This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

ANTARA SAUDI, IM IKHWAN & SALAFI WAHABI

Dipenghujung tahun 80an, akhir-akhir jihad Afghan kontra Soviet, mulai timbul suara-suara miring terhadap jihad Afghanistan dan para mujahidin. Mereka menakut-nakuti para pemuda yang ingin berjihad dengan kondisi Afghanistan yang super panas, dingin dan salju serta akan berhadapan dengan salah satu tentara terkuat dimuka bumi; tentara merah Uni Soviet. Sebagian mereka berangkat sampai ke Peshawar Pakistan dan sekembalinya ke Saudi mereka gencar memprovokasi publik agar tidak berdonasi untuk jihad Afghan dengan alasan bahwa para mujahidin Afghan adalah ahli bid'ah, quburiyyin (penyembah kubur) dan musyrikin. Menurut mereka, berjihad ke Afghanistan sama saja dengan bergabung dengan musyrikin Afghan kontra mulhidin (atheis) Rusia.

Syeikh Abdullah Azzam (dalam pidatonya yang dibukukan dengan judul 'Fi Zilal Surah At-Taubah' dan diterbitkan oleh Markaz As-Syahid Azzam Al-Islami) menganggap mereka sebagai kaum munafik yang justru menjadi batu sandungan bagi para mujahidin. Saat itu, Syeikh Abdullah Azzam mungkin tidak tau bahwa kelompok tersebut adalah 'anak' dari intelijen Saudi dan lahir dari rahim menteri dalam negeri Saudi sendiri sebagaimana Ahmadiyah Qadiyaniyah yang menegasikan jihad lahir dari rahim Britania Raya. 

~~

Sejak awal berdirinya, masyarakat Saudi terbagi dalam beberapa kecenderungan keislaman yang berbeda-beda. Kecenderungan Asy'ari Shufi yang makin lama makin tergerus, lalu Salafiyah konservatif yang diwakili oleh para ulama resmi KSA serta Hai'ah Kibar Ulama dan dekat dengan penguasa, serta Salafiyah Ultra Konservatif  yang cenderung revolusioner dan radikal yang tercermin dari Ikhwan Wahabiyah (Man Atha'a Allah), kelompok Juhaiman cs dan Salafiyah Muhtasibahnya yang kemudian bermetamorfosis menjadi Salafi Jihadi. Lalu Ikhwanul Muslimin masuk dan berkembang pesat era 60-an 70an pada masa Raja Faishal, kemudian gerakan shohwah Islamiyyah (dengan pengaruh dan warna IM) disupport KSA di era 80an untuk memobilisasi jihad Afghan dan membendung pemahaman liberal hingga meletuslah perang teluk II tahun 1990. Saat itu Syeikh Bin Baz mengeluarkan fatwa kafirnya Saddam Husein (walaupun ia sholat dan mengucap syahadat) dan bolehnya meminta bantuan kafir Amerika untuk melawan kezaliman Saddam dimana kemudian memaksa Saudi untuk menampung ribuan tentara AS di Saudi yang secara tekstual bertentangan dengan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Keluarkanlah kaum musyrikin dari jazirah Arab."

Fatwa ini dikritik oleh para ulama  Shahwah seperti Dr. Salman Al-Audah dan Dr.Safar Al-Hawali. Al-Hawali menulis kitab 'Kasyf Al-Ghummah 'An Ulama Al-Ummah' untuk mengkritik Bin Baz dan Hai'ah Kibar Ulama. Sementara sebagian da'i Salafiyah di Universitas Islam Madinah seperti Muhamamad Aman Jami dan Rabi Bin Hadi Al-Madkhali membela fatwa Hai'ah kibar ulama dan KSA. Al-Madkhali mengarang kitab 'Shadd 'Udwan Al-Mulhidin Wa Hukmu Al-Isti'anah Ala Qitalihim Bi Ghairi Al-muslimin'. Madkhaliyah (sebutan utk sekte ini) kemudiannya bertindak lebih jauh dalam ketaatannya yang mutlak terhadap Alu Su'ud serta menuduh kelompok yang berbeda dengan mereka sebagai Khawarij, Hizbiyin, Quburiyyin, Mubtadi' dan gelar-gelar buruk lainnya. Alu Su'ud yang butuh pada satu kelompok salafiyah yang bisa membantu mendukung sikap-sikap politiknyapun dengan senang hati mensupport Jaamiyah Madkhaliyah sejak tahun 90an. 

