This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Arogansi Dibalas Aliansi

Oleh: Jagarin Pane

Langkah mengedepankan otot militer yang diperlihatkan China telah memberikan persepsi arogansi dan mentang-mentang di mata dunia. Sekaligus membuka cakrawala pandang dunia internasional bahwa otot militer China harus dilawan dengan cara yang sama. Dan lebih spektakuler.

Ribut-ribut dengan India misalnya. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba China membuat gaduh perbatasan kedua negara.  Padahal border di pegunungan Himalaya itu sudah status quo selama setengah abad. Adu otot terjadi, adu jotos terlihat. Sangat memalukan. Dampaknya rakyat India benci banget sama China. 

Pemerintah India kemudian mempercepat proses pengadaan berbagai jenis persenjataan canggih. Lebih pas disebut mempersiapkan sebanyak mungkin alutsista untuk persiapan perang masa depan. Pemerintah dan rakyat India benar-benar marah terhadap perilaku provokasi tentara China. Hampir seratus pasukan kedua negara mati konyol karena saling adu jotos ala primitif.

Dengan Hongkong juga. Dengan Taiwan apalagi. Sudah puluhan tahun China menggertak Taiwan. Dan sepanjang semester I tahun 2020 ini China melakukan manuver militer di selat Taiwan. Yang tidak biasa, jet-jet tempur China daratan sudah berani menerobos teritori udara Taiwan. Dan itu dilakukan berulang kali.

Tapi Republik China Taipei tidak kalah gertak. Kecil-kecil cabe rawit.  Militer negeri Formosa itu langsung bereaksi dan meluncurkan beberapa peluru kendali maut sebagai isyarat "lu jual gua beli". Barusan kapal induk USS Theodore Roosevelt "berhenti" di selat Taiwan. Membawa pesan kuat untuk China, anda sopan kami segan, anda arogan kami lawan.

Dengan negara-negara ASEAN juga begitu. Vietnam digertak terus menerus, kapal nelayannya ditenggelamkan. Perairan Filipina disisir habis China, kapal perang Filipina mau ditembak. Juga dengan Malaysia, tercatat ada 89 pelanggaran teritori laut dan udara yang dilakukan China terhadap Malaysia.

Perairan Zona Ekonomi Eksklusif  (ZEE) kita di laut Natuna Utara sering diterobos oleh kapal nelayan dan Coast Guard China. Dibelakangnya ada back up kapal perang dia. Dan kita melawan. Kita kerahkan kapal perang, juga sejumlah jet tempur dan pesawat pengintai untuk menegaskan kehadiran kita di teritori Natuna. Saat ini seluruh komponen pertahanan kita siaga penuh di Natuna.

Akhirnya arogansi China berbuah pahit. AS, Australia, Jepang, Inggris dan Kanada bersiap membentuk aliansi militer kapasitas gajah. Jepang memesan 105 jet tempur canggih dan stealth F35. Kapal induk helikopter di upgrade utk F35B. Australia mempersiapkan peluru kendali anti kapal jarak jauh. Memesan sejumlah kapal selam canggih dan lain-lain. Semua sedang mempersiapkan dan menimbun senjata sebanyak mungkin. Waduh gawat neh.

Dalam situasi dan kondisi saat ini dan di masa depan, Indonesia harus bisa bermain cantik di konflik Laut China Selatan (LCS). Kita harus mengedepankan permainan cerdik secara militer dan diplomasi. Sedapat mungkin kita tidak terjebak rayuan aliansi militer, tetapi tetap simpati dengan kehadirannya. Karena hanya AS dan sekutunya yang bisa meredam arogansi China di LCS.

Patut diingat bahwa sesama negara ASEAN juga saling klaim ZEE LCS. Kita dengan Malaysia belum clear. Kita dengan Vietnam masih dispute. Vietnam dengan Malaysia juga masih berselisih. Bedanya, tumpang tindih klaim sesama negara ASEAN tetap memegang teguh code of conduct.  Tapi sekali waktu Vietnam pernah marah sama kita dengan menubrukkan Coast Guardnya ke kapal nelayan mereka yang kita tangkap.

ASEAN harus cerdas menyikapi kehadiran kapal perang negara-negara aliansi di LCS. Termasuk jika harus mampir di Natuna. Di satu sisi mereka datang sebagai payung penyeimbang dan pelindung. Namun di sisi lain bisa saja negara-negara ASEAN ditarik "iuran keamanan". Lihat saja Korsel, Jepang, Jerman pada mengeluh dengan iuran keamanan yang dipatok AS. Asal tahu saja perang Teluk jilid satu dan dua yang membiayai adalah negara-negara Arab yang berkonflik.

LCS adalah pertarungan dan pertaruhan hegemoni masa depan. AS tidak mau hegemoninya dirampas China. Momentum arogansi China adalah nilai plus bagi AS untuk mengambil simpati kepada India dan ASEAN. Sekutu tradisionalnya Inggris dan Australia ikut apa kata babe. Inggris bahkan mengirim kapal induk HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince Of Wales secara bergantian ke LCS. Inggris juga telah membatalkan pengggunaan teknologi 5G Huawei.

Indonesia yang perairan ALKI 1 dan 2 nya bakal sering dilewati kapal induk, destroyer, fregat dan kapal selam negara aliansi harus punya marwah. Caranya perkuat AL dan AU. Memilih kapal perang besar semacam Iver Class bagus sekali. Kuantitasnya perlu ditambah. Penambahan jet tempur seperti F16 Viper dan SU35 adalah keniscayaan.

Dalam tataran diplomasi  negara-negara ASEAN yang bersengketa dengan China bisa memilih netral atau berpihak proporsional. Brunai misalnya cenderung pasif meski punya klaim, tahu diri. Vietnam boleh ambil sikap berdikari karena dekat dengan Rusia. Malaysia cenderung diam mengalah. Filipina adalah sahabat AS tentu bisa berpihak proporsional dengan aliansi. Nah kita lebih pantas netral saja. Meminjam istilah populer Menlu Adam Malik tempo dulu: Semua bisa diatur.
****
Magelang, 17 Juli 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

