"Saya peringatkan anda agar tidak menumpahkan darah, merasakan nikmat dan terbiasa karenanya,
karena darah tidak pernah tidur" - Saladin
Saat pertengahan abad ke 12 kebangkitan dramatis Muslim mencapai puncaknya dibawah kepimpinan Salah Ad-Din Yusuf Ibnu Ayyub seorang pemimpin yang cerdas dan pemberani dikenal oleh muslim kontemporer sebagai Al-Nasir ( Pemenang ) dan oleh warga Eropa sebagai SALADIN. Tak ada yang lain yang saat itu selain dia mampu untuk menyatukan Semua Muslim antara Wilayah Euphrates dan Sungai Nil melawan musuh yang sama.
Pada akhir abad ke-11, Kekhalifahan Fatimiyah mengalami kemunduran dan Kekaisaran Seljuk runtuh. Pada masa itu adalah kondisi Muslim berada pada titik terlemah, ketika Perang salib pertama menyerang dan menguasai Syam. Bangsawan dan kesatria Kristen memberlakukan aturan institusi Eropa Barat terhadap struktur sosial dan politik tiap tanah yang ditaklukkan. Kekuasaan mereka terbilang stabil Sebagian besar adalah akibat perpecahan di tubuh umat Muslim sendiri.
Namun seiring abad ke-12 bergulir kurang dari lima dekade sejak Tentara Salib Eropa tiba di wilayah tersebut dinasti Zankiyah mulai berjaya di utara Syam. Di bawah kepemimpinan yang kompeten Imad ad-Din Zengi mereka mengalahkan Tentara Salib dan merebut kembali kota Edessa pada tahun 1144 yang demikian membuat Paus terprovokasi untuk menyerukan Perang Salib Kedua.
Meskipun Imad dibunuh dua tahun kemudian, pada tahun 1146 putranya, Nuruddin berhasil melanjutkan perang melawan Tentara Salib sampai Perang Salib Kedua pada akhirnya gagal dan ia memperluas wilayah ayahnya selama bertahun-tahun membawa stabilitas dan kemakmuran yang sangat dibutuhkan bagi rakyatnya. Pada masa pemerintahan Nuruddin itulah, Saladin memulai kebangkitannya untuk menjadi terkenal.
Lahir pada tahun 1137, di Tikrit (di Irak modern) Saladin menghabiskan tahun-tahun formatifnya di Damaskus. Dari usia muda ia dididik filsafat Yunani, matematika, sastra, astronomi, hukum tapi di atas itu semua, dia adalah murid yang tekun dalam mendalami al-Quran dan teologi. Pendidikannya dibantu oleh anggota keluarganya yang bertugas sebagai diplomat dan administrator yang terampil sejak pertama di Kekaisaran Seljuk dan kemudian mengabdi untuk Dinasti Zankiyah.
Tumbuh dewasa Saladin membuat pamannya Shirkuh dan Nuruddin menjadi teladan terbesarnya. Mereka menanamkan pada dirinya prinsip-prinsip kesatriaan kesalehan, bangsawan, keadilan, kerendahan hati, kedermawanan, persaudaraan, belas kasihan dan keampunan, semua yang akan menentukan sejarah hidup dan warisan Saladin yang dia tinggalkan nantinya.
Dia bergabung dengan militer pada usia 14 tahun dan dilatih oleh pamannya Shirkuh, seorang komandan militer di tentara Zengid. Karena ia Seorang pembelajar cepat, Saladin dengan cepat segera mengesankannya mentornya. Kinerjanya di awal pertempuran memungkinkan dia untuk mengambil kepemimpinan dalam operasi-operasi militer dan selama bertahun-tahun ia menampakkan keistimewaannya melalui keberaniannya, kepemimpinan militer, intelek tajam dan kesetiaan kepada para pemimpinnya.
Kejayaan Saladin benar-benar mulai bangkit pada di tahun 1160 ketika Nuruddin memutuskan untuk campur tangan dalam urusan Kekhalifahan Syiah Fatimiyah yang mulai melemah, dengan tujuan untuk mencegah upaya Amalric untuk memperluas kerajaan Yerusalem ke Mesir.
