This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

GIVE AND GIVE


Pada jaman dahulu, ada seorang peternak mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak.

Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba milik peternak. 

Si peternak meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tapi ia tidak peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba, sehingga terluka parah. 

Si peternak merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota berkonsultasi kepada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita peternak tersebut dan berkata:

"Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan mendapatkan seorang musuh. Mana yang Anda inginkan, menjadikan tetanggumu sahabat atau seorang musuh?”

Peternak itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang sahabat.

"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi dimana Anda harus memberikan anak domba Anda kepadanya, supaya domba Anda tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda sebagai sahabat ”.

Ketika sampai di rumah, peternak itu segera melaksanakan solusi pak hakim. 

Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerimanya dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah lagi mengganggu domba-domba si peternak.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan peternak itu kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada si peternak. Sebagai balasannya, peternak juga mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat kedua tetangga itu menjadi bersahabat.

Jika Anda berkumpul dengan serigala, Anda akan belajar melolong.

Tapi jika Anda bergaul dengan Rajawali, Anda akan belajar cara terbang mencapai ketinggian yang luar biasa.

Kenyataan yang sederhana tetapi benar, bahwa Anda menjadi seperti orang yang bergaul dekat dengan Anda.

Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas.

Persahabatan yang didapat dari uang, pangkat dan ketenaran bukan persahabatan sejati, melainkan hanya pergaulan dangkal yang penuh kepalsuan, yang eois, materialis, munafik dan penuh kebohongan.

Persahabatan sejati lahir dari kasih, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan, kebersamaan dan iman.

Itu sebabnya persahabatan itu indah, tidak dapat dinilai dengan harta benda, tidak dapat diperjualbelikan.

GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE

Salah Kalkulasi RUU HIP, PDIP Hadapi Tsunami Politik

Oleh Hersubeno Arief

PDIP dan partai-partai pendukung pemerintah  salah kalkulasi soal RUU HIP. Kelihatannya mereka menduga bakal selamat, sukses menyelundupkan dan menggolkan undang-undang, seperti sebelumnya.

Mumpung sedang pandemi. Mumpung rakyat sibuk dengan urusan perut dan periuk nasi. Mumpung elemen masyarakat kritis dan mahasiswa tak bisa turun ke jalan.

Optimisme itu tidak berlebihan. Sejauh ini mereka selalu sukses.   Bekerja untuk kepentingan oligarki, meloloskan undang-undang di balik tabir pandemi.

Mulai dari UU Minerba, sampai yang kelas kakap seperti UU Kebijakan dan Stabilitas Keuangan Negara alias UU Covid-19.

Semua berhasil digolkan. Melenggang mulus tanpa perlawanan yang berarti. Hanya riak-riak, gelombang kecil yang hilang dengan sendirinya. Tertelan waktu dan berbagai isu.

Tapi kali ini mereka salah hitung. Terlalu serakah dan kemaruk. Aji mumpung.

Mereka barangkali lupa dengan pepatah, tak ada pesta yang tak berakhir. Ketika lampu menyala, dan musik berhenti, mereka seperti tersadar dari mimpi.

Perlawanan publik kali ini bukan hanya riak ombak kecil, yang mengayun dan meninabobokan. Sudah berubah menjadi gelombang pasang.

Bila salah antisipasi bisa menjadi tsunami. Menggulung mereka sampai jauh ke daratan. 

Tsunami politik tidak hanya bagi PDIP, tapi juga bagi pemerintahan Jokowi.

Setelah terpecah belah selama rezim Jokowi berkuasa, baru kali inilah kekuatan agama dan nasionalis bersatu.

Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), PP Muhammadiyah, PBNU, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) sampai Forum Purnawirawan TNI Polri.

Belum lagi berbagai ormas dan elemen-elemen masyarakat lain yang tak terhitung jumlahnya. Semua bersatu padu menolak RUU HIP.

Padahal MUI  masih dipimpin (non aktif) oleh Wapres Ma’ruf Amin. Di kalangan purnawirawan ada mantan Wapres Try Sutrisno yang kini menjadi anggota Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP).

Mereka adalah bagian dari rezim penguasa. RUU HIP tak lagi membuat mereka melakukan kalkulasi politik pragmatis. Ini merupakan soal prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar.

