Duta Besar China untuk Inggris Kesulitan Menyangkal Persekusi China terhadap Uyghur
Konflik Libya : Eskalasi Meningkat, Hubungan Mesir-Turki di ambang Perang
UAS Bertanya, K.H Idrus Ramli Menjawab
Salamah Bin Al Akwa : Infanteri Terbaik, Pahlawan Dzi Qard
Seberapa besar Virus Corona ?
Arogansi Dibalas Aliansi
RESOLUSI MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG SIKAP IMPERIALISTIK ISRAEL TERHADAP PALESTINA
- Pemerintah Isreal dalam waktu yang panjang selalu berusaha mencari peluang untuk melakukan invasi dan aneksasi terhadap wilayah Tepi Barat Palestina. Aksi ini jelas-jelas merefleksikan spirit imperialistik pemerintah Israel untuk menduduki dan menaklukkan negara, bangsa dan rakyat Palestina.
- Pemerintah Isreal di bawah kepemimpinan Benyamin Netanyahu telah dengan sangat nyata melanggar hukum internasional, menghancurkan kemanusiaan dan kemerdakaan serta kedaulatan negara, bangsa dan rakyat Palestina.
- Negara, bangsa dan rakyat Palestina yang telah mengalami penderitaan panjang sebagai akibat dari kekejaman sistemik pemerintah Isreal semakin disengsarakan dengan serangan Pandemi sekaligus aneksasi Isreal.
- Invasi dan aneksasi Pemerintah Israel tidak saja telah mendorong perlawanan rakyat Palestina, akan tetapi juga kecaman keras dari masyarakat internasional. Tindakan Isreal ini berpotensi mengancam setiap upaya perdamaian di wilayah Timur Tengah, dan mengganggu ketertiban, keamanan dan perdamaian dunia.
- Dukungan internasional, termasuk Indonesia, untuk memperjuangkan kedaulatan dan kemerdekaan negara, bangsa dan rakyat Palestina telah dilakukan. Bahkan Dewan Keamanan PBB juga sudah mengeluarkan resolusi memberikan dukungan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan negara, bangsa dan rakyat Palestina. Akan tetapi Isreal justru mengkhianati resolusi DK PBB tersebut.
- Mendukung sepenuhnya kemerdekaan nagara, bangsa dan rakyat Palestina terbebas dari pendudukan, invasi dan campur tangan dari negara manapun.
- Invasi, aneksasi dan semua tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah Israel terhadap rakyat Palestina adalah bentuk penjajahan yang sangat nyata. Hal ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, HAM dan kemerdekaan serta kedaulatan.
- Mengutuk keras aneksasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah Israel terhadap wilayah Tepi Barat Palestina. Aneksasi ini merupakan kejahatan yang sangat nyata dan sistemik yang dilakukan negara yang jusru akan memicu konflik berkepanjangan dan ketidak amanan global.
- Menghargai dan mendukung penuh pemerintah Indonesia yang sudah dan secara konsisten selalu memberikan dukungan terhadap perjuangan negara,
- bangsa dan rakyat Palestina dalam bingkai two-state solution.
- Mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengeluarkan Israel dari keanggautaan PBB karena selalu menginjak-injak martabat dan kedaulatan negara, bangsa dan rakyat Palestina dan mengkhianati berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB.
- Mendukung sepenuhnya seluruh elemen bangsa Indonesia, organisasi civil society, masyarakat internasional, negara-negara anggauta PBB dan OKI yang secara konsisten membela negara, bangsa dan rakyat Palestina dan menciptakan perdamaian dunia.
- Mendorong dengan sungguh sungguh kepada senua elemen dan kekuatan masyarakat di Palestina dan negara negara Timur Tengah lainnya ubtuk memperkuat persatuan dan menghentikan konflik internal dalam rangka mewujudkan kenerdekaan Palestina dan perdamaian di Timur Tengah.
SEJENAK BERSAMA SANG MUFTI, SYEIKH HASANAIN MAKHLUF
Setelah meninggalnya Hasan Al-Banna, Al-Qadhi Al-Ustad Hasan Al-Hudhaiby kemudian dipilih menjadi Mursyid 'Am. Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Qadhi untuk fokus memimpin jama'ah. Juli 1952, para perwira militer (dan Ikhwan dibelakangnya) melakukan revolusi juli menggulingkan kekuasaan Raja Faruq. Setelahnya Rais Muhammad Naguib dipilih menjadi Perdana Menteri Mesir sebelum akhirnya tahun 1954 Gamal Abdul Nasir berbalik memenjarakan Muhammad Naguib dan memberangus Ikhwan.