Combating Terrorism Center; lembaga akademik Akademi Militer AS di West Point, New York (mengutip lembaga think tank; ICG) melaporkan bagaimana Madkhalis didukung KSA dan menjadi mata-mata setiap jihadis yang pulang ke Saudi dari Afghanistan. "...Madkhali is not well-known in the West and he is no longer a person of much influence in Saudi Arabia. But in the 90s, he was incredibly influential in Saudi Arabia (and he still has a large following among Muslims in Europe). Much of this influence derived from the support he received from the Saudi government. During and after the first Gulf War, the Saudi government faced intense criticism from the leaders of the Sahwa
movement (a politically active strain of Wahhabism) for allowing US troops to be stationed in Saudi Arabia. These leaders had a large following, particularly among the youth. To blunt their appeal, the Saudi government arrested the movement's leaders and strongly backed Madkhali, who supported the regime, was politically quietist, and, most importantly, was effective at siphoning off potential Sahwa recruits, particularly among the youth..."

~~

Diantara sikap ekstrim Madkhalis terhadap Ikhwan, gerakan Shahwah dan tokoh-tokohnya adalah seperti yang Rabi' Al-Madkhali tulis dalam kitabnya 'Adhwa' Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Qutb Wa Fikrih' dimana Al-Madkhali menuduh Sayyid Quthb dengan kekufuran, atheisme dan zindiq; Sayyid Qutub mengatakan adanya wihdatul wujud; mengatakan Al Qur’an makhluk ; selain Allah boleh membuat syariat; berlebihan dalam mengagungkan sifat Allah; menolak hadits-hadits mutawatir; meragukan masalah-masalah aqidah yang jelas wajib diyakini dan lain-lain. Kitab ini kemudian diminta untuk dikoreksi oleh Syeikh Bakr Zaid dimana Syeikh Bakr Zaid karena keinshofannya membantah tuduhan-tuduhan Al-Madkhali dan melarang mencetak kitab tersebut. 

Di Yaman, salah satu tokoh sekte ini Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i menulis buku berjudul 'Iskat Al-Kalb Al-'Awi Yusuf Ibn Abdullah Al-qaradawi'/Mendiamkan Anjing Yang Menggonggong Yusuf Bin Abdullah Al-Qaradhawi untuk membantah pemikiran Syeikh Al-Qaradhawi. Karenanya, tidak mengherankan jika banyak pengikut salafi Yaman yang belajar di Dammaj sangat tajam lidahnya terhadap sebagian ulama yang berbeda dengan mereka. 

Syeikh Albani termasuk yang mengkritik sikap ekstrim Al-Madkhali dalam tuduhannya terhadap Sayyid Qutb terkait ungkapan jahiliyah yang menurut Al-Madkhali adalah pengkafiran terhadap umat Islam. Bahkan menurut Syeikh Albani, hampir di semua kitab Al-Madkhali terdapat sikap ekstrim. (Lihat tulisan Ustad Firanda Andirja dalam webnya dengan judul: Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr). 

Sikap ekstrim Madkhalis dalam membid'ahkan dan mentahzir kelompok lain atas nama ilmu jarh wa ta'dil tidak hanya dibantah oleh kelompok non salafi, Syeikh Salih Fauzan sendiri (anggota Hai'ah Kibar Ulama Saudi) membantah sikap ekstrim Madkhalis dalam mentabdi' dan mentahzir dan menganggapnya sebagai ghibah. Sebab ulama jarh wa ta'dil sudah meninggal. 

Jika Madkhalis mentahzir dan melarang kitab-kitab karangan tokoh Shahwah seperti Salman Al-Audah, Syeikh Bin Baz justru merekomendasikan dan memberikan kata pengantar terhadap kitab-kitab Al-Audah dan menyebutnya sebagai Al-Akh Al-Allamah (lihat tetralogi membumikan Islam 'Silsilah Rasail Al-Ghuraba'/Al-Uzlah Wa Al-Khulthah Ahkam wa Ahwal' yang dicetak tahun 1993. 