RESOLUSI MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG SIKAP IMPERIALISTIK ISRAEL TERHADAP PALESTINA



Bismillahirrahmanirrohim

Majelis Ulama Indonesia dengan memperhatikan dan mencermati berbagai fakta bahwa:
  1. Pemerintah Isreal dalam waktu yang panjang selalu berusaha mencari peluang untuk melakukan invasi dan aneksasi terhadap wilayah Tepi Barat Palestina. Aksi ini jelas-jelas merefleksikan spirit imperialistik pemerintah Israel untuk menduduki dan menaklukkan negara,  bangsa dan rakyat Palestina.
  2. Pemerintah Isreal di bawah kepemimpinan Benyamin Netanyahu telah dengan sangat nyata melanggar hukum internasional, menghancurkan kemanusiaan dan kemerdakaan serta kedaulatan negara,  bangsa dan rakyat Palestina.
  3. Negara,  bangsa dan rakyat Palestina yang telah mengalami penderitaan panjang sebagai akibat dari kekejaman sistemik pemerintah Isreal semakin disengsarakan dengan serangan Pandemi sekaligus aneksasi Isreal.
  4. Invasi dan aneksasi Pemerintah Israel tidak saja telah mendorong perlawanan rakyat Palestina, akan tetapi juga kecaman keras dari masyarakat internasional. Tindakan Isreal ini berpotensi mengancam setiap upaya perdamaian di wilayah Timur Tengah, dan mengganggu ketertiban, keamanan dan perdamaian dunia.
  5. Dukungan internasional, termasuk Indonesia, untuk memperjuangkan kedaulatan dan kemerdekaan negara,  bangsa dan rakyat Palestina telah dilakukan. Bahkan Dewan Keamanan PBB juga sudah mengeluarkan resolusi memberikan dukungan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan negara, bangsa dan rakyat Palestina. Akan tetapi Isreal justru mengkhianati resolusi DK PBB tersebut. 
Berdasarkan kepada (1) amanat yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan karena itu segala bentuk penjajahan harus dienyahkan dari muka bumi (2) Maklumat MUI tentang aneksasi Israel terhadap wilayah Tepi Barat (3) pemikiran yang disampaikan oleh semua nara sumber dan diskusi di webinar internasional ini,  maka  Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia menyampaikan resolusi:
  1. Mendukung sepenuhnya kemerdekaan nagara,  bangsa dan rakyat Palestina terbebas dari pendudukan,  invasi dan campur tangan dari negara manapun. 
  2. Invasi,  aneksasi dan semua tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah Israel terhadap rakyat Palestina adalah bentuk penjajahan yang sangat nyata. Hal ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, HAM dan kemerdekaan serta kedaulatan.
  3. Mengutuk keras aneksasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah Israel terhadap wilayah Tepi Barat Palestina. Aneksasi ini merupakan kejahatan yang sangat nyata dan sistemik yang dilakukan negara yang jusru akan memicu konflik berkepanjangan dan ketidak amanan global.
  4. Menghargai dan mendukung penuh pemerintah Indonesia yang sudah dan secara konsisten selalu memberikan dukungan terhadap perjuangan negara,  
  5. bangsa dan rakyat Palestina dalam bingkai two-state solution. 
  6. Mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengeluarkan Israel dari keanggautaan PBB karena selalu  menginjak-injak martabat dan kedaulatan negara,  bangsa dan rakyat Palestina dan mengkhianati berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB. 
  7. Mendukung sepenuhnya seluruh elemen bangsa Indonesia, organisasi civil society, masyarakat internasional,   negara-negara anggauta PBB dan OKI yang secara konsisten membela negara,  bangsa dan rakyat Palestina dan menciptakan perdamaian dunia.
  8. Mendorong dengan sungguh sungguh kepada senua elemen dan kekuatan masyarakat di Palestina dan negara negara Timur Tengah lainnya ubtuk memperkuat persatuan dan menghentikan konflik internal dalam rangka mewujudkan kenerdekaan Palestina dan perdamaian di Timur Tengah. 


Jakarta 16 Juli 2020

Penyampai Resolusi
Assoc. Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA 
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional.

SEJENAK BERSAMA SANG MUFTI, SYEIKH HASANAIN MAKHLUF


Setelah meninggalnya Hasan Al-Banna, Al-Qadhi Al-Ustad Hasan Al-Hudhaiby kemudian dipilih menjadi Mursyid 'Am. Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Qadhi untuk fokus memimpin jama'ah. Juli 1952, para perwira militer (dan Ikhwan dibelakangnya) melakukan revolusi juli menggulingkan kekuasaan Raja Faruq. Setelahnya Rais Muhammad Naguib dipilih menjadi Perdana Menteri Mesir sebelum akhirnya tahun 1954 Gamal Abdul Nasir berbalik memenjarakan Muhammad Naguib dan memberangus Ikhwan.

***

Konflik Ikhwan dan Abdun Nasir menyebabkan ribuan anggota Ikhwan kembali menuju jerusi besi, tak terkecuali Hasan Al-Hudhaibi. Sebagian lain lari keluar negeri atau bersembunyi. Diantara mereka yang bersembunyi dari kejaran Abdun Nasir adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb, mahasiswa fakultas syari'ah Al-Azhar Syarif, sukarelawan mujahidin Ikhwan dalam perang Suez melawan Inggris dan perang Arab-Israel tahun 1948. Muhammad As-Shawabi juga memberikan pelatihan militer untuk mahasiswa Al-Azhar di Camp Univ Al-Azhar.

Muhammad As-Shawabi tetap dalam persembunyiannya sampai September 1954 hingga pada suatu hari jam tiga siang ia mengetuk pintu Al-'Allamah Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Ad-Diyar Al-Mishriyah) yang terletak di Jln. Naguib Pasya Kubri Qubba Cairo.

Ketika pembantu rumah membukakan pintu, ia kembali masuk dan memberitahukan kepada Syeikh bahwa ada seorang pemuda dengan jenggot tebal dan pakaian lusuh ingin bertemu dengan Syeikh. Syeikh Hasanain bercerita: Aku heran dengan pemuda tersebut. Dugaanku, ia adalah pengelana. Ia kemudian masuk rumah dan aku pada awalnya tidak menemuinya. Akan tetapi pembantu menyiapkan makanan dan aku melihatnya makan dengan lahap seakan-akan dia belum makan sejak lama. Selesai makan, kupikir ia akan pergi namun ia tetap bersikeras ingin menemuiku. Akupun menemuinya dan menduga ia akan meminta sedekah. Lusuh pakainnya menjelaskan seberapa lelahnya ia. Kemudian ia memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah Muhammad As-Shawabi Ad-Dieb mahasiswa fakultas syari'ah Universitas Al-Azhar. Badanku kemudian bergetar dan berkeringat ketika dia berkata bahwa ia adalah sukarelawan mujahidin Ikhwanul muslimin dalam perang Palestina dan Perang Terusan Suez.

Tahun itu, Ikhwan sedang dalam puncak cobaannya. Hingga kalimat 'Ikhwan' identik dengan penangkapan, penjara, penyiksaan dan persidangan.

Pemuda itu menatapku dengan tenang. Lalu ia berkata dengan suara yang rendah tapi jelas: Saya sedang berada dalam musibah dan membutuhkan anda. Saya masuk dalam daftar orang yang dicari untuk ditangkap. Saya telah lebih sebulan bersembunyi di pekuburan-pekuburan disiang hari dan keluar malam hari mengais sisa-sisa makanan. Saya benci hidup ditengah-tengah orang mati dan sekarang ingin hidup bersama orang-orang hidup. Apakah anda akan menerimaku?

Aku sepenuhnya bingung dan baru 'siuman' setelah dia mendesakku: Bagaimana pendapat anda wahai Syeikh?

Aku kemudian meminta izin sebentar dan menemui anak-anakku; Dr. Ali dan putriku Zainab dalam kebingunganku. Anak-anakku kemudian melihat kebingunganku dan bertanya: Kenapa Ayah? Ada apa?

Aku memberitahukan mereka kisahnya. Lalu aku bergumam sendiri: pemuda ini benar, pemuda ini jujur, dia jujur.

Aku berkata pada anak-anakku: Aku yakin bahwa pemuda itu bukan polisi dan Intel yang datang untuk menguji kita. Aku yakin dia jujur dan apa yang dia ceritakan adalah benar.

Aku kemudian berkata: Sesungguhnya aku tidak mampu menolak permintaan seseorang dalam cobaan seperti ini. Aku yakin dia dizalimi. Aku telah memutuskan untuk menerimanya. Namun, yang aku takutkan adalah apa yang nanti akan dilakukan intelijen negara jika suatu hari mereka mampu menyingkap bahwa dia disini. Pada waktu itu, ada undang-undang yang menegaskan bahwa siapapun yang melindungi setiap anggota Ikhwan akan disanksi dengan hukuman penjara dan kerja paksa selama 15 tahun.

Lalu putraku Ali berkata setelah lama diam: Ayah, lakukanlah apa yang menurutmu sesuai dengan sisi keislaman. Insya Allah Allah akan menjadi penolong kita.

Akupun keluar keruang tamu bersama anakku Ali dan memperkenalkannya dengan Muhammad As-Shawabi. Kami katakan bahwa kami memutuskan untuk menerimanya dan hal itu adalah sebuah kemuliaan bagi kami. Aku melihat raut wajah teduh dan tenang dimukanya. Sampai saat ini, aku masih melihat cahaya senyuman itu.