***
Konflik Ikhwan dan Abdun Nasir menyebabkan ribuan anggota Ikhwan kembali menuju jerusi besi, tak terkecuali Hasan Al-Hudhaibi. Sebagian lain lari keluar negeri atau bersembunyi. Diantara mereka yang bersembunyi dari kejaran Abdun Nasir adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb, mahasiswa fakultas syari'ah Al-Azhar Syarif, sukarelawan mujahidin Ikhwan dalam perang Suez melawan Inggris dan perang Arab-Israel tahun 1948. Muhammad As-Shawabi juga memberikan pelatihan militer untuk mahasiswa Al-Azhar di Camp Univ Al-Azhar.
Muhammad As-Shawabi tetap dalam persembunyiannya sampai September 1954 hingga pada suatu hari jam tiga siang ia mengetuk pintu Al-'Allamah Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Ad-Diyar Al-Mishriyah) yang terletak di Jln. Naguib Pasya Kubri Qubba Cairo.
Ketika pembantu rumah membukakan pintu, ia kembali masuk dan memberitahukan kepada Syeikh bahwa ada seorang pemuda dengan jenggot tebal dan pakaian lusuh ingin bertemu dengan Syeikh. Syeikh Hasanain bercerita: Aku heran dengan pemuda tersebut. Dugaanku, ia adalah pengelana. Ia kemudian masuk rumah dan aku pada awalnya tidak menemuinya. Akan tetapi pembantu menyiapkan makanan dan aku melihatnya makan dengan lahap seakan-akan dia belum makan sejak lama. Selesai makan, kupikir ia akan pergi namun ia tetap bersikeras ingin menemuiku. Akupun menemuinya dan menduga ia akan meminta sedekah. Lusuh pakainnya menjelaskan seberapa lelahnya ia. Kemudian ia memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb mahasiswa fakultas syari'ah Universitas Al-Azhar. Badanku kemudian bergetar dan berkeringat ketika dia berkata bahwa ia adalah sukarelawan mujahidin Ikhwanul muslimin dalam perang Palestina dan Perang Terusan Suez.
Tahun itu, Ikhwan sedang dalam puncak cobaannya. Hingga kalimat 'Ikhwan' identik dengan penangkapan, penjara, penyiksaan dan persidangan.
Pemuda itu menatapku dengan tenang. Lalu ia berkata dengan suara yang rendah tapi jelas: Saya sedang berada dalam musibah dan membutuhkan anda. Saya masuk dalam daftar orang yang dicari untuk ditangkap. Saya telah lebih sebulan bersembunyi di pekuburan-pekuburan disiang hari dan keluar malam hari mengais sisa-sisa makanan. Saya benci hidup ditengah-tengah orang mati dan sekarang ingin hidup bersama orang-orang hidup. Apakah anda akan menerimaku?
Aku sepenuhnya bingung dan baru 'siuman' setelah dia mendesakku: Bagaimana pendapat anda wahai Syeikh?
Aku kemudian meminta izin sebentar dan menemui anak-anakku; Dr. Ali dan putriku Zainab dalam kebingunganku. Anak-anakku kemudian melihat kebingunganku dan bertanya: Kenapa Ayah? Ada apa?
Aku memberitahukan mereka kisahnya. Lalu aku bergumam sendiri: pemuda ini benar, pemuda ini jujur, dia jujur.
Aku berkata pada anak-anakku: Aku yakin bahwa pemuda itu bukan polisi dan Intel yang datang untuk menguji kita. Aku yakin dia jujur dan apa yang dia ceritakan adalah benar.
Aku kemudian berkata: Sesungguhnya aku tidak mampu menolak permintaan seseorang dalam cobaan seperti ini. Aku yakin dia dizalimi. Aku telah memutuskan untuk menerimanya. Namun, yang aku takutkan adalah apa yang nanti akan dilakukan intelijen negara jika suatu hari mereka mampu menyingkap bahwa dia disini. Pada waktu itu, ada undang-undang yang menegaskan bahwa siapapun yang melindungi setiap anggota Ikhwan akan disanksi dengan hukuman penjara dan kerja paksa selama 15 tahun.
