KEPADA YANG MENUNDA BERDAKWAH: PELAJARAN DARI KISAH AFIF BIN QAYS

Saat Fathul Makkah, Yaumul Marhamah, semua orang bergembira. Orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Disaat semua orang meninggikan asma Tuhan dalam bahagia tapi ada seseorang yang larut dalam kesedihan menangis pilu. Namanya Afif bin Qays. Lelaki ini ternyata dilanda rasa penyesalan yang teramat sangat. apa yang membuatnya merasa begitu menyesal ? 

Flash back waktu ke masa lalu lebih dari 20 tahun terjadinya sebelum Fathul Makkah. 
 
Afif bin Qays, seorang pedagang dari bani Kindah, sedang berkunjung ke Makkah untuk berhaji. Di Makkah dia menyempatkan diri menemui seorang sahabatnya, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Saat bersama Abbas itulah Afif bin Qays terkesima saat melihat 3 orang yang sedang mengerjakan ibadah shalat di dekat Ka'bah. Seorang lelaki sebagai imam; seorang anak kecil di samping kanannya, dan seorang perempuan di belakangnya. Mereka shalat jamaah bersama.

Ia lalu berkata kepada temannya Abbas bin Abdul Muthalib, 

"Ya Abbas, amrun adziim, ini adalah perkara yang agung"

"Begitulah", jawab Abbas bin Abdul Muthalib. 

"Siapakah orang-orang itu? tanya Afif bin Qays penasaran. 

"Pria itu adalah Muhammad bin Abdullah, keponakanku. yang kecil itu Ali, keponakanku juga. Dan yang perempuan adalah isterinya Muhammad, Khadijah", jawab Abbas bin Abdul Muthalib. Lalu diapun melanjutkan, 

"Muhammad menyampaikan kepadaku bahwa Allah, adalah Rabb langit dan bumi, dan telah mengutusnya dengan agama ini, dan juga mengklaim bahwa istana Kisra dan Qaisar akan ditaklukkan untuknya nanti; dan demi Allah, tidak ada yang mengikuti agama ini di muka bumi kecuali mereka bertiga itu saja. ".  

Jawaban itu ternyata merasuk ke dalam hati Afif bin Qays. Dia merasakan cahaya kebenaran, menjadikannya ingin bergabung menjadi orang keempat yang masuk Islam. 

Tapi dia tidak kunjung segera masuk Islam. Dia terus disibukkan dengan urusan bisnisnya. Begitu terus -menerus hingga 20tahun lebih hingga kemudian Rasulullah SAW datang membawa pasukan dari Madinah dan berhasil menaklukkan Makkah. Saat itulah Afif bin Qays baru masuk Islam. Dan diapun menyesal sejadi-jadinya. 

Dia telah kehilangan waktu berharga lebih dari 20 tahun (riwayat lain ada yang menyebut 15 tahun). Andaikan saja dulu dia memenuhi panggilan hatinya segera masuk Islam ketika mendapatkan penjelasan dari Abbas bin Abdul Muthalib, maka dia bisa menjadi orang keempat yang masuk Islam. dan merasa nikmatnya perjuangan dan kehidupan yang penuh arti. Dia mestinya bisa merasakan ikut Hijrah, berbaris dalam Perang Badar, atau terluka dalam Perang Uhud, dan sulitnya Perang Khandaq, dsb. Namun kesempatan emas itu telah ia sia-siakan. Terlewat begitu saja tanpanya. Padahal dia telah merasakan cahaya kebenaran. 
Sahabat, mari kita ambil pelajaran...
Jangan sampai kita juga ikut menyesal seperti Afif bin Qays. Jika telah tampak kebenaran di depan mata kita, mari segera kita ikuti tanpa tunda. 

Dan insyaAllah dijalan dakwah ini, insyaAllah adalah jalan yang akan mengantarkan kita semua kepada keridhaan Allah dan rahmatnya. Janganlah kita menunda-nunda untuk bergabung dalam perjuangan mulia.

Orang yang cerdas adalah mampu membaca alam, orang yang bisa melihat reka ujung hasil dari sebuah perkara sejak di awal pandangan. 

[Animous]

0 komentar:

Posting Komentar