. Pengakuan ini bukan merupakan suatu omong kosong belaka, kabarnya buku karangan Nasution ini menjadi bacaan wajib bagi kadet calon perwira Amerika yang belajar di West Point, jika kita googling kita akan menemukan bahwa buku terjemahan Pokok-pokok Gerilya karangan Nasution yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi “Fundamentals of Guerilla Warfare” dijual bebas di situs-situs buku online semacam Amazon, hal ini menunjukkan bahwa buku karangan Nasution bukan buku biasa.tetapi merupakan karangan yang orisinil. 

Bagi yang meragukan, mereka memiliki argumen, yang saya bagi menjadi dua bagian. Pertama dari sisi tokoh gerilya, selain Nasution, taktik gerilya dalam sejarah bukanlah taktik yang baru muncul di abad 20, bahkan oleh tokoh-tokoh Vietnam itu sendiri yang berperang melawan Prancis dan Amerika, mereka telah akrab dengan taktik gerilya sebelum Nasution sendiri menulis buku Pokok-pokok Gerilya yang fenomenal itu. Kedua dari timeline antara karir Nasution, sejarah perang Vietnam dan penerbitan buku itu sendiri. Untuk saya sendiri, saya cenderung sependapat dengan argumen diatas, dengan menambahkan bahwa jika kita menilik sejarah yang mencatat perjuangan rakyat Vietnam dalam melawan penjajah, taktik gerilya memang sudah menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi “trade mark” taktik klasik mereka dalam mengusir pihak-pihak yang ingin menjajah mereka. Bahkan jauh sebelum Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap mempraktekkannya di abad 20. Untuk jelasnya akan saya paparkan menjadi 3 bagian dan 1 bagian kesimpulan kenapa saya cenderung menilai bahwa gerilya Vietnam tidak dapat disebut terinspirasi oleh buku pokok-pokok gerilya karangan Jenderal Nasution.

I. Gerilya dan inti pokok-pokok gerilya Nasution

Definisi gerilya : Gerilya adalah bentuk peperangan dimana sekelompok kecil seperti warga sipil bersenjata atau pasukan non reguler menjalankan taktik militer berupa penyergapan, sabotase, penyerbuan mendadak, pertempuran kecil-kecilan, taktik pukul - lari, dan mobilitas untuk melawan pasukan yang lebuh besar atau memiliki mobilitas lebih terbatas.

Buku Pokok-pokok gerilya Nasution

Buku pokok-pokok gerilya karya Nasution yang dibuat Nasution pada tahun 1953 setidaknya mencatat beberapa poin penting, diantaranya:

1. Peperangan abad ini adalah peperangan rakyat semesta

2. Perang gerilya adalah perang si kecil/si lemah melawan si besar/si kuat.

3. Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan akhir. Perang gerilya hanya untuk memeras darah musuh. Kemenangan akhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya tentara demikianlah yang dapat menaklukkan musuh.

4. Perang gerilya biasanya adalah perang ideologi. Perang gerilya adalah perang rakyat semesta.

5. Akan tetapi perang gerilya tidaklah berarti bahwa seluruh rakyat bertempur.

6. Perang gerilya tidak boleh sembarangan gerilijisme

7. Gerilya berpangkalan dalam rakyat. Rakyat membantu, merawat, dan menyembunyikan gerilya, serta menyelidik untuk keperluannya.

8. Gudang senjata gerilya adalah gudang senjata musuh.

9. Menyimpulkan strategi dan taktik perang gerilya.

10. Sifat pokok perang gerilya adalah rakyat yang membantu, ruangan geografis yang cukup dan adanya perang yang lama.

11. Perang rakyat yang total memerlukan pemimpin yang total dan bukan saja pada puncak nasional, melainkan juga pada daerah-daerah gerilya yang terbawah.

12. Perang anti gerilya harus menuju kepada memisah gerilya dari rakyat pangkalnya, dan karena itu lebih-lebih harus dilawan dengan senjata-senjatanya sendiri, kegiatan ofensif, kemampuan yang mobile dan flexible.

Mengenai tulisan Nasution tentang gerilya ini, pengamat bernama Emmet McElhatton dalam artikel berjudul “Guerilla warfare and the Indonesian Strategic Psyche” menulis sebagai berikut: “ Karya Nasution yang merupakan hasil dari pengamatannya atas strategi taktik gerilya di indonesia paska pendudukan jepang, dimana memiliki persamaan prinsip dengan berbagai teori yang dijalankan oleh pelaku gerilya seperti Michael Collins di Irlandia, TE Lawrence di Timur Tengah, dan Mao di China pada awal abad ke 20, hingga gerilya masa kini yang dijalankan di Iraq dan Afghanistan. Nasution beberapa kali mengutip mengenai pihak-pihak yang mempengaruhi penulisan dalam bukunya, dengan merujuk pada aksi Wingate semasa Perang Dunia II, mengutip pernyataan Lawrence, dan berbagai hal lain baik di masa lalu dan masa itu untuk menjabarkan pemikiran-pemikirannya. Hal yang membedakan Nasution ini dibanding dengan ahli strategi lainnya adalah Nasution merupakan satu dari sedikit orang yang punya pengalaman memimpin peperangan gerilya dan peperangan anti gerilya sekaligus (Ingat kondisi Indonesia sekitar awal tahun 1950an yang penuh dengan pemberontakan seperti pemberontakan Andi Azis, RMS, DI/TII, dll). Pengalaman unik ini memberikan Nasution 2 sisi perspektif cara pandang akan realita mengenai “perang rakyat”, hal ini membuat tulisannya up to date dan terhindar dari dogma dan ideologi yang berlebihan dalam tulisannya dibanding dengan tokoh-tokoh gerilya revolusioner lainnya, semacam Mao dan Guevarra misalnya. Nasution secara lebih jujur bisa memaparkan dan memahami bagimana dan berapa harga yang harus dibayar, serta efek buruk dari perang gerilya dalam masa revolusi bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya, dimana diatas semuanya itu rakyat sipil lah yang paling berat menanggunnya".

II. Tokoh-tokoh Gerilya lain dan tokoh Gerilya Vietnam

Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa tokoh gerilya modern yang populer di abad ke 20, sebagai pembandingan dengan poin-poin pemikiran Nasutian atas peperangan Gerilya, berdasarkan era, lokasi, dan pengaruh mereka atas seni taktik gerilya yang dikenal seperti saat ini.

1. TE Lawrence (16 Agustus 1888-19 Mei 1935)

TE Lawrence lebih dikenal sebagai “Lawrence of Arabia” memperkenalkan Taktik gerilya yang ditulis pada Encylopaedia Britannica dan dipublikasikan tahun 1938 pasca kematiannya. Pada artikel tersebut dia mengumpamakan para gerilyawan dengan gas. Para gerilyawan memasuki area operasi kurang lebih secara acak tanpa bisa diprediksi. Mereka atau sel-selnya menguasai bagian kecil dari suatu area, seperti molekul gas yang berada di sudut kecil sebuah kontainer. Para gerilyawan dapat dipecah-pecah menjadi satuan kecil. Mereka sukar untuk dikalahkan karena kekuatannya menyebar dan bukan berkumpul pada suatu wilayah. Jumlah prajurit dan material yang dibutuhkan untuk menghancurkan kelompok ini akan jauh melebihi nilai signifikan kelompok kecil ini baik secara ekonomis maupun fisik (lihat poin 2 dan 3 ajaran gerilya Nasution). Lawrence mendeskripsikan pasukan luar (non native occupying force) sebagai musuh (seperti pasukan Turki yang dihadapi Lawrence dan gerilya-gerilya Arab pada Perang Dunia I).

Lawrence menulis sebagian teorinya dalam keadaan sakit dan tidak bisa melawan Turki dalam bukunya The Seven Pillars of Wisdom. Waktu itu ia mengamati Teori perang Von Clausewitz dan ahli strategi lainnya, dan menemukan bahwa teori mereka tidak dapat diaplikasikan dalam kondisi yang dihadapinya saat ini. Orang Arab tidak bisa mengalahkan orang Turki dalam pertempuran yang memerlukan kedisiplinan tinggi karena mereka adalah pejuang individu bukan tentara terlatih yang terbiasa bertempur dalam formasi-formasi besar.

Jadi Lawrence merancang jika mungkin jangan pernah menghadapi musuh secara terbuka, akan tetapi, Lawrence dan orang-orang Arab dapat mengendarai unta keluar masuk gurun, menyerang jalur rel kereta api, pos-pos musuh yang terisolasi, dan menghindari markas militer besar dan kota-kota besar yang dijaga ketat (lihat poin 6 ajaran gerilya Nasution).