Lalu putraku Ali berkata setelah lama diam: Ayah, lakukanlah apa yang menurutmu sesuai dengan sisi keislaman. Insya Allah Allah akan menjadi penolong kita.
Akupun keluar keruang tamu bersama anakku Ali dan memperkenalkannya dengan Muhammad As-Shawabi. Kami katakan bahwa kami memutuskan untuk menerimanya dan hal itu adalah sebuah kemuliaan bagi kami. Aku melihat raut wajah teduh dan tenang dimukanya. Sampai saat ini, aku masih melihat cahaya senyuman itu.
Dr. Ali Hasanain dokter penyakit perempuan dan melahirkan kemudian menjelaskan bahwa Muhammad As-Shawabi harus menjadi pribadi lain dan menguburkan Muhammad As-Shawabi lama. Dikarenakan wilayah tempat tinggal mereka salah wilayah tempat tinggal banyak perwira polisi. Solusi satu-satunya adalah dengan 'melahirkan' individu baru yang 100% berbeda dengan As-Shawabi. Karena melarikan diri adalah usaha yang terbukti gagal dekat atau lambat.
Kemudian kami sepakat untuk menjadikannya sekretaris Mufti dan kebetulan waktu itu Syeikh Hasanain membutuhkan seorang sekretaris dikarenakan banyaknya pertanyaan yang datang meminta fatwa disamping kesibukannya menulis kitab. Kemudian kami mencari nama yang cocok untuknya. Syeikh Hasanain berkata: Engkau jujur dalam setiap tingkah laku dan kata-katamu. Maka mulai hari ini namamu adalah Shodiq (jujur) Afandi. Kamipun tertawa bersama.
Besoknya, Muhammad As-Shawabi tampil necis dengan jenggot tercukur, kulitnya yang putih bersih, mata lebar, tinggi sedang dan kurus.
Syeikh Hasanain Makhluf berkata: Taktik penyamaran untuk menyembunyikan Muhammad As-Shawabi sukses sempurna. Kami memberitahukan kepada penghuni rumah bahwa ada sekretaris baru telah datang. Namanya Shadiq Afandi. Tak ada yang mengetahui rahasia itu kecuali 4 orang. Aku(Syeikh Hasanain), Ali, Zainab dan istri putraku Su'ad Al-Hudhaibi (Puteri Hasan Al-Hudhaiby Mursyid kedua Ikhwan) yang tanpa ragu-ragu menerima As-Shawabi betapapun Ayah dan saudara-saudaranya semuanya dalam penjara.
Syeikh Hasanain Makhluf melanjutkan: Muhammad As-Shawabi atau Shadiq Afandi kemudian benar-benar menjadi sekretaris yang luar biasa. Dia banyak membantu pekerjaanku terutama dalam mentahqiq kitab-kitab turats. Dia membersamaiku kemanapun aku pergi. Aku sudah menganggapnya sekretaris pribadiku.
Selama 8 bulan, Shadiq Afandi hidup bersama keluarga Syeikh Hasanain Makhluf seperti halnya salah satu anggota keluarganya. Ia makan dan hidup bersama mereka. Dimana Syeikh Hasanain sebagai Mufti Mesir waktu itu sering meminta bantuan Shadiq Afandi untuk menjawab fatwa-fatwa yang dilayangkan padanya. Shadiq Afandi tinggal di sebuah bangunan terpisah di taman dimana terdapat salon, perpustakaan besar, kamar tidur dan kamar mandi khusus yang memang sengaja disediakan untuknya.
Syeikh Hasanain Makhluf bercerita: Pada suatu hari ditahun 1955 seingatku. Shadiq Afandi mendatangiku dan menyatakan keinginannya untuk safar ke Arab Saudi dan bekerja disana. Aku berusaha mencegahnya. Akan tetapi ia tetap ngotot dan memberitaku bahwa ia punya kenalan yang telah menyiapkan perjalanan laut dari Suez ke Jeddah.
Hatiku menjadi tak tenang, aku meminta anakku Dr. Ali untuk mencegahnya agar tidak pergi namun tanpa hasil. Muhammad As-Shawabi mengatakan bahwa ia ingin menjadikan Saudi sebagai tempat pengasingannya dan terbebas dari kecemasan sebagai seorang pelarian yang dicari polisi. Kamipun terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepadanya setelah ia berjanji akan mengirimkan telegram begitu ia sampai di Saudi. Akupun mengirimkan telegram kepada Muhammad Surur As-Shabban penasehat Raja Sa'ud bin Abdul Aziz untuk menyediakan baginya pekerjaan begitu ia sampai Saudi. Lebih dari sebulan berlalu dan tak satu telegrampun sampai darinya kepadaku.
