This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Binasa Karena Kesombongan

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,
"Diantara manusia ada yang binasa karena berbangga dengan harta, ada pula yang binasa karena kedudukan atau ilmu agama yang dimilikinya, sehingga terkumpul pada dirinya kebanggaan dan kesombongan.
Disisi Allah, kondisi ini (sombong dengan ilmu agama) lebih buruk dibandingkan orang yang membanggakan dirinya dengan harta dan kedudukan.
Hal ini dikarenakan ia telah menjadikan sebab akhirat untuk dunia, sementara pemilik harta dan kedudukan hanya menjadikan sebab dunia untuk dunia"

Survei LKSP: Muhammadiyah dan PKS yang Paling Peduli saat Pandemi terhadap Masyarakat


Lembaga Kajian Strategis dan Pembangunan (LKSP) beberapa saat lalu menggelar survei persepsi publik untuk mengukur kesadaran dan kesiapan masyarakat menghadapi pandemi, serta respons publik terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selama pandemi.  

Salah satu yang menjadi materi survei adalah menilai persepsi publik soal organisasi masyarakat yang peduli dengan kepentingan warga di masa pandemi COVID-19. 

Hasilnya adalah : Muhammadiyah (17,26%), Ikatan Dokter Indonesia (16,51%), Nahdlatul Ulama (12,55%) dan Relawan Indonesia Bersatu Lawan Corona (10,47%), Aksi Cepat Tanggap (6,13%), PKPU (5,19%), MUI (4,53%), PMI (3,21%), Gugus Tugas COVID-19 (2,26%), FPI (1,51%), BNPB (1,32%) dan lainnya (16,13%). 

“Temuan itu menunjukkan bahwa kepentingan warga tidak hanya berkaitan dengan penanggulangan bencana dan bantuan sosial yang diberikan, melainkan juga advokasi terhadap kepentingan publik di masa krisis. Karena pandemi COVID-19 telah menimbulkan krisis di berbagai sektor kehidupan masyarakat, tak hanya mengancam kesehatan,” ungkap Hafidz Muftisany, jelas juru bicara LKSP dalam rilisnya, Senin (30/6). 


Sementara itu untuk partai politik yang dipandang peduli terhadap kepentingan warga di saat pandemi yang tertinggi adalah PKS (39,91%), Gerindra (22,23%), PDIP (11,33%), Partai Demokrat (9,38%), PKB (4,30 %), PAN (4,15%), Golkar (2,05%), Nasdem (1,71%), dan PPP (0,78%), yang menjawab tidak tahu (4,15%). 

Survei dilakukan antara 20-27 Mei 2020 dengan melibatkan 2.047 responden di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Metode penentuan sampling menggunakan Krejcie-Morgan dengan margin of error 2,183 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden dipilih secara acak dan proporsional pada tiap-tiap provinsi. Responden mengisi daftar pertanyaan secara daring setelah dipastikan terkontak secara individual. 

Hafidz juga menyebutkan, bukan hanya kebijakan di bidang kesehatan seperti pemberlakuan protokol kesehatan dan penerapan PSBB yang mendapat respons publik, tetapi juga kebijakan strategis lain seperti penerbitan Perppu Nomor 1 Tahun 2020, pembahasan RUU Cipta Kerja, program Kartu Prakerja dan izin tenaga kerja asing (TKA) masuk Indonesia. 

Muhammadiyah dalam menangani corona telah membentuk Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC), dan merawat pasien positif di lebih dari 50 RS yang dibinanya seluruh Indonesia. Tercatat telah ada 417 pasien positif yang dirawat di RS Muhammadiyah, juga 2.201 PDP dan 3.404 ODP. 

Sementara untuk partai politik sebagaimana parpol lain , PKS menggalang dana hingga lebih dari Rp 90 miliar dan telah mendistribusikan bantuan mereka ke berbagai fasilitas rumah sakit juga termasuk warga terdampak. 

Sumber : Kumparan

Beasiswa S1 Universitas Islam Madinah 2020 (Seleksi Tanpa Wawancara !)