.
2. Ernesto “Che” Guevara (14 Juni 1928-6 Oktober 1967)

Fidel Castro dalam bukunya “Fidel Castro: My life, a spoken autobiography” (2008) mengungkapkan bahwa Che Gueverra, tokoh revolusioner dari Argentina, yang menulis secara rinci taktik gerilya dan menekankan potensi yang terkandung dalam gerilya: “kelompok gerilya adalah inti dari kekuatan bersenjata, pelopor rakyat yang berjuang. Mereka mendapatkan kekuatan besar dari rakyat kebanyakan itu sendiri. Gerilya tidak bisa digolongkan sebagai kekuatan yang lemah, hanya dengan berdasarkan kecilnya tingkat firepower yang mereka miliki. Gerilya digunakan oleh pihak yang didukung masyarakat luas akan tetapi hanya memiliki kekuatan kecil bersenjata yang digunakan untuk bertahan melawan penjajahan”-kutipan buku Che Guevara, Guerilla Warfare (1960). Bandingkan dengan poin 4 dan 7 pemikiran Nasution.

3. Mao Zedong (26 Desember 1893-9 September 1976)

Mao Zedong dalam Perang Saudara China (1 Agustus 1927-22 Desember 1936, kemudian berlanjut lagi pada 31 Maret 1946-1 Mei 1950), merangkum prinsip-prinsip yang menjadi dasar dari pola perang revolusi People Liberation Army (PLA) dalam beberapa poin berikut: “Musuh bergerak maju, kita mundur. Ketika musuh berhenti bergerak, kita menyerang. Ketika musuh mundur, kita mengejar”. Slogan yang lazim digunakan pada masa itu adalah “Mundur dulu baru menyerang kemudian” (ada kesamaan prinsip dengan prinsip kekuatan komunis di Indonesia yang melakukan perlawanan di Blitar Selatan paska peristiwa G 30S/PKI, yang dirangkum dalam bahasa Jawa yakni: “ngalah (mundur sementara), ngalih (menyingkir), ngalas (bersembunyi di hutan), ngantem (memukul balik)”). 

Taktik ini digunakan pada saat-saat kritis dimana kekuatan gerilya terpencar-pencar dan menghadapi kondisi rawan untuk dihancurkan. Mao membedakan peperangan mobile (Yundong Zhan) dan peperangan gerilya (Youji Zhan), akan tetapi kedua hal ini bagian yang tidak terpisahkan dalam mencapai tujuan akhir. Tulisan Mao dalam buku On Guerilla Warfare, telah beredar secara luas dan diaplikasikan dengan sukses di Vietnam, dibawah pemimpin militer dan teoritis militer Vo Nguyen Giap, yang menuliskan dalam bukunya “Peoples War, Peoples Army” bahwa dia menjalankan prinsip 3 fase perang Gerilya dari Mao.

4. Vo Nguyen Giap (25 Agustus 1911-4 Oktober 2013)

Giap adalah komandan utama dalam 2 perang besar yang dilakukan Vietnam pada abad ke 20: Perang Indochina pertama (1946-1954) dan Perang Vietnam/Perang Indochina ke 2 (1960-1975). Ia berpartisipasi dalam pertempuran-pertempuran besar yang menentukan seperti: Lang Son (1950), Hoa Binh (1951-52), Dien Bien Phu (1954), Tet Offensive (1968), Easter Offensive (1972) dan Ho Chi Minh Campaign (1975).

Di China, Teori perang rakyat Mao dibagi dalam 3 fase. Fase pertama, gerilya “menjaring” dukungan dari rakyat dengan mendistribusikan propaganda dan menyerang struktur pemerintahan. Fase kedua, meningkatkan eskalasi dengan menyerang kekuatan militer pemerintah dan institusi-institusi vital. Pada Fase ke 3, dilakukan pertempuran secara konvensional dan pertempuran dilakukan untuk merebut kota-kota, menumbangkan pemerintah, dan mengontrol, serta menguasai negara. Di Vietnam Giap mengadopsi taktik Mao tersebut dengan taktik yang diberi nama “Dau Tranh Strategy” (bagan terlampir), yang menggabungkan perjuangan politik dan perjuangan secara militer. Giap mengadopsi taktik 3 fase ini, akan tetapi ia mengembangkan sisi fleksibilitas dari teori tersebut dengan secara bergantian menjalankan peperangan gerilya untuk diselingi dengan “serangan besar secara tiba-tiba” di tengah populasi masyarakat. Beberapa pengamat melihat pola ini dari sinergi operasi antara peperangan gerilya VietCong dan pasukan konvensional Vietnam Utara (NVA).

Dari sisi timeline, saya sendiri menganalisa pola 3 fase ini dalam perang Indochina Kedua (1960-1975), sebagai berikut:

Fase pertama: 
Periode ini berjalan dimulai dari pembentukan VietCong pada tahun 1959 hingga masuknya tentara reguler Amerika secara besar-besaran pada tahun 1965, dimana VC dan pihak komunis Utara menjalankan aksi propaganda dan teror untuk memantapkan posisinya di tengah masyarakat Vietnam Selatan, salah satunya dengan “mempreteli” program “Strategic Hamlet” yang dijalankan pemerintah Saigon untuk memproteksi masyarakat dari pengaruh gerilya komunis

Fase ke 2: 
Periode ini ditandai dengan pertempuran-pertempuran “Hit and Run” antara VC/NVA terhadap objek-objek/pos-pos militer Amerika/ARVN di berbagai medan di selatan, pertemputan-pettempuran besar yang tercatat: Pertempuran Ia Drang (1965), Pertempuran Khe Sanh I (1967), dan pertempuran Dak To (1967). Pada fase ini pihak komunis sesekali menjalankan serangan/melayani pertempuran besar dengan kekuatan Amerika, sementara operasi gerilya-gerilya kecil terus dijalankan oleh VC di wilayah-wilayah pedesaan Vietnam Selatan. Fase ini dipuncaki oleh serangan secara simultan atas 100 kota-kota di wilayah Vietnam Selatan pada Januari 1968, yang lebih dikenal sebagai “Tet Offensive”

Fase ke 3:

Pada periode ini pihak komunis Vietnam Utara telah menjalankan peperangan secara konvensional dimana mereka menggunakan elemen pasukan NVA sebagai inti dari peperangan (patut diingat bahwa meski serangan Tet menjadi “Turning Point” dalam perang, yang berhasil membuat publik Amerika menghendaki pemerintahnya untuk segera mencari solusi mengakhiri perang, akan tetapi aksi militer ini mengorbankan kader-kader terbaik VC, bahkan menjadikan mereka bukan lagi sebagai unit yang signifikan dalam jalannya perang selanjutnya). Fase ketiga ini ditandai dengan upaya perebutan wilayah Vietnam Selatan secara terbuka oleh pihak utara pada Easter Offensive April 1972, dimana pasukan NVA yang didukung satuan lapis baja berhasil merebut beberapa kota di wilayah utara Vietnam Selatan, namun serangan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan ARVN yang mendapat bantuan udara dari Amerika. Akan tetapi 3 tahun kemudian saat kekuatan udara Amerika sudah hengkang (pasca Paris Peace Accord 1973), pasukan NVA berhasil mengalahkan Vietnam Selatan tanpa hambatan, yang ditandai oleh penaklukan Saigon oleh gelombang serbuan pasukan NVA  pada April 1975.

5. Ho Chi Minh (19 Mei 1890-2 September 1969)

Ho Chi Minh memang lebih dikenal sebagai pemimpin politik dan bapak bangsa Vietnam modern, akan tetapi dia bukanlah orang yang buta sama sekali akan taktik dan strategi militer. Pada tahun 1938 dia sempat menjadi penasehat militer dari kekuatan militer pasukan komunis Mao. Pada saat menjadi ketua partai komunis Vietnam sekaligus sebagai presiden Vietnam Utara, meski sebagian besar perencanaan perang ia serahkan pada Giap, akan tetapi Ho juga turut dalam mengesahkan poin-poin penting strategi penaklukkan selatan, diantaranya:

- Memutuskan pengiriman bantuan ke Vietcong di Vietnam Selatan

- Mengesahkan invasi Vietnam Utara ke Laos dan membantu Pathet Lao pada tahun 1959, dengan mengirimkan 30.000 orang untuk membangun jalur suplai logistik di wilayah Laos menuju Vietnam Selatan, yang lebih dikenal sebagai Ho Chi Minh Trail.