Semua anggota keluarga gelisah. Sebagai orang yang paling tenang, akupun berusaha untuk menenangkan mereka namun nihil. Ketenangankupun sirna ketika istri anakku Dr. Su'ad Al-Hudhaibi menceritakan bahwa ia mendengar dari radio London berita tertangkapnya dua orang buronan Ikhwan dalam kapal Suez yang menuju Jeddah. Radio itu tidak menyebutkan nama keduanya. Akan tetapi kami merasa bahwa Muhammad As-Shawabi adalah salah satunya.
**
Wahbi Al-Fisyawi yang bekerja di percetakan Mesir menceritakan: Muhammad As-Shawabi dipenjara bersama kami dalam penjara no 4 penjara perang/militer. Kami mengetahui bahwa ia ditangkap dengan perantaraan seorang Iraq yang menjadi Zabaniah tukang siksa penjara militer. Para sipir penjara menyiksanya dengan sadis dan meletakkannya dalam penjara yang dikhususkan untuk menyiksa dengan siksaan-siksaan paling sadis dan kejam. Mereka tidak memberikannya kesempatan untuk memejamkan matanya.
**
Dr. Su'ad Al-Hudhaibi, Puteri Mursyid Am Ikhwan Al-Ustad Hasan Al-Hudhaibi menceritakan: suatu hari, aku pergi ke penjara untuk menyerahkan beberapa kebutuhan kepada ayahku. Saat sedang keluar dari kantor kepala penjara Hamzah Al-Basyuni aku melihat Muhammad As-Shawabi sedang diphoto untuk pembuatan kartu tahanan. Aku hampir menjerit dan kemudian bergegas pulang dan menyampaikan kepada suamiku apa yang kulihat. Suamiku terperanjat dan bergegas menyiapkan kopernya untuk persiapan menuju penjara. Kami yakin kapan saja polisi dan Intel akan menjemput dan menangkap kami.
**
Syeikh Hasanain berkata: Aku samasekali tak pernah menyangka bahwa As-Syahid Muhammad As-Shawabi akan mampu menahan penyiksaan yang tak terbayangkan itu demiku. Aku tak menduga bahwa ia mampu mengorbankan hidupnya demiku. Sungguh ini adalah tarbiyah Islam yang benar.
**
Wahbi Al-Fisyawi berkata: Sebagian Ikhwah di penjara yang bertugas membagikan makan kepada kami mengabarkan bahwa luka yang diderita Muhammad As-Shawabi terlalu parah. Kondisinya amat buruk hingga serangga (ulat) terlihat berjalan-jalan diantara lukanya. Ia menolak makan karena air minum tidak diberikan kepadanya. Selang beberapa waktu, semua lampu penjara dimatikan dan dari celah jeruji besi aku mengintip para sipir penjara memikul bungkusan selimut dan memasukkannya dalam sebuah mobil Jeep. Aku merasa bahwa itu adalah Muhammad As-Shawabi dan aku berkata dalam diriku: istirahatlah dengan tenang menuju surga insya Allah.
**
![]() |
| Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf ketika menerima King Faishal Award tahun 1983. |
Footnote:
SAUDI VS IKHWAN ? ; SIKAP DUALISME SAUDI DALAM JIHAD AFGHAN
1980, paska tentara merah Uni Soviet menyerang Afghanistan, Raja Khalid Bin Abdul Aziz mengeluarkan 'titah kerajaan' kepada Salman Bin Abdul Aziz (yang saat itu menjabat sebagai gubernur Riyadh) untuk membentuk dan mengetuai Komite Pengumpulan Donasi bagi mujahidin Afghanistan. Beberapa waktu kemudian, Presiden of Youth Welfare Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan. Sementara itu, maskapai Saudi Airline memberikan diskon tiket pesawat sampai 70% untuk para 'relawan Saudi' yang ingin berangkat ke Afghanistan baik untuk sekedar memberikan bantuan ataupun terjun langsung dalam medan perang. Saat itu, ajakan berdonasi bagi jihad di Afghanistan memenuhi koran-koran Saudi. Sebagaimana para da'i-da'i Shahwah (kebangkitan Islam) Saudi dan gerakan Islam gencar memotivasi dan memobilisasi para pemuda dari mesjid-mesjid untuk ikut andil dalam jihad dengan restu dari para ulama KSA dan tentu saja juga restu dari USA. Saat itu, kata JIHAD identik dengan KEMULIAAN dan KEBEBASAN, sebab musuh yang diperangi oleh AS dan SAUDI adalah Komunisme.