Dr. Ali Hasanain dokter penyakit perempuan dan melahirkan kemudian menjelaskan bahwa Muhammad As-Shawabi harus menjadi pribadi lain dan menguburkan Muhammad As-Shawabi lama. Dikarenakan wilayah tempat tinggal mereka salah wilayah tempat tinggal banyak perwira polisi. Solusi satu-satunya adalah dengan 'melahirkan' individu baru yang 100% berbeda dengan As-Shawabi. Karena melarikan diri adalah usaha yang terbukti gagal dekat atau lambat.

Kemudian kami sepakat untuk menjadikannya sekretaris Mufti dan kebetulan waktu itu Syeikh Hasanain membutuhkan seorang sekretaris dikarenakan banyaknya pertanyaan yang datang meminta fatwa disamping kesibukannya menulis kitab. Kemudian kami mencari nama yang cocok untuknya. Syeikh Hasanain berkata: Engkau jujur dalam setiap tingkah laku dan kata-katamu. Maka mulai hari ini namamu adalah Shodiq (jujur) Afandi. Kamipun tertawa bersama.

Besoknya, Muhammad As-Shawabi tampil necis dengan jenggot tercukur, kulitnya yang putih bersih, mata lebar, tinggi sedang dan kurus.

Syeikh Hasanain Makhluf berkata: Taktik penyamaran untuk menyembunyikan Muhammad As-Shawabi sukses sempurna. Kami memberitahukan kepada penghuni rumah bahwa ada sekretaris baru telah datang. Namanya Shadiq Afandi. Tak ada yang mengetahui rahasia itu kecuali 4 orang. Aku(Syeikh Hasanain), Ali, Zainab dan istri putraku Su'ad Al-Hudhaibi (Puteri Hasan Al-Hudhaiby Mursyid kedua Ikhwan) yang tanpa ragu-ragu menerima As-Shawabi betapapun Ayah dan saudara-saudaranya semuanya dalam penjara.

Syeikh Hasanain Makhluf melanjutkan: Muhammad As-Shawabi atau Shadiq Afandi kemudian benar-benar menjadi sekretaris yang luar biasa. Dia banyak membantu pekerjaanku terutama dalam mentahqiq kitab-kitab turats. Dia membersamaiku kemanapun aku pergi. Aku sudah menganggapnya sekretaris pribadiku.

Selama 8 bulan, Shadiq Afandi hidup bersama keluarga Syeikh Hasanain Makhluf seperti halnya salah satu anggota keluarganya. Ia makan dan hidup bersama mereka. Dimana Syeikh Hasanain sebagai Mufti Mesir waktu itu sering meminta bantuan Shadiq Afandi untuk menjawab fatwa-fatwa yang dilayangkan padanya. Shadiq Afandi tinggal di sebuah bangunan terpisah di taman dimana terdapat salon, perpustakaan besar, kamar tidur dan kamar mandi khusus yang memang sengaja disediakan untuknya.

Syeikh Hasanain Makhluf bercerita: Pada suatu hari ditahun 1955 seingatku. Shadiq Afandi mendatangiku dan menyatakan keinginannya untuk safar ke Arab Saudi dan bekerja disana. Aku berusaha mencegahnya. Akan tetapi ia tetap ngotot dan memberitaku bahwa ia punya kenalan yang telah menyiapkan perjalanan laut dari Suez ke Jeddah.

Hatiku menjadi tak tenang, aku meminta anakku Dr. Ali untuk mencegahnya agar tidak pergi namun tanpa hasil. Muhammad As-Shawabi mengatakan bahwa ia ingin menjadikan Saudi sebagai tempat pengasingannya dan terbebas dari kecemasan sebagai seorang pelarian yang dicari polisi. Kamipun terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepadanya setelah ia berjanji akan mengirimkan telegram begitu ia sampai di Saudi. Akupun mengirimkan telegram kepada Muhammad Surur As-Shabban penasehat Raja Sa'ud bin Abdul Aziz untuk menyediakan baginya pekerjaan begitu ia sampai Saudi. Lebih dari sebulan berlalu dan tak satu telegrampun sampai darinya kepadaku.

Semua anggota keluarga gelisah. Sebagai orang yang paling tenang, akupun berusaha untuk menenangkan mereka namun nihil. Ketenangankupun sirna ketika istri anakku Dr. Su'ad Al-Hudhaibi menceritakan bahwa ia mendengar dari radio London berita tertangkapnya dua orang buronan Ikhwan dalam kapal Suez yang menuju Jeddah. Radio itu tidak menyebutkan nama keduanya. Akan tetapi kami merasa bahwa Muhammad As-Shawabi adalah salah satunya.

**

Wahbi Al-Fisyawi yang bekerja di percetakan Mesir menceritakan: Muhammad As-Shawabi dipenjara bersama kami dalam penjara no 4 penjara perang/militer. Kami mengetahui bahwa ia ditangkap dengan perantaraan seorang Iraq yang menjadi Zabaniah tukang siksa penjara militer. Para sipir penjara menyiksanya dengan sadis dan meletakkannya dalam penjara yang dikhususkan untuk menyiksa dengan siksaan-siksaan paling sadis dan kejam. Mereka tidak memberikannya kesempatan untuk memejamkan matanya.

**

Dr. Su'ad Al-Hudhaibi, Puteri Mursyid Am Ikhwan Al-Ustad Hasan Al-Hudhaibi menceritakan: suatu hari, aku pergi ke penjara untuk menyerahkan beberapa kebutuhan kepada ayahku. Saat sedang keluar dari kantor kepala penjara Hamzah Al-Basyuni aku melihat Muhammad As-Shawabi sedang diphoto untuk pembuatan kartu tahanan. Aku hampir menjerit dan kemudian bergegas pulang dan menyampaikan kepada suamiku apa yang kulihat. Suamiku terperanjat dan bergegas menyiapkan kopernya untuk persiapan menuju penjara. Kami yakin kapan saja polisi dan Intel akan menjemput dan menangkap kami.

**
Dr. Ali Hasanain berkata: Aku takut terhadap ayahku mengingat umurnya telah lebih dari 60 tahun. Dia pasti tak akan sanggup menahan penyiksaan penjara militer. Karenanya, aku dan istriku selalu membersamainya siang malam menunggu kapan polisi akan menggerebek rumah kami.

**
Dr. Su'ad Al-Hudhaibi berkata: Kami semua heran karena setelah beberapa hari berlalu tak ada polisi yang menggerebek rumah sebagaimana dugaan kami. Pada suatu hari, aku mengunjungi penjara militer untuk menziarahi ayahku. Aku tanyakan padanya keadaan Muhammad As-Shawabi karena dia pasti mengenalnya sebagai anggota Ikhwan. Terlebih asal kami berdekatan di Qalyubia. Ayahku menggelengkan kepalanya yang menunjukkan putusnya harapan. Dia memberitahuku bahwa As-Shawabi telah syahid. Ia (Hasan Al-Hudhaiby) melanjutkan: Aku heran dengan para sipir penjara yang hanya menanyakan kepadanya dengan satu pertanyaan "inta kunta fein?" Dimana kau selama ini?. As-Shawabi hanya menjawabnya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an Al-karim. Hingga mereka mematahkan tulang belakangnya dan tulang rusuknya terlihat. Para perawat penjara keluar dari ruang penyiksaannya sementara nampan ditangan mereka penuh dengan darah.

**

Syeikh Hasanain berkata: Aku samasekali tak pernah menyangka bahwa As-Syahid Muhammad As-Shawabi akan mampu menahan penyiksaan yang tak terbayangkan itu demiku. Aku tak menduga bahwa ia mampu mengorbankan hidupnya demiku. Sungguh ini adalah tarbiyah Islam yang benar.