- Mengesahkan serangan Tet pada tahun 1968, saat kondisi perang buntu karena tekanan yang dilakukan militer Amerika yang menyebabkan pihak utara menjadi lebih sibuk me-maintenance keberlangsungan suplai lewat Ho Chi Minh trail ketimbang memperkuat rekan-rekan komunis mereka di selatan.

- Memutuskan strategi menghindari peperangan konvensional dengan kekuatan militet Amerika jauh lebih kuat, akan tetapi sengaja mengulur-ulur waktu peperangan, yang pada nantinya membuat jenuh dan memaksa pemerintah Amerika hengkang dengan sendirinya dari Viernam.

III. Praktik gerilya Vietnam di pra Abad ke 20

1. Ngo Quyen (897-944)

Ngo Quyen adalah Raja Vietnam yang terkenal karena kepahlawanannya dalam mengalahkan pasukan invasi China dalam pertempuran Sungai Bach Dang (lokasi sekarang adalah pada sebelah utara kota Haiphong) pada tahun 938. 

Apa yang dilakukan oleh Ngo adalah variasi dari apa yang dikenal dalam taktik gerilya modern, sebagai taktik manuver untuk mengalahkan kekuatan musuh yang lebih besar, deskripsi pertempuran tersebut adalah sebagai berikut: “Pada tahun 938, China mengirimkan pasukan untuk memadamkan pemberontakan bangsa Viet. Ngo Quyen memperkirakan bahwa pasukan invasi akan berlabuh di Sungai Bach Dang. Untuk mencegah pendaratan ini, Ngo Quyen memerintahkan agar dasar sungai Bach Dang dipasangi ribuan tombak-tombak kayu besar yang dipasang tepat di bawah permukaan air pasang. Ia menggunakan kapal-kapal dengan draft yang kecil untuk memancing ratusan kapal-kapal China memasuki perairan sungai untuk mengejar pasukan Ngo, pada saat air surut, pasukan China mendapati kapal-kapal mereka terjebak oleh tombak-tombak kayu yang dipasang di dasar sungai. Pada saat itulah Ngo memerintahkan pasukannya untuk menyerang balik. Ratusan kapal China dirusak dan dibakar, beberapa prajurit China yang mencoba melarikan diri dikejar oleh pasukan Viet. Pada peristiwa ini ribuan pasukan China terbunuh, termasuk Laksamana Liu Hongcao, putra dari komandan wilayah selatan kekaisatan China, mati karena tenggelam".

2. Tran Hung Dao (1228-1300)

Tran Hung Dao adalah komandan militer Dinasti Tran (1225-1400). Pada abad ke 13, hubungan antara Vietnam dan pihak mongol memburuk. Pada masa ini Kaisar Kublai Khan mengirimkan pasukan ekspedisi ke Viernam sebanyak tiga kali, untuk memuluskan impiannya menguasai wilayah selatan yang dekat dengan jalur kepulauan rempah-rempah di Indonesia. 

Dalam 3 invasi itu, Tran memukul balik kesemuanya. Seperti layaknya komandan Vietnam era sebelum dan sesudahnya, ia mengandalkan pasukan yang bergerak lincah (mobile force), meninggalkan kota-kota, menghindari serangan frontal, dan menyerang pasukan musuh sampai mereka kebingungan dan kecapean, untuk kemudian melancarkan serangan final (lihat kemiripan taktik dengan 3 fase gerilya Mao hampir 700 tahun setelahnya). 

Pada serangan besar terakhir, yang mengambil tempat di lembah Sungai Merah pada tahun 1287, pasukan Vietnam mengalahkan 300,000 (sebagian menyebut hanya 70,000) prajurit Mongol. 700 tahun kemudian aksi Vo Nguyen Giap mengingatkan kembali memori bangsa Vietnam akan Tran Hung Dao dengan melancarkan serangan pada pasukan Prancis di area yang sama.

3. Le Loi (1384/1385?-1433)

Le Loi adalah kaisar pertama dari Dinasti Le (1428-1527). Le Loi muncul sebagai penyelamat bangsa Vietnam dalam mengusir penjajahan Dinasti Ming. Le Loi kemudian dikenal menjadi kaisar terbesar Vietnam, kepahlawanannya hanya dapat disandingkan dengan Ho Chi Minh di mata rakyar Vietnam.
 
Pada tahun 1418 Le Loi mengobarkan revolusi menentang penjajahan Dinasti Ming. Ia menarik diri di wilayah pegunungan dengan diiringi oleh keluarga, teman, penduduk desa, bahkan para perampok, kemudian mengajarkan mereka taktik gerilya yang pernah sukses dilakukan oleh Tran Hung Dao 2 abad sebelumnya.dalam mengusir invasi Mongol.

 Pihak China menjadi merasa terusik atas aksi gerilya pimpinan Le. Mereka (China) memperkuat kota-kota, bergerak hanya di siang hari, batalion-batalion mereka hanya bergerak di sekitar jalan-jalan utama. Mereka kemudian mengadopsi pertahanan yang akan diulang (termasuk kegagalannya) oleh pasukan Prancis 5 abad kemudian, meteka membangun perbentengan-perbentengan yang dilengkapi dengan menara-menara disepanjang rute-rute utama. 

Pada saat kekuatan pasukan Le Loi sudah cukup kuat, dia langsung memimpin pasukannya menghantam pasukan China, dengan menggerakkan peleton pasukan gajah untuk melawan kuda-kuda kavaleri China dan mengalahkan pasukan China. Salah seorang penasehat Le, yakni Nguyen Trai, menuliskan sebuah puisi yang menggambarkan strategi Vietnam, secara luar biasa menunjukkan kesamaan taktik yang digunakan oleh pihak komunis di abad ke 20 mengenai doktrin taktik gerilya. Mengenai gerilya yang merupakan bagian dari perjuangan militer dan politik, serta moral, dia menulis: “better to conquer hearts than citadels” (lebih baik memenangkan hati ketimbang benteng-benteng).

IV. Kesimpulan

Setelah membaca pemaparan diatas setidaknya dapat ditarik beberapa beberapa kesimpulan mengenai topik Gerilya Vietnam dan buku pokok-pokok gerilya Nasution, yaitu:

1. Nasution merupakan ahli strategi taktik gerilya yang dapat disejajarkan dengan Mao Zedong, Che Guevarra, TE Lawrence, dan Vo Nguyen Giap. Dalam hal penjabaran taktik, Nasution memiliki kekayaan dan keunikan pengalaman jika dibandingkan dengan beberapa tokoh diatas, yakni dia merupakan segelintir pemikir militer yang mengaplikasikan taktik gerilya sekaligus taktik kontra gerilya baik sebagai penulis maupun perannya sebagai prajurit di lapangan, sehingga karyanya up to date bagi pihak manapun yang ingin mempelajari taktik gerilya maupun taktik kontra gerilya. Dalam hal ini, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga karena salah satu putra Indonesia mencatatkan namanya dalam dunia literatur militer dunia.

2. Inti dari taktik yang dijabarkan oleh para ahli strategi gerilya memiliki beberapa kesamaan dan telah diaplikasikan dalam jangka waktu lama dalam sejarah, akan tetapi masing masing memiliki pendekatan dan pengembangan taktik yang berbeda-beda di lapangan (lihat Mao vs Giap).

3. Dalam bukunya Giap menyatakan bahwa taktik gerilya yang digunakannya dalam bukunya “Peoples War, Peoples Army”, merupakan aplikasi dari pengembangan taktik 3 fase peperangan gerilya, yang dia beri nama “Dau Tranh Strategy”.

4. Bangsa Vietnam telah mengaplikasikan taktik gerilya jauh sebelum pemikir-pemikir taktik gerilya modern hadir (mulai dari TE Lawrence, Mao, Giap, Guevarra, hingga Nasution). Oleh karenanya dapat diambil kesimpulan bahwa bangsa Vietnam telah memiliki kekayaan intelektual atas taktik gerilya dalam sejarahnya.

5. Pernyataan/anggapan bahwa strategi taktik gerilya Vietnam merupakan saduran/terinspirasi oleh buku Nasution adalag kurang berdasar dikarenakan secara timeline buku Nasution muncul pada saat bangsa Vietnam modern telah cukup lama mengaplikasikan taktik gerilya, yakni sejak tahun 1946, sementara buku Nasution sendiri diterbitkan pada tahun 1953.

