Nabi Nuh adalah nabi ke-3 setelah Nabi Adam dan Idris berdasarkan 25 nabi dan rasul yang harus dipercaya oleh umat Islam. Nuh diutus oleh Tuhan untuk memanggil umatnya untuk menyembah hanya Tuhan. Nabi Nuh termasuk dalam 5 nabi dan rasul yang mendapat gelar ulil amri. Gelar ini diberikan karena perjuangan dakwah yang dia lakukan sangat berat dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Nuh memanggil umatnya untuk menyembah Tuhan siang dan malam. Dia berkhotbah baik secara terbuka maupun diam-diam. Ia menggunakan berbagai metode dakwah agar umatnya mau mendengarkan seruann dakwah yang dibawanya. Namun, setiap kali Nabi Nuh meminta umatnya untuk menyembah Tuhan dan meminta ampunan kepada Tuhan, maka setiap kali umatnya menghindar, menempelkan jari di telinga dan menutupi pakaian di wajah mereka. Umat Nuh membantah apa yang disampaikan oleh Nabi Nuh bahkan mereka sombong dan semakin memalukan. Ini sesuai dengan QS. Hud ayat 5-12, berikut adalah uraian makna ayat tersebut:
“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan keterlaluan. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara yang terang-terangan, kemudian aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.'” (Nuh: 5-12)
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun. Selama periode itu dia selalu sabar mengajak umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah di siang dan malam hari. Namun hanya sekitar 20 orang yang berhasil diundang oleh Nabi Nuh yang mau untuk beribadah kepada Allah.
Sungguh ini adalah perjuangan yang penuh dengan kesabaran. Bahkan istri dan anak-anaknya bukanlah termasuk orang yang beriman kepada Allah. Meski begitu, Nabi Nuh tetap menjadi hamba yang selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan. Hingga akhirnya Allah menyelamatkan Nuh dan umat beriman serta sahabatnya dari banjir besar yang melanda negerinya. Sesungguhnya Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman.
Dari kisah Nabi Nuh kita dapat belajar tentang kesabaran bahwa perjuangan dakwah yang telah kita lakukan selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Nuh. Jatuh bangun, jatuh sakit, menghina atau berbagai tantangan yang ada dalam kegiatan dakwah saat ini, jangan sampai kita menghentikan langkah kita untuk tetap berada di jalur para pejuang tersebut. Sabar dalam kebaikan dan bersabar atas kebenaran adalah kunci agar kita bisa istiqamah dalam memperjuangkan Islam, hingga akhirnya Allah memberikan tempat peristirahatan terindah bagi kita di akhirat. Jadi mari kita tingkatkan kesabaran kita seperti kesabaran yang dimiliki Nuh dalam memanggil umatnya untuk menyembah hanya Allah.







0 komentar:
Posting Komentar