Saat sedang musim pandemi covid-19, peluang daftar ke Universitas Islam Madinah lebih terbuka karena gak ada tes wawancara. Cukup hanya kirim berkas via online saja. 

Segera kunjungi alamat daftarnya di: admission.iu.edu.sa 

Buruan daftar sebelum batas akhir pendaftaran sampai 1 September 2020. 

Kesempatan masuk kuliah ke kampus ini hanya untuk jenjang S1. sedangkan untuk daftar masuk ke jenjang S2 dan S3 perguruan tinggi di kota Nabi ini hanya menerima jalur alumninya saja. Tidak menerima alumni lulusan S1 dari kampus lain. 

Syarat umumnya laki-laki, usia tidak lebih dari 25 tahun, dan berijazah SMA sederajat. Ayo daftar!. 

Di kampus ini tidak ada mahasiswi (Akhwat). Semuanya adalah mahasiswa (Ikhwan). Jadi untuk para akhwat tidak perlu-repot kirim berkas ya. Karena pasti ditolak. 

Kelebihan kuliah di kampus Universitas Islam Madinah ini, selain dapat belajar ilmu agama di dalam kelas kampus, tentu dapat hadir di kajian ulama kota Madinah di Masjid Nabawi. 

Juga dapat shalat di Masjid Nabawi yang pahala berlipat ganda dibanding sholat dimasjid biasa sesukanya. Minum zamzam pun bisa sepuasnya tak pernah dibatasi. Bahkan nyeduh kopi dan masak Indomie ala-ala ngekost mahasiswa pun bisa pakai air zamzam, kalo mau. 

Yang ingin nanya-nanya seputar info diatas, silahkan kontak PPMI Madinah atau PPMI Arab Saudi.

Unik : Ternyata Ini Rumus Buat Kue Bolu

Ternyata biar kue itu ada rumusnya loh, walau sebenarnya wajar namun terlihat unik ketika tampil dengan rumus formula bak pelajaran fisika. 

Sejarah Asal Mula Ajaran Trinitas Dalam Agama Di Dunia

Ternyata jika kita kaji secara menyeluruh mengenai agama-agama yang ada di muka bumi ini terdapat satu kesamaan yang unik. yakni dalam seluruh agama dari Animisme, pagantisme (berhala) hingga yang mengaku ajaran Samawi di dunia  ini ternyata terdapat ajaran trinitas (Tuhan berjumlah 3). 

Walau dengan istilah dan nama yang berbeda. Kecuali ajaran agama Islam. ini menjadi fakta yang unik dan menarik untuk ditinjau sebagai pelajaran dan ibrah bagi yang senang berpetualang untuk mencari kesimpulan.

Apakah hal ini ada terkait satu sama lain ataukah berdiri sendiri ? Buktikan ya Ulil Albab..

Simak video dibawah ini untuk mendapatkan informasinya :

INNALILLAHI : KH. HILMI AMINUDDIN MENINGGAL DUNIA


Pendiri Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KH Hilmi Aminuddin, Selasa (30/6), disampaikan oleh politikus PKS Mardani Ali Sera. dalam cuitan di Twitter, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera membenarkan bahwa Ustaz Hilmi meninggal dunia pukul 14.24 WIB di Ruang Berlian Timur RS Santosa Central, Jl Gardujati, Bandung.

Mantan Presiden PKS yang juga Mantan Menteri Menkominfo 2009-2014, Tifatul Sembiring, juga menyampaikan kabar duka ini. Menyatakan turut berduka atas meninggalnya Ustaz Hilmi. "Innalillahi wa innailaihi rajiuun, telah meninggal dunia guru kami KH. Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS (2003-2015). Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. waj 'aljannata matswaahu. Wawassi' madkhalahu wakhaffif hisaabuhu. Mohon dimaafkan, mohon didoakan...".