Diakuinya Saladin adalah sebagai seorang yang kompeten, dapat dipercaya dan pemimpin yang ambisius dalam menuntaskan misi pada tahun 1164, Saladin ditunjuk dan dikirim ke Mesir sebagai bagian dari struktur komando dari tentara Zankiyah yang diperintahkan oleh pamannya Shirkuh. Ia menjadi bagian integral dari beberapa kampanye selama bertahun-tahun sebagai panglima disamping pamannya.
Pada awal 1169, pasukan Amalric I, Raja Yerusalem, akhirnya berhasil diusir pengaruhnya dari Mesir. Paman Saladin, Shirkuh, diangkat sebagai Wazir oleh Khalifah Fatimiyah, al-Adid yang memberi Nuruddin kekuasaan de-facto atas Mesir.
Tetapi hanya satu bulan kemudian, pada bulan Maret 1169 Shirkuh tiba-tiba wafat karena menderita penyakit yang singkat. Tanpa tangan kanannya, pengaruh Nuruddin di Mesir terancam. Dan al-Adid merasakan kesempatan untuk memperkuat posisinya sendiri dan dengan cepat menunjuk Saladin tanpa menunggu keputusan dari Damaskus berpikir bahwa sang Wazir muda itu tidak memiliki cukup wawasan dalam kekuasaan dan jaringan politik di Mesir, hingga akan mudah dikendalikan.
Namun, Saladin yang berusia 31 tahun ternyata terbukti menjadi lebih dari apa yang telah al-Adid anggap. Sang Wazir muda itu malah mengambil keuntungan dari sistem politik dinasti Fatimiyah, dan melalui taktik pintar dia secara bertahap menempatkan anggota keluarga dekatnya di posisi kunci pemerintah dan militer, yang memungkinkan dia untuk mengkonsolidasikan kekuatan yang cukup untuk menggulingkan dan melarutkan Kekhalifahan Syiah Fatimiyah hanya dua tahun kemudian pada tahun 1171, Hingga menghilangkan pengaruh Syiah dan mengganti dengan Sunni.
Hingga Saladin sekarang dapat berkonsentrasi pada penguatan Mesir sebagai benteng kekuatan Muslim Sunni dengan dirinya sebagai gubernur atas nama Nuruddin. Dia merevitalisasi ekonomi, membangun lembaga kewarganegaraan, dan meningkatkan mutu pendidikan dengan membangun sebuah perguruan tinggi hukum di Alexandria dan sejumlah besar sekolah di seluruh Mesir, memberi administrator sekolah dan guru dengan gaji yang baik, yang menarik banyak sarjana dari seluruh Asia dan Eropa mengubah Mesir menjadi sebuah pusat intelektual di abad ke-12.
Dia menghapuskan tarif untuk para peziarah Muslim yang menyeberangi Laut Merah dan membayar kompensasi kepada Mekah untuk setiap pendapatan yang hilang akibat kebijakan itu. langkah yang cerdik yang membuatnya populer di kalangan masyarakat dan serta Merta menjadikannya sebagai pelindung Mekah.
Saladin mengubah Mesir menjadi titik kekuatan utama melawan Tentara Salib dengan menciptakan unit-unit pasukan yang sepenuhnya baru, yang hanya setia kepadanya lepas dari pengaruh rezim Syiah Fatimiyah dan mulai membangun kembali angkatan laut untuk melindungi pesisir Mesir.
Serbuan militer Segera diambil guna mengamankan dan memperluas perbatasan dan menghindari kekhawatiran akan serangan 2 arah dengan langkah pertama melawan Nubia di mana sisa-sisa musuh dari pasukan Fatimiyah masih bertahan lalu ke Libya di mana pasukan Ayyubiyah mendorong musuh hingga ke barat menuju Tripoli dan mengusir Penjajah Norman.
Meski demikian Saladin tidak pernah berusaha untuk mengkonsolidasikan otoritasnya di barat atas provinsi
Barqa. Yang paling penting, Saladin mengalihkan perhatiannya menuju pengencangan cengkeramannya di Hijjaz dan menguasai Yaman, sehingga mendapatkan kendali Laut Merah dan potensi perdagangan lautnya yang luas yang sangat meningkatkan kekayaan komersial Mesir.