(Eforia kekuasaan)

PDIP tampaknya sedang eforia kuasa. Mereka lupa atau mungkin terlalu percaya diri. Berani dan nekad menabrak isu yang selama ini menjadi tabu terbesar (the biggest taboo) bangsa. Masalah keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Kebangkitan PKI.

Dua isu itu langsung membuat berdiri tanduk berbagai elemen masyarakat. Menyatukan kekuatan yang selama ini terpecah belah.

Tak ada pilihan lain bagi PDIP harus menarik diri. Mundur teratur. Kecuali bila ingin hancur.

Apalagi partai-partai pemerintah yang sebelumnya sempat mendukung, langsung balik badan dan cuci tangan. PDIP ditinggal sendirian menghadapi badai.

Tudingan anti agama dan memberi ruang kebangkitan PKI terlalu berat untuk ditanggung. Stigma ini sangat kuat melekat pada PDIP. Baik karena faktor sejarah maupun representasi anggota dewan dan pemilihnya.

Apalagi rakyat kini sedang sangat sensitif dan waspada atas isu dominasi modal dan TKA Cina. Negara kapitalis sekaligus komunis.

Pemerintah setelah melalui perdebatan sengit di jajaran Polhukam akhirnya  melemparkan bola panas itu kembali ke DPR.

Tinggallah PDIP yang kini harus bersih-bersih. Berkelit sana-sini, berusaha menyelamatkan diri.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan partainya bersedia memasukkan TAP MPRS No XXV Tahun 1966 tentang  pembubaran dan pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam RUU HIP.

Hasto juga menyatakan partainya setuju menghapus pasal tentang ciri pokok Pancasila yang dikristalisasi dalam Trisila dan Ekasila. Sebelumnya ketentuan itu dicantumkan dalam Pasal 7 RUU HIP.

Dalam Pasal 2 disebutkan:  Ciri Pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.
Sementara dalam Pasal 3  Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat 2 terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Usulan ini bukan barang baru. Formula dan rumusan kalimatnya persis seperi yang disampaikan Ir Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Tanggal 1 Juni inilah yang kemudian pada tahun 2016 ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai Hari Lahirnya Pancasila.

Soal peras memeras Pancasila ini belakangan PDIP melalui Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengelak dan menyatakan bukan usulan partainya.

Dia mengaku punyi buktinya. Namun dia menolak menyebutkan usulan siapa dan dari partai apa?

Di medsos beredar pidato Ketua Umum PDIP Megawati yang kembali menyitir gagasan Bung Karno memeras Pancasila hanya menjadi Ekasila. Pidato itu disampaikan pada HUT PDIP ke-44 di Jakarta (2017).

Dengan fakta-fakta itu agak sulit bagi PDIP membantah. RUU usulan itu berasal dari mereka. Yang menjadi Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU HIP kader PDIP Rieke Diah Pitaloka.

Secara historis maupun politik, PDIP paling berkepentingan. Jadi sulit bagi mereka untuk buang badan begitu saja.

Belakangan para pimpinan DPR juga sepakat untuk menunda pembahasan. Namun itu tampaknya tidak cukup.

Hampir semua elemen masyarakat menginginkan agar RUU tersebut dicabut, dibatalkan.

Selain isu PKI dan atheisme yang menafikan keberadaan tuhan dan agama, banyak yang khawatir Pancasila akan kembali menjadi alat gebuk rezim terhadap lawan-lawan politiknya.

Kekhawatiran yang punya alasan sejarah cukup kuat. Orde Lama maupun Orde Baru pernah melakukan hal serupa.

PDIP harusnya belajar dari sejarah. Mereka pernah berada dalam kekuasaan,  kemudian berada di luar kekuasaan. Kini kembali berada di dalam kekuasaan.

Alat pemukul yang mereka ciptakan selama berkuasa, boleh jadi saat ini efektif untuk menggebuk lawan-lawan politiknya. Namun jangan lupa,  suatu saat bisa digunakan oleh penguasa untuk menggebuk balik mereka.

Apa tidak ingat bagaimana rasanya menjadi oposisi. Mengalami represi berkepanjangan selama Orde Baru berkuasa?

Bukankah sejarah  selalu berulang? Secara hukum alam (sunatullah) kekuasaan itu juga akan dipergilirkan.