**

Wahbi Al-Fisyawi berkata: Sebagian Ikhwah di penjara yang bertugas membagikan makan kepada kami mengabarkan bahwa luka yang diderita Muhammad As-Shawabi terlalu parah. Kondisinya amat buruk hingga serangga (ulat) terlihat berjalan-jalan diantara lukanya. Ia menolak makan karena air minum tidak diberikan kepadanya. Selang beberapa waktu, semua lampu penjara dimatikan dan dari celah jeruji besi aku mengintip para sipir penjara memikul bungkusan selimut dan memasukkannya dalam sebuah mobil Jeep. Aku merasa bahwa itu adalah Muhammad As-Shawabi dan aku berkata dalam diriku: istirahatlah dengan tenang menuju surga insya Allah.

**

Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf, sisa para salafus sholih mengakhiri ceritanya:
إذا كانت تربية الشهيد من تربية الاخوان المسلمين فأنا أضم صوتي بقوة الى علماء الأزهر في المطالبة بعودة الاخوان المسلمين، فتربيتهم خير تربية.
"Jika tarbiyah As-Syahid adalah tarbiyah Ikhwanul Muslimin, maka aku ikut menyuarakan bersama para ulama Al-Azhar kembalinya Ikhwanul Muslimin. Karena tarbiyah mereka adalah sebaik-baik tarbiyah(1).

Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf ketika menerima King Faishal Award tahun 1983.

Footnote:

1. Min A'lam Ad-Dakwah Wa Al-Harakah Al-Islamiyah Al-Mu'ashirah, Al-Mustasyar Abdullah Aqeel Sulaiman Al-Aqeel, Hal: 566-573. Cet ke 3, Dar At-Tauzi' wa An-Nasyr tahun 2005.

SAUDI VS IKHWAN ? ; SIKAP DUALISME SAUDI DALAM JIHAD AFGHAN

Raja Khalid Bin Abdul Aziz mengeluarkan 'titah kerajaan' kepada Salman Bin Abdul Aziz
(yang saat itu menjabat sebagai gubernur Riyadh) untuk membentuk
dan mengetuai Komite Pengumpulan Donasi bagi mujahidin Afghanistan.


1980, paska tentara merah Uni Soviet menyerang Afghanistan, Raja Khalid Bin Abdul Aziz mengeluarkan 'titah kerajaan' kepada Salman Bin Abdul Aziz (yang saat itu menjabat sebagai gubernur Riyadh) untuk membentuk dan mengetuai Komite Pengumpulan Donasi bagi mujahidin Afghanistan. Beberapa waktu kemudian, Presiden of Youth Welfare Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan. Sementara itu, maskapai Saudi Airline memberikan diskon tiket pesawat sampai 70% untuk para 'relawan Saudi' yang ingin berangkat ke Afghanistan baik untuk sekedar memberikan bantuan ataupun terjun langsung dalam medan perang. Saat itu, ajakan berdonasi bagi jihad di Afghanistan memenuhi koran-koran Saudi. Sebagaimana para da'i-da'i Shahwah (kebangkitan Islam) Saudi dan gerakan Islam gencar memotivasi dan memobilisasi para pemuda dari mesjid-mesjid untuk ikut andil dalam jihad dengan restu dari para ulama KSA dan tentu saja juga restu dari USA. Saat itu, kata JIHAD identik dengan KEMULIAAN dan KEBEBASAN, sebab musuh yang diperangi oleh AS dan SAUDI adalah Komunisme.


20 atau 30 tahun kemudian, kata jihad mulai identik dengan terorisme. Jika dulunya jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan adalah fardhu ain, maka perlawanan terhadap Amerika yang kemudian juga menyerang Afghanistan dan Irak dianggap sebagai 'fitnah' yang harus dijauhi. Saudi melarang dan mengancam akan mempidanakan setiap warganya yang keluar 'berjihad' baik ke Afghanistan, Irak ataupun Suriah.

**

Presiden of Youth Welfare Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan
tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan.


Selain dukungan resmi dari KSA dan USA, jihad kontra Uni Soviet di Afghanistan tak bisa dipisahkan dari Ikhwan dan gerakan Shahwah. Hubungan IM dan Mujahidin Afghanistan terbentuk melalui para da'i Afghanistan yang belajar di Al-Alzhar seperti Syeikh Abdu Rabb Rasul Sayyaf dan lain-lain. Nama-nama seperti Abdul Mun'im Abul futuh, Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, Dr. Ahmad Al-Malath, Hamid Abu Nashr hingga Syeikh Muhammad As-Shawwaf dan lain-lain adalah tokoh-tokoh penting Ikhwan yang ikut memberikan andil dalam jihad di Afghanistan baik dalam menyalurkan bantuan, mendamaikan para mujahidin hingga turut berkecimpung dalam perang. Umar At-Tilmisani, Mursyid IM ketiga sering berkordinasi dengan para utusan Mujahidin Afghanistan di Kairo. Beliau mengutus Ustad Kamaluddin As-Sananiri (suami Aminah Qutb) pada tahun 1980 ke Pakistan untuk meninjau jihad dan kebutuhan para mujahidin. Dalam perjalanan pulang dari Pakistan ke Mesir, As-Sananiri singgah berhaji di Arab Saudi dan bertemu dengan Syeikh Abdullah Azzam dan berkomitmen untuk memobilisasi para pemuda untuk berjihad. Namun, begitu sampai ke Mesir, As-Sananiri langsung dipenjara dan meninggal akibat penyiksaan yang dialaminya.

**

Umar At-Tilmisani, Mursyid IM ketiga berkordinasi dengan para utusan Mujahidin Afghanistan di Kairo


Berbicara tentang jihad Afghan, Syeikh Abdullah Azzam adalah ikonnya. Dalam mukaddimah risalah fatwa jihadnya 'Ad-Difa' 'An Aradhi Al-muslimin Ahamm Furudh Al-A'yan' Syeikh Azzam menjelaskan bahwa fatwa jihadnya disetujui oleh para ulama Saudi saat itu terutama Syeikh Bin Baz, bahkan Syeikh Bin Baz ikut berfatwa di mesjid Bin Laden Jeddah dan mesjid Al-Kabir Riyadh bahwa jihad dengan jiwa adalah fardhu 'ain. Diantara mereka yang menyetujui fatwa jihad Syeikh Abdullah Azzam di Afghanistan adalah:
Syeikh Muhammad Ibnu Sholih Ibnu Utsaimin, Al-Allamah Syeikh Abdu Ar-Razaq Afifi (Na'ib Mufti KSA dan anggota Hai'ah Kibar Ulama KSA), Syeikh Hasan Ayyub (lulusan Al-Azhar dan dosen King Abdul Aziz Jeddah), Syeikh Muhammad Al-Asal (lulusan Al-Azhar dan dosen di Al-Imam University Riyadh), Syeikh Abdullah Nasih 'Ulwan (ulama asal Aleppo yang mengajar di King Abdul Aziz University Jeddah), Syeikh Sa'id Hawwa, Muhaddis Mesir Syeikh Muhammad Najib Al-Muthi'i, Dr. Hussein Hamid Hassan (anggota di Persatuan Ulama Muslim Internasional) dan lain-lain.(1) Syeikh Abdul Aziz bin Baz juga menyetujui dicetaknya kitab 'Ayat Ar-Rahman Fi Jihad Al-Afghan' karya Syeikh Abdullah Azzam sebagaimana dijelaskan dalam mukaddimah cetakan pertama.(2)

Lulus dari Universitas Damaskus tahun 1966, Syeikh Abdullah Azzam melanjutkan studinya di Al-Azhar As-Syarif baik magister maupun doktoral. Beliau lulus dan mendapatkan Ph.D dalam bidang Ushul Fiqih tahun 1973. Latar belakang dan kapasitas keilmuan yang mumpuni menjadikan Syeikh Abdullah Azzam ikon jihad yang faqih dan ushuliy dimana sikap-sikap dan fatwanya selalu didasarkan pada pertimbangan maslahat dan mafshadat. Sepanjang jalan jihadnya, beliau tak pernah bosan menyatukan para mujahidin dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda serta sangat berhati-hati dalam masalah takfir terutama pengkafiran terhadap penguasa. Berbeda halnya dengan Osama Bin Laden yang tidak punya basic keilmuan yang kuat, diperparah dengan masuknya para jihadis takfiri dari Mesir, Saudi dan lain-lain yang menyebabkan sebagian mujahidin Afghan Arab paska meninggalnya Syeikh Abdullah Azzam kemudian lebih identik dengan radikal dan teroris.