Gerak Saladin yang aktif membangun sebuah kerajaan yang menciptakan gesekan dengan banyaknya hasutan dan fitnah disampaikan kepada Nuruddin tuannya di Suriah. Ketegangan meningkat dan hampir menghasilkan konflik namun kemudian, Nuruddin wafat secara mendadak pada tahun 1174 kemungkinan karena serangan jantung.
Dalam kekosongan kekuasaan berikutnya, putranya yang berusia 11 tahun As-Salih tidak dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kematian ayahnya. Tapi Saladin bisa. Dan dia sekarang melihat di hadapannya visi besar. Dia bisa menyatukan Mesir dan Suriah untuk perang suci melawan penjajah Kristen. Dia menyatakan perlunya persatuan dan jihad sebagai alasan untuk campur tangan di Suriah.
Dan klaimnya bukanlah tidak berdasar. Dengan mengendalikan Laut Merah dan dengan menaklukkan kembali daerah selatan kastil Shobak Saladin telah diakui sebagai 'pembebas Jalan Haji'. Mengamankan rute ziarah dari Sudan dan Mesir menuju kota suci Mekkah dan Madinah memberinya banyak kredibilitas dan sebagai hasilnya kedatangannya ke Suriah sangat disambut oleh rakyat biasa namun tidak begitu oleh beberapa anggota dari dinasti Zankiyah.
Dengan demikian Saladin membuat sebagian besar wilayah Zankiyah di bawah kendalinya baik melalui diplomasi atau intervensi militer, menjadikannya Sultan Mesir dan Suriah.
Sementara itu, diseberang perbatasan, Raja Amalric I berencana untuk mengeksploitasi ketidakstabilan politik di Suriah dan memperluas wilayahnya, namun ia wafat karena disentri pada bulan Juli 1174. Dalam pandangan Saladin, kematian Amalric adalah sebuah tanda nikmat Tuhan. Dengan tahta yang diteruskan ke Baldwin IV, seorang anak laki-laki yang menderita kusta dan para bangsawan Frank yang menginginkan posisi di kerajaan itu, ancaman invasi Kristen yang besar mereda.
Tetapi Saladin tahu bahwa waktu yang tepat belum tiba untuk melawan Tentara Salib, karena ia harus berkonsolidasi posisinya terhadap kerabat Nuruddin yang masih menjadi ancaman dari basis mereka di Aleppo dan Mosul.
Tetapi ketika Baldwin IV dewasa, kerajaan itu mengadopsi kebijakan luar negeri yang proaktif. Tentara Salib kemudian mencoba untuk mengambil Hama dan Harim, namun gagal dalam upayanya. Pada tahun 1177, Saladin merespon dengan memimpin kekuatan invasi yang besar ke dalam Kerajaan Yerusalem, untuk membalas agresi kaum Frank.
Baldwin, berusia 16 tahun, meskipun jauh kalah jumlah namun ia membuktikan dia adalah pemimpin yang cakap, mampu menyatukan bangsawannya melawan ancaman Muslim. Dan dengan bantuan Raynald of Chatillon, panglima nya, dia berupaya menyergap Saladin dengan serangan tiba-tiba di Montgisard karena sebuah kesalahan taktis yang langka dilakukan oleh Sultan.
Saladin menderita kekalahan yang telak dan menghancurkan hampir seluruh pasukannya, nyaris melarikan diri dengan nyawanya seorang, akibat serangan itu banyak dari pasukannya yang terbunuh atau ditawan. Namun disisi Kristen juga kurangnya sumber daya yang dimiliki Baldwin tidak mampu untuk mengejar kemenangan utuh hingga Sultan berhasil mengumpulkan kekuatan kembali.
Pada April 1179, Saladin membalas menyerang balik dan dengan telak mengalahkan Baldwin di wilayah Golan, bahkan hampir menangkap sang raja. Lalu Tentara Kristen lainnya dikalahkan pada bulan Juni pada tahun yang sama, dan hanya dua bulan kemudian benteng penting ksatria Templar yang terletak di rute ziarah berhasil dihancurkan.
Akhirnya pada tahun 1180, Saladin dan Baldwin menyetujui gencatan senjata dua tahun.