Sumber:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Guerrilla_warfare

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Strategy_and_tactics_of_guerrilla_warfare

https://serbasejarah.wordpress.com/2010/12/23/pokok-pokok-gerilja/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ng%C3%B4_Quy%E1%BB%81n

https://en.m.wikipedia.org/wiki/L%C3%AA_L%E1%BB%A3i

Stanley Karnow: Vietnam a History

WAKTU TERLARANG UNTUK SHALAT


Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Bukhari, no. 586 dan Muslim, no. 827)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau untuk menguburkan orang yang mati di antara kami yaitu: (1) ketika matahari terbit (menyembur) sampai meninggi, (2) ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat, (3) ketika matahari  akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”  (HR. Muslim, no. 831)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Para ulama sepakat untuk shalat yang tidak punya sebab tidak boleh dilakukan di waktu terlarang tersebut. Para ulama sepakat masih boleh mengerjakan shalat wajib yang ada’an (yang masih dikerjakan di waktunya, pen.) di waktu tersebut.

Para ulama berselisih pendapat mengenai shalat sunnah yang punya sebab apakah boleh dilakukan di waktu tersebut seperti shalat tahiyatul masjid, sujud tilawah dan sujud syukur, shalat ‘ied, shalat kusuf (gerhana), shalat jenazah dan mengqadha shalat yang luput. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat yang masih punya sebab tadi masih boleh dikerjakan di waktu terlarang. …

Di antara dalil ulama Syafi’iyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengqadha shalat sunnah Zhuhur setelah shalat ‘Ashar. Berarti mengqadha shalat sunnah yang luput, shalat yang masih ada waktunya, shalat wajib yang diqadha masih boleh dikerjakan di waktu terlarang, termasuk juga untuk shalat jenazah.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 100)

Waktu terlarang untuk shalat ada lima:

  1. Dari shalat Shubuh hingga terbit matahari terbit.
  2. Dari matahari terbit hingga matahari meninggi (kira-kira 15 menit setelah matahari terbit).
  3. Ketika matahari di atas kepala tidak condong ke timur atau ke barat hingga matahari tergelincir ke barat.
  4. Dari shalat Ashar hingga mulai tenggelam.
  5. Dari matahari mulai tenggelam hingga tenggelam sempurna. (Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 2: 205)


ORANG BAIK ITU BANYAK TEMAN, TETAPI PENYERU KEBAIKAN AKAN BANYAK MUSUH



Imam Ibnu Qudamah pernah di tanya : 

"Apa bedanya Orang Baik (Sholeh) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)...?"  

Beliau menjawab : 
  الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره. 
1. Orang Baik (Sholeh), melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan juga untuk orang lain. 

 الصالح تحبه الناس. والمصلح تعاديه الناس . 
 2. Orang Baik di cintai manusia, Penyeru Kebaikan di musuhi dan dibenci oleh banyak manusia.  

Beliau di tanya lagi oleh muridnya : 
"Kenapa demikian.. ?"  

Jawabnya : 
"Rasulullah saw sebelum di utus sebagai Rasul, Beliau di cintai oleh kaumnya karena Beliau adalah orang baik bahkan sampai dijuluki al Amin.. Namun ketika Allah swt mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhi dan membenci dengan menggelarinya sebagai tukang sihir, pendusta, gila dan lainnya."

Ibnu Qudamah kemudian menambahkan : "Karena Penyeru Kebaikan menyikat batu besar "nafsu angkara" dan memperbaikinya dari "kerusakan". Itulah sebabnya kenapa sayidina Luqman Al-Hakim menasehati anaknya agar "BERSABAR" ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan.  

Di sebutkan dalam Al-Qur'an :
 يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك.  
"(Lukman berkata) : Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yg menimpamu." (QS. Luqman : 17) 

Berkata Ahlul 'Ilmi : "Satu penyeru kebaikan lebih di cintai Allah swt daripada ribuan orang baik (yang tdk menyerukan kebaikan)."

Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah swt menjaga ummat ini. Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri. Maka, sungguh beruntung orang yang mengambil peran sebagai Penyeru Kebaikan, karena dia menjadi penerus tugas Rasulullah saw, sebagai pengemban dakwah...

  في اي ارض تطأ فأنت مسؤول عن اسلامها  
"Dimanapun engkau berada maka engkau bertanggung jawab atas Islam di tempatmu"

Detik-Detik PKI Menyerang Pondok Pesantren Gontor

 


Gontor - PKI - Hizbullah

(Pondok Modern Darussalam Gontor, menjadi sasaran PKI)

"Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati." Inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia/PKI Madiun tahun 1948.

KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH. Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH. Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), tengah berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

"Wis Pak Sahal, penjenengan wae sing budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni, Kiyai Gontor yo panjenengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dikenali PKI aku iki"

"(Sudah Pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kiyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini)." kata KH. Imam Zarkasyi

Pak Sahal pun menjawab :

"Ora.. dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Pak Zar, njajal awak mendahno lek mati."

"(Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar (karena KH. Imam Zarkasyi adalah adik kandung beliau). Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Pak Zar, mencoba badan, walau sampai mati)."

Akhirnya diputuskanlah, para Kiyai berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH. Rahmat Soekarto.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kiyai Gontor ke arah timur menuju Gua Kusumo (saat ini dikenal dengan Gua Sahal). Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, "Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan." (Korban Harta, Korban Tenaga, Korban Pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan)

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh Pesantren Gontor.

Alhamdulillah, tak berapa lama, Laskar Hizbullah dan Pasukan Siliwangi datang. Yaitu pasukan pimpinan KH. Yusuf Hasyim (Putra bungsu Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari) yang merangsek dan mengusir PKI dari Gontor. Para PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu.

(Buku Banjir Darah. Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiyai, Santri, dan Kaum Muslimin, hlm. 195-200)

4 Tahap Menuju Kebahagian Hakiki

 


Ketika miliarder Nigeria Femi Otedola dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, "Tuan, apa yang Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?"

Femi berkata:

"Saya telah melalui 4 tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati.

"Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana. Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.

"Kemudian datanglah tahap kedua pengumpulan barang-barang berharga dan barang-barang. Tetapi saya menyadari bahwa efek dari hal ini juga bersifat sementara dan kilau dari hal-hal yang berharga tidak bertahan lama.

“Kemudian datanglah tahap ketiga mendapatkan proyek besar. Saat itulah saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Tetapi bahkan di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.

“Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak.

“Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.

“Tetapi teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Aku bersiap dan pergi bersamanya.

“Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang.

“Seolah-olah mereka telah tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot.

“Saya merasakan sukacita NYATA di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya. Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.

“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: Apakah kamu membutuhkan sesuatu yang lain?

“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya. Anak ini berkata:

"Saya ingin mengingat wajah Anda sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’”

*Kemurah hatian adalah bahasa yg bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta*

Jejak PKI di Indonesia



*SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA*

*Tgl 31 Oktober 1948 :*
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

*Akhir November 1948 :*
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : 
1. Ponorogo, 
2. Magetan, 
3. Pacitan, 
4. Purwodadi, 
5. Cepu, 
6. Blora, 
7. Pati, 
8. Kudus, dan lainnya.

*Tgl 19 Desember 1948*
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

*Tahun 1949 :* 
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

*Awal Januari 1950 :*
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

*Tahun 1950 :* 
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

*Tgl 6 Agustus 1951 :*
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

*Tahun 1951 :*
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

*Tahun 1955 :* 
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

*Tgl 8-11 September 1957 :* 
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

*Tahun 1958 :*
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

*Tgl 15 Februari 1958 :*
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

*Tanggal 11 Juli 1958 :*
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

*Bulan Agustus 1959 :*
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

*Tahun 1960 :* 
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

*Tgl 17 Agustus 1960 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

*Medio Tahun 1960 :* Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

*Bulan Maret 1962 :* 
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

*Bulan April 1962 :*
Kongres PKI.

*Tahun 1963 :*
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

*Tgl 10 Juli 1963 :* 
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

*Tahun 1963 :* 
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : 
1. KH. Buya Hamka, 
2. KH. Yunan Helmi Nasution, 
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali, 
5. KH. EZ. Muttaqien, 
6. KH. Soleh Iskandar, 
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.