**

Bersamaan dengan meletusnya perang Afghanistan, gerakan Shahwah Islamiyyah yang dipelopori oleh para da'i-da'i muda revolusioner Saudi seperti Salman Al-Audah dan Safar Al-Hawali booming pada tahun 1980an dan didukung oleh penguasa, terutama oleh Raja Fahd yang menganggap bahwa gerakan Shahwah adalah gerakan pencerahan yang diberkati (video pujian Raja Fahd terhadap Shahwah Islamiyyah bertebaran di YouTube). Bahkan Syeikh Utsaimin mengarang kitab 'As-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith Wa Taujihat' untuk menuntun para pemuda yang bersemangat menyongsong kebangkitan Islam Saudi. Oleh sebagian pengamat, dukungan penguasa KSA untuk gerakan Shahwah yang revolusioner dianggap hanya sebagai gerakan tandingan dan wadah untuk 'memuaskan dahaga' para pemuda agamis Saudi yang terpengaruh dengan revolusi Iran yang Syi'ah. Jadi KSA melihat perlunya mendukungnya kebangkitan Islam yang juga memiliki ruh revolusioner dari kalangan Sunni sekalian mengarahkan mereka untuk terjun dalam medan jihad di Afghanistan. Dan sebagaimana telah kita ketahui, kemesraan itu hanya berlangsung sesaat, sebab gerakan Shahwah kemudian menjadi pengkritik kebijakan KSA yang meminta bantuan Kuffar Amerika untuk menghalau Saddam Husein yang menyerang Kuwait dan mengancam Saudi. As-Shahwah sebagai gerakan pencerahan yang terberkatipun kini dianggap sebagai 'ideologi impor yang radikal' oleh Alu Su'ud.


Para mujahidin Afghan Arab, Ikhwanul Muslimin dan gerakan Shahwah Islamiyyah adalah contoh paling mencolok dari gerakan keagamaan yang disupport sedemikian rupa oleh KSA dengan dana minyaknya yang melimpah namun kemudian divonis sebagai teroris radikal ketika tak lagi dibutuhkan dan sesuai dengan keinginan KSA. Hal yang sama terjadi untuk Saddam Husein 'Asadussunnah', sang singa ahlussunah (gelar untuk Saddam yang disupport Saudi saat menyerang Iran) yang kemudian divonis kafir oleh Grand Mufti Saudi sendiri. Pameran jihadpun digelar di Universitas Al-Imam Muhammad Bin Su'ud Riyadh tahun 1991 (4-6 Sya'ban 1411 Hijriyah) dibawah pengawasan rektor Jami'ah Al-Imam Dr. Abdul Muhsin At-Turky. Pameran jihad kali ini bukan lagi kontra Soviet, tapi kontra Pemerintahan Pemberontak Saddam Husein yang wajib dilawan. Fatwapun dikeluarkan dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an bahwa siapa saja yang mati saat berperang melawan Irak maka ia mati syahid.(3)

**

Pameran jihad di Universitas Al-Imam Muhammad Bin Su'ud Riyadh tahun 1991 (4-6 Sya'ban 1411 Hijriyah)
dibawah pengawasan rektor Jami'ah Al-Imam Dr. Abdul Muhsin At-Turky.
Pameran ini diadakan untuk menggalang semangat jihad
kontra Pemerintahan 'Pemberontak Irak' Saddam Husein yang wajib dilawan.


Saat masih menjadi Menteri luar negeri era Obama, Hillary Clinton mengakui bahwa para Mujahidin Afghanistan yang saat itu mereka perangi sejatinya dibesarkan oleh AS dan Saudi sendiri. Benar memang, paska syahidnya Syeikh Abdullah Azzam sebagian mujahidin Arab berubah menjadi radikal dan teroris dikarenakan dangkal dan kakunya pemahaman keislaman mereka sendiri. Akan tetapi, 'terorisme negara' yang menolak kepulangannya mereka dan seenaknya 'memperkosa' teks-teks agama demi kelanggengan kekuasaannya adalah juga salah satu sebab penting merebaknya radikalisme. Syeikh Salman Al-Audah mungkin adalah salah satu contoh ulama moderat yang menyeru kepada reformasi namun tetap dianggap berbahaya oleh Saudi. Padahal, ketimbang pengaruh Syeikh Muhammad Surur dan Islam Saudi yang konservatif, Syeikh Salman Al-Audah dikemudian hari lebih mewarisi kemoderatan pemikiran Syeikh Abu Ghuddah dan Syeikh Al-Qaradhawi.


Dalam wawancara dengan Jeffrey Goldberg; jurnalis dan pemimpin redaksi majalah The Atlantic Amerika, MbS mengakui Saudi adalah donatur penting terhadap IM. Ia juga mengatakan bisa jadi suatu hari nanti, Saudi akan kembali berkoalisi dan meminta bantuan IM jika dibutuhkan. Apakah nantinya label teroris yang dicap di muka IM akan diganti dengan gelar 'Gerakan Pencerahan'? Bagaimana nantinya tanggapan para pemuka agama KSA yang hari ini memvonis IM khawarij? Apakah gelar Khawarij akan diganti dengan 'Ikhwan mujahidin mukhlisin' sebagaimana dulu Raja Faishal pernah menggelarinya? Sampai kapan Alu Su'ud akan terus 'mempolitisasi agama' lalu mencampakkannya ketika tak lagi dibutuhkan?

Wallahu A'lam.

**


Footnote:

1. Ad-Difa' 'An Aradhi Al-Muslimin, Abdullah Azzam, Halaman 2, cet: Mimbar At-Tauhid Wa Al-Jihad.
2. Ayaturrahman Fi Jihad Al-Afghan, Abdullah Azzam, Halaman 23, cetakan ke lima, Al-Mujtama' Jeddah tahun 1985.
3. Daurul Ulama Wa Du'ah Fi 'Amaliyati Rad' Al-Ghuzaa, Ubaid Abdurrahman Al-Harbiy, Halaman 24-25, cet: Maktabah Al-Obeikan Jeddah


ANTARA SAUDI, IM IKHWAN & SALAFI WAHABI

Dipenghujung tahun 80an, akhir-akhir jihad Afghan kontra Soviet, mulai timbul suara-suara miring terhadap jihad Afghanistan dan para mujahidin. Mereka menakut-nakuti para pemuda yang ingin berjihad dengan kondisi Afghanistan yang super panas, dingin dan salju serta akan berhadapan dengan salah satu tentara terkuat dimuka bumi; tentara merah Uni Soviet. Sebagian mereka berangkat sampai ke Peshawar Pakistan dan sekembalinya ke Saudi mereka gencar memprovokasi publik agar tidak berdonasi untuk jihad Afghan dengan alasan bahwa para mujahidin Afghan adalah ahli bid'ah, quburiyyin (penyembah kubur) dan musyrikin. Menurut mereka, berjihad ke Afghanistan sama saja dengan bergabung dengan musyrikin Afghan kontra mulhidin (atheis) Rusia.

