oleh Sami Hamdi, Pemimpin Redaksi International Interest
Kenapa Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir mendukung pasukan kudeta Khalifa Haftar ?
Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir adalah pendukung Khalifa Haftar di Libya sebagai bagian dari antisipasi terhadap fenomena people power "Musim Semi Arab". ketika Musim Semi Arab dimulai di Tunisia, kekuasaan (Zine el Abidine) Ben Ali tumbang dan menjalar ke Libya lalu kekuasaan Muammar Khadafi jatuh lalu pindah ke Mesir, Husni Mubarak dipaksa turun. lalu ke Suriah, Bashar Al Assad bersikukuh malah menenggelamkan suriah ke dalam perang saudara. Dan saat Musim Semi Arab semakin mendekat ke Perbatasan Arab Saudi dan perbatasan UEA, rezim tersebut menjadi panik karena percaya bahwa kekuasaan mereka akan menjadi yang berikutnya.
Mengingat bahwa Amerika meninggalkan Mubarak juga meninggalkan Ben Ali, Amerika tidak menyelamatkan para pemimpin itu, maka mereka pun percaya bahwa AS juga tidak akan selamatkan mereka dalam krisis eksistensial yang akan mereka hadapi. Inilah mengapa kita lihat mengapa Riyadh dan Abu Dhabi mendukung kudeta militer di Mesir terhadap presiden yang terpilih secara demokratis hasil revolusi Musim Semi Arab. Mereka juga telah mendukung pasukan anti-demokrasi di Tunisia, mereka pun mendukung kudeta Hemeti (Mohamed Hamad Dagalo) di Sudan, pada dasarnya ini semua untuk mencegah gerakan musim semi arab dengan mengamankan wilayah-wilayah tersebut untuk memastikan bahwa rezim mereka tidak berada di bawah ancaman. Inilah sebabnya mereka mengusahakan kembalinya ke otoriterisme di wilayah-wilayah tersebut
Mengapa Turki membantu pemerintah Libya yang diakui PBB ?
Penting untuk diingat bahwa Turki telah mendukung pemerintah yang diakui secara internasional untuk beberapa kalinya. Anda akan ingat bahwa Haftr telah menyandera dua warga negara Turki di awal serangan ofensifnya karena ia mengeluh bahwa drone Turki adalah bagian dari militer pertahanan di Tripoli dan menyebabkan Haftar terhenti dalam gerak majunya ke Tripoli.
Namun sekarang ketika kita melihat situasi di Libya, Fayed al Sarraj yang merupakan Perdana Menteri dari GNA telah mengalami situasi pelik dimana Uni Eropa telah meninggalkannya, Amerika telah meninggalkannya, Rusia mendukung Haftar, Prancis mendukung Haftar, UEA, Mesir dan Saudi Arabia juga mendukung Haftar. Turki ingin menyelamatkan pemerintah sah yang diakui PBB itu dengan melindungi posisi Sarraj di meja perundingan.
Karena turki tau jika pemerintah yang sah diakui PBB itu jatuh, jika Sarraj kala di Tripoli maka semua solusi pembicaraan secara diplomatik, semua negosiasi di Libya akan tidak berarti. Karena kemudian perdebatan akan muncul tentang seberapa kuat orang akan memperkuat kontrolnya di Libya sama dengan perdebatan yang terjadi di Mesir ketika membahas tentang legitimasi dari pemerintahan demokratis untuk mengakui Abdel Fattah el Sisi sebagai presiden Mesir padahal ia melakukan kudeta militer atas Presiden yang terpilih secara demokratis.
Ada juga alasan kedua mengapa Turki ingin terlibat adalah jika kita melihat peta Mediterania akan melihat bahwa ada kawasan laut chokehold (tersendat) terbentuk. Turki sebelah barat laut miliki di Yunani dan Italia, di sebelah barat kawasan Cyprus, di sebelah selatan milik Israel dan Mesir dan jika Libya jatuh kepada sekutu-sekutu UEA, sedangkan UEA merupakan anti Turki yang antagonis terhadap Turki. Maka jatuhnya Libya melengkapi chacehold maritim Turki tersebut.
Kepentingan maritim Turki di kawasan itu akan menjadikan Turki berharap belas kasihan negara-negara yang mereka sama sekali tidak suka Turki dan bahkan ketika kita melihat penandatanganan pipa di Timur Mediterania oleh Siprus Yunani dan Israel dengan mengecualikan Turki yang memiliki garis pantai terpanjang di Mediterania mungkin salah satu bukti paling jelas bahwa mereka berusaha mengisolasi Turki atau mencegah turki memiliki kontrol yang signifikan dalam apa yang terjadi di Mediterania.
Sehingga Turki memiliki alasan untuk takut dan inilah mengapa libya bagi Turki sama pentingnya dengan Suriah dalam mencegah chokehold maritim ini terjadi.
Dan tentu saja mereka punya alasan bagus untuk itu, karena Turki bukan lagi negara dibawah tekanan. Dengan kata lain Turki sekarang duduk di meja yang sama dengan Rusia dengan hormat mengenai Suriah. Turki juga duduk di meja yang sama dengan US. Dengan kata lain Turki menjadi negara yang kuat, karena bukan negara lemah yang berurusan dengan laut Mediterania karena negara-negara yang lain tidak memiliki pengaruh yang setara untuk melawan Turki.









0 komentar:
Posting Komentar