Tetapi bahkan sebelum tinta kering, jelas bahwa benteng perkasa Kerak berniat provokatif akan menjadi titik nyala selanjutnya. Hampir tak tertembus di atas bukit yang curam, dengan terowongan masuk 80 meter dan dinding cukup tebal untuk menahan hantaman senjata pengepungan, Kerak adalah rumah Raynald of Chatillon. Bentengnya berada di jalan utama Damaskus dan Mekah dan dari sana baron dapat memungut pajak, menyerbu dan merampok rombongan unta milik pedagang dan peziarah yang lewat.
"Raynold adalah yang paling ingkar, yang paling jahat dari bangsa Frank, paling serakah, yang paling giat untuk melukai" - Imad ad-Din al-Isfahani
Gencatan senjata atau tidak, Raynald berpikir bahwa Muslim tidak boleh dibiarkan lewat dengan bebas.
Pada musim panas 1181, ia menelusuri jauh ke Arab dan mencegat sebagian besar kafilah Muslim merampas barang bawaan pengelana dan mengambil banyak tahanan. Saladin menuntut ganti rugi dari Baldwin, tetapi raja tidak bisa memaksa Raynald untuk mengganti rugi. Saladin menahan sekelompok peziarah Kristen sebagai sandera di Damietta sebagai leverage, tetapi Raynald masih menolak untuk membebaskan peziarah Muslim.
Sebagai tanggapan, peziarah Kristen dijual ke perbudakan. Kemudian pada tahun 1182, Raynald memberi lebih banyak tekanan pada gencatan senjata yang telah melemah. Tentara Salib yang ingkar mengirim pasukan melalui Laut Merah, menyatakan bahwa ia akan menghancurkan Ka'bah dan membongkar makam Nabi di Hijaz.
Namun berkat reformasi angkatan laut Shalahuddin, Mesir sudah dipersiapkan dengan baik. Al-Adil, saudara dan gubernur Saladin Mesir, mengirim armada Ayyubiah. Sebagian besar penyerang Kristen ditangkap dan dieksekusi atas perintah Sultan.
Pujian tentang Saladin berlimpah di komunitas Muslim karena dia sekali lagi disaksikan sebagai pelindung Tempat-tempat suci Islam dan rute-rute ziarah.Dan kemudian arus berbalik menguntungkan kaum Muslim. Pada 1183 Aleppo akhirnya menyerah kepada Saladin,yang sekarang menjadi penguasa terkuat Dunia Muslim, dan pemimpin barisan Muslim yang bersatu melawan Tentara Salib Latin.
Menjalankan otoritas yang tidak terbantahkan atas Mesir dan Suriah, ia didukung oleh Khalifah Sunni di Baghdad dan diakui sebagai penguasa Arabia dan pelindung Kota Suci Mekkah dan Medina. Tapi yang terpenting, sebagian besar muslim yang telah Saladin persatukan merasa gembira bahwa Islam bersatu kembali.
Berita tentang penaklukan Saladin atas Aleppo mengejutkan negara-negara Tentara Salib.
"Umat Kristen menyadari bahwa jika Saladin dapat menguasai kota itu, maka negara milik mereka dapat tersapu dan di kepung disetiap bagiannya"- William of Tyre
Saladin sekarang dapat mengarahkan sumber daya yang sangat besar untuk memberi tekanan pada Kerajaan Yerusalem hampir sepanjang seluruh perbatasannya. Serangan dahsyat ke tanah Kristen diikuti oleh beberapa serangan menyelidik di benteng Kerak, menguji tekad kaum Frank dan memberi tekanan pada sumber daya mereka.
Keadaan menjadi lebih buruk bagi Tentara Salib, kehidupan tragis Baldwin IV, berakhir. Tindakan terakhir raja adalah mencoba dan mengamankan perdamaian dengan mengirim Raymond dari Tripoli untuk bernegosiasi sebuah gencatan senjata empat tahun, yang siap disepakati oleh Saladin, karena dia memiliki masalah sendiri dengan penguasa Zankiyah di Mosul, yang sedang membentuk sebuah koalisi melawannya. Tetapi penerus Lepper King, Baldwin V adalah anak yang sakit-sakitan, dan dia meninggal hanya setahun kemudian, memicu krisis suksesi.