Syeikh Abdullah Azzam (dalam pidatonya yang dibukukan dengan judul 'Fi Zilal Surah At-Taubah' dan diterbitkan oleh Markaz As-Syahid Azzam Al-Islami) menganggap mereka sebagai kaum munafik yang justru menjadi batu sandungan bagi para mujahidin. Saat itu, Syeikh Abdullah Azzam mungkin tidak tau bahwa kelompok tersebut adalah 'anak' dari intelijen Saudi dan lahir dari rahim menteri dalam negeri Saudi sendiri sebagaimana Ahmadiyah Qadiyaniyah yang menegasikan jihad lahir dari rahim Britania Raya. 

~~

Sejak awal berdirinya, masyarakat Saudi terbagi dalam beberapa kecenderungan keislaman yang berbeda-beda. Kecenderungan Asy'ari Shufi yang makin lama makin tergerus, lalu Salafiyah konservatif yang diwakili oleh para ulama resmi KSA serta Hai'ah Kibar Ulama dan dekat dengan penguasa, serta Salafiyah Ultra Konservatif  yang cenderung revolusioner dan radikal yang tercermin dari Ikhwan Wahabiyah (Man Atha'a Allah), kelompok Juhaiman cs dan Salafiyah Muhtasibahnya yang kemudian bermetamorfosis menjadi Salafi Jihadi. Lalu Ikhwanul Muslimin masuk dan berkembang pesat era 60-an 70an pada masa Raja Faishal, kemudian gerakan shohwah Islamiyyah (dengan pengaruh dan warna IM) disupport KSA di era 80an untuk memobilisasi jihad Afghan dan membendung pemahaman liberal hingga meletuslah perang teluk II tahun 1990. Saat itu Syeikh Bin Baz mengeluarkan fatwa kafirnya Saddam Husein (walaupun ia sholat dan mengucap syahadat) dan bolehnya meminta bantuan kafir Amerika untuk melawan kezaliman Saddam dimana kemudian memaksa Saudi untuk menampung ribuan tentara AS di Saudi yang secara tekstual bertentangan dengan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Keluarkanlah kaum musyrikin dari jazirah Arab."

Fatwa ini dikritik oleh para ulama  Shahwah seperti Dr. Salman Al-Audah dan Dr.Safar Al-Hawali. Al-Hawali menulis kitab 'Kasyf Al-Ghummah 'An Ulama Al-Ummah' untuk mengkritik Bin Baz dan Hai'ah Kibar Ulama. Sementara sebagian da'i Salafiyah di Universitas Islam Madinah seperti Muhamamad Aman Jami dan Rabi Bin Hadi Al-Madkhali membela fatwa Hai'ah kibar ulama dan KSA. Al-Madkhali mengarang kitab 'Shadd 'Udwan Al-Mulhidin Wa Hukmu Al-Isti'anah Ala Qitalihim Bi Ghairi Al-muslimin'. Madkhaliyah (sebutan utk sekte ini) kemudiannya bertindak lebih jauh dalam ketaatannya yang mutlak terhadap Alu Su'ud serta menuduh kelompok yang berbeda dengan mereka sebagai Khawarij, Hizbiyin, Quburiyyin, Mubtadi' dan gelar-gelar buruk lainnya. Alu Su'ud yang butuh pada satu kelompok salafiyah yang bisa membantu mendukung sikap-sikap politiknyapun dengan senang hati mensupport Jaamiyah Madkhaliyah sejak tahun 90an. 

Combating Terrorism Center; lembaga akademik Akademi Militer AS di West Point, New York (mengutip lembaga think tank; ICG) melaporkan bagaimana Madkhalis didukung KSA dan menjadi mata-mata setiap jihadis yang pulang ke Saudi dari Afghanistan. "...Madkhali is not well-known in the West and he is no longer a person of much influence in Saudi Arabia. But in the 90s, he was incredibly influential in Saudi Arabia (and he still has a large following among Muslims in Europe). Much of this influence derived from the support he received from the Saudi government. During and after the first Gulf War, the Saudi government faced intense criticism from the leaders of the Sahwa
movement (a politically active strain of Wahhabism) for allowing US troops to be stationed in Saudi Arabia. These leaders had a large following, particularly among the youth. To blunt their appeal, the Saudi government arrested the movement's leaders and strongly backed Madkhali, who supported the regime, was politically quietist, and, most importantly, was effective at siphoning off potential Sahwa recruits, particularly among the youth..."

~~

Diantara sikap ekstrim Madkhalis terhadap Ikhwan, gerakan Shahwah dan tokoh-tokohnya adalah seperti yang Rabi' Al-Madkhali tulis dalam kitabnya 'Adhwa' Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Qutb Wa Fikrih' dimana Al-Madkhali menuduh Sayyid Quthb dengan kekufuran, atheisme dan zindiq; Sayyid Qutub mengatakan adanya wihdatul wujud; mengatakan Al Qur’an makhluk ; selain Allah boleh membuat syariat; berlebihan dalam mengagungkan sifat Allah; menolak hadits-hadits mutawatir; meragukan masalah-masalah aqidah yang jelas wajib diyakini dan lain-lain. Kitab ini kemudian diminta untuk dikoreksi oleh Syeikh Bakr Zaid dimana Syeikh Bakr Zaid karena keinshofannya membantah tuduhan-tuduhan Al-Madkhali dan melarang mencetak kitab tersebut. 

Di Yaman, salah satu tokoh sekte ini Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i menulis buku berjudul 'Iskat Al-Kalb Al-'Awi Yusuf Ibn Abdullah Al-qaradawi'/Mendiamkan Anjing Yang Menggonggong Yusuf Bin Abdullah Al-Qaradhawi untuk membantah pemikiran Syeikh Al-Qaradhawi. Karenanya, tidak mengherankan jika banyak pengikut salafi Yaman yang belajar di Dammaj sangat tajam lidahnya terhadap sebagian ulama yang berbeda dengan mereka. 

Syeikh Albani termasuk yang mengkritik sikap ekstrim Al-Madkhali dalam tuduhannya terhadap Sayyid Qutb terkait ungkapan jahiliyah yang menurut Al-Madkhali adalah pengkafiran terhadap umat Islam. Bahkan menurut Syeikh Albani, hampir di semua kitab Al-Madkhali terdapat sikap ekstrim. (Lihat tulisan Ustad Firanda Andirja dalam webnya dengan judul: Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr). 

Sikap ekstrim Madkhalis dalam membid'ahkan dan mentahzir kelompok lain atas nama ilmu jarh wa ta'dil tidak hanya dibantah oleh kelompok non salafi, Syeikh Salih Fauzan sendiri (anggota Hai'ah Kibar Ulama Saudi) membantah sikap ekstrim Madkhalis dalam mentabdi' dan mentahzir dan menganggapnya sebagai ghibah. Sebab ulama jarh wa ta'dil sudah meninggal. 

Jika Madkhalis mentahzir dan melarang kitab-kitab karangan tokoh Shahwah seperti Salman Al-Audah, Syeikh Bin Baz justru merekomendasikan dan memberikan kata pengantar terhadap kitab-kitab Al-Audah dan menyebutnya sebagai Al-Akh Al-Allamah (lihat tetralogi membumikan Islam 'Silsilah Rasail Al-Ghuraba'/Al-Uzlah Wa Al-Khulthah Ahkam wa Ahwal' yang dicetak tahun 1993. 

Sikap ekstrim; loyalitas mutlak Madkhaliyah terhadap penguasa dan permusuhan mereka terhadap para ulama dan umat Islam yang berseberangan dengan mereka membuat musuh-musuh mereka menggelari sekte ini sebagai 'Murjiah Ma'al Hukkam wa Khawarij Ma'a Ad-Duah Wa Aamatul Muslimin/Bersikap layaknya Sekte Murjiah ketika berhadapan dengan penguasa dan menjadi khawarij ketika berhadapan dengan para da'i dan umat Islam. 