*Bulan Desember 1964 :*
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

*Tgl 6 Januari 1965 :*
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

*Tgl 13 Januari 1965 :* 
Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

*Awal Tahun 1965 :*
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

*Tgl 14 Mei 1965 :* 
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

*Bulan Juli 1965 :* 
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

*Tgl 21 September 1965*:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

*Tgl 30 September 1965 Pagi :* 
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

*Tgl 30 September 1965 Malam :* 
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut  GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah : 
1. Jenderal Ahmad Yani,
2. Letjen R.Suprapto, 
3. Letjen MT.Haryono, 
4. Letjen S.Parman, 
5. Mayjen Panjaitan dan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. 
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh Aiptu Karel Satsuitubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal AH. Nasution. 
PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, *Ade Irma Suryani Nasution*, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : 
1. Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan
2. Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta 
3. Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain :
*Angkatan Darat :*
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, 
2. Brigjen TNI Soepardjo dan
3. Kolonel Infantri A. Latief.
*Angkatan Laut :*
1. Mayor KKO Pramuko Sudarno, 
2. Letkol Laut Ranu Sunardi dan 
3. Komodor Laut Soenardi.
*Angkatan Udara :*
1. Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, 
2. Letkol Udara Heru Atmodjo dan 
3. Mayor Udara Sujono.
*Kepolisian :* 
1. Brigjen Pol. Soetarto,
2. Kombes Pol. Imam Supoyo dan 
3. AKBP Anwas Tanuamidjaja.

*Tgl 1 Oktober 1965 :*
PKI di Yogyakarta juga Membunuh :
1. Brigjen Katamso Darmokusumo dan 
2. Kolonel Sugiono. 
Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil Alih Kekuasaan.

*Tgl 2 Oktober 1965 :*
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

*Tgl 6 Oktober 1965 :*
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

*Tgl 13 Oktober 1965 :*
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

*Tgl 18 Oktober 1965 :*
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

*Tgl 19 Oktober 1965 :* Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

*Tgl 11 November 1965 :* 
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

*Bulan Desember 1965 :*
Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

*Tgl 11 Maret 1966 :*
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

*Tgl 12 Maret 1966 :*
Soeharto melarang secara resmi PKI. 

*Bulan April 1966 :*
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

*Tgl 13 Februari 1966 :*
Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : 
*”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar Partai Komunis Indonesia…”*

*Tgl 5 Juli 1966 :* 
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH. Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

*Bulan Desember 1966 :*
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

*Tahun 1967 :*
Sejumlah Kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

*Bulan Maret 1968 :*
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

*Pertengahan 1968 :*
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

*Dari tahun 1968 s/d 1998*
Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

*Pasca Reformasi 1998*
Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari tipu daya komunis

*BAGIKAN SEJARAH INI.* 
*JADIKAN PELAJARAN*
*BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG*
                     
_copast_

🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇮🇩

KISAH KEKEJAMAN PKI

*Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng*
“Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.”

(Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965)
--------------------------------------

*Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas*
"Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal".

(Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965)
--------------------------

*Kakak Saya Dipotong Telinganya Lalu Dibuang ke Sumur*
"Para tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Kakak saya dipotong telinganya. Lalu dibuang di sumur tua".

(Mughni, Ponorogo, saksi korban peristiwa 1948)
--------------------------

*Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas*
"Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri".

(Kusman, sesepuh Magetan, nara sumber peristiwa 1948)
---------------------------------------

*Kakak Tertua saya Hilang Dibawa PKI*
"Setelah menggeledah rumah orang tua saya, kakak tertua saya dibawa PKI. Lalu tidak jelas kabarnya. Lima orang saudara sampai sekarang hilang tidak ditemukan"

(Mastur, saksi korban peristiwa Ponorogo 1948)
---------------------------

*Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi*
“Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”.

(Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948)
---------------------

*Buya Hamka Disiksa Setiap Hari*
“Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum. kemaluannya”.

(Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966)
----------------------------------------------

*Saya Dituduh Kontra Revolusi*
“Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”.

(Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965)
--------------------------------------------

*Ayah Saya Dibacoki, Dipukuli, Lalu Dimasukkan Sumur*
"Ayah saya dan adik ayah saya bersama lima orang lainnya para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Mereka berhasil keluar. Setelah keluar bapak saya dibacoki. Bapak saya dipukuli. Bapak saya dimasukkan ke dalam sumur.

(Suradi, anak Sastro Glombroh, korban peristiwa Ngawi 1948)
-------------------------------------------------

"Mencoba Melarikan Diri Enam orang Langsung Dibantai*
Peristiwa pembantaian beberapa orang di Dusun Gebung, Katikan, Ngawi, sebetulnya ada enam orang yang berhasil keluar lewat jendela bangunan yang saat itu dibakar PKI. Namun, setelah di luar mereka dibantai dengan pedang dan jasadnya bertumpukan di dekat sumur.

(Jumairi, saksi peristiwa Ngawi 1948)
------------------------

*Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar*
Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar.

(Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948)
------------------------------------------------

*Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya*
Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.
Zainudin, Kediri, saksi peristiwa 1960-1965.
------------------------------------------------

[23:07 16/07/2016] +966 59 599 6438: Sebuah buku yang berjudul *Ayat Ayat Yang Disembelih*

Mengungkap Aksi Keji PKI Begitu Nyata!
Lebih dari 35 Saksi Angkat Bicara

Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) penuh darah kekejaman di mana-mana. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih, serta mengubur hidup-hidup para kiyai dan santri, menghasut para petani untuk berontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis.
Semua tindakan PKI hanya untuk satu tujuan: Mengganti NKRI menjadi negara komunis. Negara anti Tuhan dan anti insan ber Tuhan yang berlambang palu arit.
Mengapa Buku ini Penting?
Sebuah buku yang mengangkat fakta sejarah kekejaman PKI dalam rentang waktu sangat panjang, 1926 - 1968. Membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali. Disajikan dengan gaya bercerita (story telling) sehingga tidak membosankan.
Kekuatan buku ini terletak pada penggambaran situasi detil secara naratif pada masa kejadian yang tidak hanya bersumber dari referensi teks. Tetapi juga disertai wawancara penulis dengan 30 saksi-saksi hidup yang terdiri dari korban, kerabat dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar dan Surabaya.
Buku ini penting dibaca oleh siapapun. Untuk menyadarkan kembali kepada kita akan bahaya laten komunis bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan generasi yang akan datang.
Dengarkan Cerita Para Saksi dan Korban
Ingatan mereka akan sejarah kekejaman PKI tak ‘kan terhapuskan. Trauma demi trauma yang siapapun tak ingin mengalaminya. Mereka hanya ingin berbicara kepada kita. Maka dari itu, dengarkanlah…

*Genangan Darah Setinggi Mata Kaki*

“Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”.

Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948.

*30 Orang Dibakar Hidup-hidup dalam Loji*
“Sebanyak 30 orang tokoh dan para kyai dimasukkan kedalam loji, diberi makanan beracun lalu dibakar hidup-hidup. Ketika berhasil membobol pintu berantai setelah berdoa dan berteriak Allaahu Akbar, mereka dibacok dengan pedang”.
Siti Maisaroh, anak korban selamat peristiwa Ngawi 1948.

*Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur*
“Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”.
Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948.

*Diseret ke Hutan Lalu Dijatuhkan ke Jurang*
“Bapak saya beserta enam orang pemuka agama yang jadi sahabatnya diseret dan dibawa ke hutan. Lalu dibunuh dengan cara dilempar ke jurang dan dihujani batu”.
Sartono, anak Carik Ismail, peristiwa Ponorogo 1948.

Daftar Isi Buku :

1. Prolog : Merah Putih itu Nyaris Diganti Palu Arit

2. Amini Anjuran Alimin, Lalu Darah Tumpah

3. Kutil : Penyembelihan ini adalah Gugatanku kepada Tuhan

4. Jasad Oto Dilarung Ke laut Setelah Kepalanya Dipenggal

5. Pembunuhan Bupati Lebak Oleh Ce' Mamat dan Perampokan Tak Berkesudahaan

6. Dua Hati Mengikat Janji, Kepala Kekasih Tersembelih

7. Aksi Pemanasan di Magetan, Kampung Kauman pun Dibumi Hanguskan

8. Kyai Soelaiman Tetap Berdzikir Meski Dikubur Hidup-Hidup dan Dihujani Batu Kapur

9. Musso, Kau Buang Kemana Kyai Kami

10. Banjir Darah di Loji Rojosari Setinggi Mata Kaki

11. Wangi Pucuk Kenanga itu tak kan Hapuskan Bau Anyir Darah Para Kyai Kami

12. Jamban Adalah Kuburan Kalian

13. Legenda Sandiryo dan Penyembelihan Ulama di Kresek

14. Gubenur Soerjo Ditelanjangi, Diseret Lebih Dari 10 Kilometer, Lalu Disembelih

15. Pembantaian KH Hamid Dimyathi di Tirtomoyo

Untuk Siapa Buku Ini ?