Ustadz Cahyadi Takariawan, murid KH Hilmi Aminuddin hingga membuat sebuah tulisan untuk Almarhum :

KH. HILMI AMINUDDIN : HARI INI ENGKAU PERGI

"Tak mampu kami lukiskan kesedihan hati. Engkau meninggalkan kami hari ini.Insyaallah engkau istirahat di tempat terbaik. Kami tak mampu menyediakan tempat istirahat terbaik untukmu. Engkau akan mendapatkan perawatan terbaik. Kami tak mampu memberikan perawatan terbaik untukmu.Terngiang selalu nasehatmu di bulan Syawal lalu:"Nilai kita sebagai manusia ditentukan oleh amal perbuatan kita, bukan oleh perlakuan yang kita terima. Kualitas seseorang diukur dari kebaikan atau keburukan yang dilakukannya, bukan dari kebaikan atau keburukan yang diterimanya.Orang berkualitas baik akan senantiasa berbuat baik, meskipun ia menerima perlakuan buruk.Orang berkualitas buruk akan tetap berbuat buruk, meskipun ia menerima perlakuan baik.Selamat jalan guruku. Surga terhampar untukmu, insyaallah juga 

Ust Salim A Fillah yang ikut berduka memberikan tulisan mengenai perasaan beliau terhadap Almarhum Ust KH Hilmi Aminuddin :
Selamat jalan ya Syaikhanaa, Engkong KH. Hilmi Aminuddin Hasan 😭...
.
Wafatnya 'ulama adalah tercabutnya satu tonggak ilmu; tertutupnya satu pintu fiqh; tercerainya seikat simpul ajaran; dan terputusnya teladan akhlaq. Ia duka semesta.
.
Tapi kami bersaksi ya Syaikhanaa, engkau telah meneladankan semua yang kautaujihkan agar kader-kader dakwah menjadi insan yang;
.
(1) Atsbatu Mauqifan (paling teguh pendiriannya)
.
(2) Arhabu Shadran (paling lapang dadanya)
.
(3) A’maqu Fikran (paling mendalam pemikirannya)
.
(4) Ausa’u Nazharan (paling luas pandangannya)
.
(5) Ansyathu 'Amalan (yang paling giat dalam kerjanya)
.
(6) Ashlabu Tanzhiman (yang paling kokoh strukturnya)
.
(7) Aktsaru Naf’an (yang paling banyak manfaatnya)
.
اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ.
.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ له وَارْحمه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه وَأَكْرِمْ نُزُلَه وَوَسِّعْ مُدْخَلَه وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّه مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِه وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
.
آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

Lucu : Ternikah dengan Anak Ustadz


Just a Joke : Seorang Ustadz tidak sengaja nikahkan anaknya kepada muridnya dalam pelajaran tentang Nikah. 

Pelajaran : Hati-hati dalam berucap hehe..

UAS : 5 Cara Agar Bisa Khusuk Dalam Shalat

Ceramah Ustad Abdus Samad mengajarkan kita tentang bagaimana untuk mendapat khusyuk dalam sholat

Rohingya-Aceh The Power of Akidah



Sebanyak 98 imigran Rohingya yang terdampar di lepas pantai Seunuddon, Aceh Utara, akhirnya di evakuasi ke darat pada Kamis, 25/6/2020. Proses evakuasi imigran Rohingya tersebut diwarnai oleh protes dan tangis warga yang tak ingin kapal tersebut ditarik menjauh dari tepi pantai

Kapal imigran ini awalnya ditemukan oleh tiga nelayan lokal pada Rabu 24/6/2020 pagi, dengan terombang-ambing di laut lepas antara 4 mil dari pesisir pantai Seunuddon. Para imigran lalu dievakuasi ke kapal nelayan yang melaut sekitar itu dan ditarik menuju perairan Syamtalira Bayu. Namun karena tak diizinkan turun mereka hanya tetap berada dalam kapal sekitar satu mil dari tepi pantai Lancok.

Sementara di tepi pantai dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan. Aparat TNI dan Polri serta termasuk petugas kesehatan dan imigrasi terlihat siaga di tepi pantai. Warga menangis dan memprotes keras, “Sayang sekali anak-anak masih kecil masih ada yang menyusui di dalam kapal. Kapal rusak dan bocor. Bagaimana kalau tenggelam. Tarik kemari sekarang kami yang beri makan,” seorang warga meluapkan kata-kata emosinya.