Sekali lagi, belajarlah dari sejarah. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Mawas dirilah….end

PDIP Mau Buang Badan, Tapi Badannya Terlalu Besar

By Asyari Usman

Kembali ke isu RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). PDIP akhirnya mundur. Mereka bersedia mencantumkan Tap MPRS XXV/MPRS/1966 tentang pelarangan komunisme dan PKI sebagai konsideran RUU. Mereka juga bersedia menghapuskan Trisila dan Ekasila dari RUU itu. PDIP adalah pihak yang mengusulkan kedua materi ini.

Kedua hal ini memunculkan tentangan keras dari semua ormas dan lembaga Islam. Peniadaan Tap MPRS larangan PKI, komunisme dan marxisme-leninisme itu, plus degradasi Pancasila menjadi “Gotong Royong” dan agama disetarakan dengan kebudayaan, memicu kecurigaan terhadap RUU HIP.
Kecurigaan itu sampai pada dugaan bahwa pihak yang memprakarsai RUU ingin membangkitkan kembali komunisme dan PKI di Indonesia. Tentu saja umat beragama, terutama umat Islam, bereaksi sangat keras. NU dan Muhammadiyah menolak. Mereka meminta agar RUU HIP tidak saja direvisi, melainkan dicabut total. Tidak usah dibahas lagi.

Begitu juga Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI malah mengeluarkan maklumat keras bernada ultimatum jika RUU HIP masih berkonten pasal-pasal anti-agama. Didukung 34 MUI provinsi, MUI Pusat menyimpulkan RUU HIP ‘original’ bisa menjadi jalur legal bagi para pendukung PKI dan komunisme untuk bangkit kembali.

Yang sangat mengkhawatirkan, selain penyingkiran Tap larangan komunisme-PKI, adalah Pasal 7 RUU HIP. Di ayat (2) pasal ini, Trisila diuraikan sebagai “sosio-nasionalisme”, “sosio-demokrasi”, dan “ketuhanan yang berkebudayaan”.

Dua istilah pertama yang ini entah apa maksudnya. Tapi, yang terpenting, kita perlu fokus ke istilah ketiga. Yaitu, “ketuhanan yang berkebudayaan”.

Terminologi ini berpotensi mengaburkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa di Pancasila. Bahkan, banyak orang yang berpendapat bahwa istilah “ketuhanan yang berkebudayaan” memberikan ruang yang sangat bebas untuk menafsirkan eksistensi agama dalam kehiudpan berbangsa dan bernegara. Salah satu tafsiran orang adalah menyamakan agama dengan kebudayaan. Atau, bisa dikatakan pasal ini akan ‘mewajibkan’ agama menyerap kebudayaan.

Jadi, RUU HIP sengaja diisi dengan diksi dan narasi yang tak jelas. Penuh dengan poin-poin yang tidak substantif. Seandainya menjadi UU, maka anasir-anasir pro-PKI secara bertahap akan memanfaatkan kesempatan untuk melakukan infiltrasi komunisme ke dalam sistem sosial yang berbasis ketuhanan. Kalau sempat menjadi UU, berarti inflitrasi itu legal.

Dengan membaca kemungkinan ini, umat Islam tampaknya akan menyalakan ‘sistem peringatan dini’ (early warning system). Agar umat senantiasa waspada. Terutama terhadap manuver PDIP. Kelihatannya, partai berlambang Banteng galak tsb tidak akan menyerah.

Mereka tidak akan berhenti sampai di sini. Mereka bisa saja datang kembali dengan upaya penghapusan Tap MPRS larangan komunisme-PKI. Dan juga gagasan ekstraksi (menciutkan) Pancasila. Supaya, berat dugaan, sila Ketuhanan Yang Maha Esa perlahan bisa hilang dan tidak tertulis lagi di dokumen negara maupun teks-teks akademik.

Wakil Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah menegaskan bahwa peniadaan Tap MPRS larangan komunisme di deretan konsideran RUU HIP, bukan inisiatif partainya. PDIP difitnah seolah mendukung kebangkitan kembali komunisme. Begitu juga soal Trisila dan Ekasila. PDIP juga terfitnah, kata Basarah.

