Sebanyak 98 imigran Rohingya yang terdampar di lepas pantai Seunuddon, Aceh Utara, akhirnya di evakuasi ke darat pada Kamis, 25/6/2020. Proses evakuasi imigran Rohingya tersebut diwarnai oleh protes dan tangis warga yang tak ingin kapal tersebut ditarik menjauh dari tepi pantai
Kapal imigran ini awalnya ditemukan oleh tiga nelayan lokal pada Rabu 24/6/2020 pagi, dengan terombang-ambing di laut lepas antara 4 mil dari pesisir pantai Seunuddon. Para imigran lalu dievakuasi ke kapal nelayan yang melaut sekitar itu dan ditarik menuju perairan Syamtalira Bayu. Namun karena tak diizinkan turun mereka hanya tetap berada dalam kapal sekitar satu mil dari tepi pantai Lancok.
Sementara di tepi pantai dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan. Aparat TNI dan Polri serta termasuk petugas kesehatan dan imigrasi terlihat siaga di tepi pantai. Warga menangis dan memprotes keras, “Sayang sekali anak-anak masih kecil masih ada yang menyusui di dalam kapal. Kapal rusak dan bocor. Bagaimana kalau tenggelam. Tarik kemari sekarang kami yang beri makan,” seorang warga meluapkan kata-kata emosinya.
Warga terlihat semakin emosi dan bahkan ada yang langsung mengambil speedboat Basernas dan berupaya menjemput kapal Rohingya untuk menariknya ke pantai. Warga mengaku sedih dengan kondisi kapal imigran Rohingya yang harus ditarik kembali menjauh dari pantai. 20 menit kemudian kapal ditarik ke pantai. Warga Lancok menggalang bantuan dana untuk penyediaan nasi bungkus bagi para imigran. Menjelang sore warga sepakat menurunkan imigran.
Kapal ditarik menuju daratan, satu persatu diturunkan mulai dari anak-anak, wanita dan para lelaki. Ditengah cuaca hujan dan petir, para imigran di bawa berteduh di pondok-pondok tepi pantai. Sebagian imigran menangis haru dan sebagian besar lainnya terkulai dalam kondisi lemas. Kini imigran telah di evakuasi di tempat penampungan sementara di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe.
Ini bukan kali pertama warga Aceh melakukan evakuasi kepada Rohingya. Jika di negara-negara lain bahkan negeri muslim sekalipun umpama Bangladesh dan Malaysia pernah menolak mereka, tidak demikian dengan warga Aceh. Kendati kebijakan pemerintah Indonesia sendiri tidak jauh berbeda dengan kebijakan negara-negara tersebut yaitu enggan dengan segala dalih yang dirasionalkan untuk mengurus para pelarian Rohingya ini, terutama dalam situasi pandemi ini.
Aceh adalah negeri yang menorehkan tinta emas dalam sejarah keberlangsungannya hingga kini. Berkali-kali Aceh menjadi sorotan dunia karena aksi warganya yang terbilang unik dan langka. Seperti peristiwa penyelamatan imigran Rohingya ini. Betapa ngotot dan kerasnya mereka mengopinikan penyelamatan hingga mampu mengubah arah kebijakan para pemangku jabatan yang semula memutuskan agar para imigran tetap tinggal di laut.
Hal ini mengisyaratkan ikatan akidah yang masih mentajasad di dalam diri individu-individu muslim Aceh. Bukan hanya sekedar solidaritas dan kemanusiaan semata. Solidaritas dan kemanusiaan mungkin akan terhenti jika berbenturan dengan kepentingan. Karena ini hanya bentuk reaksi temporal dalam timbangan manusia. Sementara ikatan akidah jauh menembus hingga ke urat nadi dan aliran darah karena pertanggungjawabannya menembus hingga ke langit.
Nantinya, di yaumil akhir dalam pengadilan Allah setiap insan akan disoal mengenai sikapnya terhadap penderitaan saudaranya. Apalagi jika saudara itu hadir dengan gemetar, kelaparan dan lemas dalam hujan petir di atas perahu rusak yang terusir dari kampung halamannya tersebab memegang teguh akidahnya.
Persoalannya bukan lagi soal batas teritorial atau sekat nasionalisme yang dihadirkan para penguasa negeri-negeri kaum muslimin kini. Bukan pula soal kemungkinan terinfeksi pandemi karena hasil rapid test mereka negatif. Penting untuk diingatkan bahwa setiap orang akan disoal bagaimana sikapnya dan apa kontribusinya bagi saudaranya. Terutama para penguasa. Dan MasyaAllah, penduduk negeri yang di juluki Aceh Pungo ini memang masih pungo hingga kini.
Ngomong-ngomong soal julukan pungo ini, Belanda pernah menjuluki orang Aceh dengan Gekke Atjehsche yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Aceh Pungo (Bahasa Aceh), atau Aceh Gila. Fenomena Aceh Pungo bisa kita baca dalam beberapa literasi yang ditulis orang Belanda Sendiri, misalnya di dalam the Dutch Colonial War in Aceh dan Prominet Women in The Glimpse of History.