Warga terlihat semakin emosi dan bahkan ada yang langsung mengambil speedboat Basernas dan berupaya menjemput kapal Rohingya untuk menariknya ke pantai. Warga mengaku sedih dengan kondisi kapal imigran Rohingya yang harus ditarik kembali menjauh dari pantai. 20 menit kemudian kapal ditarik ke pantai. Warga Lancok menggalang bantuan dana untuk penyediaan nasi bungkus bagi para imigran. Menjelang sore warga sepakat menurunkan imigran.

Kapal ditarik menuju daratan, satu persatu diturunkan mulai dari anak-anak, wanita dan para lelaki. Ditengah cuaca hujan dan petir, para imigran di bawa berteduh di pondok-pondok tepi pantai. Sebagian imigran menangis haru dan sebagian besar lainnya terkulai dalam kondisi lemas. Kini imigran telah di evakuasi di tempat penampungan sementara di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe.

Ini bukan kali pertama warga Aceh melakukan evakuasi kepada Rohingya. Jika di negara-negara lain bahkan negeri muslim sekalipun umpama Bangladesh dan Malaysia pernah menolak mereka, tidak demikian dengan warga Aceh. Kendati kebijakan pemerintah Indonesia sendiri tidak jauh berbeda dengan kebijakan negara-negara tersebut yaitu enggan dengan segala dalih yang dirasionalkan untuk mengurus para pelarian Rohingya ini, terutama dalam situasi pandemi ini.

Aceh adalah negeri yang menorehkan tinta emas dalam sejarah keberlangsungannya hingga kini. Berkali-kali Aceh menjadi sorotan dunia karena aksi warganya yang terbilang unik dan langka. Seperti peristiwa penyelamatan imigran Rohingya ini. Betapa ngotot dan kerasnya mereka mengopinikan penyelamatan hingga mampu mengubah arah kebijakan para pemangku jabatan yang semula memutuskan agar para imigran tetap tinggal di laut.

Hal ini mengisyaratkan ikatan akidah yang masih mentajasad di dalam diri individu-individu muslim Aceh. Bukan hanya sekedar solidaritas dan kemanusiaan semata. Solidaritas dan kemanusiaan mungkin akan terhenti jika berbenturan dengan kepentingan. Karena ini hanya bentuk reaksi temporal dalam timbangan manusia. Sementara ikatan akidah jauh menembus hingga ke urat nadi dan aliran darah karena pertanggungjawabannya menembus hingga ke langit.

Nantinya, di yaumil akhir dalam pengadilan Allah setiap insan akan disoal mengenai sikapnya terhadap penderitaan saudaranya. Apalagi jika saudara itu hadir dengan gemetar, kelaparan dan lemas dalam hujan petir di atas perahu rusak yang terusir dari kampung halamannya tersebab memegang teguh akidahnya.

Persoalannya bukan lagi soal batas teritorial atau sekat nasionalisme yang dihadirkan para penguasa negeri-negeri kaum muslimin kini. Bukan pula soal kemungkinan terinfeksi pandemi karena hasil rapid test mereka negatif. Penting untuk diingatkan bahwa setiap orang akan disoal bagaimana sikapnya dan apa kontribusinya bagi saudaranya. Terutama para penguasa. Dan MasyaAllah, penduduk negeri yang di juluki Aceh Pungo ini memang masih pungo hingga kini.

Ngomong-ngomong soal julukan pungo ini, Belanda pernah menjuluki orang Aceh dengan Gekke Atjehsche yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Aceh Pungo (Bahasa Aceh), atau Aceh Gila. Fenomena Aceh Pungo bisa kita baca dalam beberapa literasi yang ditulis orang Belanda Sendiri, misalnya di dalam the Dutch Colonial War in Aceh dan Prominet Women in The Glimpse of History.