Setelah periode kekacauan politik, tahta diwariskan ke adik perempuan Baldwin IV, sesuai urutan memahkotai suaminya, Guy of Lusignan sebagai Raja Yerusalem. Namun raja yang baru tidak mampu mengendalikan bangsawan bawahannya. Kemudian datang berita yang mengusik datang dari selatan.
Pada Desember 1186, Raynald dari Chatillon sekali lagi melanggar gencatan senjata. Dia menindas kafilah kaya lainnya, membantai dan memenjarakan banyak Muslim. Saladin segera mengutus seorang utusan, menuntut kembalinya para sandera dan harta mengancam pelanggar gencatan senjata dengan balas dendam. Tapi Raynald, bersandar pada kemenangannya di belakang dinding Kerak, menolak untuk menerima utusan itu.
Setelah mendengar hal ini, Saladin akhirnya kehilangan kesabarannya dan bersumpah bahwa dia akan mencabut nyawa Raynald dengan tangannya sendiri.
Pada awal 1187, Saladin mengumpulkan para jenderalnya di Damaskus untuk menyusun rencana untuk invasi besar. Para utusan berlari ke seluruh pelosok negara bagian, mendesak aksi, pembalasan, perang pembebasan dan pemusnahan fitnah.
Kata "Jihad" dan "Jerusalem" ada dibibir semua Muslim yang menjawab panggilan Saladin. Saladin meninggalkan garnisun di sepanjang perbatasan untuk melindungi sisi utara dan mulai menyerbu Tanah Kristen.
Dalam salah satu penyerbuan, ada kesempatan antara kavaleri penjaga depan Muslim dan satu kontingen Kristen dari 130 ksatria, 400 turcopole dan infanteri, di Mata Air Cresson, berakhir dengan bencana bagi para Templar dan Hospitaller. Kepala kesatria di tombak, dan tahanan dirantai ke kuda diarak di depan Tiberias.
Bencana di Mata Air Cresson adalah hentakkan yang membangun bagi orang Kristen, yang dengan segera memperbaiki persaingan lama diantara mereka dan bersatu dalam menghadapi konflik yang akan datang.
Pada 26 Juni 1187, Saladin menyusun kembali pasukannya, dan berbaris menuju sungai Yordan. Jumlah pasukannya sekitar 30.000, dan dibagi menjadi tiga sayap, dengan Taqi al-Din memimpin kanan, Gökböri memimpin kiri, dan Saladin sendiri di tengah.
Pada 27 Juni, tentara mencapai sungai Jordan dan membuat kamp di daerah rawa dekat Danau Tiberias. Pasukan penyerbu dikirim ke wilayah Kristen untuk memporak-porandakan daerah itu dan menyiapkan panggung untuk invasi. Sekitar 25 km ke barat, tentara Kristen berkekuatan sekitar 20.000 berkemah didekat Saffuriya, lokasi yang sangat strategis karena sumber daya airnya yang kaya.
Pada 30 Juni, Saladin mengirim kontingen ke utara untuk memblokir kota Tiberias, kemudian menantang Tentara Salib dengan memindahkan kamp utamanya lebih dekat ke Saffuriya, sekitar 10km ke barat dari Danau Tiberias. Tetapi karena tidak ada pihak yang mengambil tindakan, Saladin memutuskan untuk melakukan langkah pertama.
Pada 1 Juli ia mengirim pengintai untuk memantau jalan alternatif di bagian sisi utara yang menghubungkan Saffuriya dan Tiberias. Kemudian pada hari itu, laporan mengonfirmasi bahwa Tentara Salib tidak maju di kedua rute, dan pada tanggal 2 Juli, Saladin mengambil peluang tersebut. Dia berbaris ke timur menuju Tiberias dengan sebagian besar infanteri-nya, kontingen kavaleri, insinyur pengepungan dan peralatan mereka.
Menjelang siang mereka sampai di Tiberias, di mana Istri Raymond tinggal, dan mereka mengepung kota. Tidak lama setelah itu, pasukan Muslim menembus tembok dan kota itu diambil alih saat malam tiba. Istri Raymond membarikade dirinya sendiri di dalam benteng, menggunakan pengawalnya, dan mengirim utusan, mendesak Raja Guy untuk mengirim bantuan.
