Pesawat Drone Turki : A Game Changer, Pengubah Arah Perang 2020



Apakah itu dalam misi perang melawan pasukan rezim suriah di idlib atau melawan perang terhadap pemberontak teroris komunis PKK atau operasi militer yang lebih terbaru yaitu melawan jendral perang di Libya Khalifa Haftar yang akhirnya ia gagal merangsek melaju dalam penaklukan ke Tripoli. Ternyata ada satu hal yang memiliki kesamaan dalam pertempuran-pertempuran itu yang membantu dalam menyukseskan operasi militer dan membuat keunggulan bagi militer Turki. Ternyata itu adalah Pesawat Drone Militer Turki.

Sukses Operasi Militer di Libya dan Syiria

Pemberotakan jendral Khalifa Haftar didukung oleh Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Mesir, Prancis dan Rusia yang mana di menguasai daerah timur Libya dan sekeliling kota Benghazi. 

Dan sejak April 2019 dia telah melakukan pemberontakan untuk mengganti penguasa negara dengan mengambil kendali daerah pusat kekuasaannya hingga ke daerah ujung barat Libya.

Namun, GNA (Goverment of National Accord) pemerintah sah Libya yang diakui PBB yang didukung oleh Turki, Italy dan Qatar telah mengambil langkah yang sukses untuk menahan pasukan pemberontak pada titik kritis hingga akhirnya berhasil mendorong mereka keluar dari daerah kantong-kantong strategis yang sebelumnya mereka kuasai.


Salah Bakkoush seorang analisis politik Libya dan mantan penasenat dewan tinggi negara libya berkata
"Anda harus mengerti geografi negara libya. Libya merupakan negara yang terbentang luas ruang terbuka dengan area semi gurun. bahkan di daerah pesisir, dasarnya dimana tidak ada seorangpun bisa menyembunyikan pergerakan pasukan, dalam hal ini, anda akan sangat membutuhkan perlindungan udara dalam tuntutan untuk vitalitas militer. jika tidak memiliki hal itu maka anda akan sangat mudah menjadi bulan-bulanan serbuan lawan yang mendapat dukungan udara. dan itulah yang terjadi kepada kita sampai kita mendapat sokongan pesawat Drone Turki".

Drone dibuat dan terlibat pada konflik libya di akhir tahun 2019 dan pelatih tentara militer turki melatih operator Libya untuk mampu menerbangkannya sampai awal tahun 2020. Operasi-Operasi Drone tersebut menargetkan basis militer milik haftar, jalur suplai logistik dan titik-titik stategis di kota yang menjadi kunci penting militer haftar diantara Tripoli dan perbatasan Tunisia hingga mampu memaksa LNA (Pasukan Bentukan Khalifa Haftar) melepaskan Bandar Udara Al-Watiya yang merupakan bandar udara terbesar didaerah barat Libya yang membuat Fathi Ali Abd-AlSalam Bashagha, Menteri Dalam Negeri GNA berkomentar "Turki menyelamatkan kami tepat pada waktunya".



Drone-Drone Turki itu juga terbukti menjadi senjata yang sangat efektif dan mematikan dalam konflik Suriah. Turki Drone itu digunakan untuk mendukung kampanye militer "Operation Spring Shield" yang mana digelar sebagai aksi pembalasan terhadap serangan udara dari rezim Suriah yang membunuh 33 tentara turki 27 Februari 2020. Yang menggagalkan rencana Bashar Al-Assad di Idlib.

sebuah laporan yang dibuat oleh Middle East Institute berjudul "The Fight for Syiria's Skies : Turkey Challenges Russia with new drone doctrine" yang ringkasnya menyimpulkan bahwa rezim Suriah mendapatkan kerugian luar biasa "termasuk tentara 3.000 korban jiwa, 151 Tank, 8 Helikopter, 3 Drone, 3 Jet Tempur (termasuk 2 jet Sukhoi Su-24s buatan Rusia), sekitar 100 mobil militer lapis baja dan truk pengangkut, 8 sistem pertahanan udara, 86 meriam jenis canon dan howitzer, truk amunisi dan satu pusat kendali ditambah juga antara perlengkapan dan fisilitas militer lainnya".

Program Drone Turki

program drone turki adalah program yang lahir karena terdorong oleh keinginan kuat untuk mandiri dan ambisi untuk mampu menyaingi industri persenjataan militer global dimana pengaruh Israel dan Amerika yang mencengkram hegemoni monopoli dan tidak mau berbagi teknologi.


saai ini turki telah memiliki 107 pesawat tanpa awak dan yang menjadikannya sangat berpengalaman dan pengguna drone yang efektif. turki telah memiliki produksi drone secara domestik seperti TAI Anka, Bayraktar TB2 dan Bayraktar Akinci yang mampu menjadi drone Penjagaan, drone Mata-mata dan drone tempur. Turki saat ini telah mulai mengekspor beberapa jenis drone ini untuk negara-negara seperti Qatar dan Ukraina dan sebagai industri pertahanan dan kemandiriaan adalah sebuah prioritas utama bagi presiden Erdogan yang memberikan target bagi turki sebagai salah satu dari 10 terbaik pengekspor industri pertahanan dalam waktu ulang tahun Republik Turki yang ke-100 pada tahun 2023. (TRT World)








  

0 komentar:

Posting Komentar