Selain itu, dapat juga dilihat dalam The Old World Though Old Eye : Three Years in Oriental Land. Buku ini ditulis Mary Smith Ware turis asal Amerika yang pernah ke Aceh pada masa kolonial Belanda. Konon, sang penulis juga menjadi salah satu korban Aceh Pungo. Fenomena Aceh Pungo menggerakkan Belanda untuk membuat studi khusus terkait karakteristik orang Aceh ini. Semua berujung pada satu konklusi : Pungo (gilanya Aceh) akan muncul apabila kemuliaannya dilanggar ! Dan kemuliaan itu tidak lain adalah Islam.

Demi menjaga kemuliaan Islamlah, warga berteriak emosional kepada para petugas agar menjemput dan menarik kapal rusak imigran Rohingya dan menurunkan mereka ke darat. Atas dasar akidah inilah mereka bahkan sempat mengambil speedboat milik Basarnas dan mengemudikannya sendiri untuk menjemput saudaranya. Warga kehilangan kesabaran menunggu pertimbangan dari para pemangku jabatan yang terus bimbang. Warga bergerak dan akidah Islamlah yang menjadi motornya, MasyaAllah.

Aceh ini, kita dan Rohingya adalah satu tubuh. Rasulullah SAW yang kita senantiasa menyebut namanya dan bershalawat kepadanya dari masjid, balee-balee dan meunasah-meunasah sehabis berjamaah setiap harinya telah mempersaudarakan kita dibawah satu panji, yaitu panji Islam. Rasulullah yang mulia telah bersabda kepada kita, dimana sabdanya adalah hukum bagi kita, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayang diantara mereka tubuh yang satu, apabila ada anggota (tubuh) yang merasa sakit, maka seluruh anggota yang lainnya merasa demam dan tidak bisa tidur”

Didalam hadist yang lain disebutkan, “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, yang sebagiannya mengokohkan bagian yang lain”.

Inilah pertanda yang menyifati orang-orang beriman, bahwa mereka saling cinta dan berkasih-sayang, serta saling tolong-menolong dalam berbagai urusan mereka, selama bukan dalam hal maksiat. Dulu, Aceh ini pernah berada dalam kondisi menyedihkan, dijajah dan dibantai oleh penjajah Eropa. Demi menjawab seruan Allah dan Rasulnya melindungi kaum muslimin, Khalifah Sultan Hamid II mengirimkan bala tentaranya membantu Aceh mengusir Portugis dan Belanda. Inilah bentuk perlindungan hakiki penguasa kaum muslimin terhadap saudaranya yang dijajah.

Khilafah Utsmaniyah mengirimkan ekspedisi ke Aceh dimulai pada tahun 1565 Masehi. Ekspedisi dikirimkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539-1571M) kepada Khalifah Sulaiman Al-Qanuni pada tahun 1562 Masehi, saat meminta bantuan Khilafah melawan Portugis. Menurut Fernao Mendes Pinto, Sultan Aceh merekrut 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia (Habasyah) dan Gujarat, serta 200 orang saudagar Malabar untuk menaklukkan Tanoh Batak pada 1539.

Setelah tahun 1562, Aceh menerima bantuan Khilafah Utsmaniyah yang memungkinnya menaklukkan kerajaan Arudan Johor pada tahun 1564. Pengiriman duta ke Istambul pada tahun 1564 dilakukan oleh Sultan Husain Ali Riayat Syah. Dalam suratnya kepada Porte Utsmaniyah, Sultan Aceh menyebut penguasa Khilafah `Utsmaniyah sebagai Khalifah (penguasa) Islam.

Setelah Khalifah Sulaiman al-Qanuni wafat pada tahun 1566, putranya Sultan Salim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh. Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut. Ekspedisi ini sampai di Aceh pada tahun 1566-1567 dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis.

Demikianlah sepenggal sejarah telah membuktikan kekuatan akidah nyata menyokong upaya Aceh melawan agresi Portugis dan Belanda. Ikatan akidah adalah ikatan yang didasari oleh keimanan. Ikatan inilah yang mempersaudarakan antara Auz dan Khajraz di Madinah. Ikatan inilah yang menyatukan muhajirin dan Anshar.