Selain itu, dapat juga dilihat dalam The Old World Though Old Eye : Three Years in Oriental Land. Buku ini ditulis Mary Smith Ware turis asal Amerika yang pernah ke Aceh pada masa kolonial Belanda. Konon, sang penulis juga menjadi salah satu korban Aceh Pungo. Fenomena Aceh Pungo menggerakkan Belanda untuk membuat studi khusus terkait karakteristik orang Aceh ini. Semua berujung pada satu konklusi : Pungo (gilanya Aceh) akan muncul apabila kemuliaannya dilanggar ! Dan kemuliaan itu tidak lain adalah Islam.
Demi menjaga kemuliaan Islamlah, warga berteriak emosional kepada para petugas agar menjemput dan menarik kapal rusak imigran Rohingya dan menurunkan mereka ke darat. Atas dasar akidah inilah mereka bahkan sempat mengambil speedboat milik Basarnas dan mengemudikannya sendiri untuk menjemput saudaranya. Warga kehilangan kesabaran menunggu pertimbangan dari para pemangku jabatan yang terus bimbang. Warga bergerak dan akidah Islamlah yang menjadi motornya, MasyaAllah.
Aceh ini, kita dan Rohingya adalah satu tubuh. Rasulullah SAW yang kita senantiasa menyebut namanya dan bershalawat kepadanya dari masjid, balee-balee dan meunasah-meunasah sehabis berjamaah setiap harinya telah mempersaudarakan kita dibawah satu panji, yaitu panji Islam. Rasulullah yang mulia telah bersabda kepada kita, dimana sabdanya adalah hukum bagi kita, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayang diantara mereka tubuh yang satu, apabila ada anggota (tubuh) yang merasa sakit, maka seluruh anggota yang lainnya merasa demam dan tidak bisa tidur”
Didalam hadist yang lain disebutkan, “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, yang sebagiannya mengokohkan bagian yang lain”.
Inilah pertanda yang menyifati orang-orang beriman, bahwa mereka saling cinta dan berkasih-sayang, serta saling tolong-menolong dalam berbagai urusan mereka, selama bukan dalam hal maksiat. Dulu, Aceh ini pernah berada dalam kondisi menyedihkan, dijajah dan dibantai oleh penjajah Eropa. Demi menjawab seruan Allah dan Rasulnya melindungi kaum muslimin, Khalifah Sultan Hamid II mengirimkan bala tentaranya membantu Aceh mengusir Portugis dan Belanda. Inilah bentuk perlindungan hakiki penguasa kaum muslimin terhadap saudaranya yang dijajah.
Khilafah Utsmaniyah mengirimkan ekspedisi ke Aceh dimulai pada tahun 1565 Masehi. Ekspedisi dikirimkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539-1571M) kepada Khalifah Sulaiman Al-Qanuni pada tahun 1562 Masehi, saat meminta bantuan Khilafah melawan Portugis. Menurut Fernao Mendes Pinto, Sultan Aceh merekrut 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia (Habasyah) dan Gujarat, serta 200 orang saudagar Malabar untuk menaklukkan Tanoh Batak pada 1539.
Setelah tahun 1562, Aceh menerima bantuan Khilafah Utsmaniyah yang memungkinnya menaklukkan kerajaan Arudan Johor pada tahun 1564. Pengiriman duta ke Istambul pada tahun 1564 dilakukan oleh Sultan Husain Ali Riayat Syah. Dalam suratnya kepada Porte Utsmaniyah, Sultan Aceh menyebut penguasa Khilafah `Utsmaniyah sebagai Khalifah (penguasa) Islam.
Setelah Khalifah Sulaiman al-Qanuni wafat pada tahun 1566, putranya Sultan Salim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh. Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut. Ekspedisi ini sampai di Aceh pada tahun 1566-1567 dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis.
Demikianlah sepenggal sejarah telah membuktikan kekuatan akidah nyata menyokong upaya Aceh melawan agresi Portugis dan Belanda. Ikatan akidah adalah ikatan yang didasari oleh keimanan. Ikatan inilah yang mempersaudarakan antara Auz dan Khajraz di Madinah. Ikatan inilah yang menyatukan muhajirin dan Anshar.
Inilah ikatan yang paling kuat yang saat ini tercerai berai dalam sekat-sekat kepentingan nasional. Ketika institusi kaum muslim, Khilafah Islamiyah dihancurkan ikatan inipun melemah dan hanya muncul jika adanya realitas yang menyakitkan yang menimpa umat ini. Muslim Rohingya sebagaimana Palestina, Mali, Syria, Yaman, Xinjiang, Kashmir, Pattani, Moro, India adalah saudara kita.
Mengapa Allah hadirkan imigran Rohingya ke hadapan kita? Allah ingin kita bercermin, berpikir, sudahkah kita memperhatikan kebutuhan kaum muslimin? Sudahkah kita memperhatikan urusan mereka? Ataukah kita masih berkutat pada kebutuhan dan kepentingan pribadi yang tak ada habisnya.
Sumber : @HabaMuslimahAceh







0 komentar:
Posting Komentar