Buku *"Ayat-Ayat yang di Sembelih"* ini dibuat untuk untuk :
1. Generasi Muda sebagai penerus Bangsa, agar tidak mudah terhasut paham komunis (PKI), agar keutuhan NKRI tetap terjaga.
2. Khalayak Umum, bahwa paham komunis (PKI) dalam melaksanakan aksinya dengan perbuatan biadab dan tidak manusiawi.
3. Para Kyai, yang telah mengorbankan nyawanya untuk menolak paham komunis (PKI).
4. Bangsa Indonesia, bahwa paham komunis (PKI) tidak cocok untuk keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai budaya, adat dan istiadat.

Cara Tarik Peserta Didik Mutasi Masuk di Dapodik 2022 dari Sesama Sekolah



Cara Tarik Siswa Peserta Didik Mutasi/Pindahan Masuk di Dapodik Versi 2022_Bapak/Ibu Operator Dapodik Sekolah, untuk menarik data siswa pindahan masuk dari sekolah lain yang menggunakan aplikasi dapodik (PAUD/SD/SMP/SMA/SMK) ke sekolah Anda, dapat dilakukan dengan cara yang sangat mudah yakni melalui tarik peserta didik pada menu mutasi di website SP Datadik Kemdikbud. Namun sebelum Anda menarik data peserta didik, Anda harus memastikan bahwa siswa yang pindah tersebut sudah dikeluarkan dari aplikasi dapodik sekolah asal. Selanjutnya silakan simak langkah-langkah sebagai berikut.

1. Kunjungi dan login menggunakan akun dan password dapodik  operator sekolah di https://sp.datadik.kemdikbud.go.id/  

a. Klik login menggunakan sso

b. Masukkan email akun dan password dapodik operator sekolah kemudian klik masuk

c. Autentikasi berhasil, menunggu mengarahkan ke halaman utama

 

2. Klik Aplikasi, Setelah Anda melihat tampilan halaman utama, silakan  klik Aplikasi

3. Klik Mutasi

4. Lengkapi data sekolah asal peserta didik dan rombel tujuan, kemudian klik Tampilkan


5. Cari nama peserta didik yang akan dimutasi masuk dan beri tanda centang, kemudian klik Daftarkan

Setelah Anda mengeklik "Daftarkan", maka akan ada keterangan "Peserta Didik Berhasil Didaftarkan"

Peserta Didik Berhasil Didaftarkan


6. Login di aplikasi dapodik offline versi 2022, kemudian lakukan validasi dan sinkronisasi


7. Ketika sinkronisai sudah bershasil, maka akan muncul tombol Tarik Data, silakan klik "Tarik Data"

Situasi Kritis Politik Semenanjung Arab : Perang Yamamah


Siapa Musailamah

Sejarawan berbeda pendapat tentang namanya. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Yang lain mengatakan Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Ada yang mengatakan kun-yahnya adalah Abu Tsamamah. Ada pula yang menyebutnya Abu Harun. Musailamah dilahirkan di wilayah Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd.

Usia Musailamah lebih tua dan lebih panjang dibanding Rasulullah . Ada yang menyebutkan ia terbunuh pada usia 150 tahun saat Perang Yamamah. Ia adalah seorang tokoh agama di Yamamah dan telah memiliki pengikut sebelum wahyu kerasulan datang kepada Nabi Muhammad . Sebelum mengaku sebagai nabi, Musailamah sering menyusuri jalan-jalan. Masuk ke pasar-pasar yang ramai oleh masyarakat Arab maupun non-Arab. Berjumpa dengan orang-orang berbagai macam profesi di sana. Pasar yang ia kunjungi semisal pasar di wilayah al-Anbar dan Hirah (Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 100).

Musailamah adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat (strong personality). Sangat pandai bicara dan berpidato. Hingga memiliki pengaruh di tengah bani Hanifah dan kabilah-kabilah tetangga. Tutur katanya lembut namun menipu. Pandai menarik simpati, bagi laki-laki maupun wanita. Ia menyebut dirinya Rahman al-Yamamah. Namun Allah berkehendak beda. Ia dikenal dengan nama Musailamah al-Kadzab (Musailamah sang pendusta) hingga hari ini. Saat Musailamah mengumumkan kenabiannya (nabi palsu), Rasulullah berada di Mekah. Ia mengutus orang-orang pergi ke Mekah untuk mendengarkan Alquran. Kemudian kembali ke Yamamah untuk membacakannya kepadanya. Setelah itu ia menirunya atau memperdengarkan ulang ke hadapan orang-orang sambil mengklaim itu adalah kalamnya (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3: 295).


Utusan Bani Hanifah Menemui Rasulullah


Di antara metode dakwah Rasulullah adalah menulis surat kepada para penguasa dan raja-raja. Menyeru mereka untuk memeluk Islam. Seruan dakwah tersebut sampai juga kepada Haudzah bin Ali al-Hanafi. Seorang penguasa Yamamah yang beragama Nasrani. Setelah menerima surat tersebut, Haudzah mengajukan syarat agar kekuasaan diberikan kepadanya. Nabi menolaknya. Tidak lama setelah itu Haudzah pun wafat.


Pada tahun ke-9 H, tokoh-tokoh bani Hanifah yang berjumlah beberapa belas orang laki-laki datang menemui Nabi di Madinah. Di antara mereka terdapat Musailamah. Mereka datang untuk mengumumkan keislaman kepada Rasulullah . Dan menyepakati bahwa Nabi adalah pemimpin. Bani Hanifah termasuk kabilah Arab yang terbesar jumlahnya. Mereka memiliki kedudukan dan terpandang. Karena merasa layak mendapatkan kepemimpinan, mereka mengajukan permintaan kepemimpinan. Mereka ingin agar Musailamah kelak menggantikan posisi Nabi setelah beliau wafat. Nabi menolak permintaan mereka.


Utusan bani Hanifah pun kecewa dan mulai muncul keinginan untuk keluar dari Islam. Dan Nabi telah menangkap gelagat ini. Ketika hendak pulang ke Yamamah, mereka berkata kepada Rasulullah , “Sesungguhnya kami meninggalkan salah seorang sahabat kami di perbekalan kami untuk menjaganya”.


Rasulullah menanggapi, “Kedudukan dia (Musailamah) tidak lebih buruk daripada kedudukan kalian”. Artinya walaupun ia sebagai petugas yang menjaga perbekalan kalian, bukan berarti kedudukannya lebih rendah dari kalian. Mereka pun pulang ke Yamamah dengan membawa hadiah dari Nabi .


Perkataan Nabi terhadap Musailamah tersebut diputarbalikkan dan dijadikan isu sebagai sabda rekomendasi oleh Musailamah dan tokoh yang lain. Mereka klaim bahwasanya Nabi Muhammad meridhai Musailamah sebagai penggantinya. Tak lama Musailamah pun mengumumukan kenabiannya di tengah-tengah bani Hanifah. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Musailamah al-Kadzab.


Kemudian Nabi menunjuk Nuharur Rijal bin Unfuwah untuk mengajarkan agama kepada penduduk Yamamah. Ibnu Unfuwah adalah laki-laki yang berilmu, luas pandangannya, dan cerdas. Siapa sangka, ternyata Ibnu Unfuwah malah bergabung dengan Musailamah. Kesungguhannya di hadapan Rasulullah hanyalah riya’ semata. Ibnu Unfuwah mengakui kenabian Musailamah. Menurutnya Musailamah bersama-sama Nabi Muhammad dalam risalah kenabian. Orang-orang bani Hanifah pun simpati kepadanya. Dan Musailamah menjadikannya orang kepercayaan (Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 97, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3: 137-138, dan al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 5: 50-52).


Rasulullah Berbalas Surat dengan Musailamah


Setelah klaim kenabiannya diterima di tengah-tengah kaumnya, rasa percaya diri Musailamah kian bertambah. Semakin jauhlah kesesatannya. Ia mulai memposisikan diri sebagai seorang utusan Allah. Ia meniru Nabi Muhammad yang berdakwah melalui surat kepada para raja dan penguasa. Saking percaya dirinya, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad :

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُولِ اللَّهِ، إلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ: سَلَامٌ عَلَيْكَ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي قَدْ أُشْرِكْتُ فِي الْأَمْرِ مَعَكَ، وَإِنَّ لَنَا نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلِقُرَيْشٍ نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلَكِنَّ قُرَيْشًا قَوْمٌ يَعْتَدُونَ

Dari Musailamah seorang rasulullah kepada Muhammad seorang rasulullah. Keselamatan atasmu, amma ba’du:

Sungguh aku sama denganmu dalam kerasulan ini. Bagi kami bagian bumi tertentu dan bagi Quraisy bagian bumi lainnya. Akan tetapi orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”


Perhatikanlah, para penyeru kesesatan sejak dulu terbiasa menggunakan pilihan kata yang indah untuk menipu manusia. Musailamah menyebut Nabi Muhammad sebagai orang yang melampaui batas. Karena ingin menguasai seluruh jazirah Arab. Sementara ia mengisyaratkan bahwa dirinya adalah orang yang bijak karena ingin berbagi.