~~

Bisa jadi, banyak orang yang menduga bahwa sangat tidak mungkin bagi sekte Madkhalis untuk melakukan kekerasan bersenjata dan melakukan penculikan serta pembunuhan terencana mengingat sekte ini adalah yang paling gencar meng'khawarij'kan perilaku seperti itu. Namun, apa yang mereka lakukan berupa pemberontakan terhadap pemerintah sah Libiya (GNA) serta penculikan dan pembunuhan terhadap Sekjen Hai'ah Ulama Libiya Syeikh Dr. Nadir Al-Umrani membuktikan kepada kita betapa sekte ini begitu mudah untuk dicuci otaknya sesuai dengan keinginan para tuannya. Belum lagi dengan penculikan dan pembunuhan da'i dan ulama di Aden Yaman yang diduga melibatkan tokoh Madkhalis Yaman Hani' Bin Brik. 

Dalam wawancara dengan New York Time Maret 2010, menteri luar negeri Saudi saat itu; Sa'ud Al-Faishal mengeluarkan statement bahwa masyarakat Saudi sedang menuju kepada masyarakat yang liberal. Sementara itu aktivis liberal Saudi yang juga Sekjen Jaringan Liberal Saudi Su'ad As-Syammari dalam wawancara dengan majalah Deutsche Welle (DW) Jerman yang berbahasa Arab pada Mei 2012 menegaskan bahwa 70% dari masyarakat Saudi adalah liberal. Su'ad juga menyebutkan beberapa nama neo-salalafis Saudi yang berpaham liberal seperti Abdul Muhsin Al-Ubaikan dan Ahmad Al-Ghamidi dan lain-lain. 

Sejatinya, ada dua kelompok besar liberal di Saudi, Kaum liberalis Sosial yang menuntut reformasi dan kebebasan sosial serta pembatasan pengaruh Agamawan terutama di Komite Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Kelompok ini didukung oleh Alu Su'ud baik secara terang-terangan ataupun diam-diam. Sementara itu kaum liberalis politik yang menuntut kebebasan berpendapat dan reformasi politik rata-rata dimusuhi oleh Penguasa KSA karena mereka terkadang juga berkoalisi dengan tokoh-tokoh Shahwah. 

Cukup mengherankan memang bagaimana kaum Liberalis dan Madkhalis bisa berjalan berbarengan di Arab Saudi padahal Madkhalis adalah sekte konservatif dan kaku dalam menyikapi masalah-masalah ikhtilat, dunia hiburan dan lain-lain yang saat ini gencar dipromosikan MbS melalui General Entertainment Authority. Sampai saat ini kita (saya) belum mendengar kecaman dan kritik dari Madkhalis terhadap Alu Su'ud yang mengarahkan kehidupan sosial masyarakat Saudi menjadi liberal dan hedonis. Atau jangan-jangan konflik antara Madkhalis vs Ali Su'ud dan Liberalis adalah seperti api dalam sekam yang suatu saat akan membakar semuanya? Dan pada akhirnya Madkhalis juga akan dicampakkan? 

Wallahu A'lam.

RATU ISABELLA DAN SISI KELAM RECONQUISTA DI ANDALUSIA

Ratu Isabella, Di belakang namanya yang indah, ternyata meninggalkan catatan gelap sejarah gelap kemanusiaan dan  berdarah dalam umat Islam?

Isabella dari Castille, lahir pada 22 April dan meninggal pada 26 November 1504. Dia adalah aktor utama di balik berakhirnya pengaruh politik dan sosial Islam di Spanyol dengan jatuhnya Kota Granada di tangannya.

Dia dan suaminya, Raja Ferdinand II dari Aragon, mengadu keluarga kerajaan Bani Ahmar di Granada sehingga rusaknya persatuan kerajaan dan pada akhir cerita, umat Islam harus meninggalkan tanah Andalusia untuk selamanya.

Para uskup dan imam juga menyebut Isabella sebagai "The Catholik", karena ia terkenal dengan gerakan Reconquistanya untuk memaksa umat Islam untuk murtad atau mengusir mereka dari negeri mereka Andalusia.  Salah satu kejahatannya adalah pembantaian 140 ribu Muslim yang sedang digiring dalam perjalanan untuk keluar dari negara Andalusia.

Sejarah membuktikan bahwa Isabella adalah pelaku "Pengadilan Inkuisisi", sebuah agenda penyiksaan terhadap umat Islam yang menolak kemurtadan.  Awalnya Isabella mengizinkan Muslim dan Yahudi untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka.  Tetapi, akhirnya Isabella dan para pemimpin Spanyol mengkhianati perjanjian itu dan mereka mengumumkan dua pilihan untuk pemegang keyakinan Islam dan Yudaisme.  Satu, tetap di Spanyol tetapi harus masuk Kristen, pilihan kedua adalah meninggalkan Spanyol tanpa membawa apa-apa jika tetap berpegang pada keyakinan awal mereka.  Jika menolak akan dihabisi.

Penyiksaan yang terjadi di "Pengadilan Inkuisisi" dapat dilihat sebagai 'inspirasi' untuk film sadis, ketika menyiksa korbannya.  Mulai dari gergaji, pembakaran hidup-hidup, tang, peti berduri dan hal-hal menakutkan lainnya.

Berikut adalah potret ilustrasi kekejaman dari inkuisisi.

AKHIR SENGOKU

@salimafillah

Tiga nama itu takkan pernah hilang dari sejarah Jepang; Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu.
.
Anak-anak Jepang masih menghafal peran mereka di masa penyatuan nan penuh darah di akhir Era Sengoku dalam sebuah haiku, "Nobunaga menumbuk padi, Hideyoshi menanak nasi, dan Ieyasu memakannya tujuh turunan."
.
Tentang watak masing-masingnya, sebuah puisi pendek lain dengan tepat menggambarkannya. "Jika seekor burung tak mau bernyanyi; apa yang harus kita lakukan?"
.
"Bunuh saja!", sahut Nobunaga.
.
"Buat agar ia ingin bernyanyi", kata Hideyoshi.
.
"Tunggu!", seru Ieyasu.
.
Ketika kejayaan para panglima perang agung dari marga Hojo, Odawara, Takeda, dan Uesugi berakhir dengan tampilnya persekutuan 3 orang yang unik lagi saling melengkapi ini, berakhirlah Era Sengoku yang hampir 2 abad mewarnai Jepang dengan Seni Perang yang indah namun penuh darah.
.
Nobunaga yang kharismatik, nekad, haus akan hal baru, namun juga brutal, memulai kampanyenya dengan penghadangan Imagawa Yoshimoto dari Suruga yang hendak menuju Kyoto untuk mengambil alih keshogunan dari marga Ashikaga. Keranjingannya pada teknologi menuntun pada strategi penembak berlapis yang mengakhiri kemasyhuran Takeda Shingen dari Kai.
.
Hideyoshi yang buruk rupa, periang, terkesan pandir, cerdik, setia kawan, dan pandai bergaul melanjutkan kerja besar Nobunaga ketika atasannya itu terbunuh oleh pengkhianatan Akechi Mitsuhide di Kuil Honnoji. Dari donjon-donjon Azuchi yang dibangun Nobunaga di tepi Danau Biwa, dipindahkannya ibukota ke Osaka yang kukuh dan jelita. Masa pemerintahan Sang Taiko akan dikenang sebagai zaman keemasan.
.
Setelah kematiannya, salah satu kepercayaannya mengambil alih semua itu. Ieyasu, si tabah hati, si pengalah, si pendiam, dan si penyabar itu akhirnya merebut semuanya di Sekigahara, ketika dia mengalahkan Aliansi Barat pewaris Hideyoshi yang dipimpin Ishida Mitsunari. Era Sengokupun berakhir.