Sikap ekstrim; loyalitas mutlak Madkhaliyah terhadap penguasa dan permusuhan mereka terhadap para ulama dan umat Islam yang berseberangan dengan mereka membuat musuh-musuh mereka menggelari sekte ini sebagai 'Murjiah Ma'al Hukkam wa Khawarij Ma'a Ad-Duah Wa Aamatul Muslimin/Bersikap layaknya Sekte Murjiah ketika berhadapan dengan penguasa dan menjadi khawarij ketika berhadapan dengan para da'i dan umat Islam. 

~~

Bisa jadi, banyak orang yang menduga bahwa sangat tidak mungkin bagi sekte Madkhalis untuk melakukan kekerasan bersenjata dan melakukan penculikan serta pembunuhan terencana mengingat sekte ini adalah yang paling gencar meng'khawarij'kan perilaku seperti itu. Namun, apa yang mereka lakukan berupa pemberontakan terhadap pemerintah sah Libiya (GNA) serta penculikan dan pembunuhan terhadap Sekjen Hai'ah Ulama Libiya Syeikh Dr. Nadir Al-Umrani membuktikan kepada kita betapa sekte ini begitu mudah untuk dicuci otaknya sesuai dengan keinginan para tuannya. Belum lagi dengan penculikan dan pembunuhan da'i dan ulama di Aden Yaman yang diduga melibatkan tokoh Madkhalis Yaman Hani' Bin Brik. 

Dalam wawancara dengan New York Time Maret 2010, menteri luar negeri Saudi saat itu; Sa'ud Al-Faishal mengeluarkan statement bahwa masyarakat Saudi sedang menuju kepada masyarakat yang liberal. Sementara itu aktivis liberal Saudi yang juga Sekjen Jaringan Liberal Saudi Su'ad As-Syammari dalam wawancara dengan majalah Deutsche Welle (DW) Jerman yang berbahasa Arab pada Mei 2012 menegaskan bahwa 70% dari masyarakat Saudi adalah liberal. Su'ad juga menyebutkan beberapa nama neo-salalafis Saudi yang berpaham liberal seperti Abdul Muhsin Al-Ubaikan dan Ahmad Al-Ghamidi dan lain-lain. 

Sejatinya, ada dua kelompok besar liberal di Saudi, Kaum liberalis Sosial yang menuntut reformasi dan kebebasan sosial serta pembatasan pengaruh Agamawan terutama di Komite Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Kelompok ini didukung oleh Alu Su'ud baik secara terang-terangan ataupun diam-diam. Sementara itu kaum liberalis politik yang menuntut kebebasan berpendapat dan reformasi politik rata-rata dimusuhi oleh Penguasa KSA karena mereka terkadang juga berkoalisi dengan tokoh-tokoh Shahwah. 

Cukup mengherankan memang bagaimana kaum Liberalis dan Madkhalis bisa berjalan berbarengan di Arab Saudi padahal Madkhalis adalah sekte konservatif dan kaku dalam menyikapi masalah-masalah ikhtilat, dunia hiburan dan lain-lain yang saat ini gencar dipromosikan MbS melalui General Entertainment Authority. Sampai saat ini kita (saya) belum mendengar kecaman dan kritik dari Madkhalis terhadap Alu Su'ud yang mengarahkan kehidupan sosial masyarakat Saudi menjadi liberal dan hedonis. Atau jangan-jangan konflik antara Madkhalis vs Ali Su'ud dan Liberalis adalah seperti api dalam sekam yang suatu saat akan membakar semuanya? Dan pada akhirnya Madkhalis juga akan dicampakkan? 

Wallahu A'lam.

RATU ISABELLA DAN SISI KELAM RECONQUISTA DI ANDALUSIA

Ratu Isabella, Di belakang namanya yang indah, ternyata meninggalkan catatan gelap sejarah gelap kemanusiaan dan  berdarah dalam umat Islam?