Kembali ke barat, kepulan asap bisa dilihat di langit di atas Tiberias dan ketika berita tentang pengepungan mencapai kemah Tentara Salib, Raja Guy mengadakan dewan perang untuk memperdebatkan apa yang seharusnya dilakukan.
Pada awalnya, Raymond of Tripoli membuat argumen persuasif menentang mengirim pasukan untuk menghentikan pengepungan, bersikeras bahwa tentara Kristen memiliki posisi defensif yang kuat di Saffuriya dan harus tetap bertahan. Tetapi langkah kehati-hatian penuh penghitungan itu dijawab dengan ejekan dan tuduhan sebagai tindakkan pengecut dan pengkhianatan, terutama dari Tuan Templar Gerard de Ridefort dan Raynald dari Chatillon yang mendesak untuk langkah lebih agresif dan menekan King Guy dengan argumen politik, militer dan diplomatik yang kuat. Terbujuk oleh desakan, raja mengirimkan bentara menuju perkemahan untuk membunyikan panggilan bahwa tentara akan berbaris untuk menyelamatkan Tiberias saat fajar.
Dan pada tanggal 3 Juli, Tentara Salib memulai perjalanalan. Mereka berangkat dengan komandan Raymond dari Tripoli memimpin barisan depan. Raja Guy memimpin pusat di mana uskup dari Acre membawa peninggalan terbesar Christendom, Salib Sejati, tempat Kristus diyakini telah disalibkan. Balian dari Ibelin memerintahkan barisan belakang di mana Templar dan Hospitallers ditempatkan.
Raja Guy memerintahkan para pasukan untuk berbaris dengan langkah tergesa-gesa berencana untuk mencapai kota yang dikepung dengan tiba ketika petang. Tetapi ketika tengah hari mendekat dan matahari terbit di langit yang bersih, tanpa awan, menjadi jelas hari itu akan sangat panas. Tidak ada hembusan angin dan hawa panas yang menyengat memperlambat barisan.
Pada tengah hari tentara mencapai titik berair berikutnya di desa Tur'an, hanya sepertiga jalan. Tetapi ketika mereka melanjutkan perjalanan, tidak ada yang dapat lolos dari matahari dan debu tebal yang dibuat oleh pasukan berbaris. Menjadi jelas bagi Raja Guy dan perwiranya bahwa mereka tidak akan mencapai Tiberias dalam satu hari.
Saat barisan bergerak menjauh dari Tur'an, detasemen pemanah berkuda Saladin yang bergerak cepat muncul dari bukit terdekat dan dengan unit-unit kecil mulai merundungi kaum Kristen dengan serangan sporadis, memotong jalur mundur mereka. memaksa Infanteri Tentara Salib menutup barisan untuk melindungi kavaleri dari serangan 'hit and run', namun jumlah korban pada prajurit dan hewan terus berjatuhan mulai meningkat. Siang terus berlanjut, dan perundungan terus-menerus, dan bentrokan sporadis melambatkan barisan belakang Tentara Salib hingga merangkak, dan mereka menjadi terpisah dari pasukan lainnya.
Takut kehilangan kavaleri kejutan elitnya, Raja Guy memerintahkan pusat untuk berhenti agar barisan belakang dapat mengejar ketertinggalan. Dia menyampaikan pesan itu kepada Raymond, memerintahkan dia untuk menghentikan barisan depan. Tetapi karena seluruh kolom Tentara Salib secara bertahap dikepung oleh jumlah yang terus meningkat pemanah berkuda Saladin, menjadi jelas bahwa mereka telah jatuh ke dalam jebakan.
Setelah dengan cepat merebut Tiberias, Saladin sempat untuk kembali, hanya menyisakan garnisun kecil untuk menjaga benteng, dan dengan konvoi utamanya dia sekarang menghadang jalan lawan. Senja yang semakin dekat, para pejuang Kristen yang kelelahan, diperlambat karena kehausan dan terkepung oleh pasukan Muslim, tak dapat maju menggasak jalan mereka melewati pasukan Saladin yang masih berstamina segar .