AYA SOFYA dan HUKUM PERANG

@salimafillah

Apa yang terjadi di masa lalu memang tidak bisa diukur dengan takaran masa kini. Mari cerdik menelisik dan cerdas menyimpulkan.
.
Barangkali ada yang bertanya, mengapa Sayyidina 'Umar enggan shalat di Gereja Makam Suci di Jerusalem meski disilakan Patriark Sophronius dengan alasan beliau khawatir kelak ada yang akan mengubah gereja itu menjadi Masjid dengan alasan 'Umar pernah shalat di situ; sedangkan Al Fatih malah mengubah Aya Sofya menjadi Masjid.
.
Iya. Kalau sebuah kota menyerah damai; maka pemimpin pasukan muslim wajib melindungi dan menjaga hak seluruh kota tersebut, termasuk hak milik dan tempat ibadah. Inilah yang dilakukan oleh Sayyidina 'Umar. 
.
Adapun Al Fatih sudah memberi pilihan damai kepada Kaisar Konstantin XI Palaiologos. Sang Kaisar melawan dan kotanya jatuh oleh pertempuran. Beda dengan penyerahan damai; menurut hukum perang masa itu seluruh milik pihak kalah adalah hak pemenang. Beliau sebagai pemegang hak lalu mewakafkannya dan menuliskan ancaman bagi sesiapa yang mengubahnya.
.
Fakta penting lainnya, ketika Al Fatih mengubah Aya Sofya menjadi Masjid, Gereja Agung itu sebenarnya telah terbengkalai dan ditutup seabad lebih karena tak ada anggaran untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa pada 1344 dan penjarahan Pasukan Salib 1204.
.
Bandingkan Aya Sofya dengan Masjid Agung Toledo.
.
Kota ini jatuh pada Kerajaan Castillia pada 25 Mei 1085 setelah pengepungan 1 tahun membuat kaum muslimin kelaparan. Amirnya, Yahya II Al Qadir, menyerahkan Toledo secara damai pada Alfonso VI setelah Raja Katolik itu berjanji akan menjaga keamanan kaum muslimin dan membiarkan Masjid-masjid tetap jadi tempat ibadah Islam.
.
Alfonso VI mengingkari janjinya. Dia membiarkan Masjid Agung Toledo dirampas oleh ummat Katolik atas perintah Uskup Agung Bernardo dari Sedirac. Masjid itu pun dijadikan Katedral. Masjid Agung Cordoba, Masjid Agung Sevilla, dan begitu banyak Masjid lainnya di Andalusia, Yunani, dan Balkan mengalami nasib serupa di kurun berikutnya.
_____

Hagia Sofia menjadi Masjid kembali, ternyata Impian sejak dahulu Erdogan Sebelum diPenjara


Azan kembali bergema di Hagia Sofia setelah lebih dari 86 tahun dilarang dikumandangkan setelah diubah fungsinya oleh Mustafa Kemal Attaturk menjadi museum. kini masyarakat turki menyambut dengan riang gembira disekeliling Hagia sofia yang kini statusnya kembali diubah menjadi masjid kembali oleh Erdogan.

banyak analis-analis berkomentar mengenai peristiwa ini tapi pendapat yang mayoritas berkesimpulan bahwa erdogan membuat kebijakan yang populer berkenaan pemilu yang akan datang. tapi tahukah anda ternyata erdogan telah lebih dahulu menyatakan impiannya tersebut ke publik semenjak ia menjabat sebagai walikota Istanbul dahulu 1994.


Dalam salah satu wawancara Erdogan dg salah satu majalah media arab ketika dulu masih menjabat sbg walikota Istanbul. Erdogan dengan mantap berkata ketika itu: wajah Islam kan kembali ke Istanbul dan Hagia Sophia akan kembali menjadi masjid.

Erdogan terpilih sebagai walikota Istanbul dalam pemilihan lokal pada tanggal 27 Maret 1994. Ia dipenjara pada tanggal 12 Desember 1997 karena puisinya yang bermasalah. Setelah empat bulan di penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada 14 Agustus 2001. Dari tahun pertama, AKP menjadi gerakan politik yang didukung publik terbesar di Turki. Dalam pemilihan umum 2002, AKP memenangkan dua pertiga kursi di parlemen, membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun.

Tuduhan terhadap Erdogan adalah karena ia membacakan kutipan dari penyair puisi Ziya Gokalp yang disampaikan dengan sangat antusias didepan publik. Bait puisi itu dibacakan dengan keras selama Konferensi Umum Partai Refah di kota Sard, Anotilia tenggara.

Adapun bait-bait puisi dari penyair Ziya Gokalp sebagai berikut:

Masjid adalah barak kami

Kubah adalah penutup kepala kami

Menara adalah bayonet kami

Orang-orang beriman adalah tentara kami

Tentara ini yang menjaga agama kami

Impian erdogan yang akhirnya terwujud 26 tahun kemudian setelah pula mengantar Turki melewati masa-masa kritis ekonomi dan politik serta tekanan sekuler menjadi negara yang maju setara dengan Amerika dan Rusia dalam meja perundingan, bersahabat dengan pergerakan Islam, bahkan mendukung seluruh pergerakan pembebasan dan membantu wilayah islam yang sedang musibah

Hagia Sophia: Dari Gereja, Masjid, Museum, dan (apakah Berhasil) Kembali ke Masjid ?



Jumat (10/7/2020) menjadi hari bersejarah bagi Turki dan dunia. Pengadilan tinggi administrasi negara Turki, yang biasa disebut Dewan Negara, telah mencabut keputusan Ataturk tentang gedung Hagia Sophia.

Pengadilan administrasi utama Turki membatalkan keputusan presiden 1934 untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Pembatalan itu membuka jalan bagi Hagia Sophia untuk kembali menjadi masjid. Meski demikian, keputusan pengadilan ini masih menunggu keputusan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Keputusan ini menindaklanjuti rencana Erdogan untuk mengembalikan fungsi museum sebagai masjid. Menurutnya, bangunan bersejarah sebagai museum adalah langkah yang salah. Rencana itu menuai protes dari banyak pihak, salah satunya adalah Amerika Serikat.

Hagia Sophia sendiri memiliki sejarah yang sangat panjang, Hagia Sophia telah menjadi salah satu tempat paling mulia bagi umat Kristen Ortodok dan Muslim.

Sejarah Hagia Sofia
Hagia Sophia yang dalam bahasa Yunani berarti kebijaksanaan Ilahi, adalah bangunan berbentuk kubah yang terletak di Istanbul. Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 537 M oleh Kaisar Justin I dari Kekaisaran Romawi Timur.

Awalnya, bangunan ini adalah pusat kekristenan Ortodoks dan menjadi gereja terbesar di dunia selama berabad-abad. Hagia Sophia tetap menjadi gereja sampai Konstantinopel diperintah oleh Sultan Mehmet dari Ottoman. Di bawah pemerintahan Sultan Mehmet, Hagia Sophia berubah menjadi masjid.

Kekaisaran Ottoman membangun empat menara. Simbol-simbol Kristen ditutup dan digantikan oleh kaligrafi lafaz Allah dan Muhammad. Setelah Ottoman runtuh, presiden pertama Turki, juga dikenal sebagai bapak modernisasi Turki, Mustafa Kemal Ataturk, mengubah Turki menjadi negara sekuler.

Pada tahun 1934 gedung Hagia Sophia yang dulunya berfungsi sebagai masjid diubah menjadi museum.

Pada 2019, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid. Analis barat percaya bahwa pernyataan Erdogan terkait dengan upaya partainya, AKP, mencari dukungan menjelang pemilihan.

Pada tahun 2020, rencana Erdogan akan terus mengajukan aplikasi ke pengadilan. Akibatnya, Dewan Negara hari ini membatalkan dekrit Ataturk sehingga membuka jalan bagi kembalinya Hagia Sophia ke masjid.