Isabella dari Castille, lahir pada 22 April dan meninggal pada 26 November 1504. Dia adalah aktor utama di balik berakhirnya pengaruh politik dan sosial Islam di Spanyol dengan jatuhnya Kota Granada di tangannya.

Dia dan suaminya, Raja Ferdinand II dari Aragon, mengadu keluarga kerajaan Bani Ahmar di Granada sehingga rusaknya persatuan kerajaan dan pada akhir cerita, umat Islam harus meninggalkan tanah Andalusia untuk selamanya.

Para uskup dan imam juga menyebut Isabella sebagai "The Catholik", karena ia terkenal dengan gerakan Reconquistanya untuk memaksa umat Islam untuk murtad atau mengusir mereka dari negeri mereka Andalusia.  Salah satu kejahatannya adalah pembantaian 140 ribu Muslim yang sedang digiring dalam perjalanan untuk keluar dari negara Andalusia.

Sejarah membuktikan bahwa Isabella adalah pelaku "Pengadilan Inkuisisi", sebuah agenda penyiksaan terhadap umat Islam yang menolak kemurtadan.  Awalnya Isabella mengizinkan Muslim dan Yahudi untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka.  Tetapi, akhirnya Isabella dan para pemimpin Spanyol mengkhianati perjanjian itu dan mereka mengumumkan dua pilihan untuk pemegang keyakinan Islam dan Yudaisme.  Satu, tetap di Spanyol tetapi harus masuk Kristen, pilihan kedua adalah meninggalkan Spanyol tanpa membawa apa-apa jika tetap berpegang pada keyakinan awal mereka.  Jika menolak akan dihabisi.

Penyiksaan yang terjadi di "Pengadilan Inkuisisi" dapat dilihat sebagai 'inspirasi' untuk film sadis, ketika menyiksa korbannya.  Mulai dari gergaji, pembakaran hidup-hidup, tang, peti berduri dan hal-hal menakutkan lainnya.

Berikut adalah potret ilustrasi kekejaman dari inkuisisi.

AKHIR SENGOKU

@salimafillah

Tiga nama itu takkan pernah hilang dari sejarah Jepang; Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu.
.
Anak-anak Jepang masih menghafal peran mereka di masa penyatuan nan penuh darah di akhir Era Sengoku dalam sebuah haiku, "Nobunaga menumbuk padi, Hideyoshi menanak nasi, dan Ieyasu memakannya tujuh turunan."
.
Tentang watak masing-masingnya, sebuah puisi pendek lain dengan tepat menggambarkannya. "Jika seekor burung tak mau bernyanyi; apa yang harus kita lakukan?"
.
"Bunuh saja!", sahut Nobunaga.
.
"Buat agar ia ingin bernyanyi", kata Hideyoshi.
.
"Tunggu!", seru Ieyasu.
.
Ketika kejayaan para panglima perang agung dari marga Hojo, Odawara, Takeda, dan Uesugi berakhir dengan tampilnya persekutuan 3 orang yang unik lagi saling melengkapi ini, berakhirlah Era Sengoku yang hampir 2 abad mewarnai Jepang dengan Seni Perang yang indah namun penuh darah.
.
Nobunaga yang kharismatik, nekad, haus akan hal baru, namun juga brutal, memulai kampanyenya dengan penghadangan Imagawa Yoshimoto dari Suruga yang hendak menuju Kyoto untuk mengambil alih keshogunan dari marga Ashikaga. Keranjingannya pada teknologi menuntun pada strategi penembak berlapis yang mengakhiri kemasyhuran Takeda Shingen dari Kai.
.
Hideyoshi yang buruk rupa, periang, terkesan pandir, cerdik, setia kawan, dan pandai bergaul melanjutkan kerja besar Nobunaga ketika atasannya itu terbunuh oleh pengkhianatan Akechi Mitsuhide di Kuil Honnoji. Dari donjon-donjon Azuchi yang dibangun Nobunaga di tepi Danau Biwa, dipindahkannya ibukota ke Osaka yang kukuh dan jelita. Masa pemerintahan Sang Taiko akan dikenang sebagai zaman keemasan.
.
Setelah kematiannya, salah satu kepercayaannya mengambil alih semua itu. Ieyasu, si tabah hati, si pengalah, si pendiam, dan si penyabar itu akhirnya merebut semuanya di Sekigahara, ketika dia mengalahkan Aliansi Barat pewaris Hideyoshi yang dipimpin Ishida Mitsunari. Era Sengokupun berakhir.