Inilah ikatan yang paling kuat yang saat ini tercerai berai dalam sekat-sekat kepentingan nasional. Ketika institusi kaum muslim, Khilafah Islamiyah dihancurkan ikatan inipun melemah dan hanya muncul jika adanya realitas yang menyakitkan yang menimpa umat ini. Muslim Rohingya sebagaimana Palestina, Mali, Syria, Yaman, Xinjiang, Kashmir, Pattani, Moro, India adalah saudara kita.

Mengapa Allah hadirkan imigran Rohingya ke hadapan kita? Allah ingin kita bercermin, berpikir, sudahkah kita memperhatikan kebutuhan kaum muslimin? Sudahkah kita memperhatikan urusan mereka? Ataukah kita masih berkutat pada kebutuhan dan kepentingan pribadi yang tak ada habisnya.

Mengapa Disebut Sebagai “Budak Harta”

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa manusia bisa menjadi “budak harta” atau “budak uang” karena tamak dan rakusnya mereka dengan harta.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”.[HR. Bukhari]

Maksud dari “budak harta” adalah harta dan uang tersebut memperbudak dan memerintahkan manusia untuk mencari mereka (uang). Manusia yang tamak akan patuh saja dengan perintah harta atau uang tersebut. Uang akan “berkata”:

‘Carilah aku dan kerahkan semua tenaga kalian‘ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Uang “berkata” lagi:

‘Carilah aku lagi, belum cukup, engkau perlu kerja sampai malam dan lembur sampai libur akhir pekan’ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Uang “berkata” lagi:

‘Carilah aku, engkau perlu mengorbankan sedikit kehormatan dirimu, engkau harus mengorbankan sedikit prinsip hidupmu, agar bisa dapat uang di zaman ini’ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Selama uang yang didapatkan tersebut belum dipakai dan hanya “dikoleksi” saja, misalnya berupa tanah atau tabungan yang mengendap lama, maka hakikatnya manusia telah diperbudak oleh harta dan menjadi budak harta, karena manusia patuh saja pada harta.

Ibnu Katsir berkata dan membawakan syair:

ﺃﻧﺖَ ﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﺴﻜﺘَﻪ … ﻓﺈﺫﺍ ﺃﻧﻔﻘﺘَﻪ ﻓﺎﻟﻤﺎﻝُ ﻟَﻚْ …

“Engkau akan menjadi budak harta jika engkau MENAHAN harta tersebut. Akan tetapi, jika engkau menginfakkannya, harta tersebut barulah jadi milikmu.” [Tafsir Ibnu Katsir 14: 443]

Manusia yang rakus dan tamak menjadi budak harta karena manusia harus menjaga harta tersebut, yang terkadang menjaga harta seperti seorang budak yang menjaga seorang raja atau menjaga majikannya. Perlu tenaga, perhatian dan konsentrasi yang benar-benar penuh untuk menjaga harta, bahkan untuk menjaga harta perlu mengorbankan segalanya.

Ibnul Qayyim menjelaskan perbedaan harta dan ilmu, beliau berkata:

ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ

“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.” [Miftah Daris Sa’adah 1/29]

Tidaklah heran apabila manusia banyak yang menjadi budak harta dan dunia karena harta adalah fitnah (ujian) terbesar bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” [HR. Bukhari]

Manusia menjadi budak harta juga karena kerakusan dan ketamakan mereka dengan harta, bahkan manusia lebih rakus daripada serigala yang lapar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »

“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” [HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih]

Inilah hakikat harta dan dunia yang bisa menipu manusia. Manusia yang tamak mengira bahwa merekalah raja dan tuan, tetapi sesungguhnya mereka telah diperbudak oleh harta dan dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻏَﺮَّﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺷَﻬِﺪُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ

“Kehidupan dunia telah menipu mereka.” [Al-An’am 6:130]

Karenanya kita diperintahkan agar benar-benar menjaga diri kita dari kelalaian karena harta. Allah Ta’ala berfirman,

ﻳﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Al Munafiqun 63: 9]

(Anonim)