20 atau 30 tahun kemudian, kata jihad mulai identik dengan terorisme. Jika dulunya jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan adalah fardhu ain, maka perlawanan terhadap Amerika yang kemudian juga menyerang Afghanistan dan Irak dianggap sebagai 'fitnah' yang harus dijauhi. Saudi melarang dan mengancam akan mempidanakan setiap warganya yang keluar 'berjihad' baik ke Afghanistan, Irak ataupun Suriah.
**
![]() |
| Presiden of Youth Welfare Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan. |
Selain dukungan resmi dari KSA dan USA, jihad kontra Uni Soviet di Afghanistan tak bisa dipisahkan dari Ikhwan dan gerakan Shahwah. Hubungan IM dan Mujahidin Afghanistan terbentuk melalui para da'i Afghanistan yang belajar di Al-Alzhar seperti Syeikh Abdu Rabb Rasul Sayyaf dan lain-lain. Nama-nama seperti Abdul Mun'im Abul futuh, Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, Dr. Ahmad Al-Malath, Hamid Abu Nashr hingga Syeikh Muhammad As-Shawwaf dan lain-lain adalah tokoh-tokoh penting Ikhwan yang ikut memberikan andil dalam jihad di Afghanistan baik dalam menyalurkan bantuan, mendamaikan para mujahidin hingga turut berkecimpung dalam perang. Umar At-Tilmisani, Mursyid IM ketiga sering berkordinasi dengan para utusan Mujahidin Afghanistan di Kairo. Beliau mengutus Ustad Kamaluddin As-Sananiri (suami Aminah Qutb) pada tahun 1980 ke Pakistan untuk meninjau jihad dan kebutuhan para mujahidin. Dalam perjalanan pulang dari Pakistan ke Mesir, As-Sananiri singgah berhaji di Arab Saudi dan bertemu dengan Syeikh Abdullah Azzam dan berkomitmen untuk memobilisasi para pemuda untuk berjihad. Namun, begitu sampai ke Mesir, As-Sananiri langsung dipenjara dan meninggal akibat penyiksaan yang dialaminya.
**
![]() |
| Umar At-Tilmisani, Mursyid IM ketiga berkordinasi dengan para utusan Mujahidin Afghanistan di Kairo |
Lulus dari Universitas Damaskus tahun 1966, Syeikh Abdullah Azzam melanjutkan studinya di Al-Azhar As-Syarif baik magister maupun doktoral. Beliau lulus dan mendapatkan Ph.D dalam bidang Ushul Fiqih tahun 1973. Latar belakang dan kapasitas keilmuan yang mumpuni menjadikan Syeikh Abdullah Azzam ikon jihad yang faqih dan ushuliy dimana sikap-sikap dan fatwanya selalu didasarkan pada pertimbangan maslahat dan mafshadat. Sepanjang jalan jihadnya, beliau tak pernah bosan menyatukan para mujahidin dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda serta sangat berhati-hati dalam masalah takfir terutama pengkafiran terhadap penguasa. Berbeda halnya dengan Osama Bin Laden yang tidak punya basic keilmuan yang kuat, diperparah dengan masuknya para jihadis takfiri dari Mesir, Saudi dan lain-lain yang menyebabkan sebagian mujahidin Afghan Arab paska meninggalnya Syeikh Abdullah Azzam kemudian lebih identik dengan radikal dan teroris.