AYA SOFYA dan HUKUM PERANG

@salimafillah

Apa yang terjadi di masa lalu memang tidak bisa diukur dengan takaran masa kini. Mari cerdik menelisik dan cerdas menyimpulkan.
.
Barangkali ada yang bertanya, mengapa Sayyidina 'Umar enggan shalat di Gereja Makam Suci di Jerusalem meski disilakan Patriark Sophronius dengan alasan beliau khawatir kelak ada yang akan mengubah gereja itu menjadi Masjid dengan alasan 'Umar pernah shalat di situ; sedangkan Al Fatih malah mengubah Aya Sofya menjadi Masjid.
.
Iya. Kalau sebuah kota menyerah damai; maka pemimpin pasukan muslim wajib melindungi dan menjaga hak seluruh kota tersebut, termasuk hak milik dan tempat ibadah. Inilah yang dilakukan oleh Sayyidina 'Umar. 
.
Adapun Al Fatih sudah memberi pilihan damai kepada Kaisar Konstantin XI Palaiologos. Sang Kaisar melawan dan kotanya jatuh oleh pertempuran. Beda dengan penyerahan damai; menurut hukum perang masa itu seluruh milik pihak kalah adalah hak pemenang. Beliau sebagai pemegang hak lalu mewakafkannya dan menuliskan ancaman bagi sesiapa yang mengubahnya.
.
Fakta penting lainnya, ketika Al Fatih mengubah Aya Sofya menjadi Masjid, Gereja Agung itu sebenarnya telah terbengkalai dan ditutup seabad lebih karena tak ada anggaran untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa pada 1344 dan penjarahan Pasukan Salib 1204.
.
Bandingkan Aya Sofya dengan Masjid Agung Toledo.
.
Kota ini jatuh pada Kerajaan Castillia pada 25 Mei 1085 setelah pengepungan 1 tahun membuat kaum muslimin kelaparan. Amirnya, Yahya II Al Qadir, menyerahkan Toledo secara damai pada Alfonso VI setelah Raja Katolik itu berjanji akan menjaga keamanan kaum muslimin dan membiarkan Masjid-masjid tetap jadi tempat ibadah Islam.
.
Alfonso VI mengingkari janjinya. Dia membiarkan Masjid Agung Toledo dirampas oleh ummat Katolik atas perintah Uskup Agung Bernardo dari Sedirac. Masjid itu pun dijadikan Katedral. Masjid Agung Cordoba, Masjid Agung Sevilla, dan begitu banyak Masjid lainnya di Andalusia, Yunani, dan Balkan mengalami nasib serupa di kurun berikutnya.
_____

Hagia Sofia menjadi Masjid kembali, ternyata Impian sejak dahulu Erdogan Sebelum diPenjara


Azan kembali bergema di Hagia Sofia setelah lebih dari 86 tahun dilarang dikumandangkan setelah diubah fungsinya oleh Mustafa Kemal Attaturk menjadi museum. kini masyarakat turki menyambut dengan riang gembira disekeliling Hagia sofia yang kini statusnya kembali diubah menjadi masjid kembali oleh Erdogan.

banyak analis-analis berkomentar mengenai peristiwa ini tapi pendapat yang mayoritas berkesimpulan bahwa erdogan membuat kebijakan yang populer berkenaan pemilu yang akan datang. tapi tahukah anda ternyata erdogan telah lebih dahulu menyatakan impiannya tersebut ke publik semenjak ia menjabat sebagai walikota Istanbul dahulu 1994.


Dalam salah satu wawancara Erdogan dg salah satu majalah media arab ketika dulu masih menjabat sbg walikota Istanbul. Erdogan dengan mantap berkata ketika itu: wajah Islam kan kembali ke Istanbul dan Hagia Sophia akan kembali menjadi masjid.

