Setinggi Apa Kita Menempatkan Al-Quran Setinggi itulah Derajat Kita


Para sesepuh dahulu sangat mewanti wanti untuk berunggah ungguh terhadap Al Quran, mendudukkan Al Quran pada posisi paling tinggi. Saat madrasah ibtidaiyyah dulu, saya pernah menenteng Quran ketika mau mengaji ke Langgar, tiba tiba ditegur keras sama pakde.
"ojo koyo ngono lehmu nggowo Quran" kata beliau sambil membenarkan cara membawanya minimal didekap di dada.
Jangan tanya bagaimana jika mushaf Quran dibawa tanpa wudhu, sudah pasti sangat tidak boleh, kecuali dalam keadaan sangat dhorurot misal Quran terjatuh, itupun harus di lapisi dengan kain sarung, tanpa langsung menyentuh mushaf, kemudian dicium penuh takdzim lalu di letakkan ditempat tertinggi.
Demikian para sesepuh itu bertamanni dengan sabda kanjeng nabi
إن الله يرفع بهذا لكتاب اقواما ويضع به آخرين
Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena Al Quran, dan merendahkan suatu kaum yang lainnya karena Al Quran.
Maka berharap Allah tinggikan posisi mereka dengan mengagungkan mushaf Al Quran. Dalam hal ini Imam An Nawawi rodhiyallahu anhu menyampaikan dalam muqaddimah at tibyan fi adabi hamalatil Quran
وملازمة الآداب معه، وبذل الوسع في الإحترام
Senantiasa menjaga adab dan mengupayakan sepenuh jiwa untuk memuliakannya.
Syekh Dr Aiman Suwaid ketika menjelaskan kalimat tersebut, beliau sampaikan tentang Daulah Usmani di Turki yang membentang sepanjang 7 abad lamanya.
Adalah Osman bin Ertuğul atau Osman 1 atau Osman Ghazi yang merupakan leluhur dari dinasti ini, seorang bangsawan dari kesultanan Seljuk.
Suatu ketika beliau melakukan safar berkeliling di wilayah teritori nya. Hingga singgah di sebuah rumah dari penduduk setempat. Setelah shalat isya dan melakukan jamuan malam maka Osman 1 diarahkan untuk beristirahat di salah satu bilik rumah tersebut.
Ketika shubuh menjelang sohibul bait bermaksud membangunkan tamunya untuk shalat shubuh. Sohibul bait melihat tamunya sedang berdiri bersender pada salah satu dinding bilik tersebut, menghadap rak yang berisi mushaf yang tertempel pada dinding lainya.
Sohibul bait bertanya, "sayyidi... Apakah engkau telah bangun?"
Osman 1 menjawab "apakah engkau kira aku harus terbangun, padahal semalam ini aku tak tidur"
"apakah ada hal serius yang tengah engkau fikirkan sayyidi, sehingga engkau tak tidur?" tanya sohibul bait
"engkau tak memberitahukan kepadaku bahwa dalam bilikmu ini terdapat mushaf Al Quran, dan bagaimana mungkin aku membaringkan tubuhku dan meluruskan kakiku sementara ada mushaf mulia bersamaku.
MasyaAllah tabaarakallah..
Jika terhadap mushaf al Quran Osman 1 demikian memuliakanya lantas bagaimana penghormatan nya terhadap kandungan Al Quran, bagaimana terhadap ahlul Qurannya? Maka pantaslah Allah berikan kejayaan kepada anak cucu cicitnya 7 abad lamanya memakmurkan bumi
اللهم ارحمنا بالقران.... ‎
dari FB @Jacvar Ben Hanbal

0 komentar:

Posting Komentar