Demikian juga para penyeru kesesatan di zaman ini, mereka menggunakan bahasa yang indah untuk memikat hati. Mereka sebut ajaran mereka mencerahkan sementara berpegang kepada Alquran dan sunnah adalah kejumudan dan kaku. Mereka sebut ajaran mereka toleran. Sementara yang lainnya adalah radikal.


Rasulullah tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Beliau tidak ingin keraguan dan kerancuan ini tersebar. Beliau pun membalas surat Musailamah:


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ، إلَى مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ: السَّلَامُ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْأَرْضَ للَّه يُورَثُهَا مَنْ يُشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah sang pendusta. Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk, amma ba’du:

Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”


Setelah membaca surat itu, Musailamah memutilasi sahabat Nabi, Hubaib bin Zaid radhiallahu ‘anhu, yang Nabi tugaskan untuk mengantarkan surat kepada Musailamah al-Kadzab. Peristiwa ini terjadi di akhir tahun ke-10 H.


Fanatik keSuku-an, Sajak Pun disebut Wahyu


Musailamah mulai menjadikan Yamamah sebagai tanah haram. Ia juga mulai menyusun sajak yang ia sebut sebagai Alquran. Al-Mutasyammas bin Muawiyah, paman dari al-Ahnaf bin Qais, pernah mendengar sajak-sajak Alquran palsu yang dibacakan oleh Musailamah. Setelah keluar dari majelis Musailamah ia berkomentar, “Sungguh ia seorang pendusta”. Al-Ahnaf juga mengomentari, “Dia bukanlah nabi yang sebenarnya. Bukan pula seorang yang pintar dalam berpura-pura menjadi nabi”.


Orang-orang Yamamah yang mengikuti Musailamah begitu fanatik dengan dakwah kenabiannya. Mereka bangga orang-orang dari keluarga Rabiah bersaing dengan keluarga Mudhar. Yakni keturunan Rabiah juga punya nabi sebagaimana keturunan Mudhar punya nabi, yakni Nabi Muhammad . Pengakuan kenabian terhadap Musailamah sangat dipengaruhi fanatisme kabilah dan suku.


Suatu hari Thalhah an-Namiri datang ke Yamamah untuk bertemu Musailamah. Ia ingin mendengar langsung dakwahnya dan menguji kenabian pembuat wahyu palsu ini. Ketika sampai di majelis Musailamah, Thalhah menyebut nama Musailamah langsung. Kaum Musailamah menjawab, “Sebut dia rasulullah!”. “Tidak mau, sampai aku melihatnya dulu”, kata Thalhah.


Ketika Musailamah datang, Thalhah berkata, “Engkau Musailamah?” “Iya”, jawab nabi palsu si tukang tipu. “Siapa yang datang kepadamu?” Tanya Thalhah. Musailamah menjawab, “Rahman (Allah pen.)”. “Dalam keadaan bercahaya atau dalam kegelapan?”, selidik Thalhah. “Dalam kegelapan”, jawab Musailamah.


Thalhah berkata, “Sungguh aku bersaksi engkau adalah pendusta. Dan Muhammad adalah yang benar. Akan tetapi pendusta dari Rabiah lebih kami cintai dibanding orang yang jujur dari Mudhar”. (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3, 283-286, Asadul Ghabah oleh Ibnul Atsir, 1: 443, dan al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qobla al-Islam oleh Jawad Ali, 6: 97).


Untuk menguatkan posisinya, Musailamah menikahi seorang perempuan dari bani Tamim. Kabilah besar lainnya di masyarakat Arab. Perempuan itu adalah Sajah binti al-Harits bin Suwaid at-Tamimiyah. Wanita ini memiliki kesamaan degnan Musailamah, sama-sama mengaku nabi. Ia mengajak kaumnya bani Tamim dan paman-pamannya dari kabilah Taghlib dan kabilah-kabilah Rabi’ah lainnya. Bersatulah kelompok besar ini dalam fanatisme kesukuan mengklaim sebuah kedustaan. Kemudian mereka menantang kekhalifahan Abu Bakar di Madinah.


Perang Yamamah


Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu menggantikan beliau memimpin umat Islam. Di antara kebijakan prioritas Abu Bakar adalah adalah mengirim pasukan menghadapi orang-orang murtad. Semisal pengikut Musailimah al-Kadzab dan lainnya. Abu Bakar mengirim Ikrimah bin Abi Jahl dan didampingi Syurahbil bin Hasanah menghadapi nabi palsu pendusta itu.


Setelah mengemban tugas, Ikrimah terburu-buru melakukan penyerangan. Ia dan pasukannya pun berhasil dipukul mundur para pembela Musailimah. Ikrimah mengirim surat kepada Abu Bakar, mengabarkan kondisi di palangan dan meminta masukan kepadanya. Abu Bakar mengatakan, “Wahai Ikrimah, aku tidak menyaksikanmu dan engkau juga tidak melihatku. Janganlah engkau kembali (ke Madinah) sehingga moral pasukanmu turun. Teruslah berjalan hingga engkau berjumpa dengan Hudzaifah dan Urfujah. Keduanya bersama orang-orang Oman dan Mahrah. Bergabunglah bersamanya! Apabila keduanya sibuk (dengan tugas mereka), teruslah maju. Berjalanlah! Berjalanlah! Bersama pasukanmu tanpa menghiraukan orang-orang yang kalian temui. Hingga nanti kalian berjumpa dengan Muhajir bin Abi Umayyah di Yaman dan atau di Hadhramaut”.


Abu Bakar juga menulis surat kepada Syurahbil agar tetap di posisinya hingga Khalid bin Walid datang. Setelah misi di Yamamah tuntas, mereka diperintahkan bergabung dengan Amr bin al-Ash menuju Qadha’ah. Khalid menunggu utusan yang dikirim kepadanya di wilayah al-Baththah. Ketika mereka tiba, barulah ia berangkat bersama pasukannya ke Yamamah menghadapi Musailimah.


Hari Aqriba


Di Yamamah, Musailimah mendengar pasukan Khalid telah mendekat. Ia memberi sambutan dengan menyiagakan pasukannya di Aqriba. Saat kedua pasukan berjumpa, tidak ada harga tawar kecuali peperangan. Pasukan kecil Musailimah yang terdiri dari 40-60 orang berhasil dikalahkan. Perang pembuka ini dimenangkan oleh Khalid dan pasukannya.


Keesokan paginya, pasukan Khalid kembali berjumpa dengan pembela Musailimah. Seruan dan motivasi pembela nabi palsu itu adalah kesukuan dan kehormatan keluarga. Anak Musailimah al-Kadzab, Syurahbil bin Musailimah, memotivasi pasukannya dengan mengatakan, “Berperanglah untuk membela nasab kalian dan jagalah istri-istri kalian!”


Panji kaum muhajirin dipegang oleh Salim maula Abi Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Orang-orang muhajirin berkata kepadanya, “Kami khawatir akan ditimpa kekalahan karena dirimu”. Para sahabat muhajirin meragukan kepemimpinan Salim dalam perang ini. Salim menjawab, “Kalau demikian, aku adalah sejelek-jelek pembawa Alquran”. Ia menepis keraguan muhajirin. Adapun panji perang kaum anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas radhiallahu ‘anhu, khatib Rasulullah .


Dengan pasukan besar, tidak kurang dari 100.000 orang, pasukan Musailimah al-Kadzab berada di atas angin dan berhasil menekan 12.000 pasukan kaum muslimin di awal peperangan. Mereka berhasil memorak-morandakan pertahanan kaum muslimin. Mereka menerobos barisan tentara-tentara Allah hingga berhasil masuk ke dalam kemah panglima Khalid bin al-Walid. Istri Khalid hampir tewas dalam peristiwa itu.


Dalam situasi genting tersebut, Tsabit bin Qais memotivasi dirinya dan kaum muslimin dengan mengatakan, “Alangkah buruknya yang kalian biasakan (perbuat) ini wahai kaum muslimin. Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang mereka –orang-orang Yamamah- perbuat. Dan aku mohon maaf-Mu atas apa yang diperbuat kaum muslimin”. Kemudian ia berperang hingga menemui ajalnya.


Abu Hudzaifah berkata, “Wahai para penghafal Alquran, hiasilah Alquran dengan amalan!”.