Erdogan terpilih sebagai walikota Istanbul dalam pemilihan lokal pada tanggal 27 Maret 1994. Ia dipenjara pada tanggal 12 Desember 1997 karena puisinya yang bermasalah. Setelah empat bulan di penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada 14 Agustus 2001. Dari tahun pertama, AKP menjadi gerakan politik yang didukung publik terbesar di Turki. Dalam pemilihan umum 2002, AKP memenangkan dua pertiga kursi di parlemen, membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun.

Tuduhan terhadap Erdogan adalah karena ia membacakan kutipan dari penyair puisi Ziya Gokalp yang disampaikan dengan sangat antusias didepan publik. Bait puisi itu dibacakan dengan keras selama Konferensi Umum Partai Refah di kota Sard, Anotilia tenggara.

Adapun bait-bait puisi dari penyair Ziya Gokalp sebagai berikut:

Masjid adalah barak kami

Kubah adalah penutup kepala kami

Menara adalah bayonet kami

Orang-orang beriman adalah tentara kami

Tentara ini yang menjaga agama kami

Impian erdogan yang akhirnya terwujud 26 tahun kemudian setelah pula mengantar Turki melewati masa-masa kritis ekonomi dan politik serta tekanan sekuler menjadi negara yang maju setara dengan Amerika dan Rusia dalam meja perundingan, bersahabat dengan pergerakan Islam, bahkan mendukung seluruh pergerakan pembebasan dan membantu wilayah islam yang sedang musibah

Hagia Sophia: Dari Gereja, Masjid, Museum, dan (apakah Berhasil) Kembali ke Masjid ?



Jumat (10/7/2020) menjadi hari bersejarah bagi Turki dan dunia. Pengadilan tinggi administrasi negara Turki, yang biasa disebut Dewan Negara, telah mencabut keputusan Ataturk tentang gedung Hagia Sophia.

Pengadilan administrasi utama Turki membatalkan keputusan presiden 1934 untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Pembatalan itu membuka jalan bagi Hagia Sophia untuk kembali menjadi masjid. Meski demikian, keputusan pengadilan ini masih menunggu keputusan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Keputusan ini menindaklanjuti rencana Erdogan untuk mengembalikan fungsi museum sebagai masjid. Menurutnya, bangunan bersejarah sebagai museum adalah langkah yang salah. Rencana itu menuai protes dari banyak pihak, salah satunya adalah Amerika Serikat.

Hagia Sophia sendiri memiliki sejarah yang sangat panjang, Hagia Sophia telah menjadi salah satu tempat paling mulia bagi umat Kristen Ortodok dan Muslim.

Sejarah Hagia Sofia
Hagia Sophia yang dalam bahasa Yunani berarti kebijaksanaan Ilahi, adalah bangunan berbentuk kubah yang terletak di Istanbul. Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 537 M oleh Kaisar Justin I dari Kekaisaran Romawi Timur.

Awalnya, bangunan ini adalah pusat kekristenan Ortodoks dan menjadi gereja terbesar di dunia selama berabad-abad. Hagia Sophia tetap menjadi gereja sampai Konstantinopel diperintah oleh Sultan Mehmet dari Ottoman. Di bawah pemerintahan Sultan Mehmet, Hagia Sophia berubah menjadi masjid.

Kekaisaran Ottoman membangun empat menara. Simbol-simbol Kristen ditutup dan digantikan oleh kaligrafi lafaz Allah dan Muhammad. Setelah Ottoman runtuh, presiden pertama Turki, juga dikenal sebagai bapak modernisasi Turki, Mustafa Kemal Ataturk, mengubah Turki menjadi negara sekuler.

Pada tahun 1934 gedung Hagia Sophia yang dulunya berfungsi sebagai masjid diubah menjadi museum.

Pada 2019, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid. Analis barat percaya bahwa pernyataan Erdogan terkait dengan upaya partainya, AKP, mencari dukungan menjelang pemilihan.

Pada tahun 2020, rencana Erdogan akan terus mengajukan aplikasi ke pengadilan. Akibatnya, Dewan Negara hari ini membatalkan dekrit Ataturk sehingga membuka jalan bagi kembalinya Hagia Sophia ke masjid.