Namun, catatan yang ada menunjukkan bahwa kedua hal itu berasal dari Partai Banteng. Kalau bukan PDIP, kenapa mereka yang sibuk mengatakan bahwa Tap MPRS larangan komunisme sekarang sudah dicantumkan di RUU. Sedangkan Trisila dan Ekasila sudah dihapus.
Kelihatannya, PDIP mau buang badan. Cuma, badannya terlalu besar. Sehingga, mau dibuang ke mana pun, tetap terlihat.[]
18 Juni 2020
(Penulis wartawan senior)

Mulia bukan dengan Harta (Kisah Raja Faisal - KSA)

Sebuah realita sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. Ketika terjadi Perang Yom Kippur (Oktober 1973), antara negara Israel yang didukung oleh koalisi negara Amerika dan Eropa barat melawan koalisi negara-negara Arab. 

Pada 17 Oktober 1973, Raja Faisal dari Saudi Arabia yang mewakili negara-negara produsen minyak di Timur Tengah bersepakat untuk mengurangi produksi-produksi minyaknya untuk negara-negara Barat hingga tersisa hanya 5% saja, belum cukup, bahkan dengan meninggikan harga jual ke mereka. 

Hal ini merupakan pukulan telak bagi Amerika, menyebabkan krisis energi bagi industri dan kehidupan mereka yang sangat bergantung kepada energi minyak bumi. 

Namun hal ini tidak membuat mereka jera, presiden Amerika kala itu, Nixon malah ingin menunjukan gambaran sebaliknya dengan memberikan bantuan kepada negara Israel sebesar $ 2,2 miliyar. Hingga menyebabkan negara-negara arab; Saudi Arabia, Emirat, Aljazair, Maroko, Kuwait, Irak, Libya, memutuskan untuk mengembargo Amerika Serikat dari membeli minyak produksi mereka! akibat ini menyebabkan krisis energi luar biasa di Amerika. Antrian untuk membeli bensin terjadi di mana-mana seantero Amerika. 

Di kala itu dunia mengenal slogan raja Faisal yang terkenal: “darah Arab atau minyak Arab”! Dan ini membuat Amerika melemah dan berupaya untuk duduk bernegosiasi dengan raja Faisal. Mereka mengirim Menterinya, Henry Kissinger untuk menemui raja Faisal.

Ketika pesawatnya tiba di bandara internasional Riyadh, Henry dijemput oleh pasukan keamanan raja yang mengendarai unta dan Henry diajak menemui raja Faisal yang menyambutnya bukan di dalam istananya melainkan di dalam kemah di padang pasir ala Arab badui. Ketika memasuki kemah Henry masuk dengan membungkukkan tubuhnya disambut dengan duduk lesehan ala Arab badui pada umumnya. Diwarnai wangi semerbak bau kopi dan disajikan pula susu dan kurma. 

Sambutan seperti ini merupakan pelajaran bagi Henry Kissinger, bahwa mereka bisa bertahan dengan kembali hidup ala nenek moyang mereka yang sudah beribu-ribu tahun hidup seperti ini; kemah, unta, susu dan kurma walau tanpa hadirnya teknologi ! Raja Faisal berkata, “Kami dan nenek moyang kami hidup seperti ini beribu-ribu tahun. Dan kami akan kembali hidup seperti ini!”

Kissinger mencoba membuka dialog dengan berbasa-basi seraya berkata, “Pesawat saya kehabisan bahan bakar, jika diperkenankan kami ingin membeli bahan bakar dengan harga yang anda ajukan.” Raja Faisal lalu menjawab, “Saya sudah tua. Maukah anda merealisasikan cita-cita saya sebelum saya meninggal dunia?” Kissinger pun bertanya, “Apa cita-cita anda?” Raja Faisal menjawab, “Saya ingin melaksanakan shalat dua rakaat di Masjid al Aqsha!”  

Segala upaya untuk bernegosiasi dilakukan oleh Kissinger agar raja Faisal membuka embargonya, namun tak bergeming raja Faisal tetap tegar pada pendiriannya meminta Amerika Serikat segera menghentikan bantuannya untuk Israel dan mengumumkannya kepada seluruh dunia. 

Maka pulanglah Henry Kissinger ke negaranya dengan tangan hampa penuh kegagalan!
=============

Pelajaran : Bahwa Mulia itu bukan dengan harta dan jabatan, juga bukan karena fasilitas yang dimiliki, namun kemuliaan yang sejati adalah ketegaran di atas keyakinan aqidah dan iman hingga mati! Betapa banyak nama-nama pemimpin dan raja-raja di muka bumi, namun nama-nama yang akan dikenang di antara mereka, adalah mereka yang tegar karena mempertahankan iman, harga diri, dan kedaulatan bangsanya!