Zaid bin al-Khattab berkata, “Wahai para pasukan, buanglah kerisauan kalian. Hadapi musuh kalian. Melangkahlah maju. Demi Allah, aku tidak akan berbicara sepatah kata pun hingga aku berjumpa dengan Allah. Barulah aku berbicara kepada-Nya dengan hujjahku”. Kemudian Zaid berperang tanpa rasa takut dan gentar.


Saudara Umar bin al-Khattab dan pemimpin pasukan sayap kanan ini dipertemukan Allah dengan Naharur Rijal. Orang yang mengkhianati amanah Rasulullah dan malah memilih bergabung dengan Musailimah al-Kadzab. Pedang keduanya pun saling hantam hingga Naharur Rijal tewas. Kematian tangan kanan Musailimah ini kontan menurunkan moral pasukan bani Hanifah.


Kecamuk Perang Yamamah kian memanas. Teriakan pengobar semangat, amarah, dan jeritan luka menggema dimana-mana. Gemerincing dan denting pedang saling menghantam. Desir suara anak panah dan tombak membelah angin. Deru derap langkah pasukan berpacu dengan kuda-kuda. Mental yang lemah akan menggoyahkan langkah. Niat yang keliru membuat jihad yang berat tiadalah arti selain lumuran debu. Di kaki, tangan, dan wajah. Jasad-jasad terhempas ke bumi berpisah dengan nyawanya. Itulah pemandangan yang terjadi dalam peperangan.


Terkadang kaum muslimin menekan. Kadang bani Hanifah memegang kendali perang. Gugurlah dalam perang ini sahabat-sahabat mulia; Salim maula Abu Hudzaifah. Seorang qari Rasulullah. Dan gugur pula Zaid bin al-Khattab. Serta tokoh-tokoh Islam selain keduanya.


Tewasnya Nabi Palsu


Musailimah al-Kadzab dan para pembelanya terpojok dan lari ke kebun yang memiliki pagar tinggi. Pasukan sebanyak itu membuat kebun menjadi penuh sesak. 6000 pasukan Musailimah berlindung di dalamnya. Kaum muslimin berusaha mengejar mereka, namun tak mampu memasukinya. Hingga al-Barra bin Malik mengeluarkan ide “nekat”. Ia berkata, “Letakkan aku dalam baju besi. Kemudian angkat dengan ujung tombak. Angkatlah, hingga aku bisa mencapai ujung atas pagar. Lalu lemparkanlah aku ke dalam kebun. Akan kubukakan pintu dari dalam”.


Awalnya, orang-orang menolak usulan al-Barra. Mereka khawatir akan keselamatannya. Sampai akhirnya mereka mengangkatnya dan melemparnya ke dalam kebun. Al-Barra pun masuk ke dalam kebun. Keberanian, keahlian dalam bela diri dan menggunakan senjata mengantakan al-Barra ke pintu gebarng setelah ia membunuh 15 orang. Gerbang kebun terbuka.


Kebun yang awalnya menjadi benteng Musailimah. Kini menjadi kebun kematian untuknya. Kaum muslimin berlari membanjiri kebun. Setelah semuanya masuk, al-Barra menutup kembali pintu tersebut dan melemparkan kuncinya ke seberang pagar. Sehingga tidak ada satu pun yang bisa keluar.


Tempat para petani itu kini berubah menjadi medan laga. Pasukan Musailimah al-Kadzab kian terpojok. Sampai akhirnya tewaslah si nabi palsu, Musailimah al-Kadzab, di tangan Wahsyi bin Harb bekas budak Jabir bin Muth’im dan seorang mujahid dari anshar, Abu Dujanah Simak bin Khirasyah radhiallahu ‘anhu.


Tewasnya Musailimah meruntuhkan moral pengikutnya. Kebanggaan dan kesombongan mereka serta merta luruh, larut dalam situasi itu. Mereka seolah-olah tersadar dari sihir, bingung tak berbuat sesuatu pun. Akhirnya mereka menyerah. Setelah sejumlah 21.000 dari mereka tewas dalam pertempuran. Dan ada yang mengatakan 500 atau 600 atau bahkan 1200 kaum muslimin syahid. Jumlah korban yang besar.


Setelah perang usai, orang-orang bani Hanifah didatangkan ke Madinah untuk bertemu dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Mereka diminta bercerita tentang kenabian Musailimah. Abu Bakar bertanya tentang sajak yang dibuat Musailimah. Mereka menyebutkan beberapa contoh di antaranya. Lalu Abu Bakar berkomentar, “Subhanallah!! Celaka kalian! Kalimat-kalimat tersebut bukanlah berasal dari Tuhan bahkan orang yang baik (sekalipun). Bagaimana hal itu bisa membimbing kalian?” (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3:281-301, al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 6:237 & 324, Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad, 3:377, dan al-Ishabah oleh Ibnu Hajar, 3:15).


Inilah akhir dari kisah nabi palsu Musailimah al-Kadzab. Ia berdusta atas wahyu, hingga kini gelar al-Kadzab (si pendusta) selalu disandang di akhir namanya. Kehinaan ia dapatkan di dunia dan kelak di akhirat sana.

Hasan Al Banna : Menang dan Kalah


MENANG & KALAH



وَلَقَدْ كُنْتُ، وَمَا زِلْتُ أَقُوْلُ لِلْإِخْوَانِ فِيْ كُلِّ مُنَاسَبَةٍ أَنَّكُمْ لَنْ تُغْلَبُوْا أَبَدًا مِنْ
أ- قِلَّةِ عَدَدِكُمْ
ب- وَلَا مِنْ ضَعْفِ وَسَائِلِكُمْ
ت- وَلَا مِنْ كَثْرَةِ خُصُوْمِكُمْ
ث- وَلَا مِنْ تَآلُبِ الْأَعْدَاءِ عَلَيْكُمْ، وَلَوْ تُجْمِعُ أَهْلُ الْأَرْضِ جَمِيْعًا، مَا اسْتَطَاعُوْا أَنْ يَنَالُوْا مِنْكُمْ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُم
.
Sejak dulu, dan tiada henti selalu kukatakan kepada Ikhwan sekalian, dalam setiap kejadian, bahwa kalian selamanya tidak akan terkalahkan dengan sebab:
.
1. Sedikitnya jumlah
2. Lemahnya sarana
3. Banyaknya lawan
4. Konspirasi para musuh, bahkan seandainya seluruh penghuni bumi bersepakat, mereka takkan mampu menimpakan apapun kepada kalian kecuali yang telah ditetapkan Allah.
.

وَلَكِنَّكُمْ تُغْلَبُوْنَ أَشْنَعَ الْغَلَبِ، وَتَفْقِدُوْنَ كُلَّ مَا يَتَّصِلُ بِالنَّصْرِ، بِسَبَبِ إِذَا
أ- فَسَدَتْ قُلُوْبُكُمْ
ب- وَلَمْ يُصْلِحِ اللهُ أَعْمَالَكُمْ
ت- أَوْ إِذَا تَفَرَّقَتْ كَلِمَتُكُمْ، وَاخْتَلَفَتْ آرَاؤُكُمْ
.
Namun kalian akan terkalahkan dengan telak dan nista, serta kehilangan segala yang berhubungan dengan kemenangan, apabila:
.
1. Hati kalian rusak.
2. Allah tidak lagi memperbaiki amal kalian.
3. Atau kalimat kalian telah terpecah belah, dan pandangan kalian telah saling berselisih.
.

أَمَّا مَا دُمْتُمْ 
أ- عَلَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ
ب- مُتَّجَهٍ إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
ت- آَخِذٍ فِيْ سَبِيْلِ طَاعَتِهِ
ث- سَائِرٍ عَلَى نَهْجِ مَرْضَاتِهِ
.
فَلَا تَهِنُوْا أَبَدًا، وَلَا تَحْزَنُوْا أَبَدًا، وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ شَاءَ اللهُ، وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ 
.
Adapun jika kalian selalu:
.
1. Satu hati
2. Berorientasi kepada Allah
3. Berjalan pada jalan ketaatan kepadaNya
4. Berjalan di atas manhaj meraih ridhaNya
.
Maka, kalian tidaklah menjadi hina selamanya, tiada kan berduka selamanya, dan kalian selalu berada pada kedudukan tertinggi insyaallah, dan Dia akan selalu bersama kalian, 
.
وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
.
“Allah selalu bersama kalian, Dia sama sekali tak mengurangi pahala 'amal kalian.” (QS Muhammad: 35) 

Sumber:
.
(كتاب منهج الإصلاح والتغيير: ٣٥)