Agen Rahasia Inggris Membongkar Cara Kerja Jaringan Spionase Tiongkok


Kisah sukses jaringan spionase China tidak dapat disangkal ketika mereka berhasil mencuri cetak biru untuk membuat bom nuklir dari Amerika Serikat (AS). China juga berhasil mencuri rahasia jet tempur siluman F-22 Raptor, meskipun masih diperdebatkan, tetapi sebenarnya penampilan jet tempur siluman Cina, J-20 memang seperti jet tempur AS yang paling kuat.

Sekarang kecurigaan besar terhadap spionase yang kuat dari agen-agen Cina disalahkan pada perusahaan raksasa China, Huawei, menyoroti dunia gelap spionase Tiongkok, perekrutan agen dan program ambisius untuk menyebarkan pengaruhnya di seluruh dunia.

Selain Amerika, Inggris juga dibuat marah karena menjadi sasaran agen rahasia Tiongkok. Mengutip BBC, baru-baru ini, sebuah dokumen dilaporkan dikompilasi dengan bantuan mantan mata-mata agen rahasia Inggris, MI6, menuduh China berusaha memanipulasi sejumlah tokoh penting Inggris, termasuk politisi, untuk mendukung bisnis raksasa telekomunikasi di Inggris.

Dikatakan bahwa setiap perusahaan besar Cina di mana pun beroperasi di dunia dicurigai menempatkan "sel" di dalamnya, yang bertanggung jawab kepada Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa, untuk memudahkan agenda politik dan memastikan bahwa perusahaan mematuhi perintah politik.

Bagaimana Jaringan Spionase Tiongkok Bekerja
Itulah sebabnya para ahli Cina menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok memang beroperasi di Inggris, seringkali dengan kedok bisnis. "Mesin partai ada di mana-mana," jelas seorang pakar urusan Cina, menambahkan, "Untuk China, bisnis tidak dapat dipisahkan dari politik."

Partai Komunis Tiongkok memiliki 93 juta anggota, banyak dari mereka ditempatkan atau disembunyikan di berbagai organisasi di luar negeri. Dengan begitu mereka dapat ditugaskan untuk mengumpulkan informasi rahasia, terutama di bidang teknologi, termasuk telekomunikasi.

Menurut para ahli "agen" serta individu yang ditargetkan yang memegang posisi penting di perusahaan asing, dapat direkrut atau dibujuk dengan menggunakan sejumlah metode.

Atur jebakan
Pendekatan pertama biasanya dikenal sebagai "insentif positif", terutama jika orang yang menjadi sasaran bukan warga negara Cina.

Di Barat, insentif ini dapat menggoda undangan untuk menghadiri pertemuan bisnis di Cina, tawaran bantuan keuangan kepada perusahaan yang mengalami kesulitan, atau penawaran (kadang-kadang tidak memiliki arti) untuk mengambil posisi direktur non-eksekutif atau dalam beberapa kasus menawarkan uang dapat mengubah standar hidup.

Selama 10 hingga 15 tahun terakhir, semakin ada kesiapan untuk memburu orang asing yang memegang posisi strategis dengan memberikan insentif positif.

Tetapi di wilayah China, metode perekrutan dilakukan dengan cara yang lebih menyeramkan, menurut orang yang mengetahui informasi tentang itu.

Metode yang digunakan termasuk menekan anggota keluarga mereka - pada dasarnya memeras - untuk menjebak pengusaha dari Barat yang ceroboh.

Ini biasanya mencakup "peluang" untuk bertemu dengan wanita yang menarik yang kemudian diam-diam direkam dan berfungsi sebagai "kompromi" - bahan yang merugikan untuk digunakan sebagai pengungkit.

"China sangat pandai memasang perangkap di wilayahnya sendiri," kata seorang pengusaha Inggris yang pernah bekerja di China.

Perangkap biasanya dioperasikan oleh Kementerian Keamanan Negara. Alih-alih mengendalikannya secara terpusat, operasi ini cenderung dilakukan oleh Dinas Keamanan Nasional tingkat provinsi, yang mengawasi berbagai wilayah di dunia.