**
Bersamaan dengan meletusnya perang Afghanistan, gerakan Shahwah Islamiyyah yang dipelopori oleh para da'i-da'i muda revolusioner Saudi seperti Salman Al-Audah dan Safar Al-Hawali booming pada tahun 1980an dan didukung oleh penguasa, terutama oleh Raja Fahd yang menganggap bahwa gerakan Shahwah adalah gerakan pencerahan yang diberkati (video pujian Raja Fahd terhadap Shahwah Islamiyyah bertebaran di YouTube). Bahkan Syeikh Utsaimin mengarang kitab 'As-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith Wa Taujihat' untuk menuntun para pemuda yang bersemangat menyongsong kebangkitan Islam Saudi. Oleh sebagian pengamat, dukungan penguasa KSA untuk gerakan Shahwah yang revolusioner dianggap hanya sebagai gerakan tandingan dan wadah untuk 'memuaskan dahaga' para pemuda agamis Saudi yang terpengaruh dengan revolusi Iran yang Syi'ah. Jadi KSA melihat perlunya mendukungnya kebangkitan Islam yang juga memiliki ruh revolusioner dari kalangan Sunni sekalian mengarahkan mereka untuk terjun dalam medan jihad di Afghanistan. Dan sebagaimana telah kita ketahui, kemesraan itu hanya berlangsung sesaat, sebab gerakan Shahwah kemudian menjadi pengkritik kebijakan KSA yang meminta bantuan Kuffar Amerika untuk menghalau Saddam Husein yang menyerang Kuwait dan mengancam Saudi. As-Shahwah sebagai gerakan pencerahan yang terberkatipun kini dianggap sebagai 'ideologi impor yang radikal' oleh Alu Su'ud.
Para mujahidin Afghan Arab, Ikhwanul Muslimin dan gerakan Shahwah Islamiyyah adalah contoh paling mencolok dari gerakan keagamaan yang disupport sedemikian rupa oleh KSA dengan dana minyaknya yang melimpah namun kemudian divonis sebagai teroris radikal ketika tak lagi dibutuhkan dan sesuai dengan keinginan KSA. Hal yang sama terjadi untuk Saddam Husein 'Asadussunnah', sang singa ahlussunah (gelar untuk Saddam yang disupport Saudi saat menyerang Iran) yang kemudian divonis kafir oleh Grand Mufti Saudi sendiri. Pameran jihadpun digelar di Universitas Al-Imam Muhammad Bin Su'ud Riyadh tahun 1991 (4-6 Sya'ban 1411 Hijriyah) dibawah pengawasan rektor Jami'ah Al-Imam Dr. Abdul Muhsin At-Turky. Pameran jihad kali ini bukan lagi kontra Soviet, tapi kontra Pemerintahan Pemberontak Saddam Husein yang wajib dilawan. Fatwapun dikeluarkan dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an bahwa siapa saja yang mati saat berperang melawan Irak maka ia mati syahid.(3)
**
Saat masih menjadi Menteri luar negeri era Obama, Hillary Clinton mengakui bahwa para Mujahidin Afghanistan yang saat itu mereka perangi sejatinya dibesarkan oleh AS dan Saudi sendiri. Benar memang, paska syahidnya Syeikh Abdullah Azzam sebagian mujahidin Arab berubah menjadi radikal dan teroris dikarenakan dangkal dan kakunya pemahaman keislaman mereka sendiri. Akan tetapi, 'terorisme negara' yang menolak kepulangannya mereka dan seenaknya 'memperkosa' teks-teks agama demi kelanggengan kekuasaannya adalah juga salah satu sebab penting merebaknya radikalisme. Syeikh Salman Al-Audah mungkin adalah salah satu contoh ulama moderat yang menyeru kepada reformasi namun tetap dianggap berbahaya oleh Saudi. Padahal, ketimbang pengaruh Syeikh Muhammad Surur dan Islam Saudi yang konservatif, Syeikh Salman Al-Audah dikemudian hari lebih mewarisi kemoderatan pemikiran Syeikh Abu Ghuddah dan Syeikh Al-Qaradhawi.
Dalam wawancara dengan Jeffrey Goldberg; jurnalis dan pemimpin redaksi majalah The Atlantic Amerika, MbS mengakui Saudi adalah donatur penting terhadap IM. Ia juga mengatakan bisa jadi suatu hari nanti, Saudi akan kembali berkoalisi dan meminta bantuan IM jika dibutuhkan. Apakah nantinya label teroris yang dicap di muka IM akan diganti dengan gelar 'Gerakan Pencerahan'? Bagaimana nantinya tanggapan para pemuka agama KSA yang hari ini memvonis IM khawarij? Apakah gelar Khawarij akan diganti dengan 'Ikhwan mujahidin mukhlisin' sebagaimana dulu Raja Faishal pernah menggelarinya? Sampai kapan Alu Su'ud akan terus 'mempolitisasi agama' lalu mencampakkannya ketika tak lagi dibutuhkan?
Wallahu A'lam.
**
Footnote:
ANTARA SAUDI, IM IKHWAN & SALAFI WAHABI

