Raja Guy tidak punya pilihan selain memperintahkan anak buahnya untuk membuat perkemahan di mana mereka berdiri. Tidak jauh dari tenda sang Raja, kontingen utama Muslim juga berkemah untuk malam ini. Namun menjelang malam akan menjadi malam yang sulit bagi Tentara Salib. Perkemahan mereka membentang sekitar 2 km dan tidak terlindungi oleh fitur medan alami apa pun.
Pemanah berkuda Muslim terus merundungi perkemahan dengan anak panah sepanjang malam. Pasukan khusus bertugas sebagai penggangu barisan musuh bentrok dengan Tentara Salib dan membakar tenda di sepanjang perimeter kamp.
Tidak dapat beristirahat dan dengan persediaan air mereka yang menyusut, asap dan panas dari api menguras energi dari kaum Kristen.
Pagi tiba, semua mereda. Saladin menunggu panas memuncak dan melihat apa yang akan dilakukan orang Kristen. Tentara Salib, sekarang tanpa air dan tersiksa oleh kehausan, hanya memiliki satu tujuan - desa Hattin, di mana ada sumber air.
Mereka bergerak melintasi lembah, mempertahankan formasi yang sama dari tiga kotak, dengan infanteri melindungi kavaleri. Pasukan Saladin membakar semak terdekat, mengirimkan gumpalan asap yang mencekik dengan tiupan angin barat ke arah Tentara Salib. Dan dengan matahari yang menyiksa dari langit yang cerah, orang-orang Kristen mendesak ke arah Hattin, menyerang dengan putus asa untuk mencapai sumur air. Untuk mencegah hal ini, Saladin mengirim sayap Taqi al-Din berlari untuk memblokir lembah, bertekad untuk sepenuhnya mengepung musuh dan tidak membiarkan mereka untuk memuaskan dahaga mereka. Dia terutama ingin menjatuhkan kesatria dan kavaleri berat mereka dengan pintar, sadar akan bagaimana berbahayanya serangan frontal terhadap mereka yang tertutupi zirah baju besi.
Pasukan penggangu Taqi mendekat, lalu menyerang dan lari untuk menguji sisi-sisi barisan pasukan Kristen. Pemanah kuda kemudian melepaskan berondongan demi berondongan anak panah ke barisan Tentara Salib Lelah, haus dan putus asa, infanteri Tentara Salib mulai terpisah dari kesatria berkuda. Mereka berpencar dan melarikan diri, dengan kelompok besar menuju ke timur menuju bukit yang disebut Tanduk Hattin dan kelompok lain yang melarikan diri ke utara menuju desa Nimrin.
Melihat pasukan musuh ada yang melarikan diri, pasukan berkuda Muslim membuka celah barisan mereka untuk menarik pasukan infanteri musuh. Raja Guy dan perwiranya menyadari bahwa mereka akan tamat kecuali mereka dapat menerobos. Tetapi kaum Muslim juga menyerang bagian belakang barisan hingga ksatria Templar dan Hospitaller menjadi sangat kewalahan, memaksa Guy untuk berhenti sejenak untuk kedua kalinya, agar mencegah formasi kavaleri terpecah. Nyatanya Raymond of Tripoli telah mundur lari menjauh dari formasi kavaleri Raja Guy. Saat ia bergerak maju, para pasukan berkuda Muslim mulai membuka sedikit celah di barisan mereka.
Raymond, memutuskan untuk tidak duduk dan menunggu. Dia menghumpun kesatria dan menyerbu kavaleri Taqi al-Din. Para kavaleri Muslim membiarkan orang-orang Kristen yang berlarian melewati, menghujani Raymond dan pasukannya dengan panah saat mereka mundur dari medan perang. Kembali di lembah yang dipenuhi asap, para kesatria Kristen sedang sekarat.
Guy memerintahkan kavaleri untuk bergerak ke arah Tanduk Hattin melalui celah yang sudah dibuat oleh infanteri yang mundur. Dia tahu bahwa ada kolam air dangkal di puncak bukit dan berharap mereka tidak kering. Sementara itu di atas bukit, pasukan Saladin mendekat dan mulai menyerbu infanteri Kristen. Kelelahan, infanteri musuh hampir tidak dapat melakukan perlawanan dan mereka dengan cepat kewalahan.