Unik : Ketika 2 Peluru Beradu

Gambar unik dibawah ini adalah bukti unik ditemukan tampak kedua peluru ini bertabrakan pada pertempuran Gallipoli, Tahun 1915. menjadi saksi gambaran bagaimana peperangan Gallipoli.

SIAPA PENGGAGAS PANCASILA ?

BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)  merupakan wadah yang dibentuk oleh pihak Pemerintah Pendudukan Jepang pada tanggal 29 April 1945 yang bertepatan juga dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito saat itu. Badan Organisasi ini dibentuk dengan alasan Jepang inginkan hal terbaik bagi bangsa Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia padahal itu sebenarnya adalah upaya Pemerintah Pendudukan Jepang untuk mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia supaya mau ikut membantu bangsa Jepang melawan sekutu dengan terlibatnya pribumi.

Badan ini saat dibentuk diketuai oleh Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Radjiman Wedyodiningrat, wakil ketua Raden Pandji Soeroso serta salah satu wakilnya yang merupakan utusan Jepang yaitu Ichibangase Yoshio (orang Jepang) . Badan ini beranggotakan  dengan jumlah 67 orang. BPUPKI bertugas untuk mempelajari, menyelidiki hal-hal yang terkait aspek  ekonomi, aspek politik, tata pemerintahan dan hal lain berhubungan dengan persiapan Indonesia sebagai sebuah negara.

Sidang perdana BPUPKI tanggal 28 Mei 1945 dilanjutkan keesokan harinya 29 Mei 1945 membahas Dasar Negara. Pada rapat pertama ini, 3 orang yang mengajukan pendapat perihal dasar negara.

Pada tanggal 29 Mei 1945 Muhammad Yamin mengemukakan dalam pidato singkatnya lima asas, yaitu:
1. Peri Kebangsaan;
2. Peri Kemanusiaan;
3. Peri Ketuhanan;
4. Peri Kerakyatan;
5. Kesejahteraan Rakyat (keadilan sosial).

Tanggal 31 Mei 1945, Soepomo mengusulkan lima asas:
1. Persatuan;
2. Kekeluargaan;
3. Keseimbangan lahir batin;
4. Musyawarah;
5. Keadilan rakyat.

Tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengusulkan lima asas pula, yaitu:
1. Kebangsaan Indonesia;
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan;
3. Mufakat atau Demokrasi; 
4. Kesejahteraan Sosial;
5. Ketuhanan yang Maha Esa.

dari Soekarno Kelima asas dapat diperas menjadi tiga asas, yaitu:
1. Sosionasionalisme;
2. Sosiodemokrasi;
3. Ketuhanan dan Kebudayaan.

Soekarno bahkan meyampaikan tiga asas tersebut di atas bisa diperas kembali hingga menjadi satu asas, yaitu asas gotong royong.

Sidang BPUPKI yang pertama belum membuahkan hasil kesepakatan Dasar Negara Indonesia. Maka dibentuklah panitia delapan (panitia kecil) yang bertugas memeriksa usul-usul yang masuk untuk ditampung dan dilaporkan di sidang BPUPKI kedua. Panitia delapan beranggotakan :

1. Ir. Soekarno (ketua merangkap anggota);
2. Ki Bagoes Hadikoesoemo;
3. Kyai Haji Wachid Hasyim;
4. Mr. Muhammad Yamin;
5. M. Soetardjo Kartohadikoesoemo;
6. Mr. A.A. Maramis;
7. R. Oto Iskandar Dinata;
8. Drs. Mohammad Hatta.

Hasil rapat panitia kecil (panitia Delapan):
• berupaya mempercepat usaha Indonesia Merdeka.
• berupaya hukum dasar sedang dirancangkan itu diberi semacam preambule.
• Menerima anjuran Ir. Soekarno agar BPUPKI fokus hingga sampai terwujudnya suatu hukum dasar.
• Membentuk panitia kecil untuk memeriksa usulan perumusan dasar negara yang tertuang mukaddimah hukum dasar.

Setelah melewati sidang yang dilakukan Panitia Kecil, lalu dibentuklah Panitia Sembilan yang beranggotakan 9:
1. Ir. Soekarno (ketua merangkap anggota);
2. Drs. Mohammad Hatta;
3. Mr. A.A. Maramis;
4. Kyai Haji Wachid Hasyim;
5. Abdul Kahar Muzakir;
6. Abikusno Tjokrosujoso;
7. H. Agus Salim;
8. Mr. Achmad Soebardjo;
9. Mr. Muhammad Yamin.