Sebagai contoh, biro Shanghai mencakup wilayah Amerika Serikat, Beijing bertanggung jawab atas Rusia dan negara-negara bekas Soviet, Tianjin termasuk Jepang dan Korea, dan sebagainya.

"Negara Tiongkok menggunakan semua aspek tuas pemerintah untuk mengumpulkan informasi," kata seorang yang mengetahui operasi itu.

"Ini bervariasi dari spionase dengan target spesifik dan spionase cyber berskala besar, pencurian hingga kooptasi para ahli di dunia industri, baik tanpa atau dengan pengetahuan mereka."

"Bersama dengan Rusia," tambahnya, "Tiongkok menjadi ancaman mata-mata terbesar bagi Inggris."

Rieke Diah Pitaloka, Aktor Memimpin Pleno RUU-HIP sebelum PDI-P Copot dari Pimpinan Badan Legislasi

Fraksi PDI-P mengeluarkan anggotanya, Rieke Diah Pitaloka, dari posisi Wakil Ketua Badan Legislatif (Baleg) di DPR.  Sebelumnya Rieke dikenal sebagai ketua komite kelompok kerja Ideologi Pancasila (HIP) dan telah memimpin rapat pleno terkait RUU tersebut.

 "Ketua komite kerja Ny. Rieke, yang memimpin pleno, juga virtual karena dia adalah pemimpin lain dari luar gedung DPR," kata Wakil Ketua Badan Legislatif DPR Achmad Baidowi ketika konfirmasi, Rabu (8/7/2020).

PDI Perjuangan telah menggantikan Rieke Diah Pitaloka dari kursi Badan Legislatif (Baleg) DPR RI.  Surat penggantian untuk Rieke ini juga telah diterima oleh para pemimpin Badan Legislasi lainnya.

"Ya, salinan surat itu sudah diterima oleh Sekretariat Badan Legislatif," kata Wakil Ketua Badan Legislatif Achmad Baidowi, Rabu (8/7).

Sebelumnya, Badan Legislatif Indonesia (Baleg) Republik Indonesia mengadakan pertemuan evaluasi program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas 2020.  PKS mengusulkan agar RUU Ideologi Pancasila ditarik dari Prolegnas.

Pertemuan itu diadakan di ruang rapat Baleg, gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2020).  Anggota Legislatif F-PKS, Mulyanto, menyarankan agar RUU HIP ditarik dari Prolegnas dengan mempertimbangkan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

Sejumlah fraksi di DPR kembali menanyakan sikap pemerintah terkait RUU Ideologi Pancasila (RUU HIP).

 Selama rapat kerja antara Badan Legislatif (Baleg) Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dan pemerintah yang diwakili oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yasonna, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PKS Bukhori meminta Yassona untuk menjelaskan langkah pemerintah dalam  menanggapi permintaan publik yang meminta untuk menarik RUU HIP.

Wakil Ketua Badan Legislatif dari Fraksi Partai NasDem Willy Aditya mengatakan, RUU tentang Kebijakan Ideologi Pancasil (RUU HIP) tidak dapat langsung dikecualikan dari Program Legislasi Nasional Prioritas (Prolegnas) 2020.  Alasannya, katanya, adalah bahwa RUU HIP telah menjadi domain pemerintah.

UAS : Apa itu Syariat, Hakikat, Makrifat dan Tariqat

Ustadz Abdul Somad dalam video pengajian ini menjelaskan 
- Hubungan Syariat, Hakikat, Makrifat dan Tariqat dalam sebuah perumpamaan. 
- Bagaimana mengenal Allah ?
- Bagaimana mencapai Maqam Makrifat ?
- Bolehkah Membayar Zakat ke kampung halaman
- Apakah Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan Allah sebelum Alam Semesta ?
- dll

Kebangkitan Islam Akhir Zaman Dimulai Dari Tanah Melayu, Insya Allah

Ustadz Abdus Samad Lc dalam salah satu kesempatan ceramahnya mengungkapkan harapannya untuk kita semua bangsa-bangsa rumpun Melayu di Nusantara, bahwa nantinya yang membebaskan Al-Quds adalah Bangsa Rumpun Melayu.