Para Muslim kemudian berbalik ke arah Raja Yerusalem yang sendirian. Sepanjang pertarungan jarak dekat yang tak henti-hentinya, Kesatria Kristen berkumpul untuk melindungi Salib Sejati saat mereka mundur menuju bukit. Tetapi kondisi mereka menemui batasnya, tidak ada bala bantuan dan tidak ada air. Raja Guy mengerahkan para kesatria dan mendirikan tenda merah untuk memberikan titik fokus. Namun tidak berhasil. Pasukan Muslim mendesak menuju lereng dan menyerbu orang-orang Kristen. Dalam pertarungan jarak dekat, Salib Sejati jatuh ke tangan Muslim. Melihat ini, para kesatria Kristen yang masih bertahan bersatu dan menyerbu menuruni bukit untuk mengambilnya, mendorong mundur garis Muslim.
Namun mereka sudah tidak memiliki stamina kehabisan semangat untuk bertarung dan lekas mulai mendapat banyak korban berjatuhan. Akhirnya, Raja Guy memerintahkan mereka untuk menyerah. Kesatria turun dari kuda dengan tumbang di tanah. King Guy juga ditemukan di atas tanah didalam tenda miliknya, benar-benar kelelahan, nyaris tidak punya cukup tenaga yang tersisa untuk menyerahkan pedangnya sebagai isyarat menyerah.
Tentara Saladin telah memenangkan kemenangan besar. Raja Guy ditangkap bersama dengan banyak bangsawan dan kesatria, di antaranya, Rayland of Chatillon. Saladin memerintahkan agar air dingin itu dibawa dan disuguhkan kepada Raja.
Kemudian, menurut Imad Al-din: "Sang Raja, telah minum sebagian, menyerahkan cangkir itu kepada Raynald of Chatillon. Oleh karena itu Sultan berkata kepada seorang penerjemah: Katakan kepada raja: "Kamulah yang memberi dia minum. Tapi saya tidak memberinya minum. Tidak pula makan. "Dengan kata-kata ini, Saladin berharap dapat dimengerti bahwa kehormatan melarangnya untuk mencelakai siapa pun yang telah merasakan keramahannya.
Dan dengan itu dia mengayunkan pedangnya dan menebas Raynald di leher, sehingga memenuhi sumpahnya untuk membunuh pengingkar gencatan senjata. even itu menandakan telah sempurna kemenangan kaum Muslimin.
Namun yang lebih penting, pasukan besar Tentara Salib yang telah dihancurkan di Hattin tidak dapat diganti. Tanpa itu, kastil-kastil, perkampungan dan kota-kota Kristen sekarang tidak berdaya. Pada 1188 hanya Tirus dan Acre yang bertahan memacu Eropa untuk memulai perang salib lainnya. Berhadapan dengan Richard berhati Singa.
Ibrah :
Perlu dicatat bahwa sebagian besar kita berfokus pada pencapaian militer Shalahuddin. Namun, sebenarnya ada lebih banyak lagi keistimewaan bagi pria yang dikagumi oleh musuh-musuh Eropa-nya, Dan dicintai oleh sesama muslimnya.
Saladin adalah seorang pemimpin Muslim yang berani, memiliki fondasi yang kuat dalam agama dan nilai-nilai kepemimpinannyalah yang menuntun pada komitmennya untuk kepentingan Islam. Hanya dalam kurun waktu dua belas tahun ia menyatukan Mesopotamia, Suriah, Mesir, Libya timur, Arab barat dan Yaman, menggunakan keterampilannya dalam diplomasi dan administrasi untuk menyatukan wilayah yang terbagi ini.
Cakupan visi miliknya ialah, ia menyikapi tiap situasi dengan perhatian dan tanggung jawab, dan ia tidak pernah memutus jembatan diplomasi atau prakarsa perdamaian dengan lawan-lawannya. Kekuasaan atau kekayaan yang dia peroleh tidak pernah membuatnya lalim. Dia adalah pria dengan hasrat bergolak, bertekad dalam menunaikan tujuannya untuk mengusir para penjajah keluar dari tanah muslim.







0 komentar:
Posting Komentar