Hingga tercapainya kesepakatan dari pihak nasionalis dan pihak Islamis, tanggal 22 Juni 1945 Panitia Sembilan kembali bertemu dan menghasilkan rumusan dasar negara yang dikenal dengan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang berisikan:
  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
  3. Persatuan Indonesia;
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan;
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lantas siapa penggagas Pancasila? Sebagian orang mengenal Ir. Soekarno sebagai pencetus Pancasila. Muncul anggapan bahwa pencetus Pancasila adalah Mohammad Yamin dan Soepomo.

Peneliti LIPI; Asvin Warman; tidak bisa diberi kesimpulan pasti siapa pertama kali memunculkan ide Pancasila. Namun bisa dipastikan jika serangkaian rapat-rapat BPUPK sejak 29 Mei sampai 1 Juni 1945 itulah yang membidani kelahiran Pancasila.

KEPADA YANG MENUNDA BERDAKWAH: PELAJARAN DARI KISAH AFIF BIN QAYS

Saat Fathul Makkah, Yaumul Marhamah, semua orang bergembira. Orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Disaat semua orang meninggikan asma Tuhan dalam bahagia tapi ada seseorang yang larut dalam kesedihan menangis pilu. Namanya Afif bin Qays. Lelaki ini ternyata dilanda rasa penyesalan yang teramat sangat. apa yang membuatnya merasa begitu menyesal ? 

Flash back waktu ke masa lalu lebih dari 20 tahun terjadinya sebelum Fathul Makkah. 
 
Afif bin Qays, seorang pedagang dari bani Kindah, sedang berkunjung ke Makkah untuk berhaji. Di Makkah dia menyempatkan diri menemui seorang sahabatnya, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Saat bersama Abbas itulah Afif bin Qays terkesima saat melihat 3 orang yang sedang mengerjakan ibadah shalat di dekat Ka'bah. Seorang lelaki sebagai imam; seorang anak kecil di samping kanannya, dan seorang perempuan di belakangnya. Mereka shalat jamaah bersama.

Ia lalu berkata kepada temannya Abbas bin Abdul Muthalib, 

"Ya Abbas, amrun adziim, ini adalah perkara yang agung"

"Begitulah", jawab Abbas bin Abdul Muthalib. 

"Siapakah orang-orang itu? tanya Afif bin Qays penasaran. 

"Pria itu adalah Muhammad bin Abdullah, keponakanku. yang kecil itu Ali, keponakanku juga. Dan yang perempuan adalah isterinya Muhammad, Khadijah", jawab Abbas bin Abdul Muthalib. Lalu diapun melanjutkan, 

"Muhammad menyampaikan kepadaku bahwa Allah, adalah Rabb langit dan bumi, dan telah mengutusnya dengan agama ini, dan juga mengklaim bahwa istana Kisra dan Qaisar akan ditaklukkan untuknya nanti; dan demi Allah, tidak ada yang mengikuti agama ini di muka bumi kecuali mereka bertiga itu saja. ".  

Jawaban itu ternyata merasuk ke dalam hati Afif bin Qays. Dia merasakan cahaya kebenaran, menjadikannya ingin bergabung menjadi orang keempat yang masuk Islam. 

Tapi dia tidak kunjung segera masuk Islam. Dia terus disibukkan dengan urusan bisnisnya. Begitu terus -menerus hingga 20tahun lebih hingga kemudian Rasulullah SAW datang membawa pasukan dari Madinah dan berhasil menaklukkan Makkah. Saat itulah Afif bin Qays baru masuk Islam. Dan diapun menyesal sejadi-jadinya. 

Dia telah kehilangan waktu berharga lebih dari 20 tahun (riwayat lain ada yang menyebut 15 tahun). Andaikan saja dulu dia memenuhi panggilan hatinya segera masuk Islam ketika mendapatkan penjelasan dari Abbas bin Abdul Muthalib, maka dia bisa menjadi orang keempat yang masuk Islam. dan merasa nikmatnya perjuangan dan kehidupan yang penuh arti. Dia mestinya bisa merasakan ikut Hijrah, berbaris dalam Perang Badar, atau terluka dalam Perang Uhud, dan sulitnya Perang Khandaq, dsb. Namun kesempatan emas itu telah ia sia-siakan. Terlewat begitu saja tanpanya. Padahal dia telah merasakan cahaya kebenaran. 
Sahabat, mari kita ambil pelajaran...
Jangan sampai kita juga ikut menyesal seperti Afif bin Qays. Jika telah tampak kebenaran di depan mata kita, mari segera kita ikuti tanpa tunda. 

Dan insyaAllah dijalan dakwah ini, insyaAllah adalah jalan yang akan mengantarkan kita semua kepada keridhaan Allah dan rahmatnya. Janganlah kita menunda-nunda untuk bergabung dalam perjuangan mulia.

Orang yang cerdas adalah mampu membaca alam, orang yang bisa melihat reka ujung hasil dari sebuah perkara sejak di awal pandangan. 

[Animous]

AGAR ANAK TERJAGA

Said bin al-Musayyib yang disebut pemimpin para ulama generasi Tabi'in berkata kepada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِيْ صَلَاتِيْ مِنْ أَجْلِكَ رَجَاءَ أَنْ أُحْفَظَ فِيْكَ

“Sungguh akan kutambahkan jumlah rakaat sholat sunnah yang kukerjakan demi dirimu agar dirimu terjaga karena sebab kebaikan yang kulakukan" (Jami' al-Ulum wal Hikam - Ibnu Rajab al-Hanbali 1/467)

Keshalihan orang tua itu dapat mempengaruhi kondisi anak

Sebagaimana kita yakini bahwa bisa jadi anak untuk cenderung menjadi nakal karena kemaksiatan ayah ibunya, maka demikian pula bahwa anak cenderung menjadi sholeh, terjaga sholat dan ibadahnya, baik pemikiran, perilaku dan fisiknya karena keshalihan orang tuanya.

Maka oleh karenaya, orang tua sholeh yang baik dan sayang anak akan berusaha meningkatkan amal ibadah dan amal sholihnya khususnya setelah punya momongan

Orang tua sholeh yang baik dan sayang anak akan menambah bilangan sholat Dhuha, lebih disiplin untuk mengerjakan sholat Tahajjud, dan tidak lagi pernah tertinggal sholat rawatib 12 rakaat, serta makin rajin bersedekah dst.

Diantara sebab anak nakal boleh jadi adalah karena jarang didoakan oleh orang tuanya di akhir malam pada saat sholat Tahajjud

Melakukan ibadah dengan niat selain ridho Allah dan kenikmatan di akhirat itu dapat diperbolehkan dengan syarat hal tersebut hanyalah sekedar niat sampingan, bukan niat utama.

Semoga Allah jadikan anak dan keturunan kita semua menjadi anak dan keturunan yang membahagiakan orang tuanya karena sama-sama menjaga ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Aamiin.
.
✍️ Ustadz Aris Munandar, SS, MPI

BELAJAR SABAR DARI SEORANG ANAK KECIL

Al Fudhail bin ‘Iyadh رَحِمَهُ الله berkata :
”Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu saat ketika aku berjalan hendak ke masjid aku mendapati seorang Ibu sedang memukuli anaknya di dalam rumahnya. 

Anak itu menangis berteriak kesakitan, lalu berhasil membuka pintu dan kemudian lari keluar rumahnya. Maka Ibu itu pun mengunci pintu rumahnya…

Tatkala ketika aku pulang dari masjid, aku memperhatikan kembali. Aku mendapati anak itu ternyata telah tertidur di depan pintu sesudah menangis beberapa saat lamanya karena pintu tidak dibuka. Dia sedang berharap belas kasihan dari ibunya. Maka akhirnya luluhlah hati sang ibu dan ia pun kembali membukakan pintu itu untuk anaknya.

“Kemudian Fudhail bin ‘Iyadh رَحِمَهُ الله menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi jenggotnya.

Beliau berkata : “Subhanallah...!, kalau saja seorang hamba bisa bersabar di depan pintu (mengharap dari rahmat) Allah niscaya Allah pasti akan membukakan pintu itu untuknya.”

Abu Darda’ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ berkata : ”(Maka) Bersungguh-sungguhlah dalam memanjatkan doa, karena siapa yang (Sungguh-sungguh) banyak mengetuk pintu (rahmat Allah) niscaya pintu rahmat itu akan dibukakan untuknya.”
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/22)

Semoga bermanfaat.
إِنْ شَاءَ اللّٰهُ